Sharing Berkat Kelas PSE 1

  1. Christian Yizreel

    Puji syukur kepada Tuhan. Minggu ini, saya berkesempatan mengikuti kelas "Pengantar Scripture Engagement". Dari kelas ini, membuat saya sadar bahwa firman Tuhan itu seperti pelita yang harus terus kita nyalakan dalam hidup. Saat kita bukan hanya membaca, tetapi juga merenungkan dan menghidupi firman, di situlah kita mengalami pertumbuhan rohani yang nyata. Saya bersyukur bisa belajar bersama Bapak/Ibu, dan terima kasih atas kebersamaan serta dukungan yang membuat proses ini semakin bermakna. Kiranya kita semua terus dipimpin untuk semakin dekat dengan Tuhan. TYM.

  2. Eminingtyas

    Puji Tuhan, melalui pelayanan SABDA, saya dapat mengikuti kelas PSE. Terima kasih buat segenap tim SABDA yang telah melayani kami, dan terima kasih pula buat rekan-rekan diskusi selama ini. Berkat PSE ini membuat saya lebih fokus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, juga pada waktu membaca firman Tuhan, dengan kesadaran penuh menghormati-Nya. Saya harus benar-benar memiliki interaksi yang aktif dengan Bapa di surga, sampai menghasilkan buah Roh, dan hidup saya berubah dari sikap, karakter, dan kasih. Untuk selanjutnya, berkat pembelajaran ini, saya rindu menceritakannya kepada keluarga, rekan pelayanan, dan keluarga Allah. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita.

  3. Gunawan D.N.

    Puji syukur bisa mengikuti kelas ini sampai selesai. Banyak hal baru yang dipelajari dari materi yang baru pertama kali, dan juga diskusi teman-teman yang menarik.

    1. Gulat Yakub, merupakan proses Tuhan untuk mengubah hati dan bergantung pada Tuhan (diskusi dari peserta).
    2. Mendengar - Mengerti - Merenungkan - Merespons - Menghidupi. Membaca firman bukan karena target, tetapi karena kerinduan menghidupi.
    3. Kehidupan rohani yang semu dan otentik merupakan introspeksi buat masing-masing pribadi untuk maju dan berpindah ke kehidupan rohani yang otentik.
    4. Penerapan aplikasi SE ini yang banyak tantangan terutama dari dalam pribadi.
  4. Hana

    Yang me-reminder saya adalah bahwa SE bukan soal disiplin membaca, tetapi soal relasi dengan membiarkan firman benar-benar berdialog dengan hidup kita hingga mengubah arah, respons, dan karakter. Di tengah era serba teknologi saat ini, kedewasaan rohani justru lahir dari proses yang pelan, bergumul, merenung, dan taat.

    Aplikasi praktisnya bukan dengan menambah target pasal, tetapi memperlambat ritme dengan membaca konteks, sejarah, budaya, dan lain-lain, serta menanyakan apa yang Tuhan sedang sentuh dalam diri saya, dan mengambil langkah konkret serta menjalaninya dalam komunitas supaya firman tidak berhenti sebagai pengetahuan tetapi menjadi napas hidup yang nyata. Jalannya diskusi cukup baik. Terima kasih kepada SABDA, teman-teman PSE 1, moderator, dan juga admin.

  5. Irena Rachmani Utama

    Shalom. Saya bersyukur boleh mengikuti program PSE ini. Awalnya, saya mengikuti program ini sebagai bagian dari komitmen untuk membaca Alkitab secara teratur. Namun, di tengah prosesnya, saya mulai menyadari bahwa PSE bukan sekadar program membaca, melainkan sebuah perjalanan untuk menguji diri.

    Melalui PSE, saya seperti diajak untuk bertanya dengan jujur: Apakah selama ini saya benar-benar bertumbuh dalam iman? Apakah ada perubahan karakter yang nyata dalam hidup saya? Saya menyadari bahwa membaca Alkitab ternyata tidak otomatis menghasilkan transformasi hati. Saya bisa saja menyelesaikan bacaan setiap hari, memahami isi cerita, bahkan mengerti maknanya secara teologis, tetapi hati saya belum tentu berubah. Firman Tuhan bisa saya baca, tetapi belum tentu saya izinkan untuk membentuk sikap, cara berpikir, dan respons saya terhadap orang lain.

    PSE menolong saya memperlambat langkah, merenungkan firman lebih dalam, dan melihat apakah ada buah nyata dalam hidup saya. Saya belajar bahwa transformasi itu terjadi ketika firman tidak hanya berhenti di pikiran, tetapi turun ke hati dan diwujudkan dalam tindakan. Program ini menjadi cermin bagi saya, bukan untuk menghakimi diri, tetapi untuk bertumbuh. Saya jadi memahami bahwa pertumbuhan iman bukan diukur dari seberapa banyak ayat yang sudah dibaca, melainkan seberapa jauh firman itu mengubah karakter saya menjadi semakin serupa dengan Kristus.

    Saya bersyukur karena melalui PSE, Tuhan kembali mengingatkan saya bahwa yang Ia rindukan bukan hanya pembaca firman, tetapi pelaku firman. Kiranya Tuhan terus menolong saya — dan kita semua — untuk bukan hanya setia membaca, tetapi juga mengalami transformasi hati yang sejati. Amin.

  6. Josephine A.B. Christinawati

    PSE sangat memberkati bagi pengalaman saya dalam mempelajari Alkitab. Melalui PSE, saya semakin mengerti bahwa kita membutuhkan bantuan teknologi/AI untuk mempersingkat waktu, mempermudah, dan memperkaya penggalian teks Alkitab. Namun, kita tidak boleh melupakan hal yang sangat mendasar, yaitu peran Roh Kudus dalam setiap tindakan kita menggunakan AI. AI memberikan pengertian dalam pikiran kita, tetapi Roh Kudus yang akan membuka mata hati dan rohani kita, sehingga setiap penjelasan yang kita dapat melalui AI dapat kita mengerti, selaras atau tidak dengan kebenaran firman Tuhan/Alkitab. Dengan peran serta Roh Kudus, saya semakin menyadari bahwa Allah ingin kita semakin cerdas dan peka akan kehendak dan rancangan Tuhan atas hidup kita, dan kita bisa menjadi berkat buat orang yang membutuhkan pertolongan agar dapat menikmati berkat kasih anugerah Tuhan. Aplikasi praktis yang akan saya lakukan adalah menggunakan setiap waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan kepada saya untuk selalu terhubung dengan Tuhan dalam setiap tindakan dan langkah hidup saya.

    Matius 6:33, "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Yang terutama dan utama adalah mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka Allah turut bekerja dalam setiap tindakan kita dan semuanya mendatangkan kebaikan bagi kita. Evaluasi proses diskusi: sangat memberkati, saling memperkaya, dan semakin menambah semangat untuk belajar bersama.

  7. Lily Kurniati

    Saya sangat bersyukur dapat mengikuti kelas PSE ini. Dari kelas ini, saya belajar untuk meningkatkan interaksi saya dengan firman Tuhan, tidak cukup hanya membaca/mendengar firman Tuhan setiap hari. Tidak cukup hanya merasa ditegur atau mendapatkan sesuatu dari yang saya baca. Namun, perlu respons saya untuk taat dan menghidupinya dalam keseharian saya. Saya menjadi sadar bahwa waktu yang saya sediakan untuk berinteraksi dengan firman Tuhan setiap hari masih belum cukup, dan ini menjadi komitmen saya selanjutnya. Terima kasih untuk Bu Evi yang telah memandu diskusi di kelas PSE 1 dan Kak Milly sebagai admin. Terima kasih untuk teman-teman di PSE 1 atas diskusi dan masukan yang sangat memperkaya wawasan saya. Terima kasih untuk Bu Yulia dan seluruh staf SABDA yang telah bekerja keras melaksanakan kelas ini. Soli Deo gloria.

  8. Mariano Nathanael

    Kalau mempelajari konsep dan langkah-langkah SE, sebenarnya tidak ada yang baru. Saya juga sudah melakukannya dari segi prinsip-prinsipnya dan langkah-langkahnya, meskipun namanya bukan SE. Namun, pelajaran SE di kelas ini telah membuatnya menjadi sangat sistematis, tertata dengan baik, dikupas dasar-dasar teologisnya, kelebihan, kekurangan, hambatan, tantangan, hubungan dengan AI, dan juga tujuan akhir SE, semua dalam bentuk pelajaran/modul yang komprehensif sehingga semuanya menjadi lebih jelas dan terstruktur dengan baik, dan lebih mudah jika ingin membagikan kepada orang lain. Saya sangat berterima kasih kepada tim SABDA yang telah membagikan hal yang sepenting ini dan sepraktis ini kepada kami. Puji Tuhan.

    Dalam mengikuti kelas ini, saya sangat berkesan pada pertanyaan ke-10, tentang tantangan yang akan dihadapi ke depan untuk melakukan SE, saya merenung cukup lama tentang ini karena saya benar-benar akan mengalami "ujian" melakukan SE. Bulan April ini, sudah masanya saya melepas jabatan majelis di gereja, dan ujian/tantangan bagi saya adalah: apakah saya akan tetap melakukan SE seperti yang sudah saya lakukan dari dahulu? Apakah saya melakukan SE ini hanya karena saya punya jabatan kemajelisan dari gereja saja atau memang sudah mendarah daging dalam saya? Dengan mudah, saya akan bilang pasti lanjut dong SE-nya, tetapi kenyataannya belum tentu semudah itu. Waktulah yang akan membuktikannya. Semoga saya bisa melewati hal ini dengan baik.

    Saya sangat menikmati proses diskusi yang berlangsung dalam kelas, pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban bisa memberi insight-insight yang baru. Terima kasih untuk semua rekan-rekan sekelas di PSE 1. Terima kasih untuk admin, Kak Milly, dan Moderator, Kak Evie. Terima kasih untuk seluruh tim SABDA. Saya berdoa supaya Tuhan selalu memperluas dan memperdalam pelayan tim SABDA sehingga makin menjangkau banyak orang. Tuhan Yesus memberkati.

  9. Martina Zebua

    Bersyukur dapat mengikuti PSE ini. Melalui PSE, saya mendapatkan banyak berkat baik melalui modul PSE maupun dalam grup diskusi dengan teman-teman.

    1. Mengingatkan saya tentang motivasi membaca Alkitab, bukan hanya sekadar membaca, tetapi mendengar suara Tuhan dan mengalami perjumpaan dengan Dia. Dan, membiarkan firman Tuhan menjadi bagian hidup dan tindakan kita.
    2. Penting bagi kita membangun komunitas dengan saudara seiman untuk menghindarkan kita dari sikap subjektif dan tertutup. Dengan komunitas, akan menolong kita bertumbuh dalam kasih, kebenaran, dan kerendahan hati.
    3. Kita dapat menggunakan setiap sarana modern sebagai alat menjangkau firman Tuhan, tetapi kita harus tetap menjaga hati kita sebagai tempat perjumpaan yang suci dengan firman Tuhan.

    Terima kasih untuk tim SABDA yang telah menyediakan sarana belajar ini dan teman-teman grup yang luar biasa dalam berdiskusi sehingga pemahaman tentang SE semakin lengkap dan dipertajam. Tuhan memberkati kita semua.

  10. Melce Y.L.

    Puji syukur kepada Tuhan Yesus atas kesempatan berharga dalam mengikuti kelas diskusi PSE ini. Berkat yang saya dapatkan melalui kelas PSE ini adalah mengetahui secara mendalam apa, kapan, mengapa, bagaimana, dan dampak/akibat dari SE bagi saya pribadi jika dilakukan dengan konsistensi dan komitmen, serta dorongan hati yang sungguh.

    Modul PSE yang saya pelajari ini sangat bermanfaat sekali bagi saya, serta mudah dicerna juga dan ini akan sangat bagus sekali apabila dipraktikkan, selain dari saat teduh pribadi juga ke dalam komunitas-komunitas Kristen, seperti mazbah keluarga, Komsel, dan kelompok-kelompok kecil pemuridan. Saya pribadi beruntung sekali bisa mengikuti kelas PSE ini. Luar biasa. Tuhan itu baik. Dia selalu menjawab tepat pada waktunya untuk anak-anak-Nya yang punya kerinduan lebih dalam akan firman-Nya.

    Terima kasih banyak-banyak kepada tim MLC SABDA yang bekerja keras sehingga modul PSE ini ada dan dibagikan, juga penjelasan Bu Yulia yang sangat sederhana mudah dipahami. Terima kasih pula kepada moderator, Ibu Evie, admin, dan semua rekan-rekan diskusi PSE 1. Diskusi berjalan bagus dan aktif. Kiranya MLC SABDA terus Tuhan pakai menjadi saluran berkat untuk mewarnai dunia dengan kebenaran. Tuhan Yesus berkati kita semua. Salam IT4God dan AI4God.

  11. Sonya Haning

    Saya bersyukur dapat mengikuti PSE ini. Seperti mendapat penguatan untuk terus melakukan dan melakukan dengan konsisten. Saya rindu untuk menjadikan SE sebagai habit saya. Dan, juga ingin memengaruhi orang-orang di sekitar saya untuk SE juga. Saya akan membiasakan diri untuk bertanya kepada jemaat yang saya layani seperti apa dia menghidupi firman dan apa kesulitan untuk didoakan. Saya akan membagi berkat firman Tuhan yang saya dapati, dan bagaimana saya menghidupinya kepada orang-orang dalam satu hari serta membaginya melalui medsos. Sekali lagi, saya sangat diberkati mengikuti SE ini, ada komitmen yang dibuat, ada semangat untuk konsisten. Terima kasih untuk SABDA yang menyelenggarakan acara ini. Tuhan Yesus memberkati.

  12. Stefanus Hendra Widjaja

    Selama mengikuti kelas PSE, saya menyadari bahwa selama ini saya sering membaca Alkitab untuk mencari jawaban, bukan untuk membiarkan diri saya diubah. PSE menolong saya melihat bahwa Scripture Engagement adalah proses relasi, mendengar, merenungkan, merespons, dan taat. Saya belajar bahwa tujuan akhirnya bukan pengetahuan, melainkan teleos—kedewasaan rohani yang nyata dalam karakter. Firman Tuhan menjadi cermin yang mengoreksi motivasi saya, bukan sekadar bahan untuk menguatkan pendapat saya. Melalui proses ini, saya juga diingatkan bahwa pertumbuhan rohani membutuhkan komunitas dan akuntabilitas, serta kesediaan untuk menunggu dan bergumul, bukan mencari jawaban instan.

    Berkat terbesar yang saya terima adalah perubahan perspektif: dari menjadikan firman sebagai informasi, menjadi menjadikannya fondasi hidup. Saya rindu agar setiap interaksi dengan firman tidak berhenti pada pemahaman, tetapi menghasilkan pertobatan, ketaatan, dan kasih yang semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dari pengetahuan menjadi fondasi hidup.

