AUA-I Referensi 03a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading

Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03b | Referensi 03c

Nama Kursus : APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran : Karakter Manusia Sebelum Jatuh dalam Dosa
Kode Referensi : AUA I-R03a

Referensi AUA I-R03a diambil dari:

Judul buku : Manusia : Ciptaan Menurut Gambar Allah
Judul artikel : Gambar yang Orisinal
Penulis : Anthony A. Hoekama
Penerbit : Momentum, Surabaya 2003
Halaman : 105 -- 106

GAMBAR YANG ORISINAL

Untuk memahami gambar Allah dalam kandungan alkitabiah yang sepenuhnya, kita harus melihatnya di dalam terang penciptaan, kejatuhan dan penebusan. Sebelum manusia jatuh dalam dosa, kita melihat gambar yang orisinal. Meskipun kita tidak tahu bagaimana persisnya gambar Allah menyatakan diri pada tahap itu [32], kita bisa mengasumsikan bahwa pasangan manusia pertama mencitrakan Allah dengan taat dan tanpa dosa. Menurut Augustinus, manusia pada saat itu "bisa tidak berdosa" [33]. Maka kita juga bisa mengasumsikan bahwa pada tahap ini, Adam dan Hawa menjalani ketiga bentuk relasi yang telah kita bahas di atas dengan taat dan tanpa dosa: di dalam menyembah dan melayani Allah, di dalam mengasihi dan melayani sesama, dan di dalam berkuasa dan memelihara wilayah ciptaan di mana Allah telah menempatkan mereka.

Tetapi, masih diperlukan komentar tambahan. Meskipun pasangan manusia pertama ini tidak berdosa dan hidup dalam apa yang sering disebut para teolog sebagai "tahap integritas" (stage of integrity), mereka belum tiba di akhir perjalanan. Mereka belum menjadi penyandang gambar Allah yang telah berkembang sepenuhnya; mereka seharusnya maju ke satu tahap yang lebih tinggi, di mana ketidakberdosaan mereka tidak akan bisa hilang. Pada tahap yang pertama ini, masih ada kemungkinan untuk berdosa. Bavinck menyatakannya sebagai berikut:

Adam tidak berdiri di akhir melainkan di awal perjalanan; ia berada dalam kondisi yang bersifat sementara, sehingga kondisi ini tidak bisa tetap bertahan seperti itu dan harus berlalu, baik menuju tahap kemuliaan yang lebih tinggi atau menuju kejatuhan dalam dosa dan maut [34].

Selanjutnya, menurut Bavinck, fakta bahwa Adam dan Hawa masih harus hidup dengan kemungkinan dapat berdosa, bisa disebut sebagai batasan dari gambar Allah:

Adam ... memiliki posse non peccare [bisa tidak berdosa] tetapi belum memiliki non posse peccare [tidak bisa berdosa]. Dia masih hidup di dalam kemungkinan dapat berdosa ... dia belum memiliki kasih yang sempurna dan tidak berubah yang meniadakan semua rasa takut. Jadi, para teolog Reformed benar saat menegaskan bahwa kemungkinan ini, yaitu kemungkinan untuk berubah-ubah dan kemampuan untuk berbuat dosa ini ... bukanlah suatu aspek atau isi dari gambar Allah, melainkan batasan, limitasi, atau ujung dari gambar Allah [35].

Hal ini jelas: integritas yang di dalamnya Adam dan Hawa bereksistensi sebelum Kejatuhan bukanlah keadaan sempurna yang telah digenapkan dan tak mungkin berubah. Manusia memang diciptakan menurut gambar Allah pada mulanya, tetapi ia belum menjadi "produk akhir." Dia masih perlu bertumbuh dan diuji. Allah hendak menetapkan apakah manusia akan taat kepada-Nya secara bebas dan sukarela. Untuk alasan inilah Allah memberikan sebuah "perintah larangan" kepada Adam, "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" (Kej. 2:16-17). Jika Adam dan Hawa menaati perintah ini, siapa yang tahu akan menjadi seperti apa sejarah umat manusia. Tetapi, sangat disesalkan, mereka tidak taat sehingga mereka menjatuhkan diri mereka dan seluruh umat manusia yang lahir setelah mereka, ke dalam keadaan berdosa.

Catatan Kaki:

  • [32] Sebagaimana terlihat jelas melalui pernyataan ini, posisi yang diambil oleh buku ini adalah bahwa Kejatuhan yang tercatat di dalam Kejadian 3 merupakan peristiwa historis. Poin ini akan dijabarkan secara mendetail di dalam bab 7.
  • [33] On Correction and Grace, 33. Dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Latin, "posse non peccare."
  • [34] Dogmatiek, 2:606 (terj. penulis).
  • [35] Ibid., hlm. 617 (terj. penulis). Bdk. juga Wm. Shedd, Dogmatic Theology, vol. 2 (1888; Grand Rapids; Zondervan, t.t.), hlm. 150 -- 152
Taxonomy upgrade extras: