Firman

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

1. Ibrani: davar.

Akar kata ini berarti "hal yang ada di belakang". Jadi dalam suatu pengertian menunjuk kepada "kamar di belakang rumah", yaitu Tempat Yang Maha Kudus di Bait Suci. Dalam psikologi Ibrani, ucapan seseorang dianggap dalam pengertian tertentu sebagai sebagian dari kedirian si pembicara yang mempunyai keberadaan sendiri yang nyata. Maka ucapan atau firman Allah dalan Alkitab ialah penyataan diri-Nya sendiri, dan kata davai bisa menunjuk kepada berita-berita tersendiri yang diberikan kepada para nabi atau kepada isi penyataan dalam keseluruhannya. Kata itu dipakai 394 kali tentang komunikasi dari Allah kepada manusia. Davar mengandung kuasa yang serupa dengan kuasa Allah yang mengucapkannya (Yes. 55:11), melaksanakan kehendak-Nya tanpa halangan, harus diperhatikan oleh para malaikat dan manusia (Mzm. 103:20; Ul. 12:32), tetap untuk selama-lamanya (Yes. 40:8), dan tidak akan kembali kepada Allah tanpa digenapi lebih dahulu (Yes. 55:11). Dalam Mzm. 119 davar lebih menunjuk kepada firman Allah yang tertulis.

2. Yunani logos.

Latar belakang. Kata ini dipakai dalam LXX untuk menerjemahkan davar (lih di atas). Dalam bahasa Yunani pada dasarnya logos berarti "kata", tetapi kemudian berkembang dengan berbagai arti: dalam tata bahasa logos mengartikan kalimat yang lengkap; dalam logika mengartikan suatu pemyataan yang berdasarkan kenyataan; dalam retorika mengartikan pidato yang tersusun secara tepat.

Dalam dunia filsafat istilah logos dipakai oleh aliran Stoa dengan mengikuti Herakleitos, untuk mengartikan kekuasaan atau tugas ilahi yang memberi kesatuan, pertalian dan makna pada alam semesta. Mereka menyebutnya logos spermatikos. Manusia dijadikan selaras dengan dasar yang sama, dan manusia itu sendiri dikatakan mempunyai logos, baik sebagai budi atau rasio (logos endiathetos) maupun sebagai kemampuan berbicara (logos proforikos). Istilah logos banyak sekali dipakai oleh ahli filsafat Filo. Dia beranggapan bahwa pikiran Yunani sudah dibayangkan dalam PL, dan dia memakai ayat-ayat seperti Mzm. 33:6 untuk menerangkan bagaimana Allah yang transenden dapat menjadi Pencipta alam semesta dan menyatakan diri-Nya sendiri kepada Musa dan Bapak-bapak leluhur Israel. Dia menyamakan Logos dengan pikiran Plato tentang dunia ide-ide sehingga kata itu mengartikan dua-duanya, baik rencana Allah maupun kuasa Allah untuk mencipta. Dia menjabarkan Logos menjadi Malaikat Yahweh dan juga Nama Yahweh dalam PL, dan menyebutnya suatu Allah yang kedua serta Manusia Idaman, pola ilahi bagi manusia yang diciptakan Allah di bumi.

Dalam PB. Logos dipakai baik dalam arti kata biasa, maupun dengan pengertian pesan Injil Kristen (Mrk. 2:2; Kis. 6:2; Gal. 6:6). Dalam surat-surat kiriman, kita baca tentang firman kehidupan (Flp. 2:16), firman kebenaran (Ef. 1:13), kabar keselamatan (Kis. 13:26), berita pendamaian (2 Kor. 5:19), dan pemberitaan tentang salib (1 Kor. 1:18): dalam bahasa Yunani semuanya disebut logos. Logos ialah amanat dari pihak Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus, yang wajib diberitakan dan ditaati.

Pada tiga tempat kata logos dipakai secara teknis, yaitu Yoh. 1:1, 14; 1 Yoh. 1:1-2; Why. 19:13. Yoh. 1:1 adalah satu-satunya kasus yang tidak meragukan. Di sini pendahuluan Injil bersifat sangat metafisis, di mana pentingnya Kristus ditafsirkan secara teologis. Silang pendapat di kalangan sarjana hanya pada masalah penentuan sumber-sumber primer dari ayat-ayat tersebut, dan arti logos yang paling pokok di sini. Upaya Yohanes terutama hanya pada penggunaan kata davar dalam PL, atau pada ajaran para rabi mengenai Kitab Taurat. Upaya ini gagal karena konsep-konsep ini tidak jelas dibedakan dari Allah yang Mahatinggi sehingga tetap berdiri tanpa perubahan pada ayat 14. Tokoh hikmat menyediakan lebih banyak kesejajaran, tetapi tidak cukup dipersamakan dengan firman itu dalam sumber-sumber yang diteliti: ajaran mengenai Manusia Pertama atau Manusia Surgawi yang dikemukakan oleh beberapa ahli kurang meyakinkan.

