DAD - Pelajaran 04

Nama Kursus : Doktrin Allah Dasar
Nama Pelajaran : Nama-Nama Allah
Kode Pelajaran : DAD-P04

Pelajaran 04 -- Nama-Nama Allah

Daftar Isi

  1. Nama Allah secara Umum
    1. Arti Nama dalam Alkitab
    2. Nama: Tindakan dan Karya Allah
    3. Nama: Janji, Kuasa, dan Sifat Allah
    4. Nama Allah Tidak Terbatas
  2. Nama-Nama Allah dalam Perjanjian Lama
    1. YHWH = Yahweh
    2. Adonai
    3. El, Elohim, dan Elyon
    4. Shaddai dan El-Shaddai
  3. Nama-Nama Allah dalam Perjanjian Baru
    1. Theos
    2. Kurios/Kyrios
    3. Bapa/Pater

Doa

Pelajaran 04 -- Nama-Nama Allah

Dalam Alkitab, nama bukan sekadar sebutan, tetapi menyatakan identitas, karya, dan relasi. Ketika Allah menyatakan nama-Nya, Ia membuka diri untuk dikenal manusia. Allah yang tak terbatas rela memakai bahasa yang terbatas agar kita dapat mengenal-Nya. Melalui nama-nama-Nya, kita diajak memahami siapa Allah, apa yang Ia lakukan, dan bagaimana kita hidup di hadapan-Nya.

  1. Nama Allah secara Umum

    Nama Allah adalah penyataan diri Allah. Mengenal nama-nama Allah berarti mengenal Dia sebagaimana Ia memperkenalkan diri-Nya.

    1. Arti Nama dalam Alkitab
    2. Dalam Alkitab, nama adalah identitas dari orang itu dan bagaimana ia hadir dalam kehidupan orang lain. Karena itu, nama memiliki bobot rohani yang penting.

      Prinsip ini juga berlaku ketika manusia menyebut nama Allah. Nama Allah tidak berdiri terpisah dari pribadi-Nya. Nama-Nya mewakili diri-Nya sendiri. Itulah sebabnya, Alkitab dengan tegas melarang penyebutan nama Tuhan dengan sia-sia (Kel. 20:7) karena menyalahgunakan nama Allah berarti merendahkan pribadi dan kemuliaan-Nya.

    3. Nama: Tindakan dan Karya Allah
    4. Banyak nama Allah muncul sebagai respons manusia terhadap pengalaman nyata akan karya Allah. Nama-nama itu lahir bukan dari spekulasi teologis, melainkan dari perjumpaan pribadi.

      Contohnya, Abraham menyebut Allah "YHWH-Yireh" -- "Tuhan akan menyediakan" (Kej. 22:14) -- setelah mengalami secara langsung pemeliharaan Allah di Gunung Moria. Nama itu diberikan untuk menandai siapa Allah berdasarkan apa yang Ia lakukan.

      Karena itu, nama-nama Allah berfungsi sebagai kesaksian iman, Allah yang dikenal melalui perbuatan-Nya dalam sejarah dan kehidupan umat-Nya.

    5. Nama: Janji, Kuasa, dan Sifat Allah
    6. Selain lahir dari pengalaman, nama-nama Allah juga digunakan untuk:

      • menyatakan janji-janji Allah kepada umat-Nya,
      • menegaskan kuasa dan otoritas-Nya,
      • menggambarkan sifat-sifat-Nya yang setia, adil, kudus, dan penuh kasih.

      Bagi Israel, nama Tuhan bukan hanya sebutan, tetapi jaminan kehadiran dan kesetiaan Allah. Karena itu, para imam melayani "dalam nama Tuhan", dan bangsa Israel berlindung dalam nama-Nya sebagai sumber pengharapan dan kelangsungan hidup mereka.

    7. Nama Allah Tidak Terbatas
    8. Di sisi lain, Alkitab juga menyadarkan kita akan keterbatasan bahasa manusia. Allah adalah Pribadi yang tidak terbatas sehingga tidak ada satu nama pun yang mampu menggambarkan-Nya secara penuh.

      Justru di sinilah, kita melihat anugerah Allah: Ia rela merendahkan diri dan memperkenalkan diri-Nya dengan memakai bahasa manusia yang terbatas. Nama-nama Allah adalah "nomen editum" (penyataan diri Allah) bukan untuk membatasi Allah, tetapi untuk memungkinkan manusia mengenal Dia.

      Karena itu:

      • Nama-nama Allah bukanlah penyataan yang lengkap dan final tentang diri-Nya.
      • Banyaknya nama Allah menunjukkan kekayaan pribadi Allah.
      • Setiap nama menyingkapkan satu aspek nyata dari siapa Allah itu dan bagaimana Ia berelasi dengan manusia.

      Nama-nama Allah bukan diberikan supaya manusia sekadar mengetahui lebih banyak istilah teologis, melainkan supaya manusia mengenal Allah secara pribadi. Setiap nama mengundang umat-Nya untuk percaya, bersandar, dan hidup dalam relasi dengan Dia.

  2. Nama-Nama Allah dalam Perjanjian Lama
  3. Kita tidak bisa menyebutkan semua nama Allah pada pelajaran ini karena sangat banyak. Karena itu, akan disebutkan beberapa saja.

    1. YHWH = Yahweh
    2. YHWH (Yahweh) adalah nama pribadi Allah yang dikenal oleh bangsa Israel dan merupakan nama yang paling sering muncul dalam PL (sekitar 5.424 kali). Nama ini menunjukkan bahwa Allah bukan sekadar kuasa ilahi, melainkan Pribadi yang berelasi dan dikenal oleh umat-Nya.

      a. Nama yang Diwahyukan kepada Musa

      Musa adalah orang pertama yang menerima pewahyuan yang jelas dan mendalam tentang nama pribadi Allah. Sebelumnya, Allah dikenal sebagai "Allah Abraham, Ishak, dan Yakub". Namun, dalam perjumpaan di semak yang menyala, Allah menyatakan diri-Nya kepada Musa sebagai "YHWH", artinya:

      "Ehyeh Asher Ehyeh" -- "Aku adalah Aku" atau "Aku akan ada yang Aku ada" (Kel. 3:14).

      Nama ini menegaskan bahwa Allah adalah Pribadi yang ada dengan sendirinya, setia pada keberadaan-Nya, dan hadir dalam sejarah umat-Nya.

      b. Nama yang Kudus dan Dihormati

      Seiring waktu, nama YHWH dianggap sangat sakral. Setelah masa pembuangan, bangsa Israel berhenti mengucapkan nama ini secara langsung. Sebagai gantinya, mereka menggunakan "Adonai" (Tuhan) saat membaca Kitab Suci.

      Pada abad ke-6 dan ke-7 Masehi, para penyalin Alkitab menggabungkan huruf hidup dari "Adonai" dengan huruf mati YHWH sehingga muncul lafal "Yehovah". Tujuannya bukan menciptakan nama baru, melainkan mengingatkan pembaca agar menyebut nama Allah dengan hormat dan menyadari kekudusan-Nya.

      Larangan menyalahgunakan nama YHWH ditegaskan dalam Keluaran 20:7, sementara Imamat 24:16 menunjukkan keseriusan hukuman atas penghujatan nama TUHAN.

      c. Nama YHWH dalam Pengalaman dan Sejarah Umat

      Dalam perjalanan sejarah, nama YHWH sering muncul dalam bentuk nama gabungan. Nama-nama ini bukanlah nama tambahan bagi Allah, melainkan gelar-gelar yang diberikan untuk memperingati peristiwa nyata saat Allah menyatakan karakter dan karya-Nya.

      Beberapa di antaranya:
      - YHWH-Yireh – Tuhan menyediakan (Kej. 22:14)
      - YHWH-Nissi – Tuhan adalah panji-panjiku (Kel. 17:15)
      - YHWH-Shalom – Tuhan adalah damai sejahtera (Hak. 6:24)
      - YHWH-Sabbaoth – Tuhan semesta alam (1Sam. 1:3)
      - YHWH-Mekaddishkem – Tuhan yang menguduskan (Kel. 31:13)
      - YHWH-Roi – Tuhan adalah gembalaku (Mzm. 23:1)
      - YHWH-Tsidkenu – Tuhan adalah keadilan kita (Yer. 23:6)
      - YHWH-Shammah – Tuhan hadir di situ (Yeh. 48:35)
      - YHWH-Elohim Israel – Tuhan, Allah Israel (Hak. 5:3; Yes. 17:6)

      Nama-nama gabungan ini menunjukkan bahwa Allah dikenal melalui kehadiran dan tindakan-Nya. Setiap sebutan menyingkapkan aspek karakter Allah dan karya-Nya bagi umat-Nya dalam situasi nyata. Jadi, mengenal YHWH bukan sekadar mengetahui satu nama, tetapi mengenal Allah yang hidup, hadir, dan setia menyatakan diri-Nya dalam sejarah dan kehidupan umat-Nya.

    3. Adonai
    4. Adonai berarti "Tuan" atau "Pemilik", menegaskan Allah sebagai Pemilik dan Penguasa mutlak atas Israel dan umat-Nya. Bentuk jamaknya menunjukkan keagungan dan kemuliaan, mirip Elohim, tetapi maknanya fokus pada otoritas dan kedaulatan Allah.

      Pengakuan akan Adonai tercermin dalam hidup hamba-Nya: Yosua menundukkan diri di hadapan Panglima bala tentara Tuhan (Yos. 5:14), dan Yesaya menyerahkan diri di bawah otoritas Tuhan (Yes. 6:8ľ11).

      Dalam Perjanjian Baru, padanannya adalah Kurios (Lord), yang menegaskan otoritas penuh Allah--termasuk Yesus Kristus--atas hidup orang percaya. Menyebut Allah Adonai berarti mengakui hidup kita berada di bawah pemerintahan dan kehendak-Nya.

    5. El, Elohim, dan Elyon
    6. El adalah sebutan paling sederhana bagi Allah dalam PL, menekankan kekuatan, kuasa, dan otoritas-Nya. Kata ini berasal dari akar ĺul, yang berarti "menjadi yang pertama" atau "menjadi tuan".

      Elohim adalah sebutan umum bagi Allah, biasanya muncul dalam bentuk jamak sebagai jamak intensif untuk menegaskan kebesaran, kemuliaan, dan kepenuhan kuasa Allah (Ul. 6:4). Bentuk tunggalnya, Eloah, jarang dipakai dan biasanya muncul dalam puisi. Meskipun sering merujuk kepada Allah, kata ini kadang dipakai untuk berhala, manusia tertentu, atau penguasa/hakim (Mzm. 95:3; 96:5; Kej. 35:2; Mzm. 82:1), menandakan otoritas dalam konteks tertentu.

      Elyon berarti "Yang Maha Tinggi" atau "Yang Ditinggikan", menegaskan Allah sebagai Pribadi paling tinggi yang melampaui segala kuasa lain (Kej. 14:19-20; Bil. 24:16; Yes. 14:14).

      Penggunaan Elohim dalam bentuk jamak dengan kata kerja tunggal merupakan ciri khas Alkitab Ibrani, yang menegaskan keagungan Allah tanpa meniadakan keesaan-Nya.

    7. Shaddai dan El-Shaddai
    8. Nama Shaddai dipakai dalam Alkitab untuk menegaskan kuasa dan kedaulatan Allah. Meskipun asal katanya diperdebatkan, pemakaiannya secara konsisten menunjuk kepada Allah sebagai Pribadi yang Maha Kuasa, yang aktif memelihara dan menggenapi janji-janji-Nya.

      Meski menegaskan kuasa, Shaddai juga menampilkan Allah sebagai sumber berkat, perlindungan, dan kedamaian. Allah memperkenalkan diri dengan nama ini kepada Abraham sebagai Penopang yang setia dan Pemenuh janji.

      Nama-Nama Gabungan
      Nama gabungan dengan El memperkaya pemahaman tentang karakter Allah:
      - El-Shaddai – "Allah Yang Maha Kuasa", teguh dan tak tergoyahkan (Kej. 17:1; 28:3; 35:11; Kel. 6:3; Mzm. 91:1ľ2)
      - El-Elyon – "Allah Yang Maha Tinggi", menegaskan kedaulatan Allah (Kej. 14:19)
      - El-Olam – "Allah Yang Kekal", yang tidak berubah sepanjang masa (Kej. 21:33; Mzm. 100:5; 103:17)
      - El-Roi – "Allah Yang Melihat", yang peduli dan memperhatikan umat-Nya (Kej. 16:13)

      Nama-nama ini bukan sekadar sebutan, tetapi penyataan diri Allah yang hidup, menyingkap karakter-Nya, dan mengundang kita memercayakan hidup sepenuhnya kepada-Nya.

  4. Nama-Nama Allah dalam Perjanjian Baru
  5. Penyataan Allah melalui nama-nama-Nya dalam PL mencapai kepenuhannya dalam PB. Dalam Kristus, Allah yang sama itu menyatakan diri-Nya dengan lebih jelas dan personal. Berikut beberapa nama Allah yang penting dalam PB.

    1. Theos
    2. "Theos" adalah sebutan utama bagi Allah dalam PB (bahasa Yunani), setara dengan El, Elohim, dan Elyon di PL. Istilah ini paling sering merujuk pada Allah yang benar dan menjadi terjemahan umum Elohim dalam Septuaginta. Meskipun kadang digunakan untuk ilah kafir, secara teologis "Theos" menegaskan keilahian yang sejati dan esensial.

      Nama Elyon dalam PL dipadankan dalam PB dengan istilah Hypsistos atau Theos Hypsistos di PB (Mrk. 5:7; Luk. 1:32,35; Kis. 7:48; Ibr. 7:1). Dengan demikian, penggunaan Theos dalam PB bukanlah pemutusan dari PL, melainkan kelanjutan dan penggenapan pewahyuan Allah yang sama. Shaddai dan El-Shaddai disejajarkan dengan Pantokrator atau Theos Pantokrator, menekankan Allah sebagai Yang Maha Kuasa dan berdaulat atas segala sesuatu (2Kor. 6:18; Why. 1:8; 4:8).

      Dalam PB, "Theos" sering muncul dalam bentuk kepemilikan (Allahku, Allahmu, Allah kita), menegaskan Allah bukan hanya transenden, tetapi juga Allah yang berelasi dengan umat-Nya. Yesus Kristus sendiri disebut "Theos", menegaskan keilahian dan otoritas-Nya atas umat-Nya.

    3. Kurios/Kyrios
    4. Kata "Kurios" (Tuhan) muncul kurang lebih 717 kali dalam PB, terutama dalam tulisan Lukas dan Paulus yang menulis bagi masyarakat berbahasa Yunani. Dalam iman Kristen, Kurios menjadi padanan bagi nama YHWH di PL. Gelar ilahi seperti "Alfa dan Omega", "Yang Awal dan Yang Akhir", dalam kitab Wahyu dikenakan, baik kepada Allah maupun kepada Kristus (Why. 1:4, 8, 17; 2:8; 21:6; 22:13) menegaskan supremasi, otoritas, dan pemerintahan Allah sebagai Tuan, Pemilik, Penguasa, bahkan Suami umat-Nya (1Ptr. 3:6). Istilah ini juga kadang dipakai untuk berhala (1Kor. 8:5) sehingga maknanya tergantung konteks iman.

      Ketika diterapkan kepada Yesus Kristus, Kurios menekankan keilahian-Nya dan otoritas-Nya atas hidup manusia serta seluruh ciptaan. Pengakuan Tomas, "Tuhanku dan Allahku" (Yoh. 20:28), menunjukkan gereja mula-mula memahami Yesus setara dengan Allah. Menyebut Yesus Kurios bukan sekadar gelar hormat, tetapi juga pengakuan iman akan keilahian dan pemerintahan-Nya.

    5. Bapa/Pater
    6. Dalam PB, Allah dikenal sebagai "Bapa" (Pater), yang menekankan relasi pribadi dan perjanjian-Nya dengan manusia. Meskipun istilah "bapa" juga muncul dalam agama lain, Alkitab memberi makna khas:

      a. Perjanjian Lama

      Menekankan relasi perjanjian Allah dengan Israel sebagai umat-Nya yang dikasihi, dipelihara, dan dididik (Ul. 32:6; Mzm. 103:13; Yes. 63:16; 64:8; Yer. 3:4, 19; Mal. 1:6; 2:10). Israel disebut "anak Allah" (Kel. 4:22; Ul. 14:1; Hos. 11:1), menegaskan Allah sebagai Pribadi berdaulat sekaligus penuh kasih.

      b. Perjanjian Baru

      Penggunaan sebutan "Bapa" meningkat sangat signifikan dalam PB dibandingkan PL (kurang lebih 245 kali vs kurang lebih 15 kali di PL), mencerminkan penyataan Allah yang lebih personal. Sebutan ini juga menyingkap relasi internal Tritunggal, yakni hubungan Allah Bapa dengan Yesus Kristus, serta posisi orang percaya sebagai "anak-anak Allah" yang diundang hidup dalam kepercayaan, ketaatan, dan kedekatan dengan-Nya.

Nama-nama Allah menyatakan bahwa Allah yang Maha Besar dengan penuh anugerah berkenan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Setiap nama bukan sekadar sebutan, tetapi juga kesaksian tentang siapa Allah itu, bagaimana Ia berkarya, dan bagaimana Ia mengundang umat-Nya untuk hidup dalam relasi dengan-Nya. Karena itu, pengenalan akan nama Allah seharusnya membawa kita kepada penyembahan yang lebih dalam dan kehidupan yang memuliakan Dia.

Akhir Pelajaran (DAD-P04)

Doa

"Aku mengucap syukur kepada-Mu, Allah, karena Engkau menyatakan diri-Mu dalam banyak nama supaya aku semakin mengenal-Mu. Biarlah pengenalan ini membuat aku semakin mengasihi-Mu. Amin."