Tetap Menikah Bukanlah tentang Tetap Mencintai

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Di antara seri rangkaian khotbah kami yang lebih substansial, saya mengambil beberapa topik yang menurut saya mendesak. Pernikahan selalu mendesak. Tidak pernah ada generasi yang pandangannya tentang pernikahan cukup tinggi. Jurang antara visi alkitabiah tentang pernikahan dan visi manusia (selalu) sangat besar. Beberapa budaya dalam sejarah menghormati pentingnya dan kelanggengan pernikahan lebih dari yang lain. Beberapa yang lain, seperti budaya Amerika, memiliki sikap yang begitu rendah, santai, terima-atau-tidak terhadap pernikahan sehingga membuat visi alkitabiah tampak menggelikan bagi kebanyakan orang.

Visi Yesus tentang Pernikahan

Itu juga terjadi pada zaman Yesus, dan zaman kita jauh lebih buruk. Ketika Yesus memberikan sekilas pemandangan indah tentang pernikahan yang dikehendaki Allah bagi umat-Nya, para murid berkata kepadanya, "Jika seperti ini halnya suami dengan istrinya, lebih baik tidak menikah" (Matius 19:10, AYT). Dengan kata lain, visi Kristus tentang arti pernikahan begitu berbeda dari para murid sehingga mereka bahkan tidak dapat membayangkannya sebagai hal yang baik. Fakta bahwa visi semacam itu bisa menjadi kabar baik berada di luar kategori mereka.

Jika seperti itulah yang terjadi pada waktu itu dengan dunia Yahudi yang waras tempat mereka tinggal, betapa lebih lagi indahnya pernikahan dalam pikiran Allah tampak tidak dapat dipahami oleh dunia yang kita tinggali, tempat di mana berhala utama adalah diri sendiri, dan doktrin utamanya adalah otonomi, dan tindakan pemujaan utamanya adalah dihibur, dan dua bait suci utamanya adalah televisi dan bioskop, dan tindakan berlututnya yang paling suci adalah hubungan seksual tanpa hambatan.

Budaya semacam itu akan mendapati bahwa kemuliaan pernikahan dalam pikiran Yesus hampir tidak dapat dipahami. Yesus kemungkinan besar akan mengatakan kepada kita hari ini, ketika Dia selesai membuka misteri bagi kita, hal yang sama yang Dia katakan pada zaman-Nya: "Tidak semua orang dapat menerima perkataan ini, kecuali mereka yang dikaruniai. ... Barang siapa dapat menerima hal ini, biarlah ia menerimanya" (Matius 19:11-12, AYT).

Visi Alkitabiah tentang Pernikahan

Jadi, saya memulai dengan asumsi bahwa dosa dan keegoisan kita sendiri dan belenggu budaya membuat hampir tidak mungkin untuk merasakan keajaiban tujuan Allah untuk pernikahan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Fakta bahwa kita hidup dalam masyarakat yang bahkan dapat membayangkan -- apalagi membela -- dua laki-laki atau dua perempuan memasuki suatu hubungan dan dengan tak terbayangkan menyebutnya pernikahan menunjukkan bahwa runtuhnya budaya kita menjadi pesta pora dan barbarisme dan anarki mungkin tidak jauh lagi.

Saya menyebutkan semua ini dengan harapan dapat membangunkan Anda untuk merenungkan visi pernikahan yang lebih tinggi dan lebih dalam dan lebih kuat dan lebih mulia daripada apa pun yang pernah dibayangkan oleh budaya ini -- atau mungkin Anda sendiri. Kebesaran dan kemuliaan pernikahan berada di luar kemampuan kita untuk berpikir atau merasakan tanpa wahyu ilahi dan tanpa karya Roh Kudus yang mencerahkan dan membangkitkan. Dunia tidak dapat mengetahui apa itu pernikahan tanpa mempelajarinya dari Allah. Manusia duniawi tidak memiliki kapasitas untuk melihat atau menerima atau merasakan keajaiban dari apa yang telah Allah rancangkan untuk pernikahan. Saya berdoa agar pesan ini dapat digunakan oleh Allah untuk membantu membebaskan Anda dari pandangan pernikahan yang kecil, duniawi, terkontaminasi budaya, egois, mengabaikan Kristus, melalaikan Allah, termabuk asmara, dan tidak alkitabiah.

Pernikahan Adalah Memajankan Allah

Hal paling mendasar untuk dilihat dari Alkitab tentang pernikahan adalah bahwa ia adalah perbuatan Allah. Dan, hal paling utama untuk dilihat dari Alkitab tentang pernikahan adalah bahwa itu adalah untuk kemuliaan Allah. Itulah dua poin yang harus saya sampaikan. Pada dasarnya, pernikahan adalah perbuatan Allah. Pada akhirnya, pernikahan adalah memajankan Allah. Mari kita mengizinkan Alkitab menekankan hal-hal ini kepada kita satu per satu.

1. Pernikahan Adalah Perbuatan Allah

Pertama, yang paling mendasar, pernikahan adalah perbuatan Allah. Setidaknya empat cara untuk melihat ini secara eksplisit atau implisit ada di sini dalam teks kami.

Pernikahan Adalah Rancangan Allah

Pernikahan adalah perbuatan Allah karena itu adalah rancangan-Nya dalam penciptaan manusia sebagai laki-laki dan perempuan. Tentu saja, ini sudah jelas sebelumnya dalam Kejadian 1:27-28 (AYT), "Allah menciptakan manusia menurut rupa-Nya. Menurut rupa Allah, Dia menciptakannya. Laki-laki dan perempuan, demikianlah Dia menciptakan mereka. Allah memberkati mereka dan Allah berfirman kepada mereka, 'Beranakcuculah dan berlipatgandalah, dan penuhilah bumi, dan kuasailah itu. Berkuasalah atas ikan-ikan di laut, atas burung-burung di udara, dan atas segala yang hidup yang bergerak di bumi.'"

Namun, jelas juga di sini dalam alur pemikiran dalam Kejadian 2:18-25. Dalam ayat 18, Allahlah, bukan manusia, yang menetapkan bahwa kesendirian manusia itu tidak baik, dan Allah sendirilah yang menetapkan untuk menyelesaikan salah satu rancangan utama penciptaan, yaitu perempuan dan laki-laki dalam pernikahan. "Tidak baik kalau manusia itu sendiri saja. Aku akan membuat baginya, penolong yang sepadan dengannya." Jangan lewatkan pernyataan sentral dan sangat penting itu: Allah sendiri yang akan membuat makhluk yang sangat cocok untuk laki-laki -- seorang istri.

Kemudian, Dia membawa segala binatang kepadanya sehingga dia bisa melihat bahwa tidak ada makhluk yang memenuhi syarat. Makhluk ini harus diciptakan secara unik dari laki-laki sehingga dia akan menjadi esensinya sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar Allah seperti yang dikatakan dalam Kejadian 1:27. Jadi, kita membaca dalam ayat 21-22 (AYT), "Lalu, TUHAN Allah mendatangkan tidur yang lelap atas manusia itu. Ketika dia tidur, TUHAN mengambil salah satu tulang rusuknya, lalu menutupnya dengan daging. Tulang rusuk, yang telah TUHAN Allah ambil dari manusia itu, dibuat-Nya menjadi seorang perempuan dan dibawa-Nya kepada manusia itu." Allah menciptakan perempuan.

Teks ini berakhir dalam ayat 24b-25 (AYT) dengan perkataan, "Mereka akan menjadi satu daging. Manusia dan istrinya itu, keduanya telanjang, tetapi mereka tidak merasa malu." Dengan kata lain, semuanya bergerak menuju pernikahan. Jadi, hal pertama untuk dikatakan tentang pernikahan sebagai perbuatan Allah adalah bahwa pernikahan adalah rancangan-Nya dalam menciptakan laki-laki dan perempuan.

Allah Menyerahkan Pengantin Perempuan yang Pertama

Pernikahan adalah perbuatan Allah karena Dia secara pribadi mengambil martabat sebagai Bapa pertama yang menyerahkan pengantin perempuan. Kejadian 2:22, "Tulang rusuk, yang telah TUHAN Allah ambil dari manusia itu, dibuat-Nya menjadi seorang perempuan dan dibawa-Nya kepada manusia itu." Dia tidak menyembunyikan perempuan itu dan membuat Adam mencari. Dia menciptakannya, lalu membawanya. Dalam arti yang mendalam, Dia telah menjadi Ayahnya. Dan, sekarang, meskipun perempuan adalah milik-Nya berdasarkan penciptaan, Dia memberikannya kepada laki-laki dalam jenis hubungan yang benar-benar baru yang disebut pernikahan ini, yang tidak seperti setiap hubungan lain di dunia.

Allah Menghadirkan Rancangan Pernikahan dengan Firman-Nya

Pernikahan adalah perbuatan Allah karena Allah tidak hanya menciptakan perempuan dengan rancangan ini dan membawanya kepada laki-laki seperti seorang Ayah membawa putrinya kepada suaminya, tetapi juga karena Allah menjadikan rancangan pernikahan dengan firman-Nya. Dia melakukannya dalam ayat 24 (AYT): "Karena itu, laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya, lalu bersatu dengan istrinya sehingga mereka akan menjadi satu daging." Siapa yang berbicara dalam ayat 24? Penulis Kejadianlah yang sedang berbicara. Dan, apa yang Yesus percayai tentang Penulis Kejadian ini? Dia percaya bahwa itu adalah Musa (Lukas 24:44) dan bahwa Musa diilhami oleh Allah sehingga apa yang Musa katakan adalah yang dikatakan oleh Allah.

Dengarkan baik-baik Matius 19:4-5 (AYT): "Yesus menjawab dan berkata, 'Tidakkah kamu membaca bahwa Ia, yang menciptakan mereka sejak semula, menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, dan Ia berfirman, "Karena itu, laki-laki harus meninggalkan ayahnya dan ibunya, dan menjadi satu dengan istrinya, dan keduanya itu akan menjadi satu tubuh"?'" Yesus mengatakan bahwa Kejadian 2:24 adalah firman Allah. Maka dari itu, pernikahan adalah perbuatan Allah karena Dia menjadikan rancangan pernikahan yang paling awal dengan firman-Nya -- "Laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya, lalu bersatu dengan istrinya sehingga mereka akan menjadi satu daging."

Allah Melakukan Penyatuan Satu Daging

Yang membawa kita ke cara keempat bahwa pernikahan adalah perbuatan Allah: menjadi satu daging, yang merupakan inti dari pernikahan, adalah penyatuan yang dilakukan oleh Allah sendiri.

Ayat 24 adalah perkataan institusi Allah untuk pernikahan. Akan tetapi, seperti halnya Allah yang mengambil perempuan dari daging laki-laki (Kejadian 2:21), Allah jugalah yang dalam setiap pernikahan menahbiskan dan melakukan penyatuan yang disebut satu daging, yang tidak dalam kuasa manusia untuk menghancurkannya. Hal ini tersirat dalam Kejadian 2:24, tetapi Yesus memperjelasnya dalam Markus 10:8-9. Dia mengutip Kejadian 2:24, kemudian menambahkan komentar yang meledak seperti guntur dengan kemuliaan pernikahan. "'Keduanya akan menjadi satu daging.' Dengan demikian, mereka bukan lagi dua, melainkan satu daging. Jadi, apa yang telah Allah persatukan, jangan ada manusia yang memisahkan."

Ketika sepasang suami istri bersumpah dan menyempurnakan sumpah mereka dengan hubungan seksual, yang menjadi aktor utamanya bukanlah laki-laki atau perempuan atau pendeta atau orang tua. Allahlah aktor utamanya. Allah menyatukan suami dan istri menjadi satu kesatuan daging. Allah yang melakukannya. Allah yang melakukannya! Dunia tidak mengetahui hal ini. Itulah salah satu alasan mengapa pernikahan diperlakukan begitu santai. Ditambah lagi, orang Kristen sering bertindak seolah-olah mereka tidak mengetahuinya, yang menjadi salah satu alasan mengapa pernikahan di gereja tidak dipandang sebagai hal yang menakjubkan sebagaimana mestinya. Pernikahan adalah perbuatan Allah karena itu adalah persatuan satu daging yang dilakukan oleh Allah sendiri.

Jadi, kesimpulannya, hal paling mendasar yang dapat kita katakan tentang pernikahan adalah bahwa itu adalah perbuatan Allah. Itu adalah perbuatan-Nya:

1. karena itu adalah rancangan-Nya dalam penciptaan;

2. karena Dia secara pribadi menyerahkan pengantin perempuan pertama dalam pernikahan;

3. karena Dia menghadirkan rancangan pernikahan dengan firman-Nya: tinggalkan orang tua, bersatulah dengan istrimu, jadilah satu daging;

4. dan karena persatuan satu daging ini ditetapkan oleh Allah sendiri dalam setiap pernikahan. Sekilas tentang keindahan pernikahan timbul dari melihat dalam firman Allah bahwa Allah sendiri adalah Sang Pelaku Agung. Pernikahan adalah perbuatan-Nya. Itu berasal dari-Nya dan melalui Dia. Itu adalah hal paling mendasar yang bisa kita katakan tentang pernikahan. Dan, sekarang kita akan melihat bahwa pernikahan ada untuk Dia.

2. Pernikahan Adalah untuk Kemuliaan Allah

Hal paling utama untuk dilihat dalam Alkitab tentang pernikahan adalah bahwa pernikahan itu ada untuk kemuliaan Allah. Pada dasarnya, pernikahan adalah perbuatan Allah. Pada akhirnya, pernikahan adalah pemajanan Allah. Itu dirancang oleh Allah untuk menunjukkan kemuliaan-Nya dengan cara yang tidak dimiliki oleh peristiwa atau institusi lain.

Cara untuk melihat ini dengan paling jelas adalah dengan menghubungkan Kejadian 2:24 dengan penggunaannya dalam Efesus 5:31-32. Dalam Kejadian 2:24 (AYT), Allah berfirman, "Karena itu, laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya, lalu bersatu dengan istrinya sehingga mereka akan menjadi satu daging." Hubungan macam apa ini? Bagaimana kedua orang ini disatukan? Bisakah mereka keluar dari hubungan ini? Bisakah mereka berganti-ganti pasangan? Apakah hubungan ini berakar pada romansa? Hasrat seksual? Kebutuhan pertemanan? Kenyamanan budaya? Apa ini? Apa yang menyatukannya?

Misteri Pernikahan Diungkapkan

Kata-kata "bersatu dengan istrinya" dan "mereka akan menjadi satu daging" menunjuk ke sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih permanen daripada pernikahan serial dan perzinaan berkala. Yang ditunjuk oleh kata-kata ini adalah pernikahan sebagai perjanjian sakral yang berakar pada komitmen perjanjian yang melawan setiap badai "selama kita berdua hidup". Akan tetapi, hal itu hanya tersirat di sini. Hal itu menjadi eksplisit ketika misteri pernikahan diungkapkan lebih lengkap dalam Efesus 5:31-32.