  13. Suratman Aripin

    Saya bersyukur mengikuti kelas PSE. Hal yang saya syukuri adalah mengubah pola pikir saya dari mengejar berapa banyak yang telah saya baca atau selesaikan membaca firman Tuhan menjadi apa yang sudah Tuhan bentuk dalam diri saya dari pembacaan firman Tuhan yang saya lakukan. Demikian pun dalam kehidupan bersama dalam gereja, selama ini lebih cenderung kepada faktor pengawasan (apakah sudah membaca Alkitab sesuai jadwal), daripada apakah faktor pertumbuhan. Masalah disiplin untuk membaca bukan suatu yang salah, tetapi bila hanya menyelesaikan pembacaan karena target ini yang jadi masalah.

    Oleh karena itu, pentingnya satu komunitas untuk berjalan bersama di mana ada rasa aman untuk jujur mengenai proses yang sedang dijalani, dan juga merasa nyaman untuk mengungkapkan pergumulan yang sedang dihadapi. Oleh karena itu, saya ingin membagikan mulai dari keluarga saya sendiri dan juga komunitas di gereja.

    Saya berterima kasih kepada tim SABDA yang telah menyiapkan bahan dan juga pertanyaan-pertanyaan dalam diskusi kelompok yang membuat pemahaman menjadi semakin kaya. Demikian juga rekan-rekan dalam kelompok yang saling memperlengkapi dan menyoroti dari sisi yang tidak terpikir oleh saya. Puji Tuhan.

  14. Susi Wahyuni

    Puji Tuhan, bisa ikut pembelajaran PSE. Sudah beberapa kali, saya melewatkan pembelajaran online bersama SABDA karena berbagai kesibukan pekerjaan saya. Saya senang sekali mengikuti pembelajaran kali ini, tidak terlalu teoritik, lebih ke arah pemahaman rohani. Saya sangat terberkati dengan materi yang diberikan, menambah pemahaman yang lebih dalam tentang bertumbuh bersama Tuhan dan melebur menjadi pelaku dalam kehendak-Nya. Terima kasih tim SABDA, teman-teman PSE 1 yang sangat aktif dalam berdiskusi dan memberikan pertanyaan yang terus mengasah kepekaan saya untuk mengenal firman Tuhan. Kalian luar biasa hebat. Tuhan Yesus memberkati kita berlimpah-limpah dalam kebajikan-Nya.

  15. Suyati

    Shalom. Sangat bersyukur bisa bergabung dan menyelesaikan kelas PSE yang diadakan oleh SABDA. Pengalaman baru yang saya dapatkan, yaitu kesempatan yang sangat baik dan berharga, dan juga sebuah kerinduan yang selama ini saya dambakan untuk mengenal Alkitab. Bukan hanya sebagai pedoman hidup yang harus saya baca, tetapi lebih dari itu, ada sebuah tahap di mana saya harus memiliki interaksi yang hidup dengan Alkitab, Scripture Engagement.

    Pelajaran/berkat yang paling berkesan adalah kita tidak seharusnya datang kepada-Nya sebagai pekerja yang menyelesaikan tugas, tetapi sebagai anak yang rindu mendengar suara Bapanya walau harus ada pergulatan. Namun, hal itu juga menjadi proses yang membawa kita bertumbuh, teknologi adalah alat yang dapat kita pergunakan untuk memperoleh data atau informasi, tetapi Roh Kuduslah yang memberi transformasi. Tidak ada alasan apa pun untuk tidak terhubung dengan-Nya karena di saat kita lemah, kering, dan miskin, di situlah waktu yang paling indah berjumpa dengan Tuhan, dan kita tidak pernah diciptakan untuk sendiri. Pentingnya memiliki komunitas yang sehat untuk saling mendukung, menguatkan dalam pertumbuhan iman yang dewasa yang otentik.

    Aplikasi praktis yang akan saya lakukan, yaitu terus komitmen untuk menyediakan waktu terbaik saya, bukan sisa untuk SE. Berusaha sebisa mungkin menggunakan metode-metode untuk lebih memahami, membiasakan diri untuk mencatat dari pikiran ke jurnal, tetap ada dalam komunitas, menjadikan ketaatan sebagai penyembahan atau ibadah. Evaluasi terkait proses diskusi sangat memuaskan. Rekan-rekan PSE 1 luar biasa. Namun, saya mohon maaf karena sangat minimalis dalam menanggapi atau menimpali. Sekali lagi, terima kasih untuk semua hasil penggalian dan tanggapan yang sudah dibagi, sangat relate dengan kehidupan dan memberkati.

    Terima kasih untuk admin, Kak Milly, dan moderator, Ibu Evie, dan semua tim SABDA MLC yang sudah memfasilitasi kami untuk bisa belajar dan diperlengkapi untuk lebih lagi mengerti maksud dan kehendak Tuhan. Tuhan Yesus memberkati Yayasan Lembaga SABDA, MLC ke depannya, terus menjadi alat Tuhan di muka bumi ini.

  16. Timothy Wenas

    Saya teringat pada saat pemaparan materi di hari pertama, di mana permulaannya sempat disebutkan bahwa membaca Alkitab saja tidak secara otomatis mengubah hidup, melainkan dengan membaca dan mentransformasikan hidup untuk menjadi manusia alkitabiah. Dan, hal ini yang menunjang saya untuk tergerak ikut terus dalam kelas PSE ini. Saya sangat bersyukur dengan seluruh aspek yang mendukung berjalannya kelas ini, dari narasumber, moderator, admin, pembimbing, juga seluruh peserta kelas diskusi. Saya bersyukur dapat berinteraksi dengan sesama peserta serta bisa saling membuka pikiran dan berdiskusi. Kiranya Tuhan selalu memberkati dan menyertai kita selalu. Kiranya juga kita selalu menanti akan hadirat Tuhan hadir dalam hidup kita sehari-hari. Sukses selalu tim dan Yayasan Lembaga SABDA, serta Pesta.org.

  17. Yulianti Jacklin Liong

    Shalom. Puji Tuhan. Oleh karena kasih-Nya, saya bisa ada kesempatan untuk mengikuti PSE. Waktu saya melihat di grup MLC, Alkitab sering dibaca, tetapi mengapa tidak ada perubahan secara signifikan dalam hidupnya. Dan, waktu itu saya berpikir iya yah kenapa, padahal di gereja kami sudah beberapa kali program baca Alkitab, 3 pasal setiap hari, dan target pelayan tuntas baca Alkitab PB dalam waktu 1 bulan. Namun, saya melihat teman-teman saya kenapa kecenderungan melukai, bahkan ketika ada perbedaan pendapat bawaannya marah dan tidak mau dikoreksi. Saya rindu sekali melihat perubahan terjadi, setiap saat teduh saya selalu menangis bertanya apa yang harus saya lakukan Tuhan. Sedangkan, posisi saya yang kurang pengetahuan intelektual membuat saya merasa tidak pantas (hilang percaya diri) untuk berbicara kepada teman-teman saya karena jujur pas waktu kita duduk-duduk bareng atau sharing firman Tuhan, ada saja yang ngomong oh kalau mereka itu Teolog jadi kita diam saja. Itu rasanya hancur. Namun, saya lebih sedih sekali melihat teman-teman saya yang kenapa mereka begitu pintar, tetapi buah Roh tidak muncul dalam hidup mereka. Saya sempat berpikir, mungkin mereka tidak ada waktu intim dengan Tuhan sehingga karakter Allah itu tidak nampak dalam hidup mereka. Saya juga berpikir ada yang salah dari diri saya.

    Akhirnya, saya menggunakan AI untuk mengajarkan saya dasar-dasar Teologi, seakan saya lagi kuliah. Namun, saya tetap setia berdoa, bahkan nangis-nangis, saking inginnya saya bisa pintar seperti mereka. Dan, puji Tuhan, ketika saya melihat PSE di MLC, hati saya sangat kuat ngomong, "Ayo daftar. Ayo ayo." Dan, akhirnya, saya daftar. Puji Tuhan, saya sangat bersyukur, ternyata nggak salah Tuhan mau jawab doa saya lewat PSE dan kalau bukan Tuhan yang menolong mungkin saya bisa bergeser dari kebergantungan penuh kepada Tuhan jadi ke AI. Ketika Ibu Yulia menyampaikan materi-materi PSE, saya seperti dapat kejutan yang membuat saya sangat bergembira. Ternyata, Tuhan mau bilang, "Sudah Kin, nggak usah terlalu kejar pengetahuan intelektual, terus fokus saja pada saya (Yesus) sehingga kamu semakin bisa serupa dengan saya (Yesus)". Rasanya mau nangis saat Zoom. Saya melihat wajahnya Ibu Yulia yang lagi berbicara, rasanya pengen peluk, dan bilang makasih banyak, Bu. Saya sangat terberkati sekali. Sehingga saya sadar betul bukan tidak perlu belajar, tetapi jangan sampai mengejar pengetahuan dan mengubah prioritas saya.

    Dan, oleh tuntunan Roh Kudus, saya dapat mengikuti diskusi dengan baik sampai selesai. Saya bisa lebih mengerti perbedaan kedewasaan rohani yang otentik dan yang hanya terlihat dewasa rohani sehingga orang-orang tersebut akan jadi target utama dalam hati saya untuk saya sampaikan PSE dan mendoakan mereka agar Roh Kudus yang menerangi hati mereka. Sangat rindu membagikan PSE ini kepada keluarga saya, gereja kami, bahkan orang-orang yang berjumpa dengan saya. Saya ingin agar semua diberkati dan menuju pada perubahan yang signifikan, dan semua hanya untuk hormat kemuliaan nama Tuhan. Puji Tuhan. Terima kasih banyak seluruh tim SABDA, bahkan kita semua yang mengikuti PSE yang sudah saling memberkati. Terima kasih Ibu Yulia, Ibu Evie, Ibu Mei, dan Milly. Sehat-sehat, bahagia bersama keluarga. Tuhan Yesus memberkati selalu. Amin.

  18. Ridwan Jamahendra Purba

    Dengan bergabung dalam diskusi interaktif dalam SE, membuat saya memahami sebuah masalah dari berbagai perspektif sehingga dapat memahami permasalahan dengan kritis. Dalam SE ini, kita tidak hanya mempelajari teks tertulis, tetapi juga teks tidak tertulis (realitas, tantangan zaman, AI) yang ternyata bisa menjadi tantangan sekaligus hambatan dalam mendengar dan merenungkan firman Tuhan. SE ini menjadi ruang yang saling mendengar, merenung, dan merefleksikan pergumulan dalam aktivitas mendengar suara Tuhan dalam setiap lini kehidupan. SE ini tidak hanya memberikan informasi dan solusi, tetapi justru mempertanyakannya sehingga didapat jawaban dan solusi kritis yang solutif terhadap masalah. Dalam SE, kita juga menemukan kerapuhan kita sebagai manusia. Bahwa ternyata tanpa melibatkan Roh Kudus, kita tidak dapat tetap komitmen untuk setia membaca Alkitab demi informasi dan transformasi.

    Yang paling berkesan bagi saya adalah ketika membaca Alkitab sebagai sumber informasi atau transformasi. Mengapa demikian? Di tengah zaman yang canggih, banyak orang menjadikan Alkitab, penafsiran, latar belakang, dan juga peristiwa kontemporer saat ini sebagai informasi yang disebar, perdebatan, yang orientasinya demi konten dan adsense. Tidak menitikberatkan pada usaha tranformasi. Sehingga menjadi tantangan bagi saya bagaimana pembinaan SE dan juga refleksi terhadap firman Tuhan tidak hanya mencerahkan dan mengungkapkan kebenaran, tetapi juga bagaimana kebenaran itu sendiri membawa transformasi personal yang berdampak pada transformasi sosial. Sebab dengan demikianlah kita menjadi surat Kristus yang terbuka. Amin.