Hanya ajaran Filo tentang Logos yang menyajikan kerangka teologis yang jelas, di mana firman memiliki suatu kesatuan yang mirip dengan Allah dan sekaligus memiliki perbedaan dengan-Nya, mengandung kegiatan mencipta dan memelihara semesta alam, dan juga memiliki kegiatan yang bersifat menyatakan diri kepada manusia. Lebih lanjut konsep khas mengenai inkarnasi, setidak-tidaknya merupakan pengembangan yang tepat dari penyamaan Logos menurut Filo dengan Manusia Sejati. Jadi mungkin sekali, di balik ini semua dijumpai penggunaan langsung dari konsep Filo atau pemikiran dari kelompok cendekiawan Yahudi yang menganut Helenisme.

Dalam Surat 1 Yoh. 1:1 istilah "Firman Hidup" tidak mungkin mengandung arti Logos secara teknis teologis, baik konteks maupun susunannya bertentangan dengan itu. Bahkan jika surat ini berasal dari penulis yang sama dengan penulis Injil Yohanes (yang diragukan oleh beberapa ahli) surat ini mungkin berasal dari waktu yang lebih dini daripada saat diterimanya ajaran Logos yang telah berkembang penuh. Pemahaman "Injil Kristen" adalah paling cocok untuk konteks ini.

Dalam Why. 19:13 pemahaman "Injil" mungkin berada di balik pengenaan gelar Firman Allah kepada sang Pemenang (bnd. 6:2 menurut beberapa penafsir tokoh yang berkuda harus diartikan Injil yang sedang berkembang dalam kemenangan), Kita boleh membandingkannya dengan gambaran dalam Kebijaksanaan Salomo 18:15, 16. Namun karena dalam Wahyu, tokoh itu jelas disebut Raja segala raja dan Tuhan segala tuan, pastilah ada lebih banyak makna metafisis yang terkandung di sini. Sifat sastra yang khas dari Wahyu menjelaskan mengapa arti itu tidak dikembangkan di sini seperti halnya dalam Injil ke-4.

Tiga bagian PB tersebut menggambarkan bagaimana kepenuhan Kristus secara tetap menyita semua gambaran dan pemikiran manusia; dan bagaimana bagian-bagian lain PB menuntut tafsiran berdasarkan banyak sumber, guna menyajikan keterangan terpadu. Yesus memberi makna segar terhadap istilah-istilah yang pada waktu sebelum Dia mengandung makna lebih terbatas.

Dalam bentuk jamak (ta logia) istilah logos berarti seluruh PL atau suatu bagiannya yang khas. Dalam Kis. 7:38 "firman-firman yang hidup" menunjuk kepada Dasa Titah atau kepada seluruh isi Taurat Musa. Dalam Rm. 3:2 artinya ialah PL, khususnya janji-janji Allah kepada Israel. Dalam 1 Ptr. 4:11 pemberitaan "firman" berarti pengkhotbah wajib menjaga beritanya sedemikian rupa sehingga dia seolah-olah mengucapkan Kitab Suci yang diilhamkan. Ta Logia tampil pula dalam Ibr. 5:12, di situ diterjemahkan "Penyataan Allah"; artinya tulang punggung ajaran Kristen, yang berhubungan dengan dasar-dasar pada PL maupun penyataan Allah yang terakhir melalui Anak-Nya (Ibr. 1:1). Makna teologis dari ta logia ditekankan oleh B.B Warfield: "Ta logia ialah pengumuman-pengumuman Allah yang mempunyai kekuasaan, dan di hadapannya manusia berdiri dengan hotmat dan menyembah dengan merendahkan diri".

3. Yunani: rhema.

Kata ini berarti kata yang diucapkan, lalu menjadi inti ucapan, dan kenyataan. Kata ini juga memperoleh pengertian "firman Allah", seperti logos , dan dengan demikian berarti "Injil Kristen". Dalam perkembangannya timbul juga arti lain, yaitu pengakuan Kristen, yang membawa kepada keselamatan (Ef. 5:26). Rhema diterjemahkan "firman" dalam mis. Mat. 4:4; Luk. 2:29; Yoh. 3:34; Rm. 10:8; Ef. 6:17; Ibr. 1:3; 1 Ptr. 1:12.

Diambil dari:
Judul buku : Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid II M-Z
Judul artikel : Firman
Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 2001
Halaman : 315 - 316
Kategori: 
Taxonomy upgrade extras: