Keallahan yang Penuh dari Kristus yang Berinkarnasi

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Dia Memiliki Sifat-Sifat yang Hanya Dimiliki oleh Allah

  1. Kekekalan.
    Dia mengaku sudah ada sejak kekal (Yoh. 8:58; 17:5).
  2. Mahahadir.
    Dia mengaku hadir di mana-mana (Mat. 18:20; 28:20).
  3. Mahatahu.
    Dia memperlihatkan pengetahuan tentang hal-hal yang hanya dapat diketahui jika Dia mahatahu (Mat. 16:21; Luk. 6:8; 11:7; Yoh. 4:29).
  4. Mahakuasa.
    Dia memperagakan dan menyatakan kekuasaan satu Pribadi yang Mahakuasa (Mat. 28:20; Mrk. 5:11-15; Yoh. 11:38-44).

Sifat-sifat keallahan yang lain dinyatakan bagi diri-Nya oleh orang lain (mis. "tidak berubah", Ibr. 13:5), tetapi apa yang dikutip di atas tadi adalah apa yang diakui oleh-Nya bagi diri-Nya sendiri.

Dia Melakukan Hal-hal yang Hanya Dapat Dilakukan oleh Allah

  1. Pengampunan.
    Dia mengampuni dosa selama-lamanya. Manusia mungkin dapat melakukannya untuk sementara, namun Kristus memberikan pengampunan kekal (Mrk. 2:1-12).
  2. Kehidupan.
    Dia memberikan kehidupan rohani kepada barangsiapa yang dikehendaki-Nya (Yoh. 5:21).
  3. Kebangkitan.
    Dia akan membangkitkan orang mati (Yoh. 11:43).
  4. Penghakiman.
    Dia akan menghakimi semua orang (Yoh. 5:22, 27). Lagi-lagi, semua contoh di atas adalah hal-hal yang Dia lakukan atau pengakuan yang diucapkan-Nya sendiri, bukan orang lain.

Dia Diberi Nama-Nama dan Gelar-Gelar Keallahan

1. Anak Allah.

Tuhan kita mempergunakan gelar bagi diri-Nya (meskipun hanya kadang-kadang, Yoh. 10:36), dan Dia mengakui kebenarannya ketika dipergunakan oleh orang lain untuk menunjuk kepada-Nya (Mat. 26:63-64). Apakah artinya? Meskipun frasa "anak dari" dapat berarti "keturunan dari", hal ini juga mengandung arti "dari kaum." Jadi, dalam Perjanjian Lama "anak-anak para nabi" berarti dari kaum nabi (1 Raj. 20:35), dan "anak-anak penyanyi" berarti kaum penyanyi (Neh. 12:28). Petunjuk "Anak Allah" apabila dipergunakan untuk Tuhan kita, berarti dari kaum Allah dan merupakan suatu klaim yang kuat dan jelas untuk keallahan yang penuh." Dalam penggunaan di antara orang Yahudi, perkataan "Anak (dari) ..." umumnya tidak berarti suatu pembawahan, tetapi lebih kepada persamaan dan jati diri hakikat. Jadi, Bar Kokba, yang memimpin pemberontakan Yahudi pada 135-132 SM semasa pemerintahan Hadrian, diberi nama yang artinya "Anak Bintang". Diperkirakan dia memakai nama ini untuk memperkenalkan dirinya sendiri sebagai Bintang yang dinubuatkan dalam Bil. 24:17. Nama "Anak Penghiburan" (Kis. 4:36) tidak pelak lagi berarti, "Si Penghibur". "Anak-anak Guruh" (Mrk. 3:17) mungkin sekali berarti "Penggeledek". "Anak Manusia", terutama sebagaimana berlaku untuk Kristus dalam Dan. 7:13 dan selalu dalam Perjanjian Baru, hakikatnya berarti "Orang yang Mewakili". Jadi, bagi Kristus untuk mengatakan, "Akulah Anak Allah" (Yoh. 10:36) dianggap oleh orang-orang pada masa-Nya sebagai memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah, sejajar dengan Bapa, yang menurut mereka tidak layak" (J. Oliver Buswell, A Systematic Theology of the Christian Religion [Grand Rapids: Zondervan, 19621, 1:105).

2. Tuhan dan Allah.

Yesus disebut Yahweh dalam Perjanjian Baru. Hal ini menunjukkan keallahan-Nya yang penuh (band. Luk. 1:76 dengan Mal. 3:1 dan Am. 10:13 dengan Yl. 2:32). Dia juga disebut Allah (Yoh. 1:1; 20:28; Ibr. 1:8), Tuhan (Mat. 22:43-45), dan Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan (Why. 19:16).

Dia Mengaku Sebagai Allah

Mungkin peristiwa yang paling kuat dan jelas tentang pengakuan ini, terjadi pada waktu hari raya pentahbisan Bait Allah di Yerusalem, ketika Dia berkata, "Aku dan Bapa adalah satu." (Yoh. 10:30) Kata "satu" di sini bukan berarti Dia dan Bapa merupakan satu Pribadi melainkan bahwa mereka merupakan kesatuan dalam sifat dan kegiatannya, suatu fakta yang benar, hanya jika Dia sama keallahan-Nya dengan Bapa. Orang-orang yang mendengar pengakuan ini memahaminya demikian karena itu mereka segera berupaya merajam-Nya dengan alasan penghujatan karena Dia menyatakan diri-Nya sebagai Allah (ayat 33).

Bagaimana seseorang dapat mengatakan bahwa Yesus dari Nazaret sendiri tidak pernah mengaku sebagai Allah? Dan, bahwa pengikut-Nyalah yang menyatakan demi Dia? Kebanyakan dari kutipan di atas berasal dari kata-kata Kristus sendiri. Karena itu, kita haruslah menghadapi satu-satunya pilihan: apakah yang diakui-Nya itu memang benar ataukah Dia seorang pembohong. Dan apa yang diakui-Nya itu merupakan keallahan yang penuh dan sempurna -- tidak ada yang kurang atau dikurangkan semasa hidup-Nya di bumi.

Diambil dari:
Judul Buku : Teologi Dasar
Judul artikel : Keallahan yang Penuh dari Kristus yang Berinkarnasi
Pengarang : Charles C. Ryrie
Penerbit : Yayasan Andi, Yogyakarta, 1991
Halaman : 335 - 337
Kategori: 
Taxonomy upgrade extras: