Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b | Referensi 02c
PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Permulaan dari Segalanya |
| Kode Pelajaran | : | AUA I-P02 |
Pelajaran 02 - PERMULAAN DARI SEGALANYA
Daftar Isi
- Allah dan Ciptaan-Nya
- Allah adalah Allah yang Tidak Bergantung atas Apa Pun (Siapa
Pun) - Ciptaan Bergantung pada Allah
- Allah Menyatakan Diri kepada Manusia
- Melalui Setiap Aspek dari Ciptaan-Nya
- Melalui Penyataan Khusus Allah
- Allah adalah Allah yang Tidak Bergantung atas Apa Pun (Siapa
- Ketergantungan Manusia kepada Allah
- Ketergantungan Pengetahuan Manusia
- Ketergantungan Moralitas Manusia
Doa
PERMULAAN DARI SEGALANYA
"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." (Kej. 1:1)
Dalam pelajaran kedua ini, kita akan mengembangkan prinsip-prinsip dan
penerapan pembelaan iman Kristen berdasarkan kebenaran Alkitab sebagai
firman Tuhan. Sesuai dengan keyakinan ini, ada beberapa hal yang harus
dibahas. Pertama, kita akan memulainya dengan mempelajari konsep
penciptaan secara alkitabiah.
-
Allah dan Ciptaan-Nya
Alkitab menempatkan kebenaran bahwa Allah adalah Pencipta segala
sesuatu sebagai kalimat pembukaannya. Hal ini menyatakan betapa
pentingnya mengakui bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Oleh
karena itu, tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa seluruh Alkitab
berisi penjelasan mengenai kebenaran yang satu ini, yakni Allah
sebagai Pencipta dan Tuhan.Taman Eden merupakan penyataan (wahyu) dari keharmonisan Allah dengan
ciptaan-Nya. Dosa merupakan pemberontakan ciptaan melawan
Penciptanya. Keselamatan merupakan pembebasan dari dosa dan hak
ciptaan untuk dapat berdiri di hadapan Allah. Rasul Yohanes berbicara
mengenai sifat yang hakiki dari aktivitas penciptaan Allah sebagai
berikut: "Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada
suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan." (Yoh. 1:3)Jika kita mengamati Kej. 1:1, kita dapat melihat bahwa aktivitas
penciptaan terdiri dari dua bagian. Di satu pihak, kita melihat
Seseorang yang menciptakan. Di pihak lain, kita melihat ciptaan yang
Ia ciptakan. Akibatnya, kita dapat melihat garis pemisah atau pembeda
antara Allah sebagai Pencipta dengan ciptaan-Nya. Kita akan menyebut
hal ini sebagai "perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan". Ini
merupakan konsep yang akan diselidiki lebih jauh dan merupakan
referensi yang akan selalu kita lihat kembali.Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan-Nya ini tidak boleh kita lupakan
atau kesampingkan barang sedetik pun dalam usaha mengembangkan
apologetika alkitabiah.- Allah adalah Allah yang Tidak Bergantung atas Apa Pun (Siapa Pun)
Orang-orang Kristen pada zaman ini kadang masih berpikir bahwa Allah
hanyalah gambaran dari seorang kakek tua yang duduk di atas awan
sambil memerhatikan semua peristiwa menyedihkan yang terjadi di dunia
ini tanpa mampu berbuat apa-apa. Karena itu, Allah sering dilihat
sebagai Allah yang tidak berguna dan tidak penting bagi dunia ini,
kecuali jika manusia sendiri yang memiliki kerinduan dan kebutuhan
pribadi yang ingin dipenuhi oleh Allah.Dalam pikiran kebanyakan orang, Allah tidak ada hubungannya dengan
proses yang terjadi di dunia. Mereka mengatakan bahwa "Allah
dibutuhkan hanya jika ada malapetaka atau masalah pribadi yang berat".
Lebih dari itu, Allah sendiri sering dimengerti sebagai Allah yang
bergantung pada ciptaan-Nya. Dia merindukan sesuatu terjadi di tengah
dunia ini, namun yang Ia dapatkan adalah sebaliknya, yang tidak Ia
duga, karena kepandaian tingkah manusia. Pikiran-pikiran demikian,
yang jauh dari gambaran firman Tuhan, juga tumbuh di gereja.Allah bukanlah Allah yang tidak dapat berdiri sendiri atau seperti
"ayah yang hanya bisa duduk manis"; padahal Ia adalah Pencipta yang
Mahakuasa serta terus-menerus terlibat dan bertanggung jawab atas
ciptaan-Nya. Roma 11:36 berbicara mengenai hal ini:"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada
Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!"Pengamatan yang lebih teliti pada bagian firman Tuhan ini akan
menyatakan kedalaman dari pengetahuan tentang Allah. Pertama, Paulus
berkata bahwa semua ciptaan adalah "dari Dia". Ayat ini berarti Allah
menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada dan semua ciptaan tidak
terjadi dengan sendirinya. Kedua, Paulus mengatakan ciptaan diciptakan
"bagi Dia". Ini berarti ciptaan diciptakan untuk kemuliaan Allah dan
untuk menyenangkan Allah, bukan untuk manusia atau ciptaan lain.Penciptaan adalah "melalui Dia". Di sini, Paulus tidak berbicara
mengenai awal atau akhir dari hubungan Allah dengan ciptaan-Nya. Ia
berbicara mengenai Allah sebagai Pencipta yang memelihara dan
menunjang keberadaan ciptaan-Nya setiap saat sampai akhir. Ciptaan
dapat terus melangsungkan keberadaannya oleh karena Allah.Inti dari kebenaran ini adalah: Sebagaimana Allah berkuasa menciptakan
dari permulaan, Dia juga berkuasa memungkinkan atau mendukung ciptaan
ini untuk terus ada sampai sekarang. Demikian juga Allah tidak
diciptakan oleh ciptaan-Nya, Dia sekarang pun tidak didukung oleh
ciptaan-Nya dalam hal apa pun juga."dan (Allah) juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah
Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan
nafas dan segala sesuatu kepada semua orang." (Kis. 17:25)Sangat jelas dikatakan bahwa Allah tidak membutuhkan apa pun yang
harus atau dapat dipenuhi oleh ciptaan-Nya, karena pada kenyataannya
yang terjadi adalah sebaliknya, segala sesuatu yang dibutuhkan oleh
ciptaan dipenuhi oleh Allah. Allah adalah Allah yang tidak bergantung
atas apa pun atau siapa pun. - Ciptaan Bergantung pada Allah
Jika kita mengatakan bahwa Allah adalah Allah yang tidak bergantung
pada apa pun (siapa pun), di lain pihak kita harus menegaskan
ketergantungan ciptaan pada Allah sebagai Pencipta. Kita tahu bahwa
ketergantungan anak pada orang tua akan semakin berkurang saat mereka
tumbuh menjadi dewasa. Bahkan bayi yang baru lahir pun, pada waktu
yang singkat masih dapat hidup tanpa orang tuanya. Tetapi tidak
demikian halnya dengan ketergantungan ciptaan kepada Allah. Ciptaan
tidak dapat memisahkan keberadaannya dari Allah atau tidak dapat
berdiri sendiri sedetik pun tanpa kuasa pemeliharaan Allah. Demikian
kata firman Tuhan:"Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada
semua orang." (Kis. 17:25)"Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada
di dalam Dia." (Kol. 1:17)Allah mengatur, memenuhi kebutuhan, dan memelihara segala sesuatu
tanpa terkecuali. Dari yang terbesar sampai yang terkecil, setiap
aspek dari ciptaan secara keseluruhan bergantung kepada Allah untuk
kelangsungan keberadaannya.Kita harus setuju dengan John Calvin, bahwa kepercayaan pada Allah
sebagai Pencipta harus disertai dengan kepercayaan bahwa Allah adalah
Pengontrol sejarah. Dunia tidak dapat berlangsung dengan kekuatannya
sendiri. Segala keberadaan adalah dari Allah dan melalui Allah. Karena
itu, kita harus berpikir bahwa ciptaan secara keseluruhan bergantung
kepada Allah.Kita dapat melihat dalam pelajaran yang berikutnya bahwa kesadaran
akan perbedaan antara Allah yang berdiri sendiri dengan ciptaan yang
bergantung pada Penciptanya merupakan hal yang membedakan antara
orang-orang Kristen dengan non-Kristen. Orang Kristen berusaha melihat
segala sesuatu dari sudut pandang ciptaan yang bergantung pada sang
Pencipta, sedangkan orang non-Kristen mencoba untuk menyangkal
ketergantungannya dari sang Pencipta.Penyangkalan yang sangat keras atas perbedaan Pencipta dan ciptaan
dari orang-orang tidak percaya akan dapat dilihat dari
ketidakpercayaan mereka pada keselamatan dalam Kristus. Mereka
menempatkan Allah dan ciptaan-Nya saling bergantung dan mengatakan
bahwa ciptaan bergantung pada Allah hanya dalam taraf tertentu saja.
Orang tidak percaya mengemukakannya dengan berbagai cara, tetapi pada
intinya adalah sama -- penyangkalan akan perbedaan antara Pencipta dan
ciptaan. - Allah Menyatakan Diri kepada Manusia
Sebagai orang Kristen, kita harus menekankan perbedaan antara Allah
(Pencipta) dan ciptaan-Nya. Kita juga tidak boleh melupakan bahwa
Allah telah menyatakan diri-Nya sendiri dan kehendak-Nya kepada
manusia. Walaupun Allah telah mengadopsi berbagai cara untuk
menyatakan diri-Nya pada waktu yang berbeda, kita akan memerhatikan
dua cara yang Allah pilih untuk menyatakan diri-Nya sepanjang waktu.- Melalui Setiap Aspek dari Ciptaan-Nya
Secara luar biasa, Allah telah membangun seluruh jaga raya ini
sehingga setiap bagiannya menyatakan diri-Nya kepada manusia. Setiap
elemen dari dunia, tanpa kecuali, menyatakan Allah dan kehendak-Nya
kepada manusia."Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan
pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan
malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam." (Maz. 19:1-2)Ciptaan dengan segala keindahan dan kemegahannya menyatakan kemegahan
dan kualitas Allah dan tuntutan kebenaran yang Ia minta dari
manusia. Sebagaimana yang dikatakan Paulus dalam Roma 1:20, 32:"Sebab apa yang tidak nampak daripada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang
kekal dan Keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya
sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih ....
Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah,
yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian patut
dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka
juga setuju dengan mereka yang melakukannya."Meskipun manusia, yang telah jatuh dalam dosa, menyangkalinya dan
orang-orang Kristen sering kali menemukan kesulitan untuk melihatnya,
Alkitab mengajarkan secara jelas bahwa Allah telah menyatakan
diri-Nya dalam setiap aspek ciptaan dan semua manusia, bahkan rupa
manusia sendiri menyatakan semua itu.Penyataan Allah ini tidak dapat dihindari atau disangkali. Kita tidak
dapat mengetahui satu aspek dari ciptaan tanpa memikirkan
Penciptanya. "Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa
melihat kemuliaan-Nya." (Maz. 97:6)Contohnya, tidaklah cukup untuk mengetahui bahwa sapi makan rumput.
Pengertian yang benar akan sapi dan rumput akan menyatakan kuasa
pemeliharaan Allah serta tanggung jawab manusia untuk menaklukkan
ciptaan yang lain bagi kemuliaan Allah (lihat Kej. 1:28). Jarak
terdekat antara bumi dan salah satu bintang akan dapat dimengerti
hanya dengan kesadaran terhadap penyataan Allah. Begitu besarnya jarak
tahun cahaya semata-mata merupakan pekerjaan tangan Allah dan
memerlihatkan kepada manusia akan kebutuhan mereka untuk merendahkan
diri di hadapan Allah dan bersyukur atas anugerah-Nya (lihat Maz.
8:1-5).Sebagaimana ciptaan tidak dapat terpisah dari Allah, ciptaan tidak
dapat berdiam diri mengenai keberadaan Allah. Semakin seseorang
mengerti tentang fakta-fakta dari jagat raya ini, semakin kita
menyadari bahwa semua itu menyatakan Allah dan kehendak-Nya. - Melalui Penyataan Khusus Allah
Dalam banyak hal, Allah selalu membarengi penyataan-Nya akan ciptaan
dengan penyataan-Nya secara khusus mengenai diri-Nya. Di taman Eden,
Allah berbicara dengan suara-Nya kepada Adam mengenai pohon
pengetahuan yang baik dan jahat. Kepada para patriakh (Abraham, Musa,
dll.), Allah menyatakan diri-Nya melalui mimpi-mimpi dan
penglihatan-penglihatan. Kepada Musa, Allah berbicara di semak duri
yang menyala dan di atas kitab batu. Kepada para rasul, Ia berbicara
melalui kehidupan dan perkataan Tuhan Yesus, Putra-Nya. Pada masa
kini, Allah berbicara melalui Alkitab sebagai firman Tuhan yang telah
diinspirasikan oleh Roh Kudus.Penggunaan beberapa aspek tertentu dari ciptaan untuk menyatakan
wahyu dimaksudkan untuk menambahkan kualitas pewahyuan dari ciptaan
yang lain. Sebelum dosa masuk ke dalam dunia, ketaatan manusia diuji
dengan wahyu khusus. Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa,
penyataan secara khusus memunyai dua maksud, yakni untuk
memerlihatkan jalan keselamatan melalui Kristus dan untuk menolong
manusia mengerti lebih baik tentang penyataan akan Allah dan
kehendak-Nya dalam aspek-aspek ciptaan lain.Dosa telah menempatkan manusia di bawah penghakiman dan membutakan
kesadaran manusia terhadap penyataan Allah melalui semua ciptaan.
Akibatnya, firman Allah berfungsi sebagai alat di mana melaluinya
manusia mengerti akan dirinya sendiri, dunia, dan Allah."Segala tulisan yang diilhamkan Allah, memang bermanfaat untuk
mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan
dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap
manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."
(2 Tim. 3:16, 17)Penyataan (wahyu) Allah melalui firman Tuhan diberikan kepada kita
untuk memimpin kita kepada pengetahuan yang benar. Penyataan Allah
melalui semua ciptaan dan firman Tuhan tidak menghapuskan kepastian
perbedaan antara Pencipta dan ciptaan. Sebagaimana kita ketahui, semua
bentuk penyataan Allah pada manusia justru menunjukkan perbedaan atau
pemisahan yang harus diakui oleh manusia.
- Melalui Setiap Aspek dari Ciptaan-Nya
- Allah adalah Allah yang Tidak Bergantung atas Apa Pun (Siapa Pun)
-
Ketergantungan Manusia kepada Allah
Pemazmur mengingat kedudukan kita sebagai manusia dengan perkataan
ini:"Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah: Dialah vang menjadikan kita dan
punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya." (Maz.
100:3)Manusia tidak lebih dan tidak kurang dalam hal ketergantungannya pada
Allah dibandingkan ciptaan Allah yang lain; keduanya
adalah ciptaan Allah yang perlu Ia dukung. Manusia
merupakan mahkota dari aktivitas penciptaan Allah, tetapi ia tetap
merupakan makhluk ciptaan dan akan kembali kepada debu nantinya (Kej.
2:7)."Di dalam Dia kita hidup dan bergerak." (Kis. 17:28). Karena itu, bila
terpisah dari Allah, kita bukanlah apa-apa. Segala sesuatu yang
dimiliki manusia merupakan pemberian Allah. Layaknya ciptaan lain,
bila Allah lepas tangan atas kita, kita akan berhenti dari keberadaan
kita karena kita ada semata-mata hanya karena kehendak-Nya.Ketergantungan manusia secara mutlak pada Allah memunyai banyak
implikasi, namun ada dua aspek dari kebutuhan kita akan Allah yang
secara khusus penting untuk pekerjaan apologetika selanjutnya.- Ketergantungan Pengetahuan Manusia
Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan memengaruhi pandangan iman
Kristen akan kemampuan manusia untuk mengetahui dirinya sendiri, dunia
di sekelilingnya, dan Allah. Dalam pelajaran berikut ini, kita akan
memerhatikan diri kita sendiri dalam hal pengetahuan, khususnya
setelah dicemari oleh dosa.Jika manusia secara mutlak bergantung pada Allah, maka demikian juga
dalam hal pengetahuan. Pengetahuan Allah akan diri-Nya dan ciptaan
adalah berdiri sendiri, namun pengetahuan manusia tidak. Pemazmur
mengatakan:"Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat
terang." (Maz. 36:10)Lepas dari pengetahuan Allah melalui penyataan-Nya dalam ciptaan dan
firman Tuhan, kita tidak akan pernah mengerti pengetahuan apa pun.
Allah mengetahui segala sesuatu, karena itu kita bergantung pada
pengetahuan-Nya untuk dapat mengetahui sesuatu. Setiap pengertian yang
benar yang telah manusia dapatkan, baik secara sadar atau tidak sadar,
semua itu didapatkan dari Allah. Hal ini berlaku bagi manusia pertama
dan semua orang sampai sekarang. Tuhan Yesus sendiri mengakuinya:"Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup." (Yoh.
14:6)Rasul Paulus menegaskan hal ini dengan mengatakan:
"sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan
pengetahuan." (Kol. 2:3)Segala sesuatu yang dapat dinyatakan sebagai kebenaran, termasuk
kebenaran yang tidak secara langsung berkenaan dengan agama atau
kerohanian, bersumber dari Allah. Manusia hanya dapat mengetahuinya
apabila manusia datang kepada penyataan Allah akan diri-Nya sebagai
sumber kebenaran. Oleh karena Allahlah yang mengajarkan kepada
manusia akan segala pengetahuan (Maz. 94:10).Kita akan melihat kemudian bahwa ketergantungan manusia pada Allah
dalam ruang lingkup pengetahuan tidaklah berarti bahwa manusia tidak
memiliki kemampuan untuk berpikir dan mengasah pikirannya. Juga tidak
berarti bahwa manusia diprogram oleh Allah seperti halnya sebuah
komputer dalam memproses pengumpulan data sehingga komputer mengetahui
sesuatu. Manusia memang memunyai kemampuan untuk dapat berpikir, namun
pengetahuan yang benar bergantung pada pengetahuan dari Allah yang
telah dinyatakan pada manusia. - Ketergantungan Moralitas Manusia
Sebagaimana halnya manusia harus bergantung pada Allah untuk
pengetahuan secara umum, demikian juga halnya dengan petunjuk dalam
moralitas. Pada saat nilai-nilai dan tujuan-tujuan tradisi
dipertanyakan, kita dipaksa untuk memikirkan bagaimana manusia dapat
membedakan antara yang benar dan yang salah, atau yang baik dan yang
jahat.Salah satu cara untuk menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan
kita harus sekali lagi kembali pada pengakuan akan perbedaan antara
Pencipta dengan ciptaan. Sebagai Pencipta, sejak semula Allah adalah
Pemberi hukum yang berdiri di atas hukum-Nya dan yang mengharapkan
ketaatan dari makhluk ciptaan-Nya.Pada saat Allah berkata, "Ini adalah baik," Ia menyatakan diri-Nya
sebagai satu-satunya Hakim yang benar yang dapat membedakan antara
yang baik dan yang jahat. Dia juga mengaplikasikan hak itu bagi diri-
Nya sendiri sampai sekarang. Kepada Adam dan Hawa, Ia berkata, "tetapi
pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah
kaumakan buahnya ...." (Kej. 2:17). Kepada Musa, Ia menyatakan, "Aku
adalah Tuhan Allahmu ... dan jangan ada allah lain di hadapan-Ku."
(Kel. 20:2, 3). Mengenai Yesus, Allah mengatakan, "Inilah Anak-Ku yang
Kukasihi dan kepada-Nyalah Aku berkenan; dengarkanlah Dia." (Mat. 17:5)Tidak akan pernah ada sidang pengadilan yang dapat menghakimi Allah;
karena Ia adalah Hakim yang tertinggi. Oleh karena itu, penyataan-Nya
mengenai moralitas berlaku bagi semua orang, dan apabila kita ingin
mengetahui mengenai hal yang baik dan yang jahat, kita harus ingat
akan ketergantungan kita pada Allah.
- Ketergantungan Pengetahuan Manusia
-Akhir Pelajaran (AUA I-P02)--
Doa
Ya, Tuhan, beri kami ketetapan hati untuk mengakui Engkau sebagai
Pencipta langit dan bumi, yang terus-menerus terlibat dan
bertanggung jawab atas ciptaan-Mu. Bimbinglah kami untuk selalu
menyadari akan kedaulatan-Mu supaya kami memiliki hati yang
bijaksana. Biarlah hidup kami boleh berpusat pada Engkau, melalui
Engkau, dan bagi Engkau. Amin.
(Catatan: Pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)
PESTA=========Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam==========PESTA
sabda.org