| Nama Kursus | : | Doktrin Allah Dasar |
| Nama Pelajaran | : | Keberadaan Allah |
| Kode Pelajaran | : | DAD-P02 |
Pelajaran 02 - Keberadaan Allah
Daftar Isi
- Fakta-Fakta Alkitab tentang Keberadaan Allah
- Keberadaan Allah Dinyatakan, Bukan Dibuktikan
- Allah Ada dan Bertindak dalam Sejarah Manusia
- Perjanjian Lama
- Perjanjian Baru
- Allah Ada oleh Diri-Nya Sendiri, Bukan Dicipta atau Dibuat
- Keberadaan Allah Terlihat dalam Relasi, Bukan Spekulasi
- Bentuk Penyangkalan terhadap Keberadaan Allah
- Penyangkalan Mutlak: Ateisme
- Ateisme Teoretis (Dogmatis)
- Ateisme Murni (Implisit)
- Ateisme Praktis
- Pandangan Kontemporer yang Menyimpang tentang Keberadaan Allah
- Allah yang Imanen Saja
- Allah yang Transenden Saja
- Argumentasi Rasional tentang Keberadaan Allah
- Kosmologis (Sebab–Akibat)
- Teleologis (Tujuan dan Keteraturan)
- Moral/Antropologis
- Historis/Religius
- Ontologis
- Respons Orang Kristen terhadap Argumentasi tentang Keberadaan Allah
- Alasan Teologis: Akal Budi sebagai Bagian dari Gambar Allah
- Alasan Alkitabiah: Teladan Yesus dan Para Rasul
- Alasan Penginjilan: Membangun Jembatan bagi Injil
- Kesimpulan
Doa
Pelajaran 02 -- Keberadaan Allah
Kitab Ibrani menegaskan bahwa iman dimulai dengan satu pengakuan sederhana, tetapi menentukan, yaitu Allah ada! (Ibr. 11:6) Tanpa pengakuan ini, relasi dengan Allah tidak mungkin terjadi. Karena itu, pembahasan tentang keberadaan Allah bukan sekadar isu filsafat atau debat intelektual, melainkan fondasi iman dan kehidupan Kristen.
Pelajaran 2 ini mengajak kita menelusuri bagaimana Alkitab sendiri berbicara tentang keberadaan Allah, serta bagaimana orang percaya dipanggil untuk merespons kebenaran ini di tengah dunia yang skeptis.
- Fakta-Fakta Alkitab tentang Keberadaan Allah
Ketika Alkitab berbicara tentang Allah, satu hal yang mencolok adalah: Alkitab tidak pernah memulai dengan usaha membuktikan bahwa Allah ada. Tidak ada argumen filosofis panjang, tidak ada pembelaan logis yang rumit. Alkitab langsung berbicara bahwa keberadaan Allah adalah realitas yang sudah pasti. Mengapa demikian? Karena dalam Alkitab, Allah bukanlah objek pemikiran manusia yang harus diuji dalam ruang debat, melainkan Subjek yang hidup, berbicara, bertindak, dan menyatakan diri-Nya dalam sejarah.
- Keberadaan Allah Dinyatakan, Bukan Dibuktikan
Alkitab membuka dirinya dengan sebuah pernyataan yang tegas dan sederhana: "Pada mulanya, Allah menciptakan langit dan bumi." (Kej. 1:1) Ayat ini tidak berkata, "jika Allah ada" atau "bagaimana membuktikan Allah ada", melainkan fakta langsung bahwa Allah ada dan bertindak.
Dalam perspektif Alkitab, keberadaan Allah adalah prasyarat iman, bukan kesimpulan logika. Allah dikenal karena Ia menyatakan diri-Nya ("self-revelation"), bukan karena manusia berhasil membuktikan-Nya lewat akal. Roma 1:19–20 menunjukkan bahwa bukan masalah manusia kekurangan bukti, melainkan penindasan terhadap kebenaran.
- Allah Ada dan Bertindak dalam Sejarah Manusia
Dalam Alkitab, Allah adalah Pribadi yang aktif bekerja dalam sejarah.
- Perjanjian Lama
- Perjanjian Baru
- Allah memanggil Abraham (Kej. 12).
- Membebaskan Israel dari Mesir (Kel. 3–14).
- Berkarya melalui para nabi dalam konteks sejarah yang nyata.- Allah menyatakan diri-Nya secara penuh dalam Yesus Kristus (Yoh. 1:14).
- Karya Allah tidak lagi hanya "didengar", tetapi dilihat, disentuh, dan disaksikan (1Yoh. 1:1–3).Alkitab melihat sejarah bukan sekadar latar cerita, melainkan tempat Allah menyatakan diri-Nya. Allah dikenal melalui yang Ia lakukan, bukan melalui yang Ia definisikan. Alkitab menyatakan Allah hadir, bukan jauh, Allah bertindak, bukan diam.
- Allah Ada oleh Diri-Nya Sendiri, Bukan Dicipta atau Dibuat
Alkitab secara konsisten menyaksikan bahwa Allah adalah Pribadi yang "ada sejak semua", seperti Penyataan Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." (Kel. 3:14)
Ini menyatakan bahwa:
- Allah tidak bergantung pada apa pun di luar diri-Nya.
- Keberadaan-Nya tidak dimulai, tidak disebabkan, tetapi ada dalam kekekalan.Mazmur 90:2 menegaskan:
"Dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, Engkau adalah Allah."
Ini berarti:
- Allah bukan bagian dari ciptaan.
- Allah tidak tunduk pada waktu, ruang, atau proses.Segala sesuatu bergantung pada Allah, tetapi Allah tidak bergantung pada apa pun.
- Keberadaan Allah Terlihat dalam Relasi, Bukan Spekulasi
Dalam Alkitab, Allah dikenal dalam relasi-Nya dengan manusia:
- Allah berjalan bersama Adam dan Hawa.
- Ia mengikat perjanjian dengan Abraham.
- Ia menyebut Israel sebagai umat-Nya.
- Ia dipanggil "Bapa" oleh Yesus.Dalam Alkitab, kata "mengenal" ("yada" atau "ginosko") bukan sekadar tahu secara intelektual, tetapi mengalami dan hidup dalam relasi. Allah bukan sekadar "ada", tetapi "hadir dan dikenal". Yesus berkata, "Inilah hidup kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, ...." (Yoh. 17:3)
- Keberadaan Allah Dinyatakan, Bukan Dibuktikan
- Bentuk Penyangkalan terhadap Keberadaan Allah
Sekalipun Alkitab memberikan fakta penting bahwa hampir tidak ada suku bangsa di dunia yang benar-benar tanpa konsep tentang "Yang Ilahi" (Pkh. 3:11; Rm. 1:19), tetapi tidak berarti semua orang mau mengakui keberadaan Allah. Sepanjang sejarah, selalu ada bentuk-bentuk penyangkalan terhadap keberadaan Allah, baik secara terbuka, terselubung, maupun praktis.
- Penyangkalan Mutlak: Ateisme
Penyangkalan ini secara langsung menolak keberadaan Allah, dengan bobot dan bentuk yang berbeda-beda.
- Ateisme Teoretis (Dogmatis)
Kelompok ini secara sadar dan sistematis menolak Allah melalui argumentasi rasional dan ideologis. Jika Allah tidak dapat dibuktikan secara empiris atau logis, disimpulkan bahwa Allah tidak ada. Contoh: komunisme klasik.
Alkitab melihat ini bukan sekadar masalah intelektual, tetapi masalah rohani (2Kor. 4:4). Penolakan ini sering kali berakar pada kebutaan rohani, bukan karena kurangnya bukti.
- Ateisme Murni (Implisit)
Kelompok ini tidak percaya pada Allah yang personal, tetapi mengakui adanya "kuasa", "energi", atau "kesadaran kosmik" yang bekerja dalam alam. Ini banyak dijumpai dalam kepercayaan kuno atau aliran spiritual nonteistik. Allah direduksi menjadi kekuatan impersonal. Pandangan ini menolak Allah Alkitab yang berkehendak, berbicara, dan berelasi.
- Ateisme Praktis
Ini adalah bentuk penyangkalan yang paling halus, tetapi malah paling berbahaya. Tidak secara lisan menyangkal Allah, tetapi hidup seolah-olah Allah tidak ada (Mzm. 10:4; Tit. 1:16). Bahkan, orang Kristen pun dapat jatuh dalam ateisme praktis ketika hidup mengabaikan dan tidak memuliakan Allah. Seluruh pikirannya tidak peduli bahwa Allah ada.
- Ateisme Teoretis (Dogmatis)
- Pandangan Kontemporer yang Menyimpang tentang Keberadaan Allah
Selain penyangkalan langsung, ada juga penyangkalan tidak langsung melalui konsep Allah yang tidak utuh.
- Allah yang Imanen Saja
Pandangan ini menekankan bahwa Allah dekat, hadir, dan menyatu dengan ciptaan. Allah "melebur" ke dalam alam sehingga batas antara Allah dan ciptaan menjadi kabur. Ini bertentangan dengan Alkitab karena Alkitab mengatakan bahwa Allah hadir di mana-mana, tetapi Allah tidak sama dengan ciptaan-Nya (Kej. 1:1).
- Allah yang Transenden Saja
Pandangan ini mengakui Allah sebagai Pencipta, tetapi menolak keterlibatan-Nya yang aktif. Setelah mencipta, Allah "meninggalkan" ciptaan dan dunia berjalan sendiri tanpa pemeliharaan Allah. Ini juga tidak alkitabiah karena Allah terus memelihara ciptaan-Nya sampai hari ini (Kis. 14:17; Yes. 40:26).
Pandangan alkitabiah: Alkitab menyatakan bahwa Allah adalah transenden dan imanen. Allah berbeda dari ciptaan-Nya, tetapi dekat dan terlibat aktif dengan ciptaan-Nya. Allah Alkitab bukan Allah yang jauh, tetapi terlibat dalam kehidupan umat-Nya (Kej. 1:1; Mzm. 8:3-4; 19:1-4; Yes. 40:26; Kis. 14:17; Rm. 1:18-20).
- Allah yang Imanen Saja
- Penyangkalan Mutlak: Ateisme
- Argumentasi Rasional tentang Keberadaan Allah
Sepanjang sejarah, manusia mencoba menjelaskan keberadaan Allah secara rasional. Argumen-argumen ini berguna sebagai penolong, tetapi bukan dasar iman Kristen. Dari Alkitab, kita belajar bahwa kita mengenal Allah karena Ia menyatakan diri-Nya, bukan karena manusia berhasil "membuktikan keberadaan-Nya". Beberapa argumen yang tercatat:
- Kosmologis (Sebab–Akibat)
Segala sesuatu pasti ada sebabnya. Allah adalah penyebab pertama yang tidak disebabkan oleh apa pun (Ibr. 3:4).
- Teleologis (Tujuan dan Keteraturan)
Keteraturan alam menunjukkan adanya Perancang yang Agung, yaitu Allah (Mzm. 8, 19).
- Moral/Antropologis
Kesadaran moral membuktikan bahwa ada Pribadi yang memiliki moral tertinggi (pemikiran Kant).
- Historis/Religius
Fakta bahwa sepanjang zaman selalu ada pengakuan manusia akan adanya kuasa yang lebih tinggi dari dirinya/manusia menunjukkan kesadaran akan Allah (Rm. 1:18–19). - Ontologis
Adanya ide bahwa Allah ada menunjukkan adanya realitas Allah (Anselmus).
Argumen rasional pada dasarnya tidak menciptakan iman, tetapi dapat menyingkapkan inkonsistensi penolakan manusia. Alkitab tidak meminta manusia membuktikan Allah, melainkan merespons Allah yang telah menyatakan diri-Nya kepada manusia.
- Kosmologis (Sebab–Akibat)
- Respons Orang Kristen terhadap Argumentasi tentang Keberadaan Allah
Mengapa membicarakan keberadaan Allah penting bagi iman Kristen? Bagi orang Kristen, membicarakan keberadaan Allah bukan bertujuan membuktikan iman, melainkan untuk membuka jalan agar Injil dapat didengar dan dipertimbangkan secara jujur. Di dunia yang semakin skeptis dan rasionalistis, banyak orang tidak sampai pada tahap mendengarkan Injil karena mereka sudah lebih dahulu menolak kemungkinan bahwa Allah ada. Karena itu, pendekatan rasional bisa digunakan sebagai jembatan awal untuk menuntun orang yang belum percaya kepada kebenaran Allah.
- Alasan Teologis: Akal Budi sebagai Bagian dari Gambar Allah
Alkitab mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut rupa dan gambar Allah (Kej. 1:26–27). Meskipun dosa telah merusak manusia secara total, akal budi tidak dimusnahkan sepenuhnya. Karenanya, manusia masih mampu berpikir, bernalar, dan mencari makna. Pendekatan rasional dapat menjadi titik sentuh awal untuk membuka percakapan tentang Allah. Menggunakan rasio berarti menghormati manusia sebagai ciptaan Allah, bukan menuhankannya.
- Alasan Alkitabiah: Teladan Yesus dan Para Rasul
Alkitab menunjukkan bahwa iman Kristen tidak antirasio. Yesus berdialog dan menantang pola pikir orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Paulus berdiskusi dan berargumentasi di tempat umum (mis. Kis. 17:2, 17; 19:17). Petrus mendorong orang percaya untuk siap memberi pertanggungjawaban iman (1Ptr. 3:15–16). Ini membuktikan Alkitab tidak meminta kita memisahkan antara iman dari rasio, juga tidak meminta kita takut berhadapan dengan pertanyaan dan kritik rasional. Pembelaan iman bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan memuliakan Kristus di hadapan dunia.
- Alasan Penginjilan: Membangun Jembatan bagi Injil
Dalam konteks penginjilan, orang Kristen dan orang yang belum percaya sering berdiri di titik awal yang sangat berbeda. Orang Kristen berbicara dari pengalaman iman dan wahyu Allah, sementara banyak orang di luar iman Kristen memulai dari sikap ragu, kritis, bahkan skeptis.
Di sinilah, pendekatan rasional dan apologetika memiliki peran penting, bukan untuk menggantikan pemberitaan Injil, melainkan membangun jembatan agar Injil dapat didengar dengan pikiran yang terbuka. Secara khusus, pendekatan rasional berfungsi untuk:
- Menghilangkan prasangka bahwa iman Kristen bertentangan dengan akal sehat.
- Menunjukkan bahwa iman Kristen masuk akal, meskipun kebenarannya melampaui kemampuan akal manusia.
-Membuka ruang dialog sehingga percakapan tentang Injil dapat berlangsung dengan hormat dan jujur.Namun, perlu ditegaskan bahwa apologetika hanyalah alat misi yang menyiapkan jalan, sementara Injil Kristus dan karya Roh Kuduslah yang mengubah hati manusia. Rasio dapat menyiapkan tanah, tetapi hanya Firman dan Roh Kudus yang memberi hidup.
- Alasan Teologis: Akal Budi sebagai Bagian dari Gambar Allah
- Kesimpulan
Keberadaan Allah tidak ditentukan oleh keterbatasan nalar manusia. Sekalipun manusia menolak untuk memercayai-Nya, Allah tetap ada. Alkitab menyatakan bahwa Allah telah ada sejak kekekalan. Bahkan, keberatan-keberatan terhadap keberadaan Allah justru menunjukkan bahwa Allah ada dan bahwa seluruh ciptaan bergantung kepada-Nya (Mzm. 19; Yes. 40:26; Kis. 14:17; Rm. 1:19).
"Sebelum gunung-gunung dilahirkan ... dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkau adalah Allah". (Mazmur 90:2)
Akhir Pelajaran (DAD-P02)
Doa
"Terima kasih, ya Tuhan, karena Engkau adalah Allah yang berkenan menyatakan diri-Mu kepada manusia melalui penyataan dan keberadaan-Mu. Ajar kami untuk semakin percaya bahwa Engkau adalah Allah yang hidup dan senantiasa dekat dengan kami. Amin."