KRP-Pelajaran 02

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kelas : Kehidupan Rasul Paulus
Nama Pelajaran : Perjalanan Misi Paulus yang Pertama
Kode Pelajaran : KRP-P02

Pelajaran 02 -- Perjalanan Misi Paulus yang Pertama

Daftar Isi

  1. Gereja Mulai Bergerak
    1. Gereja di Antiokhia
    2. Pekerjaan Roh Kudus
  2. Perjalanan Misi yang Pertama
    1. Ke Asia Kecil
    2. Paulus di Listra
    3. Kembali ke Antiokhia
  3. Masalah dalam Gereja

Doa

Pelajaran 02: Perjalanan Misi Paulus yang Pertama

Pada pelajaran ini kita akan belajar tentang usaha mula-mula jemaat Kristen untuk menyebarkan firman Tuhan kepada bangsa-bangsa lain. Ini bukan rencana manusia, melainkan rencana Allah untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia, ke semua suku bangsa, dan seluruh umat manusia. Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya bagaimana misi ke seluruh dunia ini dijalankan. "Karena itu, pergilah dan muridkanlah semua bangsa, baptiskanlah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, ajarkanlah mereka untuk menaati semua yang Aku perintahkan kepadamu; dan lihat, Aku selalu bersamamu, bahkan sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20, AYT) Kita menyebut perintah ini sebagai "Amanat Agung" untuk "semua bangsa".

Sebagian besar murid Yesus mula-mula menetap di Yerusalem. Namun, mereka akhirnya tercerai-berai dan tersebar ke daerah-daerah lain karena penganiayaan yang semakin menjadi-jadi. Mereka membutuhkan seorang pemimpin yang dapat mengatur dan merencanakan program misi kepada bangsa-bangsa lain. Pemimpin ini adalah Paulus. Sepuluh tahun setelah pertobatannya, Paulus dipersiapkan Tuhan untuk memimpin misi gereja ini secara nyata.

  1. Gereja Mulai Bergerak
    1. Gereja di Antiokhia
    2. Antiokhia berpenduduk lebih dari setengah juta jiwa dan pada waktu itu menjadi salah satu kota terbesar di wilayah kekaisaran Romawi. Para pembawa berita firman pertama, yang tiba di Antiokhia dari Yerusalem, berencana untuk melayani orang-orang Yahudi di kota itu.

      Pada saat yang sama, para pelayan Tuhan lainnya, yang berasal dari Siprus dan Kirene, memulai pelayanan di tengah-tengah orang Yunani. Ini merupakan usaha misi yang mulai dilakukan untuk bangsa-bangsa lain.

      Di bawah kepemimpinan Barnabas, jemaat Antiokhia bertumbuh dengan pesat sehingga ia meminta Paulus dari Tarsus untuk membantu pekerjaan ini. Jemaat menjadi makin kuat karena Paulus memiliki karunia mengajar. Puji Tuhan, melalui pengajaran yang Paulus berikan, jemaat mulai memperhatikan orang-orang bukan Yahudi dari negara-negara lain. Mereka menyadari bahwa menyebarkan Injil kepada bangsa-bangsa lain adalah kewajiban mereka. Jemaat Antiokhia memperoleh penghargaan sebagai pusat penyebaran Injil kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Karena itu, di Antiokhialah murid-murid ini pertama kali disebut Kristen.

    3. Pekerjaan Roh Kudus
    4. Ketika para pemimpin jemaat Antiokhia sedang berdoa dan berpuasa, Roh Kudus berbicara kepada mereka dan berkata, "Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiku untuk tugas yang telah ditentukan bagi mereka." (Kisah Para Rasul 13:1-4, AYT) Alkitab selanjutnya menceritakan kepada kita bagaimana mereka menumpangkan tangan dan mengutus kedua orang itu pergi untuk melakukan tugas mereka. Jemaat Antiokhia tentu merasa sangat kehilangan kedua pemimpin, tetapi mereka menyadari bahwa ini adalah kesempatan besar yang harus dipakai untuk pengabaran Injil ke seluruh dunia.

  2. Perjalanan Misi yang Pertama
  3. Dalam Kisah Para Rasul 13:4-13, Barnabas, Paulus, dan Yohanes Markus, saudara sepupu Barnabas dari Yerusalem, memulai pelayanan mereka. Barnabas, yang tertua, dianggap sebagai pemimpin. Paulus dan Barnabas adalah sahabat baik dan keduanya saling menghargai. Yohanes Markus, anak Maria, seorang Kristen muda yang aktif, ikut untuk membantu mereka.

    Mereka berlayar ke Seleukia dan berjalan sepanjang 110 km ke Salamis, di pantai timur Siprus. Siprus adalah rumah lama Barnabas. Para penginjil ini mengunjungi tempat-tempat penting di Pulau Siprus sampai akhirnya mereka tiba di Pafos. Di Pafos, mereka bertemu dua orang terkemuka, yaitu seorang tukang sihir yang bernama Elimus Baryesus, dan Sergius Paulus yang menjadi gubernur pulau itu. Sergius Paulus memanggil Barnabas dan Paulus sebab ia ingin mendengar firman Tuhan. Ketika para penginjil itu melayani Sergius Paulus, Elimus berusaha menghalang-halangi mereka. Akhirnya, Paulus menantang "anak iblis" ini dan membuat mata orang itu buta untuk beberapa saat. Melihat apa yang terjadi, Sergius Paulus merasa sangat takjub dan percaya akan ajaran Tuhan.

    1. Ke Asia Kecil
    2. Paulus dan kawan-kawannya sekarang meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia. Di sana, Yohanes Markus meninggalkan kelompok ini dan kembali ke rumahnya di Yerusalem. Akan tetapi, Paulus dan Barnabas meneruskan perjalanannya ke Antiokhia (di Pisidia). Di Antiokhia, Paulus pergi ke rumah ibadah dan memberitakan firman Tuhan di sana. Pemberitaan itu membuat orang-orang di sana takjub dan mereka memintanya berkhotbah lagi.

      Pada Sabat berikutnya, Paulus berkhotbah dan hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Tuhan. Hal ini membuat jengkel orang Yahudi di sana. Mereka merasa iri dan mulai membantah yang dikatakan Paulus. Namun, Paulus mengatakan bahwa kepada orang Yahudilah firman Tuhan pertama kali diberitakan. Namun, karena mereka menolaknya, Paulus dan Barnabas berpaling kepada bangsa-bangsa lain. Mendengar itu, semua orang yang tidak mengenal Allah bergembira dan mereka memuliakan firman Tuhan. Lalu, semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal menjadi percaya. Firman Tuhan pun tersiar ke seluruh daerah itu. Injil Allah mulai masuk di hati bangsa-bangsa lain (lih. Kisah Para Rasul 13:48-49). Namun, sebaliknya, orang Yahudi berbalik melawan Paulus dan Barnabas serta mengusir mereka dari kota.

      Kira-kira, 120 km di sebelah tenggara Antiokhia, terdapat satu kota yang bernama Ikonium. Paulus dan Barnabas langsung pergi ke tempat ibadah di sana dan memberitakan firman Tuhan. Banyak orang menjadi percaya dan menerima Kristus. Namun, ada juga musuh-musuh di sana. Para Rasul memperlihatkan banyak tanda dan mukjizat, dan tinggal lama di sana untuk memberitakan firman Tuhan. Akhirnya, musuh-musuh itu membentuk suatu kelompok massa dan mengancam untuk membunuh para pengabar Injil ini. Akibatnya, Paulus dan Barnabas terpaksa harus menyingkir dari kota itu.

    3. Paulus di Listra
    4. Kota tujuan Paulus berikutnya adalah Listra. Di kota ini diperkirakan ada beberapa keluarga Yahudi, setidak-tidaknya ada satu keluarga Yahudi yang dikunjungi Paulus, yaitu seorang janda bernama Eunike. Dia memiliki anak yang bernama Timotius. Lois, ibu Eunike, juga tinggal di rumah itu. Paulus dan Barnabas memenangkan keluarga ini bagi Kristus.

      Di Listra, ada seorang lumpuh yang mendengarkan Paulus berkhotbah. Dia lumpuh sejak lahir dan hanya bisa duduk di pinggir jalan. Mungkin saja, dia seorang pengemis yang dikenal oleh banyak orang di sana. Paulus memperhatikan orang ini dan berkata dengan suara nyaring, "Berdirilah tegak dengan kakimu!" Orang itu segera berdiri dan berjalan. Ketika orang-orang bukan Yahudi melihat kejadian itu, mereka menyangka Paulus dan Barnabas adalah dewa-dewa yang turun dan menjelma sebagai manusia. Mereka memanggil Paulus dan Barnabas dengan sebutan Zeus dan Hermes, nama dua dewa Yunani (lih. Kisah Para Rasul 14:8-20).

      Orang-orang mulai mempersiapkan perayaan besar untuk menghormati mereka. Dengan segera, Paulus dan Barnabas memberitahukan bahwa mereka bukan dewa, melainkan manusia biasa. Mereka juga menjelaskan bahwa mereka datang ke kota itu untuk memberitakan firman Tuhan. "Saudara-saudara, mengapa kamu melakukan semua hal ini? Kami juga manusia biasa sama seperti kamu dan membawa Kabar Baik bagi kamu supaya kamu berbalik dari hal-hal yang sia-sia ini kepada Allah yang hidup, yang menciptakan langit, dan bumi, dan laut, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Di generasi-generasi yang lalu, Ia membiarkan semua bangsa berjalan menurut jalan-jalannya sendiri. Namun, Ia tidak membiarkan diri-Nya tanpa saksi. Sebab, Ia melakukan yang baik dengan memberikan kepadamu hujan dari langit dan musim-musim berbuah yang memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan." (Kisah Para Rasul 14:15-17, AYT)

      Kemudian, datang sekelompok orang Yahudi yang memimpin massa dan melempari Paulus dengan batu. Sesudah itu, mereka meninggalkan Paulus sebab menyangka dia sudah mati. Akan tetapi, teman-teman Paulus menemukannya dalam keadaan hidup dan menolongnya untuk melarikan diri. Kemudian, Paulus dan Barnabas pergi ke Derbe. Sekarang, tiba saatnya untuk menyelesaikan pelayanan misi mereka yang pertama dan memulai perjalanan pulang. Dalam perjalanan pulang, mereka kembali mengunjungi Listra, Ikonium, Antiokhia, dan Perga untuk menolong orang-orang Kristen baru ini mendirikan jemaat gereja. Paulus dan Barnabas juga menolong mereka memilih penatua yang akan bertanggung jawab untuk jemaat-jemaat ini. Mereka mendirikan jemaat gereja di setiap kota di bagian Asia ini dan menetapkan pemimpin-pemimpin sebagai gembala dan guru.

    5. Kembali ke Antiokhia
    6. Ketika tiba kembali di Antiokhia, para penginjil itu mengumpulkan jemaat dan menceritakan semua hal yang telah Tuhan lakukan, yaitu membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain untuk beriman. Sungguh merupakan kisah yang luar biasa tentang bagaimana mereka melayani bangsa-bangsa lain selama dua tahun. Jemaat mendengarkan dengan rasa puas bahwa pekerjaan di antara orang Yunani telah dimulai dan Tuhan telah memberkatinya. Pekerjaan penginjilan Paulus bukan lagi angan-angan, melainkan kenyataan yang mulia. Bangsa-bangsa lain telah mengetahui kasih Kristus dan mereka tidak akan melupakan-Nya. Salah satu dari perubahan besar dalam sejarah manusia telah terjadi. Baik orang Yahudi maupun Yunani, kini menjadi bagian dari tubuh Kristus.

      "Dalam Yesus Kristus, kamu semua adalah anak-anak Allah melalui iman. Kamu semua yang telah dibaptis dalam Kristus telah mengenakan Kristus. Tidak ada lagi orang Yahudi atau orang Yunani, budak atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan karena kamu semua satu dalam Yesus Kristus." (Galatia 3:26-28, AYT)

  4. Masalah dalam Gereja
  5. Sementara Paulus dan Barnabas beristirahat dan bersekutu di Antiokhia, mereka menerima kabar bahwa ada masalah besar yang mengancam kehidupan jemaat. Masalahnya adalah dapatkah orang bukan Yahudi menjadi orang Kristen? Kita tahu bahwa Filipus dan Petrus bersaksi dan memberitakan Injil di antara orang Samaria dan banyak orang bertobat di sana. Petrus secara terang-terangan menceritakan pelayanannya untuk memenangkan Kornelius dan orang-orang Yunani lainnya di Kaisarea (lih. Kisah Para Rasul 10-11). Sebenarnya, jemaat sudah menyetujui orang Kristen Yunani di jemaat Antiokhia di Siria. Namun, ketika Paulus dan Barnabas meninggalkan mereka, orang-orang ini mulai mempertanyakan apakah orang-orang bukan Yahudi dapat dibenarkan menjadi orang Kristen tanpa melakukan tradisi Yahudi. Beberapa orang dari jemaat di Yerusalem datang ke Antiokhia untuk membahas masalah ini. Orang-orang ini berkeyakinan bahwa orang bukan Yahudi tidak dapat menjadi Kristen tanpa terlebih dahulu disunat. Dengan kata lain, orang itu harus menjadi orang Yahudi dahulu. Ada banyak masalah di Antiokhia yang timbul karena ajaran yang salah ini.

    Ketika Paulus mendengar hal ini, dengan segera ia melihat bahaya yang benar-benar mengancam jemaat. Masalah ini bisa memecah belah para jemaat dan menghambat pertumbuhan kekristenan itu sendiri. Paulus langsung mengambil sikap yang tegas atas masalah ini. Paulus mengatakan bahwa sunat tidak diperlukan untuk memperoleh keselamatan.

    Kemudian, diputuskan untuk membawa masalah ini ke Yerusalem karena orang-orang dari Yerusalemlah yang pertama kali mempertanyakan hal ini dalam jemaat di Antiokhia. Paulus juga ingin supaya para pemimpin di Yerusalem mengambil keputusan yang benar dalam hal ini sehingga tidak membingungkan jemaat.

    Di Yerusalem, para pemimpin jemaat mengadakan pertemuan. Dalam pertemuan itu, Petrus menceritakan kesaksiannya tentang Kornelius, seorang bukan Yahudi. Paulus dan Barnabas juga membagikan berkat-berkat yang telah mereka terima pada saat mereka bersaksi kepada bangsa-bangsa lain. Keputusan akhir yang mereka ambil memberikan kemenangan yang melimpah. Mereka memutuskan untuk mengirim surat kepada seluruh jemaat dan menyatakan bahwa sunat dan upacara penerimaan secara Yahudi tidak dibutuhkan bagi orang yang bukan Yahudi untuk menjadi orang Kristen. Apa yang penting bagi bangsa-bangsa lain untuk bisa selamat? Petrus mengatakan dengan begitu indahnya dalam Kisah Para Rasul 15:11, "Namun, kita percaya bahwa kita diselamatkan melalui anugerah Tuhan Yesus, sama seperti mereka juga."

Akhir Pelajaran (KRP-P02)

Doa

"Aku bersyukur untuk kehidupan Paulus yang menjadi berkat bagi perintisan gereja mula-mula. Tuhan, kiranya Engkau panggil lebih banyak orang muda untuk sungguh-sungguh melayani Tuhan sepenuh hati dan hidup seperti Paulus sehingga gereja Tuhan semakin maju dan berkembang. Kiranya nama-Mu saja yang dimuliakan. Amin."