Paulus mengutip Kejadian 2:24 dalam ayat 31 (AYT), "'Itulah sebabnya, seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu tubuh.'" Kemudian, dia memberikan interpretasi yang sangat penting ini dalam ayat 32 (AYT): "Rahasia ini besar, dan aku mengatakan ini dalam hubungan antara Kristus dan jemaat." Dengan kata lain, pernikahan dipolakan menurut komitmen perjanjian Kristus kepada gereja-Nya. Kristus menganggap diri-Nya sebagai pengantin laki-laki yang datang menjemput pengantin perempuan-Nya, yaitu umat Allah yang sejati (Matius 9:15; 25:1; Yohanes 3:29). Paulus tahu bahwa pelayanannya adalah untuk mengumpulkan pengantin perempuan -- umat Allah yang sejati yang akan memercayai Kristus -- dan mempertunangkan kita dengan-Nya. Dia berkata dalam 2 Korintus 11:2 (AYT), "Sebab, aku merasa cemburu kepada kamu dengan kecemburuan ilahi karena aku sudah menunangkan kamu dengan satu suami, yaitu mempersembahkanmu sebagai perawan yang suci kepada Kristus."

Kristus tahu bahwa Dia harus membayar mahar berupa darah-Nya sendiri untuk pengantin perempuan-Nya yang telah ditebus. Dia menyebut hubungan ini perjanjian baru -- "Demikian juga, setelah makan, Yesus mengambil cawan anggur dan berkata, "Cawan yang dituangkan bagimu ini adalah perjanjian baru dalam darah-Ku" (Lukas 22:20, AYT). Inilah yang Paulus maksudkan ketika dia mengatakan bahwa pernikahan adalah sebuah misteri besar: "Aku mengatakan ini dalam hubungan antara Kristus dan jemaat." Kristus memperoleh gereja dengan darah-Nya dan membentuk perjanjian baru dengannya, suatu "pernikahan" yang tidak dapat dibatalkan.

Hal paling utama yang dapat kita katakan tentang pernikahan adalah bahwa pernikahan itu ada untuk kemuliaan Allah. Artinya, itu ada untuk memajan Allah. Sekarang, kita melihat caranya: pernikahan dipolakan menurut hubungan perjanjian Kristus dengan gereja. Oleh karena itu, makna tertinggi dan tujuan paling akhir dari pernikahan adalah untuk menunjukkan hubungan perjanjian Kristus dan gereja-Nya. Untuk itulah pernikahan ada. Jika Anda menikah, itulah sebabnya Anda menikah.

Kristus Tidak Akan Pernah Meninggalkan Istri-Nya

Karena itu, tetap menikah bukanlah tentang tetap mencintai. Ini tentang menjaga perjanjian. "Sampai maut memisahkan kita," atau, "Selama kita berdua hidup" merupakan janji perjanjian suci -- jenis janji yang sama yang Yesus buat dengan pengantin perempuan ketika Dia mati untuknya. Oleh karena itu, yang menjadikan perceraian dan pernikahan ulang begitu buruk di mata Allah bukan hanya karena keduanya melibatkan pelanggaran janji terhadap pasangannya, tetapi juga melibatkan penggambaran yang salah tentang Kristus dan perjanjian-Nya. Kristus tidak akan pernah meninggalkan istri-Nya. Tidak akan pernah. Mungkin akan ada masa-masa jarak yang menyakitkan dan kemunduran tragis di pihak kita. Akan tetapi, Kristus menepati perjanjian-Nya untuk selama-lamanya. Pernikahan adalah penampilan akan hal itu! Itu adalah hal tertinggi yang dapat kita katakan tentang pernikahan.

Maukah Anda berdoa bersama saya agar Allah menggantikan komitmen yang tidak alkitabiah, merusak pernikahan, dan meninggikan diri sendiri guna melayani keinginan emosional kita yang ada di gereja dan di negeri kita dengan komitmen yang alkitabiah, menghargai pernikahan, dan meninggikan Kristus untuk menjaga perjanjian kita?

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : https://desiringgod.org/messages/staying-married-is-not-about-staying-in-love
Judul asli artikel : Staying Married Is Not About Staying in Love
Penulis artikel : John Piper
Kategori: