| Nama Kursus | : | Doktrin Allah Dasar |
| Nama Pelajaran | : | Penyataan Allah |
| Kode Pelajaran | : | DAD-P03 |
Pelajaran 03 -- Penyataan Allah
Daftar Isi
- Allah Menyatakan Diri-Nya
- Bagaimana Caranya?
- Sifat Penyataan Allah: Pribadi dan Relasional
- Penyataan Allah Adalah Progresif
- Mengenal Allah karena Roh Kudus
- Penyataan Umum: Melalui Ciptaan dan Hati Nurani
- Ciptaan Menyingkapkan Kemuliaan dan Kuasa Allah
- Hati Nurani Menunjukkan Hukum Allah
- Penyataan Umum Hanya Cukup untuk Menuntut Tanggung Jawab Moral Manusia
- Penyataan Khusus: Melalui Firman dan Sejarah Penebusan
- Allah Menyatakan Diri Melalui Perjanjian dan Wahyu Verbal (Tertulis)
- Penyataan Khusus Bersifat Progresif dalam Sejarah Penebusan
- Penyataan Khusus Mengarahkan Manusia kepada Kristus
- Kristus Adalah Puncak Penyataan Allah
- Yesus Adalah Gambar Allah yang Tidak Terlihat
- Kristus Menyatakan Allah yang Relasional
- Kristus sebagai Pusat Firman Allah dan Sejarah Penebusan
- Respons Manusia terhadap Penyataan Allah
- Mengenal Allah Melalui Iman
- Mengenal Allah Melalui Interaksi dengan Firman-Nya
- Mengenal Allah Melalui Kristus
- Manusia Bisa Menolak Penyataan Allah
- Kesimpulan
Doa
Pelajaran 03 -- Penyataan Allah
Pernahkah berpikir, "Seberapa dekat aku mengenal Allah?" Pengenalan pada Allah bukan sekadar pengetahuan atau teori, tetapi perjalanan pribadi yang dimulai dari inisiatif Allah sendiri. Dalam pelajaran 3 ini, kita akan melihat bagaimana Allah menyatakan diri-Nya melalui berbagai cara. Kita juga akan belajar bahwa mengenal Allah yang sejati berarti percaya, taat, dan berelasi dengan Kristus, bukan hanya tahu tentang Dia.
- Allah Menyatakan Diri-Nya
Allah bukan Pribadi yang tersembunyi dan jauh. Ia justru mengambil inisiatif untuk datang, berbicara, dan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia.
- Bagaimana Cara-Nya?
Pengenalan akan Allah selalu dimulai dari inisiatif Allah sendiri, bukan dari usaha manusia. Setelah jatuh dalam dosa, manusia tidak mencari Allah dan tidak mampu mengenal-Nya dengan kekuatannya sendiri. Karena itu, Allahlah yang datang mencari manusia dan menyatakan diri-Nya (Kej. 3:9).
Allah memperkenalkan diri-Nya melalui ciptaan sehingga manusia menyadari keberadaan dan kuasa-Nya (Rm. 1:19–20). Sepanjang sejarah, Ia juga berbicara melalui para nabi, dan akhirnya menyatakan diri-Nya secara paling jelas melalui Yesus Kristus (Ibr. 1:1–2). Namun, Allah menetapkan batas antara hal-hal yang dinyatakan bagi manusia dan hal-hal yang tetap menjadi rahasia-Nya (Ul. 29:29).
- Sifat Penyataan Allah: Pribadi dan Relasional
Allah menyatakan diri-Nya bukan sebagai konsep yang jauh, melainkan sebagai Pribadi yang ingin berelasi dengan manusia. Setelah manusia jatuh dalam dosa, Allah memanggil Adam secara langsung (Kej. 3:8–9), dan kemudian memanggil Musa dari semak yang menyala untuk mengutusnya melayani umat-Nya (Kel. 3:4–10).
Pengenalan akan Allah selalu menuntut respons pribadi, melibatkan hati dan pikiran. Karena itu, Allah mengingatkan manusia agar bermegah hanya dalam pengenalan akan Dia (Yer. 9:23–24). Allah menghendaki kasih dan pengenalan yang sejati, bukan sekadar ritual atau pengetahuan, sebab inilah inti hidup yang kekal (Hos. 6:6; Yoh. 17:3).
- Penyataan Allah Adalah Progresif
Pengenalan akan Allah terjadi secara bertahap. Sebagaimana dijelaskan dalam Ibrani 1:1–2, Allah mula-mula menyatakan diri-Nya melalui ciptaan, lalu melalui perjanjian dan para nabi, dan akhirnya melalui Anak-Nya. Penyataan Allah bukanlah sesuatu yang abstrak, tetapi nyata dalam tindakan Allah di sepanjang sejarah, sehingga manusia dapat mengenal-Nya semakin jelas dan semakin utuh.
- Mengenal Allah karena Roh Kudus
Namun, meskipun Allah menyatakan diri-Nya, manusia tidak dapat mengenal Allah dengan benar tanpa karya Roh Kudus. Roh Kudus membuka pikiran dan hati manusia agar kebenaran Allah dapat dipahami dan diterima secara pribadi.
Alkitab menegaskan bahwa Roh Kudus menyatakan hal-hal rohani kepada manusia (1Kor. 2:10–14), menuntun orang percaya kepada seluruh kebenaran (Yoh. 16:13), dan memberi hikmat serta wahyu agar manusia sungguh-sungguh mengenal Allah (Ef. 1:17–18).
- Bagaimana Cara-Nya?
- Penyataan Umum: Melalui Ciptaan dan Hati Nurani
Sejak awal, Allah telah meninggalkan jejak diri-Nya dalam alam semesta dan hati manusia. Melalui keduanya, manusia diajak menyadari keberadaan dan tuntutan Allah.
- Ciptaan Menyingkapkan Kemuliaan dan Kuasa Allah
Allah menyatakan diri-Nya melalui ciptaan sehingga setiap manusia dapat melihat kemuliaan dan kuasa-Nya. Seluruh alam semesta menunjukkan keteraturan, keindahan, dan kebesaran Allah (Mzm. 19:1–4).
Paulus menegaskan bahwa kuasa dan keilahian Allah dapat dipahami melalui ciptaan-Nya (Rm. 1:20). Karena itu, setiap manusia bertanggung jawab di hadapan Allah, meskipun pengenalan melalui ciptaan belum membawa kepada keselamatan.
- Hati Nurani Menunjukkan Hukum Allah
Selain melalui ciptaan, Allah menyatakan diri-Nya melalui hati nurani manusia. Setiap orang memiliki kesadaran tentang benar dan salah, yang menunjukkan bahwa hukum Allah tertulis dalam hati manusia. Roma 2:14–15 menegaskan bahwa sekalipun tanpa wahyu khusus, manusia tetap mengetahui tuntutan Allah, dan hati nurani menjadi saksi atas perbuatannya. Karena itu, penyataan ini bersifat internal dan universal sehingga setiap manusia bertanggung jawab di hadapan Allah.
- Penyataan Umum Hanya Cukup untuk Menuntut Tanggung Jawab Moral Manusia
Penyataan umum, melalui ciptaan dan hati nurani, cukup untuk menunjukkan bahwa Allah itu ada dan manusia hidup di bawah tuntutan-Nya. Namun, penyataan ini tidak menyelamatkan manusia dari dosa. Roma 1:18–20 menegaskan bahwa manusia tetap berada di bawah hukuman karena menolak kebenaran yang sudah jelas dinyatakan.
Karena itu, penyataan umum menuntut tanggung jawab moral dari setiap manusia. Namun, pengenalan Allah yang menyelamatkan hanya diperoleh melalui penyataan khusus dan karya Kristus.
- Ciptaan Menyingkapkan Kemuliaan dan Kuasa Allah
- Penyataan Khusus: Melalui Firman dan Sejarah Penebusan
Allah tidak berhenti menyatakan diri-Nya secara umum, tetapi melanjutkannya secara khusus melalui firman, perjanjian, dan sejarah umat-Nya, hingga rencana keselamatan-Nya dalam Yesus Kristus dinyatakan dengan jelas.
- Allah Menyatakan Diri Melalui Perjanjian dan Wahyu Verbal (Tertulis)
Allah secara khusus menyatakan diri-Nya melalui perjanjian dan firman-Nya. Firman Allah yang tertulis dalam Alkitab bersifat normatif dan otoritatif, menjadi pedoman untuk mengenal Allah dengan benar.
Dalam Ulangan 6:4–9, Allah memerintahkan umat-Nya untuk mengasihi-Nya dengan segenap hidup dan mengajarkan firman-Nya kepada generasi berikutnya. Paulus menegaskan bahwa "semua Kitab Suci dinapasi oleh Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik dalam kebenaran". (2Tim. 3:16–17) Karena itu, penyataan khusus melalui firman Allah memberikan dasar yang jelas agar manusia mengenal Allah sesuai kehendak-Nya.
- Penyataan Khusus Bersifat Progresif dalam Sejarah Penebusan
Penyataan khusus Allah tidak diberikan sekaligus, tetapi berkembang secara bertahap dalam sejarah umat-Nya. Allah menuntun umat-Nya melalui peristiwa sejarah, perjanjian, dan wahyu sesuai dengan waktu dan konteksnya.
Contohnya, Allah menyatakan diri-Nya kepada Musa di semak yang menyala dan memimpin umat Israel (Kel. 3–4), serta berbicara melalui nabi-nabi pada berbagai zaman. Yesaya 40:1–11 menunjukkan bagaimana Allah meneguhkan janji-Nya dan menyiapkan umat-Nya bagi pengharapan keselamatan yang akan datang. Dengan demikian, penyataan khusus bersifat progresif sehingga manusia dapat memahami Allah dan rencana keselamatan-Nya secara bertahap dalam sejarah penebusan.
- Penyataan Khusus Mengarahkan Manusia kepada Kristus
Seluruh penyataan khusus dalam Perjanjian Lama mengarah kepada Kristus sebagai puncak dan penggenap wahyu Allah. Kristus adalah pusat dari janji, nubuat, dan karya Allah sepanjang sejarah.
Yesus menegaskan bahwa Kitab Suci menunjuk kepada-Nya dan menyatakan hidup yang sejati (Yoh. 5:39–40). Ibrani 1:1–3 menyatakan bahwa Allah yang dahulu berbicara melalui para nabi kini berbicara melalui Anak-Nya, yang menyatakan cahaya kemuliaan Allah dan memberikan penebusan yang sempurna. Karena itu, pengenalan Allah melalui penyataan khusus selalu membawa manusia kepada Kristus, dan pengenalan yang benar hanya lengkap dalam relasi dengan-Nya.
- Allah Menyatakan Diri Melalui Perjanjian dan Wahyu Verbal (Tertulis)
- Kristus Adalah Puncak Penyataan Allah
Jika kita ingin mengenal Allah dengan benar dan utuh, kita harus memandang kepada Kristus. Karena dalam Dialah, Allah menyatakan diri-Nya sepenuhnya.
- Yesus Adalah Gambar Allah yang Tidak Terlihat
Yesus Kristus menyatakan Allah secara paling jelas dan sempurna. Jika sebelumnya Allah menyatakan diri secara bertahap melalui ciptaan, nabi, dan perjanjian, penyataan itu mencapai kepenuhannya dalam Kristus.
Kristus adalah gambaran dari Allah yang tidak kelihatan (Kol. 1:15). Yohanes 1:18 menegaskan bahwa Allah yang tidak terlihat itu dinyatakan kepada manusia melalui Anak Tunggal. Karena itu, Kristus bukan sekadar pembawa informasi tentang Allah, melainkan penyataan Allah itu sendiri. Tanpa Kristus, Allah tetap tidak terlihat dan tidak dapat dikenal secara utuh.
- Kristus Menyatakan Allah yang Relasional
Kristus bukan hanya menyampaikan kebenaran tentang Allah, tetapi menghadirkan Allah di tengah manusia. Dalam diri-Nya, Allah yang transenden menjadi dekat dan dapat dikenal.
Yesus menegaskan, "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yoh. 14:9). Pernyataan ini menunjukkan bahwa pengenalan Allah yang sejati tidak dicapai melalui konsep atau sistem keagamaan, melainkan melalui perjumpaan dan relasi dengan Kristus. Mengenal Allah berarti mengenal Dia yang diutus oleh Bapa.
- Kristus sebagai Pusat Firman Allah dan Sejarah Penebusan
Firman Allah dalam Kitab Suci dan karya Allah dalam sejarah penebusan tidak berdiri sendiri, tetapi puncaknya nyata pada diri Kristus. Tanpa Dia, penyataan Allah tidak dapat dipahami secara utuh.
Yesus sendiri menegaskan hal ini ketika Ia menafsirkan Kitab Suci mulai dari Musa dan para nabi dan menunjukkan bahwa seluruh firman Allah menunjuk kepada diri-Nya (Luk. 24:27). Karena itu, Kristus menjadi kunci untuk memahami wahyu Allah yang dinyatakan secara progresif dan digenapi dalam sejarah penebusan.
- Yesus Adalah Gambar Allah yang Tidak Terlihat
- Respons Manusia terhadap Penyataan Allah
Setelah Allah menyatakan diri-Nya secara penuh dalam Kristus, manusia dipanggil untuk menanggapi penyataan itu dengan iman dan ketaatan.
- Mengenal Allah Melalui Iman
Manusia tidak dapat mengenal Allah yang benar melalui akal atau hikmat dunia. Pengetahuan teologis saja tidak cukup; pengenalan Allah yang sejati memerlukan iman aktif.
Paulus menegaskan dalam 1 Korintus 1:21 bahwa dunia melalui hikmatnya tidak mengenal Allah, tetapi Allah memanggil manusia melalui iman. Ibrani 11:6 menekankan bahwa tanpa iman, tidak mungkin menyenangkan Allah.
- Mengenal Allah Melalui Interaksi dengan Firman-Nya dan Ketaatan
Selain iman, pengenalan Allah juga terjadi melalui interaksi dengan firman dan tindakan ketaatan. Allah menyatakan diri-Nya melalui firman, dan manusia mengenal Dia bukan hanya dengan memahami kebenaran, tetapi dengan hidup menaatinya.
Dalam Yohanes 17:17, Yesus berdoa agar manusia disucikan melalui kebenaran firman Allah. Dalam Yohanes 14:21, Yesus juga menegaskan bahwa orang yang mengasihi Dia akan memegang perintah-Nya (Yoh. 14:21). Dengan demikian, ketaatan bukan syarat untuk mengenal Allah, melainkan buah dari relasi yang hidup dengan-Nya.
- Mengenal Allah Melalui Kristus
Kristus adalah pusat pengenalan Allah yang sejati. Hanya melalui Dia, manusia dapat mengenal Allah yang menyelamatkan. Yesus menyatakan bahwa Dialah jalan, dan kebenaran, dan kehidupan, satu-satunya jalan kepada Allah (Yoh. 14:6). Karena itu, pengenalan Allah yang sejati bersifat Kristosentris dan membawa hidup yang kekal (1Yoh. 5:20).
- Manusia Bisa Menolak Penyataan Allah
Penyataan Allah menuntut respons manusia. Meskipun Allah menyatakan diri-Nya dengan jelas, manusia dapat memilih untuk menerima atau menolak, dan pilihan itu membawa konsekuensi. Penolakan membawa pertanggungjawaban di hadapan Allah (Rm. 1:18–21), sedangkan penerimaan terhadap Kristus menjadikan manusia anak-anak Allah (Yoh. 1:11–12). Karena itu, pengenalan Allah bukan sekadar pengetahuan, melainkan respons iman yang nyata dalam relasi dan ketaatan kepada Kristus.
- Mengenal Allah Melalui Iman
- Kesimpulan
Saat kita menutup pelajaran ini, biarlah kita ingat bahwa mengenal Allah adalah perjalanan yang tidak pernah selesai. Setiap ciptaan yang kita lihat, setiap firman yang kita baca, dan setiap langkah iman kita, mengarahkan kita lebih dekat kepada Kristus. Semoga pengalaman ini menumbuhkan kerinduan yang lebih dalam untuk mengenal Allah setiap hari, melalui hubungan yang hidup, percaya, dan taat kepada-Nya. (Yohanes 17:3)
"Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus." (Yoh. 17:3)
Akhir Pelajaran (DAD-P03)
Doa
"Bapa, terima kasih karena Engkau tidak membiarkan kami berjalan dalam kegelapan, tetapi menyatakan diri-Mu dengan jelas sehingga aku mengenal siapakah Engkau yang sesungguhnya. Tolong aku mengenal Engkau dengan benar melalui Kristus. Amin."