Sharing Berkat Kelas PDG 2

  1. Chika Ferryana

    Shalom, sebenarnya saya kaget! Saya pikir, "Pengantar Doktrin Gereja" itu membahas macam-macam aliran gereja beserta doktrin di dalamnya. Namun, setelah kelas berjalan, saya merasa terberkati karena banyak hal yang harus dibenahi pascapandemi.

    Pascapandemi, saya sempat berpikir bahwa ibadah streaming cukuplah, tetapi ternyata harus kembali pada makna gereja yang sesungguhnya — gedung dan manusia yang saling bersekutu. Jadi, menurut saya, kelas ini adalah pengingat untuk tetap setia bergereja secara on-site. Ke depannya juga, saya akan berbagi bagaimana seharusnya gereja dan pelaksanaan di dalamnya.

    Saya berharap MLC akan mengadakan kelas tentang aliran-aliran gereja supaya makin dalam pemahaman mengenai gereja. Amin!

  2. Daniel Victor Sinatrawan

    Puji Tuhan, bisa mengikuti kelas PDG. Banyak hal yang Tuhan singkapkan perihal gereja. Berbagai hal didiskusikan sehingga menambah wawasan dan hikmat makrifat sehingga memiliki pemahaman yang komprehensif dan bisa bermanfaat dalam keimanan diri sendiri maupun sesama jemaat.

    Terima kasih buat tim SABDA, admin, dan para fasilitator yang sudah reminder dan mendukung semua peserta. Kiranya Tuhan akan selalu memberkati. Haleluya, terpujilah nama YHWH.

  3. Denny Richard

    Saya mengucap syukur atas kesempatan karena bisa berdiskusi dan sharing tentang doktrin gereja. Memang kadang beda denominasi, beda pandangan, dan dogma, namun Kristus tetap satu. Satu hal yang saya pelajari adalah bahwa diakonia dan marturia tidak dapat dipisahkan. Saya juga mengerti bahwa gereja harus menjadi contoh yang konkret agar pertumbuhan rohani jemaat bukan hanya dipaksakan, tetapi tumbuh dari kesadaran masing-masing jemaat.

    Penting juga bagi pemimpin gereja dan pelayan untuk menjadi role model dalam pelayanannya, bukan hanya pelayanan transaksional, melainkan pelayanan yang bersumber pada Kristosentris, yang berpusat pada Kristus sebagai Kepala serta pelayanan yang tulus, sehingga masa kini dan masa yang akan datang akan dipulihkan segera.

  4. Djoko Susanto

    Kemudahan lebih berbahaya daripada penganiayaan. Kemudahan dan kenyamanan zaman modern justru lebih berbahaya bagi pertumbuhan rohani. Penganiayaan memurnikan, kenyamanan melemahkan iman. Aplikasi: Evaluasi kenyamanan pribadi yang melemahkan doa dan kekudusan. Di gereja, ciptakan ruang yang melatih pengorbanan, bukan hanya kenyamanan.

    Keimaman semua orang percaya Sering hanya slogan. Setiap orang percaya adalah imam, tetapi banyak gereja menjadikan pendeta pelaku utama, sementara jemaat menjadi konsumen. Aplikasi: Ukur keberhasilan dari berapa banyak jemaat yang dilengkapi. Jemaat harus bertanya, "Karunia apa yang bisa saya pakai untuk membangun tubuh Kristus?"

    Kasih yang Murni Harus Tanpa Syarat. Diakonia harus diberikan tanpa syarat. Kasih sejati menolong karena belas kasihan Kristus, bukan karena target penginjilan. Aplikasi: Beri bantuan berdasarkan kebutuhan, bukan kesediaan menerima Injil. Periksa motivasi: menolong karena Kristus atau karena angka? Hiduplah sebagai anggota Tubuh Kristus yang aktif, bukan sekadar konsumen rohani.

  5. Eddy Soewito

    Bersyukur dapat mengikuti kelas "Pengantar Doktrin Gereja" yang membuka pemahaman mengenai makna gereja yang sebenarnya. Gereja tidak dibatasi gedung secara fisik, tetapi secara rohani adalah kumpulan orang percaya yang dikuduskan oleh Tuhan.

    Melalui evaluasi dari Bu Yulia, saya juga mendapat pemahaman mengenai makna dan tugas gereja, serta koreksi terhadap ajaran yang salah sehingga diperlengkapi untuk dapat mengajarkan materi ini kembali dengan baik dan benar. Terima kasih kepada tim SABDA MLC, Bu Evie, dan Saudari Kezia yang sudah melayani sebagai moderator dan admin. Soli Deo Gloria.

  6. Hana

    Terima kasih kepada teman-teman di PDG 2 atas sharing-sharing-nya selama lima hari, di mana kita semakin mengetahui, disadarkan, serta lebih memahami tentang gereja. Selain itu, kita juga semakin memahami posisi jemaat, serta posisi hamba Tuhan, pendeta, dan pekerja gereja dengan lebih baik.

    Biarlah melaluinya kita bisa menjadi lebih baik dan benar sesuai dengan porsi masing-masing. Terima kasih kepada moderator dan admin yang telah membuat jalannya diskusi menjadi tertib dan baik. Tak lupa juga, terima kasih kepada segenap tim SABDA atas kelas ini. Tuhan Yesus memberkati.

  7. Joshua Effendy

    Mengikuti kelas PDG me-refresh saya dan memberi pengalaman baru, khususnya dalam memahami eklesiologi secara lebih aplikatif. Saya sangat menikmati pembelajaran yang menghubungkan doktrin dengan berbagai pergumulan gereja masa kini. Hal yang paling berkesan adalah menyadari bahwa gereja bukan sekadar organisasi, tetapi umat Allah yang memiliki identitas, panggilan, dan misi dalam Kristus.

    Kelas ini mendorong saya untuk semakin menggali nilai-nilai firman, menerapkan dan menghidupi pemahaman eklesiologi dalam kehidupan bergereja, serta berkontribusi membangun gereja yang sehat dan berpusat pada Kristus.

    Proses diskusinya juga sangat memberkati karena terbuka, interaktif, dan mempertajam perspektif melalui berbagai pengalaman. Ke depannya, diskusi berbasis kasus nyata dan penerapan dalam konteks gereja lokal akan semakin memperkaya proses belajar.

  8. Lily Kurniati

    Saya bersyukur kepada Tuhan yang mengizinkan saya mengikuti kelas "Pengantar Doktrin Gereja" (PDG) ini. Saya diingatkan mengenai hakikat gereja yang sejati — bahwa gereja bukan sekadar bangunan fisik atau tempat menjalankan rutinitas ibadah, melainkan persekutuan orang-orang percaya yang dikuduskan oleh Tuhan.

    Dari diskusi dalam kelas PDG 2, saya semakin diingatkan akan pentingnya pilar gereja yang sehat, khususnya dalam membangun persekutuan yang saling mengasihi, mendoakan, dan menanggung beban bersama. Diskusi juga memperjelas bahwa tugas gereja, termasuk pelayanan diakonia dan marturia, merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Walau terdapat perbedaan denominasi dan pandangan, fokus pelayanan harus tetap berpusat pada Kristus sebagai Kepala Gereja.

    Pemimpin gereja atau pendeta dipanggil untuk menjadi role model yang melayani dengan tulus, memperlengkapi jemaat, serta memberi ruang bagi tumbuh kembang karunia mereka. Jemaat tidak hanya menjadi penonton, melainkan ikut melayani, baik di dalam gereja lokal maupun di pekerjaan atau usaha, sehingga menjadi kesaksian di tengah keluarga, pekerjaan, dan lingkungan sekitar.

    Terima kasih kepada Bu Evie selaku moderator, Kak Kezia selaku admin, dan seluruh tim SABDA yang telah menyelenggarakan kelas ini. Soli Deo Gloria.

  9. Marlyna

    Shalom, Bapak/Ibu dan teman-teman semua. Terima kasih untuk setiap sharing, pendapat, dan pengalaman yang sudah dibagikan selama diskusi ini. Banyak hal yang menjadi berkat bagi saya. Saya semakin disadarkan bahwa menjadi gereja yang sehat bukan hanya tentang program atau kegiatan gereja, tetapi tentang bagaimana kita hidup sebagai tubuh Kristus, saling melayani, mengasihi, bertumbuh, dan menjadi berkat bagi sesama. Saya juga belajar bahwa dalam pelayanan, kita tidak selalu melihat hasil seperti yang kita harapkan. Namun, kita tetap dipanggil untuk setia melakukan bagian kita dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.

    Secara khusus, terima kasih kepada Tim SABDA yang sudah memfasilitasi diskusi ini sehingga kami bisa belajar, berbagi pengalaman, dan melihat pelayanan gereja dari berbagai sudut pandang. Kiranya semua yang kita pelajari tidak berhenti sebagai pengetahuan saja, tetapi boleh kita hidupi dalam pelayanan dan kehidupan sehari-hari. Tuhan memberkati kita semua dan terus memperlengkapi kita menjadi gereja yang sehat, yang menghadirkan kasih Kristus di mana pun kita berada.

  10. Marten Pinatik

    Shalom dan salam sehat. Mengikuti kelas PDG memberikan banyak hal yang memperkaya pemahaman saya tentang gereja. Salah satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah bahwa gereja bukan hanya tempat kita datang beribadah dan menjalankan berbagai program, tetapi tempat setiap orang percaya dibangun, diperlengkapi, dan kemudian diutus untuk melayani.

    Melalui setiap diskusi yang ada, saya semakin melihat bahwa jemaat jangan hanya menjadi penonton atau hanya sibuk dengan pelayanan dalam gereja. Jemaat perlu diperlengkapi supaya melalui keluarga, pekerjaan, usaha, profesi, dan kehidupan di tengah masyarakat, mereka benar-benar menjadi garam dan terang.

    Hal yang ingin saya terapkan dalam pelayanan adalah semakin memperlengkapi dan memberi ruang kepada jemaat untuk bertumbuh dan menggunakan karunia yang Tuhan berikan, baik di dalam maupun di luar gereja. Sebagai pemimpin, saya juga perlu terus belajar supaya tidak mengerjakan semuanya sendiri, tetapi membangun dan mempersiapkan orang lain untuk melayani.

    Saya juga bersyukur dengan proses diskusi di kelas PDG karena setiap pertanyaan dan tanggapan dari teman-teman membuat pembelajaran tidak hanya berhenti pada teori, tetapi menyentuh persoalan nyata yang kita hadapi dalam kehidupan bergereja dan pelayanan sehari-hari. Terima kasih untuk SABDA Live, Ibu Yulia, admin, moderator, dan semua rekan yang ada di PDG 2. Tuhan Yesus memberkati.

  11. Noto Sumarto

    Saya berterima kasih kepada semua pihak, khususnya tim SABDA yang telah menjadi kepanjangan tangan untuk memberkati saya dan semua peserta. Bagi saya, menjadi bagian dari kelas ini melalui lembaga SABDA adalah suatu anugerah iman yang besar untuk saya semakin semangat dan giat dalam mewujudkan misi dan fungsi gereja di dunia.

    Mandat Budaya dalam Kejadian 1:28 dan Amanat Agung Kristus untuk pemberitaan Injil dalam Matius 28:19-20 menegaskan bahwa seluruh dunia adalah "ladang misi" bagi beragam profesi dan bukan hanya milik rohaniawan semata. Dokter, guru, pedagang, ASN, dan seniman adalah pembawa Kabar Baik di "ladang" mereka.

    Saya belajar untuk menjadi gereja secara pribadi dan bagian dari gereja sebagai tubuh Kristus untuk makin fokus, bukan hanya kepada program internal semata, tetapi lebih kepada:

    1. Perubahan mindset bahwa setiap jemaat adalah pelayan penuh waktu dalam bidang profesi masing-masing.
    2. Bagi lembaga gereja, pemimpin gereja, dan pihak terkait, belajar mengurangi program internal gereja yang semata-mata hanya mengarah kepada kenyamanan dan memperbanyak program pengutusan dan penjangkauan.
    3. Gereja perlu membentuk departemen "Misi", departemen "Mandat Budaya", atau tim pengutusan guna mendukung pelaksanaan Amanat Agung Tuhan Yesus.
    4. Buat para pendeta dan gembala sidang, atau entitas yang diberi mandat untuk berkhotbah dan PA, harus kontekstual ke dalam dunia kerja.
    5. Ukuran keberhasilan gereja bukan dari "jumlah kegiatan" yang banyak dan penuh dengan pendanaan, tetapi lebih kepada dampaknya bagi masyarakat sekitar dan penjangkauan jiwa bagi kemuliaan Tuhan.

    Gereja harus menjadi "Pusat Pelatihan" dan "Pusat Pengutusan", bukan hanya "Pusat Pertemuan" semata. Minggu pagi, kita berkumpul untuk bersekutu, beribadah, dan menerima berkat rohani. Namun, hari Senin sampai Sabtu, kita disebar untuk menjadi kekuatan penjangkauan gereja melalui profesi dan pekerjaan masing-masing. Gereja yang tidak mengutus akan menjadi tempat museum orang Kristen. Soli Deo gloria, segala pujian, hormat, kuasa, dan kemuliaan hanyalah bagi Allah.

  12. Parulian Simarmata

    Saya bersyukur dapat mengikuti seluruh diskusi kelas "Pengantar Doktrin Gereja" (PDG) hingga selesai. Sebelumnya, saya pernah membaca buku terkait doktrin gereja dan juga mengikuti seminar tentang doktrin gereja di Lembaga Sekolah Tinggi Teologi. Dengan mengikuti diskusi kelas ini, saya semakin memahami lebih dalam lagi tentang doktrin gereja.

    Hal yang berkesan dari mengikuti kelas PDG adalah materi "Pilar-Pilar Gereja yang Sehat", khususnya tentang "Persekutuan yang Saling Mengasihi dan Membangun" yang menyatakan bahwa jemaat bersekutu, saling mengenal secara mendalam, saling mendoakan, dan aktif saling menanggung beban dalam kasih. Menurut pengamatan saya, hal ini belum terwujud sepenuhnya dan merupakan tanggung jawab bersama seluruh jemaat untuk bersama-sama melakukan gerakan pembaruan di gereja.

    Setelah mengikuti diskusi kelas PDG, saya merasa diberkati dan semakin terpacu untuk lebih giat lagi dalam pelayanan di gereja. Saya juga akan memberitahukannya kepada teman sepelayanan yang mau diajak sharing sebagai bagian dari multiplikasi pemuridan. Terima kasih kepada Tim Yayasan SABDA yang sudah bekerja dengan baik dalam menyiapkan materi dan memfasilitasi diskusi kelas PDG. Tuhan memberkati.

  13. Rafly Rinaldy

    Puji Tuhan, satu lagi modul sudah selesai saya ikuti. Terima kasih buat tim MLC SABDA yang sudah mengangkat topik ini, yaitu doktrin Gereja sehingga kita bisa mengenali lebih jauh lagi mengenai sejarah dan asal-usul gereja. Kita juga bisa belajar tentang pilar-pilar dalam gereja dan apa saja yang harus dilakukan gereja dalam merestorasi orang berdosa.

    Semoga pendalaman ini bisa bermanfaat buat kita semua, para peserta yang sudah aktif berdiskusi dalam ruang WhatsApp. Maju terus SABDA dengan modul-modul atau topik-topik yang jarang diangkat ke mimbar oleh pengkhotbah. Akhir kata, God bless you all.

  14. Rei

    Bersyukur bisa kembali ikut kelas. Melalui diskusi, banyak berkat yang saya dapatkan dan juga kembali diingatkan betapa beratnya pelayanan gereja. Yang cukup berat adalah menerapkan hal-hal yang sifatnya teoritis menjadi praktis dalam gereja. Karena dalam gereja, begitu banyak aspek yang perlu dipertimbangkan, seperti sosial, ekonomi, psikologi, geografis, dan lain-lain.

    Melalui kelas PDG ini, diperlihatkan betapa pentingnya kerja sama antarhamba Tuhan dari tiap-tiap gereja. Dalam gereja lokal sendiri juga diperlukan kerja sama antara hamba Tuhan dengan jemaat. Kiranya Roh Kudus menolong semua gereja-Nya. Tuhan berkati kita semua. Terima kasih, Bu Evie dan Kak Kezia. God bless.

  15. Ronald

    Syalom! Saya bersyukur kepada Tuhan untuk Lembaga SABDA yang Tuhan pakai menjadi berkat melalui kelas "Pengantar Doktrin Gereja" kali ini. Saya sangat mengapresiasi kelas ini, mulai dari persiapan tim, materi, dan referensi bacaan yang sangat baik. Tim SABDA tidak hanya memberikan bahan belajar, tetapi juga selalu mendorong untuk aktif terlibat dalam diskusi.

    Terima kasih juga untuk teman-teman di kelas PDG 2 yang bertahan dan belajar bersama sampai akhir. Diskusi bersama teman-teman membuka wawasan saya dalam melihat beragam dinamika dan pergumulan nyata yang terjadi di gereja lokal masing-masing. Semangat belajar seperti ini penting dimiliki oleh kita sebagai orang percaya untuk terus bertumbuh dalam anugerah-Nya. Secara keseluruhan, kelas ini sangat memberkati dan menginspirasi. Terima kasih Tim SABDA dan teman-teman semua. Sampai jumpa di kelas-kelas yang lain, dan Tuhan memberkati!

  16. Suratman Aripin

    Saya bersyukur dapat mengikuti kelas "Pengantar Doktrin Gereja" (PDG). Hal ini sangat berguna dan sangat relevan untuk kembali melihat bagaimana seharusnya gereja dikelola berdasarkan Alkitab.

    Secara khusus, saya diingatkan dari Pelajaran 4: Kepemimpinan dan Tata Kelola Gereja, bagaimana orang percaya sebagai imamat yang rajani, bahwa semua jemaat adalah imam yang dipanggil untuk melayani, menjalankan bagiannya dalam pembangunan tubuh Kristus dan bukannya memperlakukan rohaniwan sebagai pegawai yang dibayar penuh waktu untuk melakukan sebagian besar tugas kerohanian di gereja. Di sisi lain, hal ini juga mengingatkan bagaimana seharusnya peran seorang rohaniwan, yaitu untuk memperlengkapi umat Allah.

    Melalui kesempatan ini, saya juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan dalam grup yang saling melengkapi. Untuk Bu Evi dan Sdri. Kezia, terima kasih atas pelayanan yang diberikan. Dan, kepada SABDA, teruslah menjadi berkat bagi banyak orang.

  17. Tri Juliana

    Pengalaman baru mengikuti kelas PDG: mendapatkan pengertian yang baru lagi tentang hakikat gereja, tantangan gereja masa kini, tanda gereja yang sehat, kepemimpinan dan tata kelola gereja, serta misi gereja. Melalui lima bab pembelajaran ini, saya semakin diteguhkan bahwa gereja adalah milik Tuhan, bukan milik perorangan atau kelompok orang. Jadi, Tuhan akan menuntun gereja-Nya dan akan terus memurnikan gereja-Nya. Firman Tuhan harus terus menjadi landasan bagi gereja untuk melakukan setiap pelayanannya.

    Aplikasi praktis yang dapat saya lakukan: mengajarkan kepada jemaat tentang pendidikan doktrin gereja ini dalam persekutuan-persekutuan yang ada di gereja saya supaya jemaat memahami dan juga dapat melakukannya. Evaluasi: penjelasan melalui chat terkadang sangat panjang sehingga membutuhkan waktu dan konsentrasi yang tinggi untuk dapat memahami inti tulisan dari rekan-rekan grup agar tidak salah dalam menanggapi.

  18. Zephania Maestronella

    Belajar sepanjang rangkaian materi doktrin gereja ini benar-benar membukakan mata dan menyegarkan kembali cara pandang saya tentang arti gereja yang sesungguhnya. Selama ini, kita sangat gampang terjebak menilai gereja cuma dari megahnya gedung, ramainya jemaat, atau meriahnya acara ibadah Minggu. Padahal, kesehatan gereja yang sejati jauh lebih dalam dari hal-hal kasat mata itu.

    Saya disadarkan betapa berharganya warisan iman yang sudah diperjuangkan para pendahulu kita sehingga kita dipanggil untuk setia menjaga kebenaran firman yang murni, memelihara kekudusan bersama, dan merawat persekutuan fisik yang hangat dan nyata tanpa terbuai oleh kenyamanan semu di dunia digital.

    Berkat terbesar lainnya adalah saya diingatkan kembali soal panggilan kita sebagai imamat yang rajani dan agen misi Allah di dunia nyata. Ternyata, melayani Tuhan itu tidak melulu harus pegang mikrofon di mimbar atau menghabiskan waktu di kegiatan internal gereja saja, tetapi tempat kerja, keluarga, dan ruang digital kita sehari-hari justru adalah mimbar pelayanan yang sesungguhnya. Menghidupi etika dan kejujuran dalam profesi, mendidik keluarga sebagai gereja kecil, serta membawa kasih di tengah dunia adalah wujud ibadah yang konkret. Harapan saya, pembelajaran ini terus mendorong kita untuk berhenti jadi penonton pasif dan mulai aktif memancarkan terang Kristus lewat integritas hidup di mana pun kita ditempatkan.