DAD - Pelajaran 01

Nama Kursus : Doktrin Allah Dasar
Nama Pelajaran : Pemerintahan Allah
Kode Pelajaran : DAD-P05

Pelajaran 05 -- Pemerintahan Allah

Daftar Isi

  1. Pengertian Pemerintahan Allah
    1. Definisi
    2. Dasar Alkitab
      1. Allah Berkuasa atas Segala Sesuatu
      2. Pemerintahan yang Dinyatakan Melalui Kristus
      3. Panggilan kepada Umat Manusia
    3. Sifat Pemerintahan Allah
      1. Universal
      2. Berdaulat dan Tertib
      3. Etis dan Bermoral
      4. Adil
      5. Bertujuan Kekal
      6. Penuh Kasih
  2. Ruang Lingkup Pemerintahan Allah
    1. Allah Sang Pencipta
    2. Allah Pengatur dan Penentu Sejarah
    3. Allah Pemelihara dan Penjaga Alam Semesta
    4. Allah Menetapkan Ketetapan dan Melaksanakan Kehendak-Nya
      1. Ketetapan Kekal
      2. Kehendak Allah
    5. Allah Hakim dan Penegak Keadilan
    6. Allah Pemulih dan Penyelamat
  3. Respons Manusia terhadap Pemerintahan Allah
    1. Percaya dan Berserah kepada Allah
    2. Hidup dalam Ketaatan
    3. Mengasihi dan Melayani Sesama
    4. Bersyukur dan Memuliakan Allah
    5. Berpartisipasi dalam Rencana Allah
  4. Kesimpulan

Doa

Pelajaran 5 - Pemerintahan Allah

Di tengah hidup yang penuh ketidakpastian, kita sering bertanya, "Siapa yang sesungguhnya memegang kendali?" Alkitab menegaskan bahwa Allah yang memerintah atas segala sesuatu: Ia menciptakan dunia, mengatur sejarah, memelihara ciptaan, menegakkan keadilan, dan membawa keselamatan. Pelajaran 5 menolong kita memahami pemerintahan Allah dan maknanya bagi iman kita.

  1. Pengertian Pemerintahan Allah
  2. Mari kita pelajari lebih dahulu yang dimaksud dengan "Pemerintahan Allah".

    1. Definisi
    2. Pemerintahan Allah merujuk pada otoritas dan kuasa Allah sebagai Raja yang berdaulat atas seluruh ciptaan. Dalam Alkitab, Allah bukan hanya dipahami sebagai Pencipta, tetapi juga sebagai Pribadi yang secara aktif memerintah, mengatur, dan mengarahkan alam semesta, sejarah manusia, kehidupan moral, dan karya keselamatan sesuai dengan kehendak-Nya yang kekal.

      "Kerajaan Allah" (basileÝa) adalah istilah yang digunakan Alkitab, tetapi tidak untuk merujuk pada wilayah tertentu, melainkan tindakan dan realitas Allah yang memerintah. Jadi, Kerajaan Allah menegaskan kehadiran pemerintahan Allah yang aktif, berdaulat, dan berkesinambungan dalam sejarah dan kehidupan manusia.

    3. Dasar Alkitab
    4. Dasar Alkitab tentang pemerintahan Allah ditemukan secara konsisten dalam PL dan PB. Alkitab menyaksikan bahwa Allah menyatakan pemerintahan-Nya melalui Kristus, dan memanggil seluruh umat manusia untuk tunduk kepada-Nya.

      1. Allah Berkuasa atas Segala Sesuatu
      2. Alkitab menegaskan bahwa Allah memerintah sebagai Raja yang berdaulat atas seluruh ciptaan. Mazmur 103:19 menyatakan bahwa takhta Tuhan ditegakkan di surga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemerintahan Allah bersifat universal, kekal, dan tidak terbatas (bdk. Dan. 4:3). Tidak ada satu aspek pun dari ciptaan yang berada di luar otoritas-Nya.

      3. Pemerintahan yang Dinyatakan Melalui Kristus
      4. Dalam PB, pemerintahan Allah dinyatakan secara khusus melalui pribadi dan karya Yesus Kristus. Ketika Yesus memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat (Mrk. 1:15), Ia menyatakan kehadiran aktif pemerintahan Allah dalam misi-Nya. Hal ini ditegaskan setelah kebangkitan-Nya, ketika Yesus menyatakan bahwa segala kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepada-Nya (Mat. 28:18). Dengan demikian, Kristus adalah pusat dan pelaksana pemerintahan Allah atas seluruh ciptaan.

      5. Panggilan kepada Umat Manusia
      6. Pemerintahan Allah menuntut respons dari seluruh umat manusia. Allah digambarkan sebagai Raja atas segala raja dan penguasa dunia (1Tim. 6:15). Pengangkatan dan pemuliaan Kristus akan membuat setiap lutut bertelut dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan (Flp. 2:9-11). Ini menunjukkan sifat pemerintahan Allah yang universal dan menuntut pengakuan serta ketundukan dari semua manusia.

    5. Sifat Pemerintahan Allah
    6. Pemerintahan Allah berbeda dari pemerintahan manusia yang terbatas oleh kuasa dan waktu. Pemerintahan-Nya bersifat ilahi, sempurna, dan mencakup seluruh realitas ciptaan.

      1. Universal
      2. Allah memerintah atas seluruh ciptaan, bukan hanya atas orang percaya, melainkan atas segala sesuatu di dunia ini (Mzm. 103:19). Pemerintahan-Nya melampaui batas tempat, bangsa, dan waktu.

      3. Berdaulat dan Tertib
      4. Pemerintahan Allah dijalankan dengan kedaulatan mutlak dan keteraturan yang sempurna. Tidak ada seorang pun yang dapat menggagalkan rencana-Nya atau menentang tangan-Nya (Dan. 4; Mzm. 115; Ams. 21:1; Ayb. 42:2).

      5. Etis dan Bermoral
      6. Kerajaan Allah bukan sekadar kekuasaan politis, melainkan pemerintahan yang mencerminkan karakter moral Allah. Karena itu, memasuki Kerajaan Allah berarti hidup menurut nilai-nilai ilahi: keadilan, kasih, kerendahan hati, dan kebenaran (Mat. 5:5-7).

      7. Adil
      8. Allah memerintah sebagai Hakim Agung yang adil dan benar dalam segala jalan-Nya (Mzm. 145:17). Keadilan-Nya untuk menghukum dosa dan penolakan akan Allah bukan berdasarkan standar manusia, melainkan bersumber dari karakter-Nya yang kudus dan sempurna.

      9. Bertujuan Kekal
      10. Pemerintahan Allah bergerak menuju tujuan kekal: penebusan dan pemulihan ciptaan dalam Kristus (Kej. 3:15; Ef. 1:9-10), pengumpulan umat dari segala bangsa (Mat. 28:18-20), dan konsumasi sejarah ketika segala sesuatu tunduk kepada Kristus (Flp. 2:10-11; Why. 21-22).

      11. Penuh Kasih
      12. Pemerintahan Allah bukan kekuasaan tirani, melainkan pemerintahan yang dijalankan dalam kasih dan anugerah. Kasih ini dinyatakan secara nyata melalui karya keselamatan Yesus Kristus, yang memanggil manusia kepada hidup yang baru dalam Roh (Yoh. 3:16; Rm. 5:8).

  3. Ruang Lingkup Pemerintahan Allah
  4. Teologi biblika menegaskan bahwa pemerintahan Allah adalah realitas yang nyata dan aktif dalam seluruh ciptaan, tidak ada aspek kehidupan yang berada di luar otoritas Allah.

    1. Allah Sang Pencipta
    2. Alkitab membuka kisah sejarah dengan penegasan bahwa Allah menciptakan langit, bumi, dan segala isinya dengan firman-Nya (Kej. 1:1-31). Ini bukan sekadar narasi asal-usul, tetapi deklarasi bahwa segala sesuatu ada di bawah otoritas Sang Pencipta. Allah memegang hak prerogatif atas eksistensi semua ciptaan-Nya, termasuk memberikan mandat untuk mengelola ciptaan (Kej. 1:26-28), suatu wewenang yang berasal dari pemerintahan Allah sendiri.

    3. Allah Pengatur dan Penentu Sejarah
    4. Allah tidak hanya mencipta, tetapi juga mengatur perjalanan sejarah manusia dan bangsa-bangsa sesuai dengan rencana-Nya (Pkh. 3:1-11; Kis. 17:26). Alkitab menegaskan bahwa Allah menentukan awal dan akhir sejarah serta menggenapi tujuan-Nya melalui peristiwa-peristiwa sejarah (Yes. 46:9-10). Tidak ada peristiwa yang terjadi di luar pemerintahan-Nya.

    5. Allah Pemelihara dan Penjaga Alam Semesta
    6. Pemerintahan Allah dinyatakan melalui pemeliharaan-Nya atas seluruh ciptaan (providensia). Allah menopang dan mempertahankan segala sesuatu agar tetap ada dan berfungsi sesuai dengan kehendak-Nya (Kol. 1:16-17). Pemeliharaan ini mencakup alam semesta, kehidupan manusia, dan peristiwa-peristiwa hidup, bahkan di tengah penderitaan (Mzm. 104; Mat. 6:26; Rm. 8:28).

    7. Allah Menetapkan Ketetapan dan Melaksanakan Kehendak-Nya
    8. Pemerintahan Allah dinyatakan melalui dua aspek yang berbeda, tetapi saling berkaitan: ketetapan kekal Allah dan kehendak Allah yang dinyatakan. Ketetapan Allah menyangkut rencana-Nya yang berdaulat dan pasti terlaksana, sedangkan kehendak Allah menunjuk pada tuntutan moral dan panggilan hidup yang harus ditaati manusia.

      1. Ketetapan Kekal Allah
      2. Ketetapan Allah adalah keputusan kekal Allah yang ditetapkan sebelum dunia dijadikan dan mencakup seluruh rencana-Nya atas ciptaan dan sejarah. Ketetapan ini tidak bergantung pada waktu atau respons manusia dan pasti terlaksana sesuai dengan kedaulatan-Nya.

        Alkitab menyatakan bahwa umat Allah telah "dipilih dalam Kristus sebelum permulaan dunia" (Ef. 1:4-5), dan bahwa rencana Tuhan tetap untuk selama-lamanya serta tidak dapat digagalkan (Mzm. 33:11; Yes. 46:10). Ketetapan Allah bekerja di balik sejarah, termasuk melalui keputusan bebas manusia, tanpa menjadikan Allah sebagai penyebab dosa. Karena itu, pemerintahan Allah bersifat mutlak dan tidak pernah gagal.

      3. Kehendak Allah yang Dinyatakan
      4. Kehendak Allah adalah yang Allah nyatakan dan tuntut untuk ditaati oleh manusia. Yesus mengajarkan agar kehendak Allah "terjadi di bumi seperti di surga" (Mat. 6:10), yang menunjuk pada kehendak moral Allah sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya.

        Dalam kehidupan sosial dan politik, Alkitab juga menegaskan bahwa otoritas manusia berada di bawah pemerintahan Allah (Rm. 13:1). Hal ini tidak berarti semua tindakan pemerintah mencerminkan kehendak moral Allah, tetapi bahwa struktur otoritas itu sendiri tetap tunduk dan bertanggung jawab kepada Allah sebagai Raja tertinggi.

    9. Allah Hakim dan Penegak Keadilan
    10. Dalam pemerintahan-Nya, Allah adalah Hakim tertinggi yang akan menghakimi dunia dengan adil pada akhir zaman (Kis. 17:31). Alkitab menggambarkan Dia bersemayam di atas takhta untuk menghakimi seluruh umat manusia (Why. 20:11-15), menegaskan bahwa keadilan ilahi merupakan unsur esensial dari pemerintahan Allah.

      Allah memanggil manusia hidup dalam kebenaran karena penghakiman-Nya bukan sekadar keputusan hukum formal, melainkan pernyataan karakter-Nya yang kudus dan adil.

    11. Allah Pemulih dan Penyelamat
    12. Puncak pemerintahan Allah dinyatakan dalam karya keselamatan melalui Yesus Kristus. Allah memerintah untuk menebus dan memulihkan manusia dari dosa serta mendamaikan kembali ciptaan dengan Pencipta (Yoh. 3:16; Ef. 1:7). Inilah inti pemerintahan Allah yang membawa pengharapan baru.

      Kristus diutus bukan hanya sebagai Hakim, tetapi sebagai Raja Penyelamat yang memimpin umat-Nya menuju pemulihan yang menyeluruh--moral, rohani, dan eskatologi--hingga seluruh ciptaan berada dalam keadaan yang telah ditebus (Ibr. 2:10; Rm. 8:29-30).

  5. Respons Manusia terhadap Pemerintahan Allah
  6. Pemerintahan Allah bukan sekadar konsep teologis untuk dipahami, melainkan realitas ilahi yang menuntut respons nyata dalam kehidupan orang percaya. Respons ini menyatakan iman yang hidup dan pengakuan bahwa Allah sungguh memerintah atas seluruh aspek kehidupan.

    1. Percaya dan Berserah kepada Allah
    2. Percaya kepada Allah berarti meyakini bahwa Ia memerintah dengan kuasa, hikmat, dan kasih. Berserah merupakan tindakan iman yang nyata, yaitu menyerahkan hidup, keputusan, dan masa depan kepada Allah, sambil percaya bahwa rencana-Nya adalah yang terbaik, bahkan di tengah ketidakpastian (Ams. 3:5-6; Mzm. 37:5).

    3. Hidup dalam Ketaatan
    4. Pengakuan atas pemerintahan Allah dinyatakan melalui ketaatan kepada kehendak-Nya. Bukan ketaatan yang mekanis, melainkan penyesuaian sikap, pikiran, dan tindakan dengan Firman Allah (Yoh. 14:15; Yak. 1:22). Dengan taat, orang percaya mengakui bahwa pemerintahan Allah itu benar, adil, dan penuh hikmat.

    5. Mengasihi dan Melayani Sesama
    6. Allah memerintah dengan kasih dan memanggil umat-Nya untuk mencerminkan kasih tersebut dalam relasi dengan sesama. Mengasihi dan melayani sesama merupakan respons konkret terhadap pemerintahan Allah, yang menghadirkan keadilan dan kesejahteraan di tengah dunia (Mat. 22:37-40; Gal. 5:13-14).

    7. Bersyukur dan Memuliakan Tuhan
    8. Sikap syukur dan pujian merupakan pengakuan bahwa Allah berdaulat atas seluruh kehidupan. Orang percaya dipanggil untuk mengucap syukur dan memuliakan Allah dalam segala keadaan, bukan hanya saat menerima berkat, sebab Ia memerintah dengan hikmat dan kasih (1Tes. 5:18; Kol. 3:16-17).

    9. Berpartisipasi dalam Rencana Allah
    10. Pemerintahan Allah juga mengajak umat-Nya untuk terlibat aktif dalam rencana-Nya bagi dunia. Melalui pemberitaan Injil, pelayanan, dan perbuatan baik, orang percaya berpartisipasi dalam karya Allah untuk menghadirkan Kerajaan-Nya di bumi (Mat. 28:18-20; Ef. 2:10). Partisipasi ini menegaskan bahwa orang percaya bukan sekadar penonton sejarah, melainkan rekan kerja Allah dalam pelaksanaan kehendak-Nya.

  7. Kesimpulan
  8. Pelajaran ini menegaskan bahwa Allah adalah Raja yang memerintah atas seluruh ciptaan, sejarah, dan kehidupan manusia. Pemerintahan-Nya bersifat universal, berdaulat, adil, etis, penuh kasih, dan berjalan menurut ketetapan-Nya yang kekal.

Memahami pemerintahan Allah menolong kita hidup dengan iman dan ketenangan karena hidup kita berada di tangan Raja yang adil dan penuh kasih. Karena itu, respons yang benar bukan hanya percaya, tetapi hidup berserah, taat, mengasihi dan melayani sesama, bersyukur, serta berpartisipasi dalam rencana Allah sehingga hidup kita selaras dengan Kerajaan-Nya dan memuliakan nama-Nya.

Akhir Pelajaran (DAD-P05)

Doa

"Bapa di surga, aku bersyukur karena Engkau adalah Allah yang memerintah atas seluruh ciptaan dengan hikmat dan kasih. Ajarlah kami untuk percaya dan berserah kepada kehendak-Mu, hidup taat di bawah pemerintahan-Mu, dan menjadi alat-Mu untuk menyatakan kasih dan kebenaran-Mu di dunia ini. Kiranya hidup kami memuliakan nama-Mu. Amin."