AUA-I Referensi 01c

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA



Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Dasar yang Kokoh
Kode Referensi: AUA I-R01c

Referensi AUA I-R01c diambil dari:

Judul buku: Pedoman Apologetik Kristen 1
Judul artikel: Alasan-alasan untuk Melakukan Apologetika
Penulis: Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli
Penerbit: Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2006
Halaman: 25 -- 29


ALASAN-ALASAN UNTUK MELAKUKAN APOLOGETIKA

Alasan pertama, bagi orang Kristen adalah karena ketaatan kepada
kehendak Allah yang dinyatakan dalam firman-Nya. Penolakan untuk
memberi pertanggungjawaban (alasan) bagi iman merupakan ketidaktaatan
kepada Allah. Sekurang-kurangnya ada dua alasan praktis mengapa kita
melakukan apologetik, yaitu: untuk meyakinkan orang tidak percaya dan
untuk mengajar dan membangun orang percaya.

Kalaupun tak ada orang tak percaya yang perlu diyakinkan, kita masih
harus memberikan pertanggungjawaban atas iman kita, karena iman itu
tidak berdiri sendiri, melainkan menghasilkan alasan-alasan sama
seperti iman itu menghasilkan perbuatan baik. iman itu mendidik akal
dan akal memeriksa isi dari "iman yang telah disampaikan kepada orang-
orang kudus" (Yud. 3).

Selain itu, iman bagi orang Kristen adalah iman kepada Allah yang
adalah kasih, Kekasih jiwa kita, dan Yang kita kasihi; dan semakin
hati kita mengasihi seseorang, semakin besar keinginan pikiran kita
untuk mengenal pribadi yang kita kasihi itu. Iman dengan sendirinya
mengantar kepada akal melalui perantaraan kasih. Jadi iman itu
mengantar kepada akal, dan akal mengantar kepada iman - itulah yang
ingin diperlihatkan oleh buku ini. Demikianlah akal dan iman adalah
sahabat, sekawan, pasangan, partner.

Apologetik itu juga dapat diumpamakan seperti peperangan karena iman
dan akal sebagai dua sahabat itu memiliki musuh-musuh yang sama.
Argumentasi-argumentasi apologetik adalah seumpama perlengkapan
peperangan. Perhatikan bagaimana Paulus menjelaskan tentang peperangan
rohani di mana apologetik itu juga turut terlibat:

"Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang
secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah
senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa
Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami
mematahkan setiap siasat orang dan merobohkan setiap kubu yang
dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan
Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada
Kristus" (2 Kor. 10:3-5).

Dalam peperangan ini kita mempertahankan iman maupun akal, karena akal
adalah sahabat kebenaran, dan ketiadaan iman itu adalah ketiadaan
kebenaran. Dalam mempertahankan iman, kita menguasai kembali
teritorial pikiran yang kita miliki, atau yang menjadi milik Allah.
Seluruh teritorial itu adalah milik Allah. Sebagaimana yang dikatakan
Arthur Holmes, "Seluruh kebenaran adalah kebenaran Allah."

Namun peperangan itu adalah untuk melawan ketidakpercayaan, bukan
untuk melawan orang tidak percaya, sama seperti insulin yang
diperuntukkan bagi penyakit diabetes, bukannya untuk penderita
diabetes. Sasaran dari apologetik bukanlah kemenangan, melainkan
kebenaran. Kedua pihak akan menang. Ucapan Abraham Lincoln juga dapat
diterapkan kepada argumentasi apologetik: "Cara yang terbaik untuk
dapat mengalahkan musuh Anda adalah menjadikannya teman Anda."

Kami mengundang para kritikus: mereka yang skeptis, untuk berdialog
dengan kami dan menulis kepada kami - demi mewujudkan kebersamaan
dalam mencari kebenaran, dan demi untuk (kurang penting) memperbaiki
edisi-edisi masa depan buku ini. Salah satu dari beberapa hal dalam
kehidupan ini yang tak dapat membahayakan kita, adalah mencari
kebenaran itu secara jujur.

Mengenai Metodologi

Suatu pendahuluan atau perkenalan kepada apologetik biasanya membahas
mengenai metodologi. Namun kami tidak melakukan hal ini. Kami percaya
bahwa dewasa ini pertanyaan-pertanyaan yang sekunder mengenai
metodologi sering menyelewengkan perhatian kita dari pertanyaan-
pertanyaan primer mengenai kebenaran. Tujuan kami adalah "kembali
kepada hal-hal dasar". Kami tidak memiliki kapak metodologi khusus
untuk menebang. Kami coba menggunakan standar-standar rasionalitas
yang masuk akal dan prinsip-prinsip logika yang diterima secara
universal dalam pembahasan-pembahasan kami. Kami mengumpulkan dan
mempertajam argumentasi-argumentasi seperti orang-orang yang senang
koleksi batu-batu permata berharga yang mengumpulkan dan kemudian
memoles batu-batu itu supaya kelihatan lebih indah; para pembaca dapat
menyusunnya sesuai dengan berbagai situasi atau latar belakang mereka
sendiri.

Namun kami harus menyampaikan satu hal mengenai metodologi, yaitu:
bagaimana untuk tidak menggunakan buku ini.

Kami telah mengatakan bahwa argumentasi-argumentasi apologetik adalah
seperti perlengkapan perang. Ini merupakan metafora yang berbahaya,
karena perlengkapan perang ini tak pernah digunakan untuk memukul
kepala orang. Argumentasi adalah kegiatan manusia yang merupakan
bagian dari konteks sosial dan psikologis yang lebih luas. Konteks ini
mencakup (1) jiwa seutuhnya (psyche) dari dua orang yang terlibat
dalam suatu kegiatan dialog, (2) hubungan antara dua orang, (3)
situasi di mana mereka sendiri sedang berada, dan (4) situasi sosial,
kultural, dan historikal yang lebih luas di sekitar mereka. Bahkan
faktor-faktor nasional, politik, rasial, dan seksual pun mempengaruhi
situasi apologetis. Seseorang tidak boleh menggunakan argumentasi-
argumentasi sama yang digunakan dalam berdiskusi dengan wanita India
ketika berhadapan dengan seorang remaja Afrika-Amerika dari Los
Angeles.

Dengan perkataan lain, walaupun argumentasi-argumentasi itu adalah
senjata-senjata, fungsinya lebih menyerupai sebuah pedang daripada
sebuah bom. Kita ketahui bahwa bom tidak akan mempedulikan sasarannya.
Juga tidak perlu banyak menjadi masalah tentang siapa yang menjatuhkan
bom itu. Namun untuk sebuah pedang, sangat penting sekali siapa yang
mengayunkannya, karena pedang itu adalah kepanjangan tangan dari orang
yang memegangnya. Demikian pula, sebuah argumentasi dalam apologetik,
bila benar-benar digunakan dalam dialog, merupakan kepanjangan tangan
dari orang yang terlibat dalam argumentasi itu. Nada suara,
kesungguhan, kepedulian, perhatian, sikap mau mendengar, dan
menghargai dari orang yang berargumentasi sangat penting dan
menentukan seperti logikanya, bahkan terkadang lebih penting. Dunia
ini dapat dimenangkan bagi Kristus bukan melalui argumentasi-
argumentasi, melainkan melalui kekudusan: "Ucapan Anda terdengar
sedemikian nyaring sehingga saya hampir tak dapat mendengarkan apa
yang Anda katakan."

Kebutuhan Akan Apologetik Dewasa Ini

Apologetik secara khusus sangat dibutuhkan dewasa ini, khususnya di
saat dunia sedang diperhadapkan pada tiga persimpangan jalan dan
berbagai krisis.

1. Peradaban Barat untuk pertama kalinya dalam sejarah sedang
menghadapi bahaya sekarat. Alasannya bersifat spiritual. Peradabannya
sedang kehilangan kehidupannya, jiwanya; dan jiwa yang dimaksud adalah
iman Kristen. Infeksi yang sedang mematikannya bukan multikulturalisme
kemajemukan budaya atau agama dan kepercayan lain - melainkan
monokulturalisme sekularisme - ketiadaan iman, ketiadaan jiwa. Abad
kita ini ditandai oleh pembasmian kelompok orang tertentu, kekacauan
seksual, dan penyembahan uang. Apabila para nabi tidak mengucapkan
kebohongan, maka kita akan mengalami kehancuran, kecuali jika kita
bertobat dan "memutar kembali jarum jamnya" (bukan secara teknologi,
melainkan secara spiritual). Gereja Yesus Kristus tidak akan pernah
mati, namun peradaban kita bisa mati. Apabila pintu-pintu neraka tidak
akan dapat menguasai gereja, maka dunia ini pun pasti tidak akan bisa
melakukannya. Kami melaksanakan apologetik bukan untuk menyelamatkan
gereja, melainkan untuk menyelamatkan dunia.

2. Kita bukan hanya sedang menghadapi krisis kultural dan
kemasyarakatan, melainkan kita pun sedang berada di tengah krisis
filosofis dan intelektual. Krisis yang kita sedang hadapi adalah
"krisis kebenaran" (menggunakan istilah dari Ralph Martin). Ide
mengenai kebenaran objektif semakin diabaikan, ditinggalkan atau
diserang - bukan hanya dari sisi praktis, melainkan juga dari sisi
teoritis, secara langsung dan terbuka, terutama oleh lembaga-lembaga
pendidikan dan media, yang membentuk pikiran-pikiran kita. (Lihat
Pasal 16 untuk pembelaan mengenai konsep mendasar tentang kebenaran
objektif.)

3. Hal yang terakhir, tingkat yang terdalam dari krisis yang kita
hadapi bukanlah bersifat kultural atau intelektual, melainkan
spiritual. Yang dipertaruhkan adalah jiwa-jiwa manusia, lelaki maupun
wanita yang baginya Kristus telah mati. Sebagian orang berpikir bahwa
hari kiamat telah dekat. Kami bersikap skeptis terhadap ramalan
seperti itu, namun kami mengetahui satu hal yang pasti: setiap orang
sedang mendekati ajalnya, kematian dan hukuman kekal setiap hari.
Peradaban kita bisa saja bertahan lagi sampai satu abad lagi, tetapi
Anda sendiri tidak akan dapat bertahan. Anda segera akan menghadap
Tuhan tanpa dapat menyembunyikan sesuatu. Sebaiknya Anda mulai belajar
mengasihi dan mencari terang itu selama masih ada kesempatan, supaya
Anda akan menikmati sukacita dan bukan ketakutan untuk selama-lamanya.
Adalah hal yang tak sesuai dewasa ini untuk menulis hal-hal seperti
ini pada masa kini -- suatu kenyataan yang berbicara banyak sekali
tentang kesehatan spiritual dari masa gaya burung unta yang sedang
kita hadapi ini.

Buku ini diupayakan untuk berfungsi seperti peta penunjuk jalan dalam
mencari kebenaran tentang Allah. Peta penunjuk jalan sangat berguna
setiap waktu, khususnya pada masa-masa ini di mana terjadi banyak
perubahan besar sehingga banyak orang berkeliling-keliling dalam
keadaan tersesat, sedangkan peta yang tua itu (Alkitab) dihina,
dirusak atau ditinggalkan.

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTAndidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA