Komentar

Rangkuman Diskusi Kelas PPB Oktober/November 2020

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

TERMIN I / Topik 1 -- Pengantar Perjanjian Baru

I. PERJANJIAN

Perjanjian menurut kamus bahasa Indonesia, berarti kesepakatan, atau persetujuan dua pihak atau lebih yang saling mengikatkan diri satu dengan yang lainnya. Masing-masing dari mereka saling bersepakat untuk mentaati apa yang tersebut dalam persetujuan itu. Sementara pengertian "Perjanjian" sesuai Alkitab adalah Allah sendiri yang melakukan pengikatan diri-Nya kepada manusia. Mengapa demikian? Karena dari semula Manusia sudah jatuh dalam dosa dan tidak mempunyai kekuatan atau daya apapun untuk mengikatkan diri kepada Allah yang maha Kudus. Di sini tidak ada keseimbangan antara Allah dan manusia. Pengikatan diri Allah adalah lewat karya penebusan manusia oleh Tuhan Yesus Kristus.

Kata perjanjian disebabkan adanya ikatan antara Allah dengan manusia, perjanjian Beryith (too cut of), atau lebih dikenal dengan covenant. Namun dalam sejarah bangsa Israel, yang namanya perjanjian adalah covenant of blood (selalu melibatkan darah). Maka dari itu, pada zaman Perjanjian Lama jika ingin mengikat perjanjian harus membawa hewan korban. Setelah dalam Perjanjian Baru, hewan korban tersebut akhirnya digantikan oleh Tuhan Yesus sebagai korban yang sempurna, sekaligus penggenapan janji Allah kepada manusia, tentang kedatangan Mesias yang akan menebus dosa manusia. Bisa dikatakan bahwa, hewan korban dalam Perjanjian Lama yang tidak sempurna, sebagai gambaran akan datangnya korban yang sempurna bagi umat manusia di dalam Perjanjian Baru yaitu Yesus Kristus.

II. PERBEDAAN PERJANJIAN LAMA DENGAN PERJANJIAN BARU

Terdapat perbedaan perjanjiaan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru di dalam Alkitab. Ada mendasar antara perjanjiaan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Perjanjian Lama
Tulisan-tulisan dalam Perjanjian Lama mengisahkan ikatan perjanjian Allah dan manusia yang pertama, yaitu dengan orang-orang/bangsa Yahudi. Ikatan perjanjian ini didasarkan pada kurban persembahan/binatang kurban (Imamat 1-5).

Perjanjian Baru
Tulisan-tulisan dalam Perjanjian Baru mengisahkan ikatan perjanjian Allah dan manusia yang terakhir, yaitu dengan semua manusia dan segala bangsa. Ikatan perjanjian ini didasarkan pada kurban diri Yesus Kristus (1 Petrus 1:18).

III. HUBUNGAN PERJANJIAN LAMA DENGAN PERJANJIAN BARU

Namun antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tersebut, adalah dua perjanjian yang kebenarannya saling menguatkan, saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Misal Perjanjian Lama berbicara tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kej. 3), Perjanjian Baru menegaskan bahwa dosa telah menguasai manusia dan manusia kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Selain itu di dalam Perjanjian Lama berisi nubuatan, dimana semua nubuatan itu digenapi dalam kitab Perjanjian Baru. Jadi tidak sah kalau hanya ada kitab Perjanjian Lama saja tanpa kitab ada Perjajian Baru. Sebab kita tidak lagi hidup dalam hukum taurat melainkan kasih karunia Allah melalui Tuhan Yesus Kristus.

Bisa dikatakan bahwa Perjanjian Lama merupakan tipologi atau prabentuk yang nantinya akan digenapi Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru. Ada yang tertulis -- satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi- (Mat. 5:18). Tetapi penggenapan dalam Perjanjian Baru tidak harus sama persis dengan pernyataan dalam Perjanjian Lama. Sebab penggenapan tersebut mengacu kepada tema sentralnya, yaitu Yesus Kristus, karya-Nya, ajaran-Nya, wafat dan kebangkitan-Nya. Dengan prinsip ini, maka hukum moral yang diajarkan oleh hukum Taurat (yaitu Sepuluh perintah Allah) tetap berlaku, sebab hukum tersebut merupakan prabentuk/tipologi hukum cinta kasih yang diajarkan Kristus dalam Perjanjian Baru. Sedangkan hukum Taurat yang mencakup tentang perintah-perintah, terutama ketentuan seremonial dan hukuman/sangsi, yang ditetapkan oleh dekrit para rabi Yahudi, tidak lagi berlaku. Sebab keberadaan hukum-hukum seremonial dan sangsi adalah demi mempersiapkan bangsa Yahudi untuk menerima Kristus Sang Mesias, yaitu bagaimana melalui hukum-hukum itu bangsa Yahudi dipisahkan dari bangsa-bangsa lainnya, dikuduskan, sebagai bangsa pilihan Allah. Agar melalui bangsa Yahudi, segenap bangsa menerima keselamatan dari Allah. Maka setelah Kristus datang, hukum-hukum seremonial dan sangsi tidak lagi berlaku, sebab pemisahan ini tidak lagi diperlukan, karena kedatangan Kristus justru untuk menjadikan seluruh bangsa menjadi satu di dalam diri-Nya. Inilah sebabnya maka dikatakan dalam Ef. 2:15-16, -sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.

TERMIN I / Topik 2 -- Intertestamentum

I. INTERTESTAMENTUM

Masa intertesmentum adalah sebuah masa antara Maleakhi hingga lahirnya Yesus Kristus. Ini merupakan masa peralihan dari Perjanjian Lama menuju kepada Perjanjian Baru. Masa intertestementum ini berlangsung sekitar 400 tahun. Masa ini disebut sebagai "masa sunyi" atau "masa keheningan selama 400 tahun" oleh gereja Protestan, yang merujuk pada ketiadaan perintah, hukum ataupun pewahyuan dari Allah. Sehingga terkesan Allah berdiam diri. Walaupun hal itu tidak mungkin karena Allah selalu hadir dan mengatur segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini. Saat itu pula penggenapan janji kelahiran Juruselamat sedang dipersiapkan. Pada periode ini umat Tuhan pastilah sedang sangat menanti-nantikan kedatangan Mesias yang dijanjikan, untuk melepaskan mereka dari penjajahan. Bangsa Israel pada masa itu menghadapi berbagai perebutan kekuasaan dari bangsa-bangsa asing yang menjajah mereka. Zaman Perjanjian Lama mereka berkali-kali diserang, dihancurkan, dibuang oleh bangsa Asyur, Babel, Media Persia, dll.. Sedangkan dalam masa Perjanjian Baru saat kelahiran Yesus, mereka berada dalam jajahan bangsa Romawi.

II. KEADAAN BANGSA ISRAEL/YAHUDI PADA MASA INTERTESTAMENTUM

Ada beberapa hal yang terjadi pada masa intertesmentum ini. Berikut ini beberapa daftar yang terjadi dan dialami oleh bangsa Israel/Yahudi pada masa intertesmentum ini:
1. Tidak Ada Suara Kenabian
Masa-masa sesudah Perjanjian Lama dan sebelum Perjanjian Baru sering dikatakan sebagai masa-masa gelap karena Allah tidak mengirim nabi-nabi-Nya untuk berbicara kepada umat Israel.
2. Gangguan Politik yang Sangat sSrius
Pada waktu itu bangsa Israel yang telah dipulihkan mengalami berbagai gangguan politik yang sangat serius untuk sementara waktu. Setelah Aleksander Agung menaklukkan Imperium Persia, para pangeran dan jenderal Yunani berjuang untuk merebut hak untuk memerintah Timur Dekat. Raja Antiokhus III dari wangsa Seleukus merebut Palestina dari Mesir pada tahun 198 SM dan berusaha menjadikannya sebuah pangkalan untuk membangun suatu imperium baru di Timur. Akan tetapi, Antiokhus III bukanlah tandingan bagi legiun-legiun Roma. Mereka mengalahkan bala tentaranya pada tahun 190 SM dan menjadikannya penguasa boneka dalam rangkaian kepemimpinan Roma.
Keluarga Makabeus memulai perang saudara melawan para penguasa Seleukus dan merebut Yerusalem pada tahun 164 SM. Akan tetapi, baru pada tahun 134 SM mereka mampu menghalau sama sekali orang-orang Seleukus dari urusan mereka. Pada tahun itu, Yohanes Hirkanus I dari keluarga Makabeus mendirikan wangsanya sendiri yang dikenal sebagai wangsa Hasmoneus atau Hasmonia. Mereka berkuasa sampai tahun 37 SM, ketika Roma menetapkan keluarga Herodes sebagai pemerintah boneka yang baru di Palestina.
3. Bangsa Yahudi/Ibrani Tercerai-berai
Pada waktu bangsa Israel dibuang ke tanah Babilonia, mereka tercerai berai ke seluruh dunia. Sementara mereka tersebar kemana-mana, mereka juga membawa kegiatan agama mereka ke segala tempat yang mereka datangi. Ketika bangsa ini hidup di tengah-tengah bangsa kafir yang tidak mengenal Tuhan, bangsa Israel disadarkan akan pentingnya mempertahankan iman, menyembah Allah yang monoteisme dan menaati Hukum Taurat.
4. Bangsa Yunani Memiliki Sumbangsih dalam Mempersatukan Dunia
Bangsa Yunani melalui Aleksander Agung telah memberikan sumbangan yang besar dalam mempersatukan seluruh dunia dalam satu bahasa, yaitu bahasa Yunani. Untuk mengokohkan setiap kemenangannya, ia menetapkan bahasa Yunani sebagai bahasa sehari-hari serta setiap kebudayaan Yunani dijadikan sebagai pola pemikiran dan kehidupan. Dengan demikian, bahasa Yunani menjadi bahasa yang umum pada saat itu yang mempersatukan daerah Asia, Eropa dan Afrika. Hal ini memberikan pengaruh yang besar, karena bahasa Yunani akhirnya dipakai menjadi bahasa internasional pada masa itu. Ini memberikan keuntungan yang sangat besar karena bahasa Yunani adalah bahasa berpikir, bahasa yang sangat dibutuhkan oleh penulis-penulis kitab-kitab Perjanjian Baru dalam mengungkapkan istilah-istilah teologia dengan benar dan akurat.
5. Bangsa Romawi Menciptakan Suasana yang Relatif Damai
Penguasa Romawi yang menduduki tanah Israel (Palestina) menciptakan suasana yang relatif damai sehingga pembangunan jalan-jalan dan keamanan menjadi prioritas negara. Kerajaan Romawi membangun perluasan kekaisaran dunia dan jalan-jalan raya yang telah membuka kemungkinan bagi seorang untuk mencapai semua bagian dalam kerajaan itu dengan mudah. Keadaan ini sangat diperlukan dalam mempersiapkan kedatangan Kristus dan juga ketika Injil disebarkan. Selain itu ada banyak kontribusi yang diberikan oleh orang-orang Romawi, baik dalam bidang hukum maupun filsafat yang sangat berguna bagi persiapan penulisan kitab-kitab Perjanjian Baru.

Pada waktu itu bangsa Israel yang telah dipulihkan mengalami berbagai gangguan politik yang sangat serius untuk sementara waktu. Setelah Aleksander Agung menaklukkan Imperium Persia, para pangeran dan jenderal Yunani berjuang untuk merebut hak untuk memerintah Timur Dekat. Raja Antiokhus III dari wangsa Seleukus merebut Palestina dari Mesir pada tahun 198 SM dan berusaha menjadikannya sebuah pangkalan untuk membangun suatu imperium baru di Timur. Akan tetapi, Antiokhus III bukanlah tandingan bagi legiun-legiun Roma. Mereka mengalahkan bala tentaranya pada tahun 190 SM dan menjadikannya penguasa boneka dalam rangkaian kepemimpinan Roma.

Keluarga Makabeus memulai perang saudara melawan para penguasa Seleukus dan merebut Yerusalem pada tahun 164 SM. Akan tetapi, baru pada tahun 134 SM mereka mampu menghalau sama sekali orang-orang Seleukus dari urusan mereka. Pada tahun itu, Yohanes Hirkanus I dari keluarga Makabeus mendirikan wangsanya sendiri yang dikenal sebagai wangsa Hasmoneus atau Hasmonia. Mereka berkuasa sampai tahun 37 SM, ketika Roma menetapkan keluarga Herodes sebagai pemerintah boneka yang baru di Palestina.

III. PENYEBAB TIDAK ADA SUARA KENABIAN PADA MASA GELAP/HENING

Ada dua pendapat yang menyebabkan masa gelap/hening ini, yaitu dimana Allah tidak mengutus nabinya untuk menyampaikan pesan kepada umat-Nya atau saat itu bangsa Israel.

1. Faktor Rohani
Itu terjadi karena Bangsa Israel mulai meninggalkan Tuhan yang benar yaitu Tuhan Sang Pencipta langit dan bumi (Kej. 1:1). Fakta ini didasarkan pada 2 Taw. 24:19-20 yang demikian, "Namun TUHAN mengutus nabi-nabi kepada mereka, supaya mereka berbalik kepada-Nya. Nabi-nabi itu sungguh-sungguh memperingatkan mereka, tetapi mereka tidak mau mendengarkannya. Lalu Roh Allah menguasai Zakharia, anak imam Yoyada. Ia tampil di depan rakyat, dan berkata kepada mereka: "Beginilah firman Allah: Mengapa kamu melanggar perintah-perintah TUHAN, sehingga kamu tidak beruntung? Oleh karena kamu meninggalkan TUHAN, Iapun meninggalkan kamu!"

2. Faktor Situasi Politik
Saat itu terjadi kekacauan karena adanya gangguan politik yang serius. Terjadi perebutan kekuasaan, perang saudara, antar penguasa, bangsa Yahudi menjadi tawanan bangsa-bangsa lain, dan hidup di tengah bangsa kafir, dsb.. Ini membuat pengaruh bagi bangsa Israel secara langsung, dan juga mempengaruhi fokus mereka kepada Allah.

========================================

TERMIN II / Topik 1 -- Yudaisme dan Hellenistic

I. YUDAISME DALAM KEHIDUPAN YESUS

Agama Yahudi atau Yudaisme (dari kata Ibrani Yehudah), adalah agama asli bangsa Yahudi, yang merangkum seluruh tradisi dan peradaban religi, budaya, maupun hukum bangsa Yahudi. Bagi umat Yahudi yang taat, agama Yahudi adalah ungkapan nyata dari perjanjian antara Tuhan dan Bani Israel. Agama ini menyimpan khazanah susastra, amalan, wawasan teologi, dan tatanan organisasi yang kaya. Kehidupan keluarga Yesus adalah keluarga yang taat dalam beragama, yaitu agama Yudaisme. Tentu pada masa didikan oleh orang tuanya di Nazaret, Yesus mengikuti apa yang diajarkan Maria dan Yusuf. Yesus sendiri tergolong penganut Yahudi yang taat, dari keturunan Bani Yehuda. Berikut beberapa buktinya:

  • Umur 8 hari melakukan Brit Milah ( Lukas 2 ).
  • Mulai kecil sudah diajari Torah.
  • Umur 13 tahun sudah berada di Midrash.
  • Umur 30 setamat dari Midrash sudah dipanggil Rabbi.
  • Yesus juga berpuasa ( Matius 6 ).
  • Yesus juga merayakan 7 Hari Raya Yahudi, yaitu Hari Raya Pesach/Paskah ( Lukas 2:41 ), Hari Raya Roti Tidak Berbagi ( Lukas 22:7 ), Hari Raya Pondok Daun ( Yohanes 7 ).
  • Yesus memakai pakaian seperti layaknya seorang Rabbi yaitu memakai pakaian tallit yang ada tzittzit ( Matius 9, Markus 5, Lukas 8 ).

Dari data di atas, bisa kita simpulkan bahwa Yesus adalah penganut Yahudi yang taat. Di sisi lain, Yesus dikenal sebagai pembawa pembaharuan untuk agama Yahudi/Yudaisme. Namun, Yesus tidak mengubah dari pengajaran Yahudi. Karena Ia sendiri mengajarkan bahwa, Ia tidak mengubah satu iota-pun dari hukum Taurat, tetapi Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat. Namun ajaran ini ditentang oleh orang-orang Yahudi dan para penganut Yudaisme. Pada umumnya mereka memandang Yesus sebagai salah satu dari sekian banyak mesias palsu yang muncul dalam sejarah. Yesus dipandang sebagai yang paling berpengaruh, dan akibatnya paling menimbulkan kerusakan di antara semua mesias palsu. Namun, karena kebanyakan orang Yahudi percaya bahwa Mesias belum datang dan zaman Mesianik belum tiba, maka penolakan Yesus secara keseluruhan, baik sebagai Mesias maupun sebagai ilah bukanlah masalah sentral dalam Yudasime. Inti Yudaisme adalah Taurat, semua Mitzvot atau perintah, Tanakh, dan monoteisme etika seperti Shema — semuanya lebih kuno daripada Yesus. Yudasime tidak pernah menerima klaim penggenapan apapun yang diberikan oleh orang Kristen kepada Yesus. Yudaisme juga melarang orang menyembah seseorang dalam bentuk penyembahan berhala, karena kepercayaan utama dalam Yudaisme adalah satu Allah yang mutlak Esa.

II. PERBEDAAN YUDAISME DENGAN HELLENISTIC

Kata Yudaisme dalam wacana modern tampaknya digunakan untuk seluruh agama dan kebudayaan Yahudi sejak periode Ezra dan Nehemia, yakni periode pembangunan kembali Bait Allah dan umat Allah. Kalau kini dilihat sebagai fenomena yang luas, harus ditekankan juga bahwa Yudaisme itu tidak seragam tetapi beraneka ragam. Selain aliran eksklusif seperti aliran Farisi yang dianut Paulus muda, atau yang lebih eksklusif lagi, aliran Eseni (Qumran), ada pula aliran Yahudi yang lebih terbuka untuk pengaruh dunia luar, seperti misalnya kaum elite Saduki, dan sebagian kalangan para imam yang bekerja sama dengan penguasa Romawi, dan sebagian orang Yahudi yang hidup berbaur dalam perantauan. Mereka semua berpegang pada Taurat tetapi tidak dengan cara yang sama.

Hal serupa juga berlaku untuk paham Helenisme. Paham ini muncul pada masa Makabe di abad kedua SM sebagai suatu usaha helenisasi ganas yang ingin menggantikan kebudayaan lokal dengan kebudayaan Yunani yang dianggap unggul dan mampu menyatukan bangsa-bangsa. Namun, proyek globalisasi semacam itu dari awal sudah pasti gagal. Yang terjadi di dunia timur tengah kuno (Asia Barat Daya dan Afrika Utara) ialah suatu pencampuran kebudayaan Yunani dengan kebudayaan-kebudayaan timur yang lokal, antara lain dengan kebudayaan Yahudi, baik di Palestina maupun dalam perantauan. Ternyata Helenisme merupakan kebudayaan Yunani yang mampu menyerap unsur-unsur dari kebudayaan Timur, antara lain dari kebudayaan dan agama Yahudi. Sebaliknya, aliran tertentu Yudaisme ternyata juga mampu menyerap dan memperkaya diri dengan unsur-unsur kebudayaan Yunani. Contoh-contohnya yang jelas antara lain terdapat dalam kitab Pengkhotbah, kitab (deuterokanonika) Kebijaksanaan Salomo, pemikiran filsuf Yahudi Philo, dan Septuaginta.

Barikut ini berapa perbedaaan antara Yudaisme dan Hellenistic

  1. Yudaisme:
  2. - Monotheis.
    - Tuhan Allah Israel satu-satunya yang disembah.
    - Ajaran terdapat dalam Taurat.
    - Tokoh yang dikenal adalah Musa.
    - Dalam sisi budaya Yudaisme dikenal kaku dan sangat melekat erat dengan Taurat.

  3. Hellenistic:
  4. - Polytheisme.
    - Banyak dewa yang disembah (Zeus, Apollo, Hermes, dll.).
    - Tidak ada kitab, hanya oral traditions (ajaran lisan).
    - Tokoh yang dikenal adalah Alexander Agung (Penyebar Hellenisme).
    - Dalam sisi budaya, Hellenistic mengembang budaya Yunani dan Spartan.

TERMIN II / Topik 2 -- Kanon PB

I. PENGERTIAN KANON

Kanonisasi Alkitab adalah pengakuan pada buku-buku yang benar-benar merupakan bagian dari Kitab Suci - Yakni yang diilhami oleh Allah, dan pengesahannya sebagai kumpulan tulisan suci yaitu Firman Allah dalam bahasa manusia, karena di dalamnya memuat Sabda Allah yang tertulis. Sabda inilah yang menyatakan kasih Allah dan kehendak Allah yang bermanfaat bagi umat manusia di segala zaman. Kata kanon berasal dari kata Yunani kanon, artinya buluh. Karena pemakaian "buluh" dalam kehidupan sehari-hari zaman itu adalah untuk mengukur, maka kanon juga berarti sebatang tongkat/kayu pengukur atau penggaris. Namun pada abad ke-4, Athanasius memberikan arti teologis bahwa kanon dipakai untuk menunjuk kepada Alkitab. Sehingga artinya adalah: Daftar naskah kitab-kitab dalam Alkitab yang berjumlah 66 kitab, yang telah memenuhi standard peraturan-peraturan tertentu yang diterima oleh Gereja Tuhan sebagai kitab-kitab Kanonik yang diakui diinspirasikan oleh Allah dan memiliki otoritas penuh dan mutlak terhadap iman Kristen dan perbuatannya.

II. KANON PERJANJIAN BARU

Kata kanon digunakan sebagai istilah teknis untuk merujuk pada koleksi kitab PL dan PB. Meskipun pembentukan kanon PB sudah dimulai sejak zaman apostolik, tetapi pengakuan pada seluruh PB baru tercapai setelah beberapa abad kemudian. Kanon PB dimulai dengan beredarnya kisah kehidupan Yesus secara lisan. Salah satu bukti dari hal ini adalah saat Paulus berbicara kepada para penatua di Efesus bahwa ada orang-orang yang menggunakan kisah kehidupan Yesus yang muncul di mana-mana. Yustinus Martyr, sekitar tahun 150 M, menggunakan istilah ta euaggelia sebagai sebutan pada catatan-catatan tentang kehidupan Yesus ini.

Kanonisasi PB berlangsung melalui proses yang panjang, sampai akhirnya diputuskan dalam Konsili Carthage (397 M). Konsili tersebut mengesahkan 27 daftar kitab yang masuk dalam PB. Daftar yang muncul di konsili itulah yang kita miliki hingga sekarang, yang diakui oleh seluruh gereja Kristen. Penerimaan mereka didasarkan pada kesadaran akan nilai kitab-kitab PB itu sebagai yang diinspirasikan oleh Allah. Ditambah fakta bahwa kitab-kitab PB telah umum digunakan oleh Gereja -gereja saat itu. Dengan demikian, Gereja-gereja telah sepakat menerima kedua puluh tujuh Kitab Perjanjian Baru adalah sejajar dengan Perjanjian Lama, sebagai Alkitab yang diwahyukan oleh Allah, yang dijadikan dasar iman dan standar hidup dari seluruh jemaat.

III. KRITERIA TULISAN KANON PB

Setidaknya ada empat kriteria dasar dalam proses kanonisasi kitab PB:

  1. Kerasulan. Sebuah kitab diterima sejauh terbukti meneruskan tradisi rasuli, yaitu para murid Yesus.
  2. Ortodoksi. Sekalipun harus diakui bahwa masing-masing kitab memiliki keunikan masing-masing yang membuat keseluruhan Alkitab berwujud sebuah -- diversity-, namun diakui pula bahwa masing-masing Alkitab memiliki kesatuan (unity) yang berporos pada iman yang sama pada Kristus yang bangkit dan dimuliakan.
  3. Antiquity. Yang diakui adalah kitab-kitab yang lebih kuno atau yang paling dekat dengan peristiwa Yesus.
  4. Pemakaian dalam Komunitas. Hanya kitab-kitab yang dipakai secara meluas oleh jemaat yang dimasukkan ke dalam kanon.

==========================

TERMIN IV / Topik 1 -- Apokaliptik dalam PB

I. KITAB WAHYU SEBAGAI KITAB APOKALIPTIK

Kata "apokaliptik" berasal dari nomina Yunani APOKALUPSIS, artinya "menyingkapkan, menelanjangi" atau "membukakan sesuatu yang sebelumnya tertutup" dan macam-macam kata sejenis yang merujuk pada sesuatu yang sebelumnya tersembunyi dan sekarang telah disingkapkan sekarang.
Kata "apokaliptik" sebetulnya merupakan suatu ungkapan dari gereja Kristen abad ke-2 untuk jenis sastra yang dipakai dalam surat Wahyu kepada Yohanes di Perjanjian Baru. Dari sinilah kata "apokaliptik" kemudian menjadi sebutan untuk sastra dengan gaya penulisan yang banyak menggunakan simbol, seperti di dalam Kitab Wahyu. Kitab apokaliptik bersifat nubuatan yang menceritakan hal-hal yang diperoleh melalui mimpi, penglihatan, dan umumnya memakai lambang.
Apokaliptik juga menunjuk pada suatu jenis eskatologi (hal-hal yang akan terjadi di akhir zaman) yang sangat menekankan soal moral dengan cara mencela gereja yang tidak setia dan menuntut pertobatan untuk menghindari penghukuman ilahi (Wahyu 2:5. 16, 21-22; 3:3,19). Jadi, kata APOKALUPSIS menyatakan "tindakan membuka" atau "pengungkapan/menyibakkan sesuatu" dan sering digunakan sehubungan dengan penyingkapan hal-hal rohani atau penyingkapan kehendak serta maksud-tujuan Allah (Lukas 2:32; 1 Korintus 14:6, 26; 2 Korintus 12:1, 7; Galatia 1:12; 2:2; Efesus 1:17; Wahyu 1:1). Bekerjanya Roh Kudus memungkinkan penyingkapan demikian.

II. CIRI-CIRI KITAB APOKALIPTIK

1. Penggunaan Nama Penulis Samaran
Ciri sastra Apokaliptik adalah memakai nama penulis samaran. Tulisan yang penulisnya menggunakan nama samaran dikenal dengan istilah pseudonymous. Pemakaian nama samaran merupakan hal yang lazim dan tidak hanya terjadi di lingkungan penulis Yahudi saja, tetapi juga di dunia Yunani dan Romawi. Dengan menggunakan nama samaran, biasanya nama figur-figur dari masa lampau yang dihormati, maka tulisan-tulisan apokaliptik mendapatkan otoritas dan dihadirkan sebagai tulisan-tulisan yang memprediksikan masa depan yang sedang digenapi.
2. Penggunaan Bahasa Simbolis
Ciri lain dari sastra apokaliptik yang membuatnya mudah dikenali adalah banyak menggunakan bahasa simbolis. Kadang bahasa simbolis yang digunakan mudah dimengerti namun kadang sulit dipahami. Simbol-simbol yang sering dipakai adalah binatang-binatang, manusia dan bintang-bintang, makhluk-makhluk mitologi, dan angka-angka. Ini dapat kita temukan dalam surat Wahyu kepada Yohanes yang menyebut Roma sebagai Babel atau Kitab Daniel yang memakai nama-nama binatang untuk menyebutkan nama empat negara.
3. Sosok Malaikat Berperan Penting
Sastra apokaliptik sangat menekankan sifat supranatural dari wahyu yang diberikan. Aspek supranatural ini diperlihatkan melalui sosok malaekat yang mewarnai tulisan-tulisan apokaliptik. Sosok malaikat dalam tulisan apokaliptik memiliki peran penting yang membuat mereka menonjol. Misalnya, dalam kitab Daniel kita dapat menemukan dua tokoh malaikat yaitu Gabriel (Daniel 8:16) dan Mikhael (Daniel 12:1). Para penulis sastra apokaliptik banyak memberikan perhatian kepada sosok-sosok malaikat dan setan karena memang masyarakat Israel kuno sangat akrab dengan bayangan tentang suatu pengadilan ilahi yang menunjukkan adanya sisa-sisa politeisme kuno dalam kepercayaan mereka yang monoteis.
4. Kedatangan Zaman Keselamatan
Bila membaca sastra apokaliptik, kita dapat menemukan pembedaan yang tegas antara dunia yang sekarang dengan dunia yang akan datang. Sastra Apokaliptik berbicara tentang eskatologi, yaitu akhir dunia yang semakin memburuk hingga betul-betul kiamat, lalu tiba-tiba muncul dunia baru yang serba indah. Saat dunia yang baru itu datang, segala kejahatan dan kuasanya akan dimusnahkan oleh Allah, orang-orang yang telah mati akan dibangkitkan, dan akan ada penghakiman bagi semua orang. Dalam pandangan apokaliptik, bumi dilihat secara menyeluruh dan tidak hanya terbatas pada umat Israel. Tulisan apokaliptik juga tidak hanya melampaui batas sejarah sampai ke eskatologi (keadaan sesudah sejarah berakhir) tetapi juga protologi yaitu keadaan sebelum dunia diciptakan. Sasaran akhir tulisan ini adalah berakhirnya segala kejahatan, kekuasaan yang dimiliki negara-negara besar di dunia tidak akan bertahan lama, dan zaman keselamatan pun tiba.

III. TEMA UTAMA KITAB WAHYU

Tema utama dalam kitab Wahyu adalah suatu penyingkapan (wahyu 1:1-2.20), suatu nubuat (wahyu 1:3, wahyu 22:7, 18-19) dan suatu gabungan dari tujuh surat (Wahyu 1:4,11, Wahyu 2:1-3:22). Kitab ini merupakan suatu penyingkapan dalam kaitan dengan isinya, suatu nubuat dalam kaitan dengan beritanya, dan suatu surat dalam kaitan dengan alamat tujuannya.

Selain Kitab Wahyu yang ada kitab apokaliptik, ada pula beberapa pelajaran mengenai apokaliptik dan eskatologi yang terdapat dalam kitab-kitab Perjanjian Baru, antara lain:
1. Kitab Injil
Dalam Injil Matius pasal 24-25 terdapat mengenai khotbah Yesus tentang akhir zaman. Dalam Injil Markus pasal 13 terdapat pula khotbah tentang akhir zaman.
2. Dalam Surat-surat Paulus.
1 Tesalonika pasal 4-5, Paulus menuliskan mengenai nasihat supaya hidup kudus, kedatangan Tuhan dan berjaga-jaga. Tiga topik ini adalah tulisan mengenai hal yang akan datang. Lalu dalam 2 Tesalonika pasal 2, Paulus menulis mengenai kedurhakaan yang akan datang menjelang kedatangan Tuhan. Tentu hal ini adalah sebuah pengajaran akan hal yang akan datang.
3. Dalam surat kepada Timotius.
Paulus juga menuliskan mengenai keadaan manusia pada akhir zaman, ada tanda-tanda secara moral yang Paulus menyatakan kepada Timotius mengenai keadaan manusia yaitu mereka tidak mempedulikan satu dengan yang lain, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah, dsb. (Lihat 2 Timotius 3:1-9).
4. Dalam Surat Ibrani.

Ibrani 4:1-13, penulis kitab Ibrani menuliskan mengenai sebuah hari perhentian yang sudah disediakan oleh Allah. Hari ini merujuk kepada Hari Tuhan, di mana Allah akan bertahta dan berdaulat penuh atas segala ciptaan. Satu hari seperti hari ketujuh dalam penciptaan, di mana Allah berhenti menciptakan, Ia menguduskan dan memberkati ciptaan-Nya.

5. Dalam Surat Petrus.
Di dalam 2 Petrus 3, kita dapat melihat uraian rasul Petrus mengenai Hari Tuhan. Hari ini dinyatakan adalah hari saat Tuhan datang dan hari yang sangat suci.

TERMIN IV / Topik 2 -- Misi ke Segala Bangsa

I. INJIL DIBERITAKAN KE SEGALA BANGSA

Pemberitaan Injil kesegala bangsa tidak dapat dilepaskan dari peran Roh Kudus seperti tertulis Lukas 24:49 dan Kis. 1:8. Injil mulai diberitakan keluar Yerusalem adalah setelah hari raya Pentakosta. Setelah Pentakosta, para rasul dikuasai oleh Roh Kudus dan mereka bersemangat dalam memberitakan Yesus Kristus. Dalam Kisah Para Rasul pasal 2 dan 3 dimulai dengan Petrus yang berkhotbah dan banyak orang mendengar tentang Yesus, hingga mereka memberikan diri untuk dibaptis. Setelah dituliskan mengenai semangat para rasul dalam menginjil, sampailah kondisi penganiayaan kepada jemaat Kristus di Yerusalem. Dengan demikian, para rasul harus lari dari Yerusalem, tetapi dalam kesempatan melarikan diri dan mencari tempat perlindungan itu, mereka tetap menginjil. Demikian catatan yang sangat detail dari Kisah Para Rasul:

1. Filipus di Samaria (Kisah Para Rasul 8:4-25)
Injil diberitakan di Samaria. Secara geografis dan historis, Samaria pada masa Israel Kuno adalah Ibukota dari Kerajaan Israel Utara. Akan tetapi, orang Yahudi (Israel Selatan dengan ibukotanya Yerusalem) menolak untuk berhubungan baik dengan penduduk Samaria karena mereka tidak menjaga kemurnian Taurat dan hidup menyembah baal dan mendirikan bukit-bukit pengorbanan. Di Samaria, Filipus memberitakan tentang Yesus kepada penduduk di sana. Kemudian disusul oleh Petrus dan Yohanes yang datang ke Samaria dan berdoa supaya mereka menerima Roh Kudus.
2. Filipus bertemu Sida-Sida dari Ethiopia (Kisah Para Rasul 8:26-40)
Setelah dari Samaria, dalam perjalanan menuju ke Gaza, Filipus memberitakan Injil kepada Sida-Sida dari Ethopia. Dengan demikian, seorang asing (non Yahudi) menjadi percaya kepada Kristus dan dibaptis.
3. Petrus di Lida, Saron dan Yope (Kisah Para Rasul 9:32-43)
Petrus membawa Injil dan mengadakan tanda-tanda mukjizat kepada penduduk yang bertempat tinggal di Lida, Saron dan Yope. Pertobatan di kota-kota ini terjadi karena tanda-tanda mukjizat yang terjadi. Dalam Kisah Para Rasul 9:42, "Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan." Tanda-tanda dan mukjizat menyertai pemberitaan Injil, sehingga dari hal ini semakin banyak orang yang percaya kepada Tuhan.
4. Petrus di Kaisarea (Kisah Para Rasul 10)
Injil diberitakan hingga ke Kaisarea, bagian utara tanah Palestina. Tercatat bahwa Kornelius dan keluarganya menjadi percaya kepada Kristus. Semua orang yang mendengar khotbah Petrus menerima Roh Kudus dan mereka memberi diri untuk dibaptis.
5. Paulus dan rekan pelayanan melakukan Penginjilan
Babak baru dalam pemberitaan Injil dimulai seorang Sanhedrin yang bertobat dipakai Tuhan untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa non-Yahudi. Ia adalah Saulus yang namanya kemudian menjadi Paulus. Bersama-sama dengan rekan pelayanannya seperti Barnabas, Silas, Lukas dan lain-lain, mereka memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa hingga ke Asia Kecil.

II. TANTANGAN MISI MASA KINI

Meskipun keadaan dan kehidupan masa kini sudah berubah dan sangat jauh berbeda kehidupan para rasul, namun tantangan dalam pelayanan misi masa kini masih tetap ada. Meskipun sarana dan prasarana saat ini juga jauh lebih maju, bahwa didukung oleh teknologi yang lebih moderen, nanun kendala dalam bermisi juga seakan selalu ada. Berikut ini beberapa tantangan misi masa kini:

  1. Umat Kristen yang enggan untuk menginjil.
  2. Kurangnya dana untuk menjangkau daerah terpencil dan suku terabaikan.
  3. Dominasi aliran kepercayaan.
  4. Gaya hidup postmodern (egoisme, kenyaman hidup, dll).
  5. Pengaruh filsafat post modern.
  6. Kurang strategi bermisi dengan media teknologi dan informasi.

III. APLIKASI DARI PELAJARAN PPB

1. Anthony Elong Leka
Banyak sekali, Terutama dalam topik latar belakang PB amat penting untuk kita pelajari. Dengan pengetahuan dan info yang kita pelajari menambah data dan info yang sebelum ini hanya apas-apas atau kita sedar tetapi kurang mengerti tapi dengan penerapan dan pembelajaran yang lebih serius kita dapat mengerti, memahami dan mengetahui apa di sebalik PB. Sejarah, latar belakang, pembetukan PB dan bagaimana pandangan kita sebelum dan selepas mempelajarinya. Itu bagi saya peribadi.

2. Yusetia Leo Chandra
Saya akan menggunakan bahan dari PESTA dan dari luar untuk pemuridan dan menjangkau jiwa-jiwa baru.

3. Yanuar Garjito
Menambah pengetahuan untuk memperkaya dan memperdalam iman kita. Ketika ada yang meragukan maupun bertanya tentang PB, kita bisa menjawab, menjelaskan dan bahkan sanggup menangkis kembali dengan bukti-bukti dan data yang ada di Alkitab. Bagi saya, pertanyaan apapun mengenai Alkitab perihal PB, hanya bisa dijawab oleh Alkitab itu sendiri.

4. Yermia Kristanto
Aplikasi yang akan saya lakukan, tetap terus dalam misi penginjilan, melanjutkan memperkenalkan Yesus kesemua orang yang belum mengenal Yesus, sehingga mereka boleh dimenangkan bagi Kristus. Amanat agung Yesus adalah perintah yang harus dikerjakan, dan untuk itu saya berdoa akan Tuhan perlengkapi senantiasa dengan Kuasa Roh Kudus. Ini senjata dalam pelayanan penginjilan.

5. Nanang Trimanta
Aplikasi dari pelajaran PPB ini adalah kesadaran akan Kasih Karunia Tuhan yang begitu besar berupa pemeliharaan iman atas jemaat Tuhan dari masa ke masa. Meneguhkan saya untuk betul-betul menjadi berkat dan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain terkait kasih karunia dalam Yesus Kristus.

6. Bryan Indra
Aplikasi yang saya akan lakukan dari pelajaran PPB ini:

  • Memberikan diri dipimpin oleh Roh Kudus
  • Mewartakan Injil melalui perbuatan dan perkataan
  • Belajar tidak menghakimi dan mengampuni
  • Belajar serupa dengan Kristus

7. Tri Sadono
Aplikasi yang akan saya lakukan dari pelajaran PPB ini adalah belajar lebih giat dalam memahami Perjanjian Baru untuk meningkatkan kualitas iman percaya kepada Yesus.

8. Paulus Jeddy
Menyadari bahawa sebagai pengikut Kristus seharusnya melakukan perintah Allah yaitu Amanat Agung. Jadi harus berinisiatif untuk belajar memberitakan Injil sesuai dengan firman Tuhan.

9. Aan Yahya
Melakukan penginjilan dari sekitar kita berada, misalnya tetanga, saudara dekat dsb., melalui sikap dan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari, yang meninggikan Kristus dalam hidup kita (Yohanes 12:32).

10. Cerry Steward Senggetang
Dengan mengikuti kelas PPB ini (walau kurang aktif) semakin memampukan saya untuk lebih memahami konteks dan karakteristik dari pada kitab perjanjian baru. Oleh krna itu kedepannya nanti saya ingin terus belajar dan membagikan kebenaran dari kisah perjanjian baru terlebih menceritakan akan karya Kristus bagi banyak orang.

11. Victor Francis
- Mau menjadi karakter yang serupa seperti Kristus melalui pikiran, perkataan dan perbuatan.
- Mau terus rindu kepada jiwa-jiwa yang belum dimenangkan.
- Bukan saja mau memahami sendiri tentang PPB, tapi mau supaya dapat menghidupi Firman itu sendiri dan belajar berbagi.

12. Jefri Kamlasi
Memanfaatkan setiap kesempatan yang Tuhan bukakan untuk melakukan pemberitaan dan pengajaran Injil sesuai dengan kemampuan.

13. Catherin YMT
Ingin lebih banyak menulis tentang Injil, kasih Tuhan, agar lebih banyak orang mendengar tentang siapa Yesus sebenarnya, dan menerima anugerah keselamatan.

14. Winsherly Tan
Saya ingin membangun hubungan secara pribadi dengan Tuhan melalui doa dan pengenalan akan firman-Nya secara konsisten dalam musim apapun dalam hidup saya.