-
Anil Dawan
Bersyukur bisa mengikuti PSE dengan baik di tengah-tengah kesibukan tugas. Istilah engagement memberikan kedalaman rasa dan makna sekaligus keterlibatan dalam relasi dan aksi. Memulai dengan yang tangible, seperti membaca firman dan merenungkannya hingga proses mendaratkannya dalam praktik supaya kehadiran dan kuasa Tuhan dan firman-Nya makin dirasakan dan dipraktikkan. Dampak PSE bukan saja menambah wawasan pengetahuan sekaligus sumber energi transformasi yang bisa diberdayakan untuk memberdayakan komunitas ataupun person yang sedang lemah, lelah, mencari arahan dan bimbingan untuk menemukan kembali bahwa Tuhan dan firman-Nya masih berkuasa kini dan di sini.
Terima kasih untuk SABDA yang sudah memfasilitasi, dan juga rekan-rekan semua dalam terlibat diskusi memperkaya pengalaman iman, pendalaman, dan journey hidup yang terus menyemangati dan memotivasi. Tuhan memberkati.
-
Daniel Victor Sinatrawan
Haleluya. Puji Tuhan atas perkenanan Tuhan bisa mengikuti kelas PSE dari awal hingga akhir. Materi PSE yang luar biasa sehingga menambah pemahaman tentang Scripture Engagement. Jadi, bukan hanya sebagai pembaca Alkitab, tetapi bisa menghidupi firman menjadi transformasi diri sehingga bisa menjadi lebih sungguh lag dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya word tetapi tindakan aktif sesuai firman. Terima kasih buat tim SABDA, admin, dan fasilitator yang sudah luar biasa reminder setiap harinya sangat membantu sekali dan Tuhan akan berkati semua tim SABDA menjadi berkat buat banyak orang. Amin.
-
Dominicus Eddy Soewito
Puji Tuhan, saya dapat mengikuti kelas PSE karena saya ditegur oleh frasa ilusi kedewasaan, dan mendapat pencerahan bagaimana seharusnya membaca firman Tuhan yang berdampak pada transformasi karakter serupa Kristus. Terima kasih kepada tim SABDA MLC yang melayani kegiatan ini. Soli Deo gloria.
-
Feronica
Puji syukur dapat mengikuti diskusi kelas PSE yang menegur sekaligus menguatkan saya. Selama ini, saya hanya membaca dan mengajar firman Tuhan, tetapi saya tersadar bahwa seringkali saya datang kepada firman untuk mencari bahan pelayanan, bukan untuk membiarkan Tuhan membentuk hati saya. Ketika saya mengenal tentang kata "teleos", saya diingatkan bahwa tujuan akhir Scripture Engagement bukan sekadar memahami, tetapi menjadi dewasa yang otentik, utuh (sempurna) di hadapan Allah. Firman Tuhan tidak hanya ingin mengisi pikiran saya, tetapi mengubah karakter saya.
Saya juga belajar kembali bahwa pertumbuhan rohani tidak instan. Di mana saat ini, kita berada dalam dunia yang serba cepat/instan. Tuhan justru mengajar saya untuk berhenti, tinggal, dan mendengar (ber-solitude) bukan sekadar mencari jawaban, tetapi mencari Dia. Kelas ini bukan hanya menambah wawasan saya, tetapi mengoreksi motivasi hati saya. Saya rindu mulai sekarang membaca dengan "mengunyah" firman, merenungkan, dan melakukannya hingga tertransformasi kepada sesama.
Akhir kata, tak lupa saya ucapkan terima kasih untuk Ibu Yulia, Pak Bima, Ibu Roma sebagai fasilitator kelas 4, Kak Melisa, admin kelas yang senantiasa mengingatkan, dan juga tim SABDA MLC yang telah menciptakan kurikulum diskusi kelas (dengan modul-modul baru) yang semakin luar biasa dapat jadi berkat bagi peserta diskusi kelas. Tuhan senantiasa memberkati tim SABDA MLC lebih dan lebih lagi. Amin.
-
Herman Benyamin
Praise the Lord, saya dapat menyelesaikan PSE dengan baik, walau di tengah kegiatan yang padat, saya dapat menyelesaikan dan mengikuti bukan hanya sharing, tetapi juga berdiskusi dengan teman-teman di grup PSE 4. SE memberikan pencerahan akan perlunya melakukan bukan hanya scripture accessible, tetapi Scripture Engagement. Kehidupan seseorang tidak hanya memiliki pengetahuan teologis dan kehidupan spiritual, tetapi juga, lebih jauh dari itu, membangun hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan.
Scripture Engagement perlu usaha yang intentional dengan meluangkan waktu dan usaha sehingga SE menjadi habit yang memberikan pertumbuhan rohani sehingga mencapai 'Teleos' dan berbuah (Gal. 5:22-23). Saya berusaha untuk melakukan beberapa hal dalam level pribadi, yaitu Lectio Divina dan dalam level komunal, yaitu membangun mazbah keluarga.
-
Lina Dewi
Pengalaman saya mengikuti kelas PSE, sbb.: Dengan keterbatasan saya sebagai seorang lansia dan pemula di kelas-kelas YLSA. Hati saya bertanya-tanya dan tidak mengerti apa itu Scripture Engagement. Namun, setelah saya menyimak, membaca, dan mendengarkan penjelasan modul PSE, dan mengikuti diskusi teman-teman yang luar biasa, barulah hati saya terbuka. Ternyata selama ini, saya hanya membaca dan membaca saja firman Tuhan, tetapi belum menghidupinya dalam seluruh hidup saya. Semoga saya bisa melakukan SE setiap saat dalam hidup saya. Semoga Roh Kudus memampukan saya. Terima kasih banyak saya diberi kesempatan mengikuti kelas PSE ini oleh Tuhan Yesus melalui tim SABDA yang luar biasa. Tuhan Yesus terus memakai YLSA hamba-hamba-Nya dalam memberitakan firman Tuhan kepada setiap orang. Berkat Tuhan melimpah selamanya. Segala kemuliaan hanya bagi Dia.
-
Nadine
Saya bersyukur boleh mengikuti kegiatan membangun kerohanian yang diadakan oleh SABDA ini. Melalui kegiatan ini, saya banyak ditegur oleh Tuhan tentang motivasi dan cara saya mendalami Alkitab. Namun, setelah mengikuti PSE, pengetahuan saya makin luas dan mendapat banyak berkat dari pematerian serta diskusi kelas. Saya ingin berbuah lebih lagi dalam Tuhan, saya mau bertekun mengenali kehendak Tuhan agar apa yang sudah Tuhan berikan kepada saya tidak menjadi sia-sia, tetapi membawa kemuliaan nama Tuhan.
-
Rambu Pranidhana
Satu hal yang paling membekas bagi saya selama mengikuti kelas PSE ini adalah pemahaman ulang tentang apa artinya "berjumpa dengan Tuhan" lewat firman. Selama ini, saya pikir cukup baca Alkitab, dengar khotbah, lalu selesai. Namun, ternyata Tuhan rindu lebih dari sekadar aktivitas rohani, Dia rindu hati saya benar-benar tersentuh, digubah, dan diubahkan. Saya jadi sadar bahwa selama ini saya sering membaca firman dengan tergesa-gesa, seperti orang membaca memo, padahal Tuhan sedang menawarkan percakapan intim. Proses "metamorfosis" yang diajarkan di pelajaran terakhir benar-benar membekas: bahwa pertumbuhan rohani itu bukan soal seberapa banyak yang saya tahu, tetapi seberapa dalam firman itu membentuk cara saya berpikir, merasakan, dan merespons orang lain, terutama yang sulit saya kasihi. Dan, yang membuat saya lega, ternyata proses ini tidak perlu sempurna dalam semalam. Tuhan sabar membentuk, dan yang Dia minta hanyalah hati yang mau terbuka dan waktu yang saya sediakan dengan sungguh-sungguh. Bersyukur untuk perjalanan ini, dan semoga kita semua terus bertumbuh menjadi manusia alkitabiah, bukan sekadar tahu Alkitab.
-
Rian
Dengan penuh sukacita, saya bersyukur kepada Tuhan Yesus atas kesempatan yang diberikan untuk mengikuti kelas diskusi "Pengantar Scripture Engagement" selama lima hari. Kegiatan ini tidak hanya membekali dengan pengetahuan tentang firman Tuhan, tetapi juga mendalamkan hubungan spiritual kami. Saya percaya bahwa keterlibatan aktif dengan Alkitab (firman Tuhan) adalah kunci dalam perjalanan iman kita. Selama lima hari, menggali berbagai aspek dari Scripture Engagement sebagai pengantar, dan banyak pertanyaan muncul yang sangat membantu kami memahami lebih dalam.
Adapun poin-poin yang saya tangkap selama diskusi ini:
- Mengeksplorasi makna dari keterlibatan dengan firman Tuhan dan pentingnya dalam kehidupan sehari-hari.
- Diskusi ini membahas untuk memahami dan menerapkan ajaran Alkitab (firman Tuhan) dalam kehidupan kita yang serba cepat pada era teknologi digital/AI.
- Berbagi tentang kesulitan yang dihadapi, seperti kesibukan, kebingungan mengenai penafsiran, dan kemalasan.
- Perlunya dukungan dan refleksi dari sesama dalam memperdalam pemahaman dan penerapan firman Tuhan.
- Diskusi kembali merujuk pada disiplin rohani, dan pembelajaran berbasis kelompok yang dapat diimplementasikan sehari-hari.
Tentunya dari poin-poin di atas mengajak kita untuk merenungkan tindakan dan sikap kita terhadap Alkitab (firman Tuhan), serta menemukan cara-cara baru untuk berakar dalam firman Tuhan. Saya menyampaikan rasa terima kasih kepada YLSA melalui tim SABDA (MLC) yang telah memfasilitasi dan merancang serta melaksanakan kelas ini dengan baik. Terima kasih juga kepada moderator kelas diskusi malam PSE 4 yang membimbing dan mengarahkan kami dengan hati yang terbuka dan juga kepada admin kelas diskusi malam PSE 4 yang senantiasa siap membantu selama kelas berlangsung. Tak lupa, penghargaan yang sama saya berikan kepada rekan-rekan peserta yang telah berbagi pemikiran dan berkat yang telah menajamkan pemahaman kami terhadap firman Tuhan. Ini akan selalu menjadi kenangan berharga dan sumber inspirasi bagi kami semua. Semoga kita semua dapat terus terangsang untuk menggali dan memperdalam cinta dan komitmen kita pada Alkitab (firman Tuhan), dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di tengah tantangan hidup. Tuhan Yesus memberkati kita semua.
-
Robert
Shalom. Terima kasih tim SABDA, admin, dan moderator, serta Bapak/Ibu kelas PSE 4 malam, yang sangat luar biasa memberkati saya.
Pelajaran/berkat yang paling berkesan bagi saya setelah mengikuti kelas PSE ini:
- Saya sangat diberkati dan diperkaya dengan mengikuti kelas PSE ini, yang mengajarkan tentang interaksi yang hidup dengan Alkitab, baik secara pribadi maupun dalam komunitas yang harus menyentuh 3 dimensi, seperti dimensi Kognitif (dipahami), Afektif (dicintai), Polisional (dihidupi). Itulah SE yang sehat yang akan membawa kita berjumpa dengan Allah ketika kita membaca Alkitab.
- Di tengah abad kelimpahan teknologi digital AI ini, menyebabkan kebanjiran informasi, bahkan mengalami obesitas informasi. Nah, di tengah-tengah situasi itu, kita diingatkan bahwa SE itu vital peranannya karena SE yang sehat menuntun kita untuk setia Mendengar - Mengerti - Merenungkan - Merespons - Menghidupi. Sehingga tujuan akhir SE bisa tercapai. Kita tidak mengalami malnutrisi rohani, dan ilusi kedewasaan, tetapi memiliki kedewasaan yang otentik.
Aplikasi praktis: saya akan mempelajari lebih dalam lagi SE ini dengan formulasi intensional dalam kerangka kerja W-M-J dengan bantuan metode-metode yang relevan untuk mencapai "teleios".
-
Sannur Tambunan
Saya bersyukur kepada Tuhan dapat mengikuti PSE, sekalipun ada kesibukan yang sangat padat di minggu yang lalu. Banyak berkat rohani yang saya terima, yaitu menjadi seorang Kristen tidak cukup hanya rajin baca Alkitab, tetapi harus disertai dengan interaksi dan terhubung dengan Yesus yang adalah Firman yang hidup. Kadang kala, baca Alkitab, tetapi tidak memiliki relasi yang intim dengan Sang Firman. Saya akan tetap setia membaca/mendengar firman, mencintai, dan melakukannya dalam kehidupan setiap hari. Pengalaman baru adalah semakin bergairah dalam belajar firman Tuhan dalam komunitas di PSE 4. Semakin terdorong untuk dapat membagikan pentingnya SE dalam komunitas saya.
Diskusi berjalan dengan lancar dan penuh keakraban, saling menghargai, dan memperkaya dengan pengalaman yang berbeda. Terima kasih tim MLC yang sudah membantu lancarnya diskusi. Tuhan Yesus memberkati.
-
Silvy Octavia
Terima kasih buat tim SABDA, khususnya buat Kak Roma yang selalu mengatur jalannya diskusi agar lancar dan menanggapi semua jawaban peserta dan ada Kak Melisa yang memberikan info pengumuman. Juga peserta SABDA yang lainnya selalu aktif semangat untuk menggali dan memperdalam Alkitab. Walaupun ada saudara-saudari lainnya yang berhalangan urusan tertentu sehingga tidak bisa melanjutkan diskusi, tetapi support yang diberikan oleh tim SABDA itu sangat berarti.
Saya jadi lebih paham dan menghargai setiap pendapat yang diberikan dari Bapak/Ibu. Sistem pembelajaran kelas "Pengantar Scripture Engagement" sangat baik karena ada penjelasannya yang sudah disampaikan lewat Zoom ataupun dalam bentuk pdf sehingga dapat dibaca kembali.
Lalu, juga ada tes tertulis pilihan ganda yang memperkuat lagi pengertian kita akan PSE. Pertanyaan yang dilontarkan juga sangat berbobot, selama 5 hari ini pelajarannya tentang dasar teologis Scripture Engagement, mengapa SE penting, ekosistem dan dinamika proses SE, bentuk-bentuk SE, teleos (buah arah hidup dari SE) menjadi bekal untuk saya agar menjadikan firman Tuhan itu hidup. Saya tidak mau menjadi orang munafik yang jadi batu sandungan seperti orang-orang Farisi/Ahli Taurat yang mungkin pintar dalam mengenali aturan/larangan agamanya, yang berseru-seru tentang Tuhan dan terlihat suci, tetapi hatinya menjauh dari Tuhan.
Saya tidak ingin penampilan luar terlihat wow keren tahu segalanya tentang arti ayat Alkitab, tetapi tidak mau mengasihi sesama/menyimpan benci, tidak ada kerendahan hati untuk ditegur, merasa paling benar, dan saya tidak mau sombong rohani, saya tidak mau memuliakan Tuhan dengan kepalsuan atau demi mementingkan keuntungan sendiri. Namun, biarlah Tuhan tinggal dalam hati saya agar Silvy menjadi alat kesaksiannya, supaya orang juga terberkati. Bukan karena saya hebat/kuat, tetapi oleh karena anugerah-Nya yang memampukan dan kasih Tuhan yang melayakkan saya. Dari yang seharusnya binasa, tetapi Tuhan menyelamatkan.
Untuk evaluasi, saya tidak berhenti di sini saja. Kelas PSE akan berakhir, tetapi saya punya perjalanan yang panjang bersama Tuhan, saya rindu mengalami pengalaman-pengalaman yang indah bersama Tuhan di setiap apa pun musim kehidupan ini. Tetaplah bersukacita, tetap tenang walau badai menghampiri. Kiranya Allah memberi kita selalu damai sejahtera. Yesus Kristus senantiasa menyertai kita semua. Amin.
-
Sisca Marindra
Terpujilah Tuhan untuk segala sesuatu yang terjadi dalam hidup saya. Termasuk mengikuti kelas ini, yang lalu menolong saya melihat kembali bahwa berinteraksi dengan firman Tuhan, bukan sekadar membaca atau memahami isi teks, tetapi memberi ruang bagi firman untuk membentuk hati dan mengoreksi motivasi. Saya disadarkan bahwa pelayanan tanpa keterlibatan yang mendalam dengan firman bisa jadi aktivitas yang melelahkan dan kehilangan arah. Yang Tuhan kehendaki bukan hanya kita aktif, tetapi kita berubah.
Pelajaran yang paling berkesan adalah bahwa transformasi tidak lahir dari kesibukan rohani, melainkan dari relasi yang hidup dengan Tuhan melalui firman-Nya. Ini menegur saya untuk memeriksa kembali motivasi dan dasar pelayanan saya. Aplikasi praktis yang akan saya lakukan adalah mengubah cara saat teduh: bukan hanya mencari pengertian, tetapi bertanya apa yang harus saya taati dan ubah. Saya juga ingin lebih intentional membagikan firman dalam percakapan keluarga secara alami, serta memastikan setiap pelayanan lahir dari perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Proses diskusi sangat menolong karena membuka sudut pandang yang beragam. Ketika peserta berbagi secara jujur dan reflektif, diskusi jadi lebih tajam dan membangun.
Terima kasih kepada Ibu Yulia sebagai pembicara atas pengajaran yang jelas dan meneguhkan, Kak Roma sebagai moderator yang mengarahkan diskusi dengan baik, Kak Melisa sebagai admin yang setia membantu proses teknis, serta seluruh tim SABDA yang sudah memfasilitasi kelas ini dengan sangat baik. Kiranya Tuhan terus memakai pelayanan ini untuk memperlengkapi banyak orang. Soli Deo gloria.
-
Tanto
Orang Kristen sulit berpisah dengan medsos dan kemajuan AI. Mau tidak mau, kita harus terapkan sikap.
- Tidak mungkin kita anti dengan AI dan medsos.
- Memakai kemajuan teknologi selagi masih belum dikontrol dan dilarang antikris.
- Teknologi adalah anugerah dari Tuhan untuk belajar dengan lebih mudah, lebih cepat, lebih murah untuk menggali lebih dalam tanpa perlu kita harus sekolah teologi atau membeli banyak buku dan ribuan kaset/CD/DVD khotbah sebagai referensi.
- Waktu bergerak semakin cepat dan singkat. Karena itu harus semakin efektif dan efisien memakai waktu dengan bijak. Teknologi AI adalah alat yang berguna untuk memperkaya kerohanian kita.
Pada mulanya adalah Firman. Semua dijadikan oleh Firman. Bahkan Firman berinkarnasi menjadi manusia oleh Roh Kudus. Karena itu firman lebih daripada AI. Selama ini kita sudah hanyut oleh arus kemajuan medsos. Mulai mengenal AI sampai kita bergantung penuh dan hidup dalam AI, sulit lepas dari HP. Sekarang, waktunya sadar untuk kita kembali kepada eksistensi jati diri siapa kita, identitas kita, dan gambar diri kita yang sudah di-hack oleh AI. Kembali ke firman.
- Kembali ke Alkitab lama kita berupa buku tebal itu.
- Bergaul karib, biasakan pegang Alkitab, bawa ke gereja, miliki kesukaan dan jam baca Alkitab.
- Pola baca Alkitab akan membuat kita jadi manusia alkitabiah, hidup dalam firman, tubuh jiwa dan roh yang sehat.
- Awalnya kita membaca firman dan firman itu dalam kita. Lambat laun, kita merasakan firman itu membaca hidup kita dan menyelinap masuk ke relung jiwa kita. Sampai muncul penyerahan bertahap sampai total dari seluruh hidup kita kepada setiap firman dan kita ada dalam firman.
- SE bukan hanya menjangkau setiap hati dan pribadi, tetapi bersifat komunal dari gereja sampai seluruh Tubuh Kristus dan Kristus sebagai kepala.
- SE mempersiapkan gereja sebagai mempelai Kristus yang sempurna, tanpa cacat cela dan siap masuk dalam Perjamuan Kawin bersama Kristus mempelai kita.
-
Terrance Noel
Saya sangat bersyukur karena diberikan kesempatan mengikuti program PSE ini. Saya mendapat pelajaran yang mendalam, terutamanya dalam mengubah motivasi membaca Alkitab daripada sekadar rutin kepada perjumpaan pribadi untuk mendengar suara Tuhan. Saya juga menyedari kepentingan membina komuniti seiman untuk terus bertumbuh dalam kasih dan kerendahan hati serta belajar untuk tetap menjaga kelakuan, disiplin dan hati meskipun menggunakan teknologi modern sebagai sarana menjangkau firman-Nya. Gabungan modul yang berkualiti dan diskusi kumpulan yang aktif telah berjaya melengkapkan serta mempertajam pemahaman saya dengan lebih menyeluruh.
Terima kasih buat admin, moderator dan seluruh tim SABDA MLC karena telah berjaya menganjurkan kelas yang sangat membina kerohanian.
-
Timotius
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus karena oleh anugerah-Nya, saya berkesempatan mengikuti kelas "Pengantar Scripture Engagement" (PSE) ini. Kelas ini menolong saya menyadari kembali bahwa berinteraksi dengan Alkitab bukan sekadar kewajiban rohani, melainkan kebutuhan hidup sebagai murid Kristus. Saya terdorong untuk semakin setia membaca dan merenungkan firman secara pribadi, membagikannya dalam kelompok, serta memanfaatkan teknologi, termasuk AI secara bijaksana sebagai alat bantu untuk memperkaya pemahaman, tanpa kehilangan keintiman dengan Tuhan.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada admin kelas dan moderator yang telah memandu setiap sesi dengan tertib dan penuh kesabaran sehingga diskusi berjalan lancar dan membangun. Terima kasih kepada teman-teman di kelas PSE 4 yang telah saling mengasah, meneguhkan, dan memperluas wawasan saya melalui pertanyaan dan refleksi yang mendalam. Kiranya kebersamaan seperti ini tidak berhenti di sini. Saya berharap dapat kembali diundang untuk mengikuti kelas serupa di kemudian hari, agar terus bertumbuh dalam firman dan semakin diperlengkapi untuk melayani Tuhan dengan lebih dewasa. Soli Deo gloria.
-
Tini Setiawan
Saya sangat diberkati mengikuti kelas PSE yang diselenggarakan oleh MLC SABDA. Jujur, istilah Scripture Engagement baru pertama kali saya tahu. Ini sangat membuka pemahaman baru yang betapa penting dan urgent tidak hanya untuk saya pribadi, tetapi juga untuk komunitas saya, yaitu gereja lokal di mana saya tertanam dan bertumbuh. Maka saya akan membagi kebenaran-kebenaran firman Tuhan yang sudah jelas dan lengkap dalam modul PSE ini kepada komunitas saya.
Terima kasih juga untuk moderator dan admin di kelompok diskusi yang perhatian, komunikatif, mendukung proses diskusi berjalan lancar. Juga teman-teman peserta di kelompok PSE 4 yang sangat aktif, bertanya, memberi komentar yang membangun dan sangat memberkati kita semua. Sekali lagi, terima kasih banyak untuk tim MLC SABDA yang memfasilitasi pertumbuhan rohani saya sehingga saya semakin semangat dan antusias mengikuti kelas-kelas MLC SABDA berikutnya. Tuhan Yesus memberkati.