Mengapa Belajar Bahasa-Bahasa Asli Alkitab Itu Perlu?

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Martin Luther menghadapi banyak skeptisisme pada zamannya. Dia dikritik karena pandangannya terhadap Alkitab, gereja, dan sakramen, di antara poin-poin bantahannya. Namun, menariknya, dia bahkan dikritik karena keyakinannya bahwa laki-laki dan perempuan perlu belajar membaca Alkitab dalam bahasa-bahasa aslinya.

Luther berkata,

"Apakah Anda bertanya-tanya apa gunanya mempelajari bahasa-bahasa tersebut? Apakah Anda berpendapat, 'Kita bisa membaca Alkitab dengan baik dalam bahasa Jerman'? Tanpa bahasa-bahasa tersebut, kita mustahil menerima Injil. Bahasa merupakan sarung yang menyarungi pedang Roh; bahasa merupakan peti yang mengandung permata-permata pemikiran yang antik; bahasa merupakan kantong kulit yang berisi air anggur."

Menafsir Alkitab

Jika firman Allah adalah "Pedang Roh" (bd. Efesus 6:17), maka, sebagaimana dikatakan oleh Luther, bahasa-bahasa asli Alkitab (yaitu Ibrani, Aram, dan Yunani) merupakan sarung pedang tersebut. Dengan perkataan lain, Allah tidak hanya mengungkapkan diri-Nya sendiri dalam sejarah manusia, tetapi Dia awalnya melakukan hal tersebut melalui firman-Nya dalam bahasa-bahasa asli dalam sejarah -- dalam bahasa Ibrani, Aram, dan Yunani; dan firman-Nya telah diawetkan bagi kita dalam bahasa-bahasa tersebut.

Implikasinya tidak terelakkan: pada tingkat tertentu, kita semua harus peduli terhadap bahasa asli Alkitab, dan jika memungkinkan, kita harus memahaminya, menggunakannya, dan mencintainya -- setidaknya, demikianlah yang dirasakan oleh Martin Luther.

Bahasa-bahasa asli Alkitab tidak hanya penting, tetapi juga perlu dan tidak tergantikan -- baik bagi pendeta maupun anggota jemaat dalam beragam cara. Semua calon pendeta, jika memungkinkan, harus mempelajarinya secara menyeluruh, menggunakannya secara harian, dan mencintainya dengan penuh gairah. Dan, anggota jemaat harus rindu untuk melihat orang-orang yang menuntun mereka secara rohani memiliki setidaknya penghargaan dan pengetahuan tentang bahasa-bahasa ini dalam tingkat tertentu.

Pembaca artikel ini terdiri dari setidaknya dua jenis orang yang berbeda (meski saya mengakui bahwa ada banyak jenis lainnya): (1) mereka yang mempertimbangkan untuk menempuh pendidikan seminari guna mempersiapkan diri untuk pelayanan ke depan; dan (2) anggota jemaat yang duduk di bawah khotbah pendeta mereka. Artikel ini ditulis untuk keduanya.

Dengan demikian, bagi calon mahasiswa seminari, saya ingin memberi Anda empat alasan mengapa Anda perlu mengerahkan usaha untuk mempelajari dan mencintai bahasa-bahasa Alkitab; dan bagi orang-orang selain pendeta yang sedang hadir dan melayani di gereja-gereja setempat, saya ingin menolong Anda memahami mengapa Anda perlu merindukan agar pendeta Anda memiliki dan menggunakan teks Alkitab dalam bahasa Ibrani dan Yunani secara harian.

Kemurnian

Pemahaman mendalam tentang bahasa Alkitab menolong menjaga kemurnian doktrin -- baik bagi pendeta maupun gereja. Bahkan, Luther sendiri mengakui bahwa seluruh Reformasi gereja bisa terjadi berkat penemuan kembali bahasa-bahasa Alkitab!

Dia menulis:

"Jika kita mengabaikan (bahasa-bahasa tersebut), pada akhirnya kita akan kehilangan Injil. .... Saat manusia berhenti membudayakan bahasa-bahasa tersebut, kekristenan segera menurun, bahkan hingga dia jatuh di bawah dominasi seorang paus yang tidak terbantahkan. Namun, segera setelah obor ini dinyalakan kembali, burung hantu paus ini terbang sambil menjerit menuju kesuraman yang menyenangkan."

Dia melanjutkan:

"Seandainya bahasa-bahasa tersebut tidak menjadikan saya positif terkait makna firman Allah yang sejati, mungkin saya masih tetap menjadi seorang biarawan yang dirantai, terlibat dalam tindakan diam-diam mengkhotbahkan kesalahan-kesalahan Romawi di tengah ketidakjelasan biara; paus, kaum sofis, dan kerajaan anti-Kristen mereka akan tetap tidak tergoyahkan."

Ini luar biasa -- Luther mengatributkan gebrakan Reformasi kepada penggunaan bahasa Ibrani, Aram, dan Yunani yang asli. Mempelajari bahasa-bahasa ini bukanlah pengejaran mudah nan jauh dari kenyataan bagi mereka yang punya terlalu banyak waktu atau terlalu sedikit teman; ini adalah tentang kemurnian Injil.

Ketepatan

Alkitab bahasa Inggris yang diberikan kepada kita itu hebat dan dapat dipercaya. Kita dapat membaca terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris dan dengan percaya diri berkata, "Ini adalah firman dari Allah yang hidup." Namun, jika aspek sentral dari tugas pendeta adalah untuk menggumulkan makna dari suatu kitab dan menerapkannya dengan hati-hati pada kehidupannya sendiri dan kehidupan jemaatnya, seharusnya kita semua ingin agar segala alat yang dia gunakan berinteraksi dan menangani teks tersebut secara akurat (bd. 2 Timotius 2:15).

Kebergantungan penuh pada versi-versi terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris sering kali dapat menghambat eksegesis yang diperlukan dalam persiapan khotbah. Tanpa pengetahuan karib terhadap bahasa-bahasa Alkitab, seorang pengkhotbah sering kali harus merasa puas dengan cita rasa umum teks Alkitab, dan eksposisi yang dihasilkannya bisa jadi kekurangan ketepatan dan kejelasan, yang seharusnya dapat dia miliki seandainya dia memahami bahasa-bahasa aslinya.

Berbicara tentang bahasa, yang menjadi masalah bukanlah superioritas terhadap orang-orang yang tidak mengetahui bahasa tersebut, melainkan kekhususan yang terkandung dalam bahasa tersebut.

Masalahnya bukanlah tentang kebanggaan diri, melainkan tentang ketepatan.

John Piper menulis, "Ketika bahasanya tidak diindahkan atau dihargai, kepedulian dalam pengamatan alkitabiah serta pemikiran dan kepedulian alkitabiah akan kebenaran menurun. Pasti demikian, karena alat untuk menolong memikirkan yang sebaliknya tidak tersedia."[1]

Kuasa

Maksud saya, kuasa dalam berkhotbah. Saat pendeta kekurangan alat dan kepercayaan diri untuk menentukan makna persis suatu teks, kuasa khotbah alkitabiah itu berkurang. Sulit berkhotbah dengan kedalaman dan kuasa, minggu demi minggu, ayat demi ayat, jika Anda terjangkit oleh ketidakpastian saat menentukan antara dua tafsiran yang saling bersaing sebagaimana disampaikan oleh penafsir.

Sekali lagi, Luther mengangkat suaranya, "Saat seorang pengkhotbah memahami bahasa-bahasa asli Alkitab, tulisannya memiliki kesegaran dan kekuatan, seluruh Kitab Suci diperlakukan sebagaimana mestinya, dan iman mendapati dirinya senantiasa diperbarui oleh keberagaman firman/perkataan yang sifatnya terus-menerus."

Tujuan kita dalam berkhotbah bukanlah untuk membuat orang-orang terkesan, melainkan untuk membakar mereka; tujuan kita bukanlah memenangkan penggemar, tetapi untuk memenangkan jiwa! Dan, bahasa-bahasa tersebut merupakan sarana untuk berkhotbah dengan kuasa, kejelasan, dan otoritas yang tidak mungkin kita miliki terlepas dari mereka.

Kesenangan

Maksud saya, kesenangan devosional dalam jiwa. Dengan perkataan lain, mengapa mempelajari bahasa-bahasa tersebut hanya sebatas cukup sehingga bahasa itu sulit digunakan? Mengapa tidak berjuang untuk mempelajarinya sebaik mungkin sehingga bahasa-bahasa itu menyenangkan jiwa? Mengapa kita tidak memahaminya begitu karib untuk melakukan devosi kita dalam bahasa-bahasa tersebut? Tidakkah seharusnya eksposisi kita pada hari Minggu pagi menjadi luapan dari kasih sayang kita kepada Allah yang penuh senang hati?

Yang sedang saya utarakan adalah ini -- memahami bahasa-bahasa tersebut memberi kita kesempatan untuk melihat pemandangan menakjubkan tentang Allah dalam teks yang sering kali dapat kita lewatkan jika kita tidak memahaminya.

George Muller, yang terkenal karena kehidupan doa dan pelayanan panti asuhannya di London, berkata demikian kepada seorang pria berusia 24 tahun:

"Sekarang saya belajar banyak, kira-kira 12 jam dalam sehari, utamanya bahasa Ibrani ... (dan) mengingat bagian-bagian Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani; Dan, hal ini saya lakukan dengan doa, sering kali dengan jatuh berlutut ... saya melihat kepada Tuhan, bahkan sambil membalik halaman-halaman kamus bahasa Ibrani saya."[2]

Ah, betapa saya merindukan hari ketika lebih banyak orang memiliki perjumpaan semacam ini dengan Allah yang hidup -- dengan berlutut, teks Alkitab bahasa Ibrani di tangan mereka, melihat kepada Tuhan, dan mencicipi madu murni dari firman Allah itu (bd. Mazmur 19:10)! Ah, betapa saya rindu melihat orang-orang yang begitu rindu memahami makna firman Allah sehingga mereka menjelajahi leksikon bahasa Ibrani dengan berlutut -- orang-orang yang membutuhkan ini akan memiliki postur dan nada yang bergantung yang nyata dalam pelayanan dan khotbah mereka.

Khotbah kita seharusnya sekuat besi, setepat laser, sedalam puisi, dan sehangat mentari -- dan bahasa Ibrani, Aram, dan Yunani merupakan salah satu dari banyak cara untuk mewujudkannya. Lebih dari segalanya, mempelajari bahasa-bahasa tersebut merupakan cara nyata untuk mengungkapkan kebutuhan kita untuk mendengar dari mulut Allah sendiri -- seperti bersandar sedikit lebih dekat untuk mendengarkan perkataan dari seseorang yang terkasih.

Bagi Orang-Orang Selain Pendeta

Namun, bagaimana dengan orang-orang selain pendeta yang membaca artikel ini, yang sedang duduk di bawah khotbah Alkitab setiap Minggu? Mengapa orang percaya senior, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan orang-orang dengan karier penuh waktu perlu peduli tentang dalam bahasa apa pendeta mereka membaca Alkitab dalam saat-saat teduhnya? Terdapat banyak jawaban yang dapat diberikan, tetapi saya akan memberikan satu kata untuk Anda: kepercayaan diri.

Kepercayaan diri bahwa yang diberikan oleh pendeta Anda untuk memberi makan Anda bukanlah makanan bekas yang dipinjam dari tafsiran tertentu. Kemungkinan dia akan masih menggunakan tafsiran, tetapi dia akan mampu berpendapat setuju atau tidak setuju dengan mereka, dan dia akan bisa menjelaskan alasannya.

Kepercayaan diri bahwa khotbah yang Anda dengar ditempa di dapur api yang penuh dengan usaha dan studi yang keras -- ingatlah George Muller yang berlutut dengan kamus bahasa Ibrani di tangannya.

Kepercayaan diri bahwa pendeta Anda akan mempertahankan doktrin yang sehat dan tidak didorong oleh mode atau tipu daya budaya.

Kepercayaan diri bahwa lebih kecil kemungkinannya bagi pendeta Anda untuk tunduk terhadap tradisionalisme, mimbar pidato, atau topik favorit. Seseorang yang menggunakan kapasitas mentalnya untuk memahami perkataan persis suatu teks untuk memahami maknanya kemungkinan akan menghabiskan lebih sedikit waktu untuk menempatkan agendanya sendiri atas teks tersebut.

Kepercayaan diri bahwa menu makan eksegesis yang disajikan oleh pendeta Anda akan, seiring waktu, memperlengkapi Anda pada tingkat pemahaman yang memampukan Anda untuk menjadikan murid dengan lebih efektif bagi Amanat Agung.

Kepercayaan diri bahwa pendeta Anda mengerahkan semua daya untuk bersandar sedikit lebih dekat untuk mendengarkan pikiran Allah yang tertuang dalam firman Allah.

Pujilah Tuhan atas orang-orang yang demikian.

Maka dari itu, berdoalah setiap minggu untuk pendeta Anda -- supaya dia menjunjung Kristus, mengejar kekudusan, dan membaca dan mengkhotbahkan Alkitab dengan ketepatan, kejelasan, dan kuasa.

Kesimpulan

Ya, memang benar bahwa bahasa-bahasa Alkitab sudah dianggap "mati". Namun, mempelajari bahasa mati Alkitab bukanlah mengayak puing-puing masa lalu kuno, melainkan masuk ke dalam makam berisi sukacita kudus yang penuh dengan harta. Membaca Alkitab dalam bahasa "mati"nya dapat menghidupkan jiwa.

Memang benar bahwa ada banyak pendeta yang setia dan meninggikan Kristus yang tidak memahami bahasa Yunani atau Ibrani. Maksud saya bukanlah mendiskreditkan pelayanan atau kerja keras mereka. Pujilah Tuhan atas orang-orang yang demikian.

Namun, jika Anda memiliki hak istimewa untuk mempelajari bahasa-bahasa tersebut, mengapa tidak melakukannya? Anda tidak harus pergi ke seminari untuk mempelajarinya -- William Carey mempelajari bahasa Yunani secara mandiri sambil memperbaiki sepatu.

Kiranya Allah membangkitkan generasi yang penuh dengan pria dan wanita yang digambarkan sebagai orang-orang yang rindu mendengarkan suara-Nya -- sedekat, seakurat, dan sekarib mungkin.

Catatan kaki:
[1] John Piper, "Martin Luther: lessons from his life and labor"; https://www.desiringgod.org/messages/martin-luther-lessons-from-his-life-and-labor.:
[2] George Mueller, "Autobiography of George Mueller" (London: J. Nisbet and Co., 1906), 31.

(t/Odysius)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Master's Seminary
Alamat artikel : https://blog.tms.edu/learning-the-original-languages
Judul asli artikel : Why Learn the Biblical Languages?
Penulis artikel : Jerod Gilcher
Kategori: 
Taxonomy upgrade extras: