Arti Sebuah Nama (1)

Di dalam keluarga, ketiga kakak saya memiliki nama yang terdiri dari dua kata dengan masing-masing memiliki arti yang bermakna. Hanya nama saya yang terdiri dari satu kata : "Indriatmo" - dan saya tidak paham apa artinya. Dulu saya sering tidak nyaman dengan nama sendiri, karena selama duduk di SD dan SMP, nomor urut absensi setelah saya adalah anak perempuan yang bernama "Indriyani".

Memang itu tidak menjadi bahan ejekan yang biasanya dilakukan oleh anak SD, karena waktu itu saya adalah anak yang hobi berantem. Mereka tidak berani mengejek nama saya tanpa memikirkan balasannya yang setimpal. Tetapi tetap saja rasa tidak nyaman itu selalu muncul jika ada pangilan nama sesuai dengan nomor urut absen.

Namun begitu saya tidak pernah bertanya kepada orang tua, mengapa telah memberikan nama seperti itu; karena pemberian nama adalah hak prerogatif orang tua - sebagaimana seingat saya, saya tidak pernah meminta untuk dilahirkan; tahu-tahu sudah ada di dunia...

Di keluarga, saya dipanggil "Indri"; begitu juga saat SD dan SMP karena banyak keluarga teman yang sudah mengetahuinya. Sedangkan di SMA saya dipanggil "dukun". Saya tidak tahu alasannya, tapi mungkin karena saya termasuk anak yang bandel dan berkulit lebih hitam dibandingkan hampir semua teman yang berkulit kuning.

Saya justru nyaman dengan sebutan "dukun" sebagai panggilan akrab. "Dukun" terasa lebih sangar dan mistis dibanding teman yang dipanggil "Homosapiens" karena bentuknya tubuhnya dianggap menyerupai manusia purba. (Dia minggu lalu sudah pergi ke surga karena kanker hati dengan meninggalkan seorang istri dan tiga anak kecil. (Sampai bertemu lagi di surga temanku Hencky Homo...).

Saat kuliah saya dipanggil Atmo, karena pada waktu itu ada drama serial TVRI yang berjudul "Losmen", dengan pembantu laki-lakinya bernama "Pak Atmo". Walaupun panggilan itu baru saya terima setelah sekian lama dipanggil "Indri", saya bisa menerimanya - karena selain merupakan panggilan akrab juga karena terdengar lebih "laki-laki" dibanding "Indri".

Kemudian saat saya bekerja di perusahaan Jepang, nama saya terkenal dengan "Atomo". Alasan yang pertama adalah karena orang Jepang tidak bisa mengeja huruf mati di tengah, sehingga mereka menuliskan dengan huruf Katakana sebagai "a-to-mo" dan dibaca "Atomo".

Hal yang kedua adalah, di Jepang ada tokoh kartun terkenal yang bernama "Tetsuan Atomu" atau "Atom Boy". Film kartun ini juga pernah ditayangkan di Indonesia beberapa waktu lalu setelah Doraemon. Di Jepang sendiri film kartun Atom Boy dibuat lebih dahulu dibandingkan Doraemon, serta memiliki popularitas yang sama. Sehingga nama saya lebih mudah diingat oleh orang Jepang sebagai "Atomo san".

Tetapi karena dalam perbedaharaan kata di Jepang, tidak memiliki huruf mati "M", maka mereka sering menganggap bahwa "M" di depan huruf "O" sebagai huruf mati. Sehingga di email terkadang orang Jepang dengan "pe-de"nya menulis nama saya sebagai "Atom san", atau bahasa Indonesianya "Pak Atom." Benar-benar sebuah interpretasi yang sangat berbeda dengan aslinya.

Saya juga terkadang bingung jika harus memperkenalkan nama sendiri. Kepada orang Indonesia saya memperkenalkan diri sebagai "Indriatmo" karena nama ini biasa terdengar, sama seperti "Koes Hendratmo", "Indriyanto" atau "Indriyani". Sepanjang pengalaman saya, orang Indonesia memiliki lidah yang bisa mengucapkan nama itu dengan tepat.

Tetapi kepada orang asing saya menyebut "Atmo", dimana saya sudah menyiapkan hati jika orang Jepang menirukan sebagai "Atomo san" atau "Atomu san". Sedangkan orang Asia, Eropa, Australia maupun Amerika bisa mengeja dengan tepat sebagai "Mr. Atmo".

Untuk urusan visa maupun imigrasi, saya hanya menulis nama di kolom first name, dan mengosongkan kolom family name - sementara teman yang punya nama tiga kata lebih bingung untuk meletakkan nama yang terakhir. Memang bentuk baku nama di pergaulan internasional terdiri dari dua kata; kata pertama adalah nama pribadi, dan kata kedua adalah nama keluarga.

Di tahun 2005, grup perusahaan saya secara global membuat identitas tunggal, sehingga nama masing-masing kelompok perusahaan di seluruh dunia harus mengikuti aturan baku tersebut. Demikian juga dengan alamat email; kententuannya harus terdiri dari dua kata. Oleh karena itu saya mendaftarkan "Atmo" sebagai kata kedua, sehingga email saya yang tadinya kemudian berubah menjadi .

Dalam urusan resmi, sebagai panggilan adalah nama keluarga; atau untuk orang Indonesia yang tidak memiliki nama marga, yang dipanggil adalah kata yang kedua. Karena saya hanya menulis first name saja - maka petugas di Jepang mengeja nama saya sebagai "In-do-ri-a-to-mo", dan diucapkan "Indoriatomu". Lagi-lagi mereka lebih ingat Tetsuan Atomu.

Sebagai orang Jawa laki-laki, huruf terakhir nama saya adalah "O" - untuk membedakan dengan nama perempuan yang berakhiran "I" seperti "Indriyani". Tapi kadang masih saja saya menerima email yang menyebut saya sebagai "mbak Indri". Bahkan orang mengira nama "bu Indri" adalah nama asli istri saya. Jika ada yang mengklarifikasi hal itu, saya hanya memegang kepala sendiri sambil berkata, "Capek deh..."

Mungkin untuk menegaskan kelaki-lakian saya, Pak Alfrey yang telah berbaik hati membuatkan Blog saya, menuliskan "Mr.Indriatmo" - walaupun saya adalah orang Indonesia asli Jawa. Akan tetapi hal seperti itu tidak pernah terjadi di dalam komunikasi melalui telpon, karena walaupun mungkin diluar perkiraan sebelumnya, si penelpon saat mendengar suara saya langsung bisa memastikan bahwa "Indriatmo" adalah seorang laki-laki sejati.

Saya teringat akan seorang staff yang menerima telpon dari sebuah hotel yang akan mengkonfirmasikan reservasi yang dilakukan oleh kantor kami. Karena sibuk, sambil terus bekerja dia menghidupkan speaker phone sehingga tanpa sengaja saya ikut menguping, saat terdengar suara, "Selamat siang. Ini dari hotel A. Bisa bicara dengan pak Dian?" Karena bukan orang yang dimaksud, teman saya menjawab, "Sebentar ya Bu, akan saya panggilkan." Terdengar jawaban diseberang, "Maaf ya, ini Bapak, bukan ibu."

Selanjutnya karena yang dicari tidak ada, teman saya memberi informasi, "Maaf ya Bu, pak Dian tidak ada di tempat." Kembali terdengar suara di seberang tetapi terkesan cukup sengit, "Maaf, ini Bapak, bukan Ibu." ... Mendengar itu, saya tertawa habis-habisan, karena ternyata teman saya masih tidak paham juga bahwa yang didengar itu adalah suara laki-laki, bukannya perempuan. Itu membuat saya mengucap syukur secara spontan karena ternyata warna suara saya masih lebih mudah dikenali sebagai seorang laki-laki, walaupun dari nama kadang menimbulkan salah persepsi.

Setelah lebih dari dua puluh tahun berlalu, saat pulang ke Semarang, saya teringat akan nama saya yang hanya terdiri dari satu kata dan menanyakan hal itu kepada Ibu. Ibu menjawab bahwa yang memberi nama kakak nomer satu sampai nomer tiga adalah bapak. Sedangkan karena saya adalah anak yang terakhir, dan setelah itu ibu memutuskan untuk steril, maka disepakati bahwa yang memberi nama untuk saya adalah ibu.

Ketika berbaring di sebuah rumah sakit Kristen, ibu melihat sebuah salib yang tergantung di dinding. Di atas kepala Tuhan Yesus, ibu membaca kata INRI (Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum - Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi). Tulisan itu memberi insipirasi kepada ibu untuk memberi saya nama "Inri". Kemudian untuk kata kedua diberikan nama "Atmo" yang dalam bahasa jawa kependekan dari "Atmojoâ" yang berarti "Anak".

Nah, begitulah pada awalnya ibu memilih nama "Inri Atmo" kepada saya, karena artinya adalah "Anak Tuhan Yesus". Sebuah nama yang membuat saya bergetar karena setelah puluhan tahun berlalu baru memahami maksudnya. Ibu ingin saya hidup dan besar sebagai "Anak Tuhan Yesus" yang setia.

Tapi kenapa dari "Inri Atmo" berubah menjadi "Indriatmo"? Ternyata perubahan itu bermula saat bapak mendaftarkan kelahiran saya di catatan sipil. Sesuai dengan permintaan ibu, bapak mencatatkan kelahiran anaknya yang keempat dengan nama "Inri Atmo". Akan tetapi apa yang terjadi kemudian; pada saat akta kelahiran dari kantor catatan sipil sudah diterbitkan rangkap dua dengan stempel Pengadilan Negeri Semarang, huruf ketiknya terbaca: "Indriatmo".

Tentu saja ibu protes kepada bapak mengenai hal ini. Tetapi rupanya bapak adalah orang yang tidak suka repot seperti Gus Dur. "Ya sudah diterima saja. Begitu saja koq repot." Atau seperti kata Pontius Pilatus: "What has written, has written."

"Terus ibu tidak tanya kenapa bisa berubah?" pertanyaan saya menyelidik. "Sudah. Ibu sudah tanya ke kantor cacatan sipil." Rupanya pada saat mendaftar, petugas yang menerima bapak adalah orang yang sudah tua. Dia merasa nama "Inri Atmo" tidak umum bagi orang Jawa saat itu. Yang biasa terdengar adalah "Indriyanto" atau "Indriyani". Maka atas inisiatif sendiri, beliau menuliskan sesuai dengan pakem orang Jawa, dan berubahlah menjadi "Indriatmo" sampai sekarang ini. Naruhodo ne - Oh begitu ceritanya ...

Saya bersyukur karena telah mengetahui mengapa nama saya hanya terdiri dari satu kata, tidak seperti nama dari ketiga kakak saya yang terdiri dari dua kata. Ternyata orang tua saya memiliki kerinduan yang khusus bagi hidup saya untuk bisa menjadi "Anak Tuhan Yesus". Memang agak tidak lazim, karena tidak seperti biasanya harapan orang tua terhadap anak-anaknya pada masa itu, supaya saat dewasa nanti bisa menjadi insinyur, dokter, pilot atau presiden.

Rupanya harapan inilah yang secara roh tumbuh dengan tidak saya ketahui. Saya bertumbuh dengan banyak pertanyaan di dalam pikiran mengenai kehidupan dibandingkan dengan semua saudara saya.

Saya jadi teringat, saat mereka sibuk bermain dengan teman-temannya, saya tenggelam membaca buku-buku om saya yang sekolah pendeta dari Amerika. Saya selalu tidak puas atas semua jawaban yang saya peroleh saat itu mengenai "Kemana setelah kematian?" Dan seiring dengan berjalannya waktu, Tuhan membukakan satu persatu jawaban dari pertanyaan mengenai kehidupan yang ada di pikiran saya sejak saya kecil.

Sekarang saya memahami bahwa harapan yang terkandung di dalam pemberian nama seorang anak, akan mengarahkan roh anak itu mewujudkannya baik secara sadar atau pun tidak. Dan saya sangat bersyukur bahwa saat memberikan nama, orang tua saya menginginkan agar saya menjadi "Anak Tuhan Yesus" yang setia.

---------------
(Indriatmo)