PPK-Pelajaran 01

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kelas : Persiapan Pernikahan Kristen
Nama Pelajaran : Cinta
Kode Pelajaran : PPK-P01

Pelajaran 01 -- Cinta

Daftar Isi

  1. Apakah Cinta/Kasih Itu?
    1. Definisi Umum Cinta
    2. Definisi Cinta/Kasih Alkitab
  2. Dasar Alkitab
    1. 1 Korintus 13:4-8
    2. Kasih Allah dalam Pernikahan
  3. Gambaran Kasih dalam Pernikahan Kristen
    1. Hubungan Segitiga
    2. Gereja Tuhan Adalah Mempelai Perempuan

Doa

Pelajaran 01: Cinta

  1. Apakah Cinta/Kasih Itu?
  2. Manakah di antara pernyataan-pernyataan berikut ini yang paling sesuai dengan pendapat Anda mengenai arti cinta?
    - Rasa tertarik yang kuat akan seseorang.
    - Sikap menyayangi dan penuh kelembutan.
    - Kerinduan untuk bersama dengan seseorang.
    - Sanjungan dan pemujaan terhadap seseorang.
    - Nafsu birahi terhadap seseorang.
    - Usaha untuk meraih sesuatu yang terbaik untuk seseorang.
    - Perasaan senang jika Anda bersama seseorang, atau berpikir tentang orang itu.

    1. Definisi Umum Cinta
    2. Apakah definisi cinta dalam kamus Anda? Sebagian besar orang tidak mempunyai pengertian yang cukup untuk mengerti arti kata "cinta" yang sesungguhnya. Sering kali, cinta diartikan sebagai suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi pada lawan jenis. Pendapat-pendapat tentang cinta di atas banyak dipengaruhi oleh film, televisi, iklan, majalah, buku-buku, atau komentar-komentar orang di sekitar kita.

    3. Definisi Cinta/Kasih Alkitab
    4. Sangat penting untuk kita ketahui bahwa "Allah adalah KASIH" (Alkitab lebih banyak memakai kata "KASIH" daripada "Cinta"). Ia menyampaikan kebenaran-Nya tentang kasih melalui firman-Nya, yaitu Alkitab. Bacalah: 1 Yoh. 4:7-10, 16-21. Sesungguhnya seluruh Alkitab menceritakan tentang KASIH, yaitu kasih Allah yang merefleksikan karakter Allah yang tidak mengecewakan, dan kesetiaan-Nya yang teruji sekalipun manusia sering sulit dikasihi. Kasih Allah adalah kasih yang nyata. Alkitab menjadi bukti bahwa Allah dekat, menjaga, merawat, dan mengerjakan yang terbaik bagi orang-orang yang dikasihi-Nya, "Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu" (Yer. 31:3). Dalam Perjanjian Baru, kita melihat gambaran kasih Allah yang luar biasa terhadap manusia, kasih yang tidak terbatas melalui Yesus Kristus, Anak-Nya, yang rela mati untuk memberikan yang terbaik bagi yang dikasihi-Nya (Yoh. 3:16 dan Rm. 5:8).

  3. Dasar Alkitab
  4. Berbeda dengan kasih duniawi, KASIH dalam Alkitab bukanlah untuk mendapatkan sebanyak mungkin dari orang lain, melainkan memberikan semua yang bisa diberikan kepada orang lain. Kasih ini juga bukan untuk mendapatkan pamrih dari pasangannya. Pernyataan yang paling lengkap tentang kasih dalam Alkitab terdapat dalam 1 Kor. 13:4-8. Bacalah ayat-ayat tersebut, renungkanlah tiap tindakan kasih tersebut, dan mulailah berpikir tentang penerapannya untuk orang yang Anda kasihi.

    1. 1 Korintus 13:4-8
    2. Kasih itu sabar. Kasih itu tidak mudah marah, tidak mudah menyerang, tidak mudah sakit hati. Kasih itu memampukan kita untuk bersabar terhadap yang kita kasihi jika kita merasa disalahi, dikritik, atau diabaikan. Kasih akan menunggu untuk melihat efek yang baik dari kesabaran tersebut.

      Kasih itu murah hati. Kemurahan menunjukkan suatu penghargaan. Kemurahan berarti ingin menolong, suatu suara yang merdu, suatu keinginan hati yang ingin selalu memberi.

      Kasih itu tidak cemburu. Kasih bukanlah suatu persaingan dengan orang yang kita kasihi, juga tidak berarti kita iri kalau dia mendapatkan lebih. Kasih bukanlah iri dengan talenta yang dimiliki orang yang kita kasihi, kecakapan memimpinnya, kemampuannya untuk bergaul dengan orang lain atau kemampuannya dalam mengerti firman Tuhan.

      Kasih itu tidak memegahkan diri. Kasih tidak berusaha untuk menonjolkan dan menyombongkan diri sendiri. Tidak juga menganggap diri lebih tinggi dari pasangan kita. Kasih tidak menyombongkan kekuatan sendiri dan tidak membesar-besarkan kelemahan-kelemahan dari orang yang kita kasihi.

      Kasih itu tidak sombong. Kasih tidak mempunyai sifat menonjolkan diri dalam hati. Kasih tidak berarti mencari perhatian dari kerja keras yang sudah dilakukannya. Kasih itu tidak bersifat menekan, atau sok memerintah.

      Kasih tidak melakukan yang tidak sopan. Kasih tidak berbuat yang tidak sesuai etika, melainkan berbuat dengan kelembutan dan keramahan. Kasih itu menunjukkan rasa pengertian. Kasih itu tidak kasar atau menghina orang lain.

      Kasih itu tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kasih tidak mementingkan segala selalu yang menjadi haknya. Kasih selalu mencari apa yang disenangi orang yang kita kasihi.

      Kasih itu tidak pemarah. Kasih itu tidak mudah tersinggung atau mudah mencari kesalahan. Kasih itu tidak mudah menjadi jengkel jika ada sesuatu yang salah. Kasih itu tidak mudah dikecewakan oleh perbuatan dari orang yang kita kasihi.

      Kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kasih itu tidak mudah berubah menjadi kepahitan. Tidak mudah mendendam. Kasih tidak menyimpan perasaan yang tidak enak karena perbuatan dari orang yang kita kasihi.

      Kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Kasih tidak merasa senang dengan kemalangan yang menimpa orang yang kita kasihi. Kasih berarti tidak bersukacita jika bisa mengatakan, "Lihat, kamu juga tidak sempurna." Kasih mempunyai sukacita batin dalam kebenaran.

      Kasih menutupi segala sesuatu. Kasih menutupi kesalahan dari orang yang kita kasihi. Kasih tidak mencemooh seseorang yang kita kasihi dengan mengatakan kelemahan atau kegagalannya di muka umum.

      Kasih percaya segala sesuatu. Kasih mengatasi segala kecurigaan, kebimbangan atau ketidakpercayaan. Kasih memilih untuk percaya pada sesuatu yang terbaik dari orang yang kita kasihi dan menerima bahwa maksud dan motivasinya adalah murni.

      Kasih mengharapkan segala sesuatu. Kasih tidak membesar-besarkan masalah. Kasih tidak pernah menyerah, tidak pernah putus asa. Kasih selalu mengharapkan yang terbaik dari yang dikasihi.

      Kasih sabar menanggung segala sesuatu. Kasih berarti suatu komitmen. Kasih tetap tegar dalam menghadapi masalah. Kasih mampu bertahan dalam badai penderitaan dan kesukaran. Kasih tetap menjaga hati yang sukacita dalam pencobaan dan masalah.

      Kasih tidak berkesudahan. Kasih tidak pernah jatuh, tidak pernah berhenti, tidak pernah memilih perceraian sebagai penyelesaian masalah. Kasih selalu menjaga pernikahan supaya pernikahan tetap erat.

    3. Kasih Allah dalam Pernikahan
    4. Meskipun kadang kita mendengar orang berkata, "Kami sedang jatuh cinta," tetapi sesungguhnya cinta mereka sudah bertumbuh di dalamnya. Kasih yang dewasa bertumbuh dari bagaimana cara mendapatkannya sampai usaha untuk menjaganya dengan sukacita. Satu-satunya cara agar kita mengalami kasih yang dalam, setia, dan bertumbuh dalam pernikahan nanti adalah dengan mengalami kasih Allah dalam hidup kita lebih dahulu. Kasih Allah bagi kita turun menjadi kasih di hati kita bagi orang lain. Renungkan hal ini, ALLAH MENGASIHI ANDA!

      Nikmatilah kasih Allah dan minumlah sepuas-puasnya dari kasih-Nya. Bersyukurlah untuk kasih yang Allah nyatakan dalam hidup Anda. Segera sesudah melakukannya, Anda akan menyerahkan seluruh hidup Anda kepada-Nya, membiarkan Dia memenuhi dan mengendalikan hidup Anda melalui Roh Kudus-Nya. Izinkanlah kasih Allah hidup dalam hidup Anda, maka kasih-Nya yang sejati itu akan mengalir melalui hidup Anda dan untuk pasangan Anda. Kasih Allah akan menghasilkan kasih. Allah ingin memakai kasih-Nya untuk mengubah pernikahan menjadi suatu hubungan yang indah sesuai dengan rencana-Nya.

  5. Gambaran Kasih dalam Pernikahan Kristen
  6. Allah adalah sumber "Kasih Agape", dan inilah yang harus menjadi ciri utama dalam pernikahan Kristen. Kasih agape bukanlah kasih persahabatan atau kasih yang emosional belaka. Kasih agape adalah kasih yang memberi, mendidik, dan mengampuni. Dalam Yoh. 13:34-35, Yesus memerintahkan kepada kita untuk saling mengasihi sama seperti Dia sudah mengasihi kita. Pernikahan yang sesuai dengan rencana Allah akan membuat suami dan istri saling mengasihi berdasar kasih Allah sehingga pernikahan Kristen akan terus bertumbuh untuk saling mengasihi, menerima, dan mengampuni.

    1. Hubungan Segitiga: Suami - Allah - Istri
    2. Pernikahan Kristen harus menempatkan Allah sebagai pusat dan otoritas tertinggi. Hierarki yang benar dalam sebuah pernikahan terdapat dalam 1 Kor. 11:3, "Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah." Sebagai lembaga terkecil yang dibentuk oleh Tuhan, keluarga Kristen harus memiliki hierarki yang benar sesuai dengan prinsip Alkitab. Jika pernikahan tidak menaati hierarki yang benar, kekacauan dan masalah akan merusak pernikahan

      Dalam Ef. 5:25, "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya," dinyatakan dengan jelas bahwa suami harus mengasihi istrinya. Namun, suami tidak boleh bersikap otoriter atau semena-mena. Ia harus mengasihi istri dan anak-anaknya. Istri harus tunduk kepada suami dan memiliki kasih terhadapnya seperti yang dikatakan dalam Ef. 5:22, "Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan". Allah menciptakan lembaga terkecil, keluarga, dengan memberinya struktur kepemimpinan yang jelas. Jika Anda ingin memiliki keluarga yang bahagia sesuai dengan kehendak Allah, Anda harus menaati petunjuk Allah ini.

    3. Gereja Tuhan adalah Mempelai Perempuan
    4. Dalam Mrk. 2:19, Tuhan menyebut Diri-Nya sebagai "Mempelai laki-laki" Gereja, dan Gereja adalah "mempelai perempuan Kristus". Istilah "mempelai" ini menekankan adanya relasi yang sangat dekat. Kristus mempersatukan gereja dengan-Nya. Ia memberikan Diri-Nya bagi gereja, memurnikannya dan menguduskannya dengan darah-Nya (Ef. 5:26). Gereja adalah orang-orang yang telah ditebus dan diselamatkan oleh Yesus Kristus untuk menerima kehidupan kekal dari-Nya. Selama masa tunangan, gereja memiliki tanggung jawab untuk senantiasa berlaku setia kepada-Nya (2 Kor. 11:2; Ef. 5:24). Pada kedatangan Kristus yang kedua, gereja akan dipersatukan dengan Mempelainya (Why. 19:7-9; 21:1-2)

Akhir Pelajaran (PPK-P01)

Doa

"Tuhan, saya bersyukur karena Engkau telah terlebih dahulu mengasihi saya sehingga saya dapat belajar arti cinta sejati dari-Mu. Tolonglah saya untuk menghidupi kasih-Mu dalam rumah tangga saya kelak. Amin."

Taxonomy upgrade extras: