Doa dan Puasa Untuk Gereja Sebagai Bentuk Pelayanan (Ezra 8:21-23)

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading

Latar Belakang

Sebelum membahas teks di atas secara lebih detail, kita perlu mengetahui latar belakang dari teks itu. Kitab Ezra pasal 1-6 menceritakan kisah kepulangan sebagian bangsa Yehuda dari Babel di bawah kepemimpinan Zerubabel. Tugas utama yang dikerjakan oleh Zerubabel adalah membangun bait Allah. Setelah mengalami tantangan dari musuh-musuh mereka, bait Allah akhirnya dapat dibangun kembali dan bangsa Yehuda bisa beribadah di sana (6:15-22).

Walaupun bait Allah sudah ada, namun ada satu hal yang masih kurang, yaitu pengajaran Taurat. Pembuangan ke Babel telah mengajar bangsa Yehuda suatu pelajaran rohani yang penting: ketidaktaatan terhadap Taurat akan membawa hukuman (bd. Ulangan 11:26-28; 30:1). Setelah dipulangkan Tuhan ke tanah perjanjian, mereka harus berubah dan mencoba menaati Taurat. Mereka membutuhkan pengajaran Taurat yang lebih intensif, karena selama pembuangan di Babel kesempatan untuk belajar Taurat sangat terbatas. Untuk keperluan inilah Ezra memimpin kepulangan bangsa Yehuda berikutnya. Ezra memang memiliki misi lain, yaitu membawa berbagai persembahan (7:15-24; 8:25). Tetapi tujuan utamanya adalah mengajarkan Taurat (7:14, 25-26). Ezra adalah seorang yang sangat ahli dalam Taurat Musa (7:6). Bukan hanya itu, dia memiliki tekad untuk menyelidiki, melakukan dan mengajarkan Taurat (7:10).

Ketika Ezra pulang bersama rombongan, sampailah mereka di Sungai Ahawa (8:15). Posisi sungai ini tidak dapat diketahui secara pasti, tetapi jarak antara sungai ini dan Babilonia sekitar 9 hari. Perkiraan ini didapat dari perhitungan keberangkatan Ezra dari Babilonia pada tanggal 1 bulan ke-1 (7:9) dan keberangkatan dari Sungai Ahawa pada tanggal 12 bulan ke-1 (8:31). Dengan memperhitungkan 3 hari mereka tinggal di dekat sungai ini (8:15), kita dapat menarik kesimpulan bahwa jarak Babilonia dan Sungai Ahawa adalah sekitar 9 hari.

Ketika tinggal beberapa hari di Sungai Ahawa, Ezra baru menyadari bahwa dalam rombongannya tidak ada orang-orang Lewi (8:15), padahal mereka sangat diperlukan untuk menyelenggarakan ibadah di bait Allah (8:17b). Akhirnya dia meminta didatangkan orang-orang Lewi dari daerah Kasifya. Hasilnya, orang-orang Lewi yang mau pulang hanyalah 38 orang (8:18-19). Yang paling banyak justru adalah para budak bait Allah yang bukan dari keturunan Lewi (8:20). Keengganan orang-orang Lewi untuk pulang kemungkinan besar disebabkan dua faktor:

(1) mereka sudah memiliki mata pencaharian tetap dan mapan di pembuangan.

(2) posisi mereka di bait Allah lebih rendah daripada orang-orang Lewi lain dari keturunan Harun yang berprofesi sebagai imam.

Perintah Untuk Mengadakan Puasa (8:21)

Setelah orang-orang Lewi dan para budak bait Allah datang, Ezra lalu memerintahkan semua bangsa Yehuda untuk berpuasa supaya perjalanan mereka dapat berlangsung dengan aman. Mereka membutuhkan perlindungan khusus dari Allah. Mengapa mereka perlu berpuasa dan mengkhawatirkan perjalanan mereka? Mereka perlu melakukan ini karena mereka akan menempuh perjalanan yang panjang selama 4 bulan (7:9). Selain itu, perjalanan ini bukanlah perjalanan yang aman dan menyenangkan. Mereka mengkhawatirkan serangan dari pihak musuh dan penyamun (bd. 8:31). Mereka tidak hanya khawatir dengan diri mereka, tetapi juga anak-anak kecil dan harta benda yang mereka bawa (8:21).

Musuh-musuh yang sebelumnya merintangi pembangunan bait Allah pada zaman Zerubabel pasti telah mendengar berita kepulangan mereka dan bersiap menganggu mereka di tengah jalan. Para penyamun juga pasti mengincar harta benda mereka yang sangat banyak. Kalau dihitung dengan perhitungan modern, harta benda yang mereka bawa (8:26-27) adalah sebagai berikut: perak 24,5 ton, perlengkapan perak dan emas masing-masing 3,75 ton serta piala emas seharga 8 kg uang emas. Dengan semua kondisi ini, mereka pantas untuk meminta pertolongan dari Tuhan, apalagi sebagian besar dari rombongan ini lahir di Babel dan tidak memiliki pengalaman berperang.

Tujuan puasa (ayat 21b)

Puasa bukanlah tujuan. Puasa hanyalah instrumen. Dalam ayat ini Ezra menjelaskan tujuan dari puasa. Pertama, puasa bertujuan untuk merendahkan diri di hadapan Allah. Kata Ibrani "anah" yang diterjemahkan "merendahkan diri" bisa berarti "menyiksa diri" (KJV) atau "merendahkan diri" (mayoritas versi). Mana pun yang kita ambil, maknanya tetap sama. Bagi orang Israel, menyiksa diri dalam puasa memiliki makna yang sama dengan merendahkan diri. Kalau agama kafir kuno waktu itu memanipulasi penyiksaan diri sebagai cara untuk memaksa dewa memenuhi permintaan manusia (1 Raja-Raja 18:28), bangsa Israel memahami penyiksaan diri ini sebagai peringatan bahwa Tuhan secara khusus memerhatikan mereka yang tertindas, tersiksa dan tidak ada harapan. Dengan berpuasa orang Israel mengingatkan diri mereka bahwa mereka sangat lemah dan tidak memiliki pengharapan apa pun dari pihak lain selain dari Tuhan.

Hal yang sama berlaku untuk kita. Selama berpuasa, kita disadarkan betapa kita sangat lemah dan tidak mampu melanjutkan hidup tanpa makanan. Kalau tanpa makanan saja kita tidak mampu bertahan, bagaimana kita dapat melanjutkan hidup tanpa Tuhan? Berpuasa merupakan momen yang tepat untuk menyadari ketidakberdayaan kita di hadapan Tuhan dan menyadari bahwa hidup kita sangat bergantung pada topangan tangan Tuhan.

Kedua, puasa bertujuan untuk memohon kepada Allah. Kata kerja Ibrani di balik terjemahan "memohon" berbentuk stem Piel, sehingga seharusnya mendapat penekanan. Beberapa versi dengan tepat menerjemahkan kata ini dengan "mencari" (ASV/NASB/NKJV). Terjemahan ini lebih mengekspresikan makna penekanan. Hal ini juga sesuai dengan penggunaan kata kerja "mencari" di ayat 22 dan 23.

Ketika kita berpuasa kita tidak hanya memohon sesuatu secara biasa-biasa saja. Kita sungguh-sungguh mencari wajah Tuhan. Hal ini tidak berarti bahwa kita tidak perlu sungguh-sungguh pada waktu tidak puasa. Kita tetap harus bersungguh-sungguh dalam setiap doa, tetapi puasa memiliki tingkat kesungguhan yang lebih tinggi. Kita bukan sekadar memohon, tetapi mencari Tuhan. Ada usaha yang lebih besar yang harus kita lakukan ketika berpuasa.

Alasan puasa (ayat 22)

Di ayat ini Ezra menjelaskan mengapa dia memilih berpuasa dan tidak mau meminta perlindungan dari raja (bd. kata sambung "karena" di awal ayat 22). Dia telah meyakinkan diri di hadapan raja bahwa Tuhan akan melindungi orang yang mendekat kepada-Nya. Konsep seperti ini diajarkan beberapa kali dalam Alkitab. Dalam 1 Tawarikh 28:9 Tuhan berjanji bahwa Ia menyediakan diri untuk ditemui oleh mereka yang mencari Dia. Konsep yang sama muncul di 2 Tawarikh 15:2.

Sikap Ezra di sini sedikit berbeda dengan Nehemia yang memimpin rombongan bangsa Yehuda selanjutnya. Nehemia mau menerima perlindungan yang disediakan oleh raja (Nehemia 2:9). Para sarjana berdebat tentang perbedaan ini. Beberapa menganggap Ezra bersalah karena sombong secara rohani. Beberapa yang lain melihat Nehemia sebagai orang yang lemah imannya. Sebagian yang lain memilih jalan tengah dengan cara tidak mau membandingkan kualitas iman Ezra dan Nehemia.

Kita tidak tahu persis mengapa Ezra menolak dikawal oleh tentara raja. Apakah raja tidak memberikan tawaran kepada Ezra sama seperti dia memberi tawaran kepada Nehemia karena Nehemia adalah pemimpin politik (Nehemia 10:1)? Mungkin! Tetapi kita tidak dapat memastikan. Kemungkinan besar Ezra juga mendapat tawaran pengawalan. Kita sebaiknya memang menyadari bahwa pergumulan iman setiap orang berbeda-beda. Ezra adalah ahli kitab, sedangkan Nehemia adalah tokoh politik. Kita tidak boleh menuntut mereka menunjukkan bukti iman yang sama. Kesediaan Nehemia untuk dilindungi tentara tidak menunjukkan bahwa dia kurang beriman. Hal ini mungkin sekadar prosedur normal pada waktu itu yang harus ditaati oleh Nehemia dalam kapasitasnya sebagai tokoh politik.

Yang paling penting, kita perlu memerhatikan pernyataan iman Ezra. Iman inilah yang menjadi dasar atau alasan bagi tindakan puasa yang dia lakukan. Ezra dengan tegas telah menyatakan kepada raja bahwa dia memercayai tangan Tuhan untuk melindungi perjalanannya. Ungkapan "tangan Tuhan" di sini merupakan sesuatu yang menarik dan penting. Ungkapan ini muncul berkali-kali di kitab Ezra pasal 7-8. Tangan Tuhan membuat raja memberikan kepada Ezra apa pun yang dia inginkan (7:6). Tangan Tuhan melindungi perjalanan dari Babilonia sampai ke Yerusalem (7:9; 8:31). Kepulangan ke Yerusalem pun diatur oleh tangan Tuhan (7:28b). Kepulangan sebagian kecil dari orang-orang Lewi tidak luput dari campur tangan Tuhan (8:18).

Kebergantungan kepada tangan Tuhan merupakan sesuatu yang mutlak diperlukan. Bangsa Yehuda sedang menghadapi kemungkinan bahaya dari tangan-tangan lain yang teracung melawan mereka (6:12). Tangan-tangan ini berupaya menghalangi kepulangan mereka ke Yerusalem dan pembangunan bait Allah di sana.

Iman Ezra merupakan hal yang patut dihargai. Ia sebenarnya dapat meminta perlindungan kepada raja atau pemimpin di daerah-daerah yang dia lalui, tetapi dia memutuskan untuk bergantung pada Tuhan. Ia juga tidak bersandar pada tindakan puasa itu sendiri, tetapi kepada tangan Tuhan. Yang paling penting dalam puasa bukanlah seberapa hebat usaha kita, namun seberapa kuat tangan ilahi yang menopang kita.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : GKRI Exodus
Judul Artikel : Doa dan Puasa untuk Gereja
Sebagai Bentuk Pelayanan (Ezra 8:21-23)
Penulis : Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.
Alamat URL : http://www.gkri-exodus.org/
Kategori: 

Komentar