Referensi 02b

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading

Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02c

Nama Kursus : DASAR PENGAJARAN ALKITAB
Nama Pelajaran : Allah, Yesus dan Roh Kudus
Kode Pelajaran : DPA-R02b

Referensi DPA-R03B diambil dari:

Judul Buku : Teologi Sistematika 3
Pengarang : Louis Berkhof
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1996
Halaman : 31 - 39

Garis Besar:

B. Natur-Natur Kristus

  1. Bukti-bukti Alkitab Tentang Keilahian Kristus
    1. Dalam Perjanjian Lama.
    2. Dalam Surat-surat Paulus dan Tulisan Yohanes
    3. Dalam Injil Sinoptik
    4. Dalam Kesadaran Diri Yesus sendiri
  2. Bukti-bukti Alkitab tentang kemanusiaan Kristus yang sungguh nyata
  3. Bukti Alkitab tentang kemanusiaan Kristus yang tidak berdosa
  4. Perlunya kedua natur itu dalam diri Kristus
    1. Perlunya kemanusiaan-Nya
    2. Perlunya Keilahian-Nya

REFERENSI PELAJARAN 02b - ALLAH, YESUS DAN ROH KUDUS

B. Natur-Natur Kristus

Sejak masa yang paling awal dan terutama sejak Konsili Chalcedon, gereja mengakui doktrin dua natur Kristus. Konsili ini tidak menyelesaikan permasalahan yang dikemukakan oleh seseorang yang pada saat yang sama adalah Allah dan manusia, akan tetapi hanya berusaha menjelaskan bahwa jalan keluar lain yang ditawarkan jelas terbukti keliru. Dan gereja menerima doktrin dua natur dalam satu pribadi bukan karena gereja memiliki pengetahuan yang lengkap tentang misteri ini, akan tetapi karena gereja jelas melihat di dalamnya terdapat sebuah misteri yang diungkapkan oleh Firman Tuhan. Sejak saat itu doktrin ini telah menjadi dan tetap menjadi bagian pengakuan iman, yang jauh melebihi kemampuan pengertian manusia.

Kaum Rasionalis menyerang doktrin ini dengan mengatakan bahwa doktrin ini tidak diperlukan, akan tetapi gereja tetap teguh pada pendiriannya dalam pengakuan kebenaran ini, walaupun berkali-kali dikatakan bahwa hal tersebut bertentangan dengan pikiran. Dalam pengakuan ini Roma Katolik dan Protestan saling bahu-membahu. Akan tetapi sejak akhir abad delapan belas, doktrin ini terus menerus dijadikan pokok serangan. Abad Pencerahan dimulai, dan dikatakan bahwa manusia tidaklah berharga jika menerima otoritas Alkitab yang sesungguhnya bertentangan dengan akal manusia. Apa yang tidak sesuai dengan pernyataan baru ini dianggap salah. Para ahli filsafat individual dan para teolog sekarang berusaha mencari jalan keluar atas persoalan yang timbul mengenai Yesus, dengan tujuan supaya mereka dapat menawarkan kepada gereja satu pengganti bagi doktrin dua natur. Mereka memulai titik awalnya dalam diri manusia Yesus, dan bahkan setelah satu abad penelitian yang penuh perjuangan, akhirnya menemukan bahwa di dalam diri Yesus hanyalah manusia dengan elemen Ilahi. Mereka tidak berhasil bangkit dan melihat-Nya sebagai Tuhan dan Allah mereka.

Schleiermacher menyebut Yesus sebagai manusia dengan kesadaran keallahan yang luar biasa; Ritschl menyebut-Nya sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai Allah; Wendt melihat Yesus sebagai manusia yang terus menerus memiliki persekutuan kasih dengan Allah; Beyschlag menyebut Yesus sebagai manusia yang dipenuhi Allah; dan Sanday menyebutNya sebagai manusia sejati yang memiliki perasaan keilahian di alam bawah sadar-Nya; - tetapi betapapun definisi itu diberikan, Kristus tetap disebut sebagai manusia. Sekarang ini aliran liberal yang diwakili oleh Harnack, aliran eskatologis yang diwakili oleh Weiss dan Schweitzer, dan yang lebih baru lagi aliran perbandingan agama yang dikepalai oleh Bousset dan Kirsopp Lake, setuju untuk menelanjangi Kristus dari Keilahian-Nya yang benar, dan menjadikan- Nya hanya sekedar manusia. Bagi kelompok yang pertama, Tuhan kita hanyalah guru etika yang agung, bagi kelompok kedua Ia hanyalah seorang pengamat apokaliptik dan bagi kelompok ketiga Ia adalah pemimpin tanpa kelompok tertentu untuk tujuan pemuliaan. Mereka menganggap Kristus yang dimiliki gereja adalah hasil ciptaan Hellenisme atau Yudaisme, atau gabungan dari keduanya. Akan tetapi sekarang ini keseluruhan epistemologi abad lalu dipertanyakan kembali, dan kemampuan akal manusia untuk menafsirkan kebenaran yang tertinggi sungguh-sungguh dipertanyakan. Ada tekanan baru dalam hal wahyu. Dan para teolog yang sangat berpengaruh seperti Barth dan Brunner, Edwin Lewis dan Nathaniel Micklem, tidak ragu-ragu mengakui iman mereka terhadap doktrin dua natur. Sungguh amat penting bagi kita untuk memegang teguh doktrin ini, sebagaimana dirumuskan oleh Konsili Chalcedon dan disebutkan dalam patokan pengakuan iman kita.

  1. Bukti-bukti Alkitab tentang keilahian Kristus. Berkenaan dengan penyangkalan keilahian Kristus yang sudah sedemikian menyebar, sangatlah penting bagi kita untuk berpegang pada bukti-bukti Alkitab tentang Keilahian Kristus ini. Bukti-bukti itu sedemikian banyak, sehingga tak satupun orang yang mengakui Alkitab sebagai Firman Allah yang tidak bersalah, dapat meragukan hal ini. Bagi pengelompokan biasa tentang bukti-bukti Alkitab, sebagaimana diambil dari nama-nama Ilahi, atribut-atribut Ilahi, karya-karya Ilahi dan gelar Ilahi yang ditujukan kepada-Nya, kita dapat melihatnya dalam pembahasan tentang Allah Tritunggal. Suatu susunan yang sedikit berbeda akan kita ikuti berikut ini berkaitan dengan kecenderungan zaman sekarang yang mengikuti kritik historis.

    1. Dalam Perjanjian Lama. Sebagian orang telah menunjukkan kecenderungan untuk menyangkal bahwa Perjanjian Lama berisi nubuatan tentang Mesias Ilahi, tetapi sesungguhnya penyangkalan ini tidak dapat diterima berdasarkan ayat-ayat berikut: Mzm 2:6-12 (Ibr 1:5); 45:6,7 (Ibr 1:8,9); 110:1 (Ibr 1:13); Yes 9:6; Yer 23:6; Dan 7:13; Mi 5:2; Za 13:7; Mal 3:1. Sebagian dari ahli sejarah masa kini sangat menekankan kenyataan bahwa doktrin tentang Mesias yang supramanusiawi berasal dari Yudaisme prakristiani. Sebagian lagi malah menemukan penjelasan tentang Kristologi supranatural dalam bagian-bagian Perjanjian Baru.
    2. Dalam Surat-surat Paulus dan tulisan Yohanes. Sangat tak mungkin berkata bahwa Paulus dan Yohanes tidak mengajarkan keilahian Kristus. Dalam Injil Yohanes pandangan yang paling dimuliakan tentang pribadi Kristus dapat kita temukan, seperti yang terlihat dalam ayat-ayat berikut: Yoh 1:1-3,14,18; 2:24,25; 3:16-18,35,36; 4:14,15; 5:18,20,21,22,25-27; 11:4144; 20:28; I Yoh 1:3; 2:23; 4:14,15; 5:5,10-13,20. Pandangan yang sama dapat juga kita temukan dalam surat-surat Paulus dan juga dalam Surat Ibrani, Rom 1:7; 9:5; I Kor 1:1-3; 2:8; 11 Kor 5:10; Gal 2:20; 4:4; Flp 2:6; Kol 2:9; I Tim 3:16; Ibr 1:1-3,5-8; 4:14; 5:8, dan sebagainya. Para sarjana kritik berusaha melepaskan diri dari doktrin ini dengan cara menyangkali historisitas Injil Yohanes dan otentisitas sebagian besar surat-surat Paulus; dengan menganggap bahwa apa yang diungkapkan oleh Yohanes, Paulus dan Surat Ibrani itu adalah penafsiran yang salah, sebab Yohanes dan Surat Ibrani sesungguhnya berada di bawah pengaruh doktrin Logos dari Philo, dan Paulus juga berada di bawah pengaruh yang sama, atau di bawah pengaruh pandangan Yahudinya sebelum menjadi orang Kristen; atau mereka menyebut Paulus memiliki pandangan yang lebih rendah daripada Yohanes, yang memandang Kristus sebagai manusia surgawi yang praeksisten.
    3. Dalam Injil Sinoptik. Sebagian orang berpendapat bahwa hanya Injil Sinoptik memberikan gambaran yang benar tentang Kristus. Dikatakan bahwa Injil Sinoptik menggambarkan Yesus sebagai manusia yang sepenuhnya historis, yang berbeda sekali dengan gambaran ideal dalam Injil Yohanes. Akan tetapi sesungguhnya telah terbukti bahwa Kristus dalam Injil Sinoptik sama Ilahinya dan sama benamya dengan Kristus dalam Injil Yohanes. Kristus adalah pribadi supranatural sepenuhnya, Anak Manusia dan Anak Allah. Sifat dan karya-Nya membenarkan klaim-Nya itu. Kita harus sungguh-sungguh memperhatikan ayat-ayat berikut: Mat 5:17; 9:6; 11:1-6,27; 14:33; 16:16,17; 28:18; 25:31; Mrk 8:38, dan banyak lagi ayat-ayat yang sama atau paralelnya. Buku Dr. Warfield yang berjudul The Lord of Glory memberikan pemaparan yang sangat jelas bagi kita tentang hal ini.
    4. Dalam Kesadaran Diri Yesus sendiri. Pada akhir-akhir ini ada kecenderungan untuk kembali pada kesadaran diri Yesus, dan menyangkal bahwa Ia sadar diri-Nya sebagai Mesias atau Anak Allah. Sesungguhnya tidaklah mungkin bagi kita untuk memiliki pengetahuan apapun tentang kesadaran diri Yesus, kecuali melalui Firman-Nya, sebagaimana dicatat dalam Injil; dan selalu mungkin untuk menyangkali bahwa semuanya menyatakan pikiran Yesus. Bagi mereka yang menerima kesaksian Injil memang tidak ragu-ragu lagi mengakui bahwa Yesus memang sepenuhnya sadar akan keberadaan-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa. Ayat-ayat berikut memberi kesaksian tentang hal itu: Mat 11:27 (Luk 10:22); 21:37-38 (Mrk 12:6; Luk 20:13); 22:41-46 (Mrk 13:35-37; Luk 20:41-44); 24:36 (Mrk 13:32); 28:19. Sebagian dari ayat-ayat itu merupakan kesaksian kesadaran Mesianik Yesus; sedangkan ayat-ayat lain menyatakan bahwa Ia sadar bahwa Ia adalah Anak Allah dalam pengertian yang paling tinggi. Ada sejumlah ayat dalam Matius dan Lukas di mana Ia berbicara menyebutkan oknum Pertama Allah Tritunggal sebagai "BapaKu", Mat 7:21; 10:32,33; 11:27; 12:50; 15:13; 16:17; 18:10,19,35; 20:23; 25:34; 26:29,53; Luk 2:49; 22:29; 24:49. Dalam Injil Yohanes, kesa- daran sebagai Anak Tunggal Allah dinyatakan dengan lebih jelas, misalnya dalam Yoh 3:13; 5:17,18,19-27; 6:37-40,57; 8:34-36; 10:17,18,30,35,36 dan ayat-ayat lain.
  2. Bukti-bukti Alkitab tentang kemanusiaan Kristus yang sungguh nyata. Pernah pada suatu masa, realita (Gnostisisme) dan integritas natural (Doketisme, Apollinarianisme) dari natur manusiawi Kristus disangkal, tetapi saat ini tidak ada lagi yang mempersoalkan kemanusiaan Kristus. Kenyataannya, saat ini ada penekanan yang luar biasa akan kemanusiaan-Nya yang tepat, suatu Humanitarianisme yang terus menerus meningkat. Satu-satunya keilahian yang masih disebutkan banyak orang tentang Yesus adalah kemanusiaan-Nya yang sempurna. Tak diragukan lagi bahwa kecenderungan modern sebagian merupakan protes terhadap penekanan tidak seimbang tentang keilahian Kristus. Manusia kadang-kadang melupakan Kristus yang manusiawi pada saat berbicara tentang Yesus. Sangatlah penting untuk tetap mempertahankan realita dan integritas kemanusiaan Kristus dengan mengakui pertumbuhan kemanusiaan-Nya, serta keterbatasan- keterbatasan manusiawi-Nya. Kemuliaan keilahian-Nya tidak perlu ditekankan sedemikian rupa sehingga mengecilkan kemanusiaan-Nya yang sesungguhnya. Yesus menyebut diri-Nya sendiri manusia, dan disebut demikian juga oleh yang lain, Yoh 8:40; Kis 2:22; Rom 5:15; I Kor 15:21. Penjulukan diri sendiri Yesus yang paling umum, "Anak Manusia", apapun arti sebutan itu, jelas membuktikan kemanusiaan Yesus. Lebih lanjut lagi dikatakan bahwa Tuhan datang dan dinyatakan dalam daging, menunjukkan natur manusia-Nya. Alkitab jelas menunjukkan bahwa Yesus memiliki elemen esensi natur manusia, yaitu tubuh jasmaniah dan jiwa yang rasional, Mat 26:26,28,38; Luk 23: 46; 24:39; Yoh 11:33; Ibr 2:14. Ada juga ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Yesus ada di bawah hukum perkembangan manusia yang umum dan mempunyai kebutuhan serta penderitaan seperti manusia, Luk 2:40,52; Ibr 2:10,18; 5:8. Dijelaskan secara terperinci bahwa Ia juga memiliki pengalaman-pengalaman biasa sebagai manusia dalam kehidupan-Nya, Mat 4:2; 8:24; 9:36; Mrk 3:5; Luk 22:44; Yoh 4:6; 11:35; 12:27; 19:28,30; Ibr 5:7.
  3. Bukti Alkitab tentang kemanusiaan Kristus yang tidak berdosa. Kita tahu bahwa Kristus bukan saja memiliki kesempurnaan natural, tetapi juga kesempurnaan moral dan integritas, yaitu ketidakberdosaan. Hal ini bukan saja berarti bahwa Kristus dapat menghindar agar tidak berdosa potuit non peccare', dan sesungguhnya memang Ia menghindarinya, tetapi juga bahwa sama sekali tak mungkin bagi-Nya untuk berdosa `non potuit peccare' oleh sebab ikatan esensial antara natur manusia dan natur Ilahi. Ketidakberdosaan Kristus telah disangkal oleh Martineau, Irving, Menken, Holsten dan Pfeiderer, akan tetapi Alkitab jelas mengakui ketidakberdosaan Kristus dalam ayat-ayat berikut: Luk 1:35; Yoh 8:46; 14:30; II Kor 5:21; Ibr 4:15; 9:14; I Pet 2:22; I Yoh 3:5. Kendatipun secara hukum Yesus dijadikan berdosa, secara etis Ia bebas dari segala kecemaran oleh karena keturunan maupun dosa karena perbuatan. Ia tidak pernah menyatakan pengakuan karena kesalahan moral; dan juga Ia tak pernah bergabung dengan para murid-Nya berdoa: "Ampunilah dosa-dosa kami." Ia dapat menantang musuh-musuh-Nya untuk menunjukkan dosa-Nya. Alkitab bahkan menyebutkan bahwa Dia adalah satu-satunya manusia yang ideal, Ibr 2:8,9; I Kor 15:45; II Kor 3:18; Flp 3:21. Lebih lanjut, nama "Anak Manusia" dijadikan nama diri oleh Yesus, tampaknya untuk menunjukkan bahwa Ia adalah jawaban bagi gambaran kemanusiaan yang sempurna.
  4. Perlunya kedua natur itu dalam diri Kristus. Dari bagian sebelumnya telah jelas bahwa pada zaman sekarang ini banyak orang tid8ak menyadari perlunya kedua natur itu dalam diri Kristus. Bagi mereka Yesus hanyalah manusia; akan tetapi pada saat yang sama mereka merasa terhalang untuk mengakui bahwa Ia adalah Allah berkenaan dengan Allah yang imanen dalam diri-Nya, atau tentang Roh yang tinggal padaNya. Perlunya kedua natur itu sangat ditekankan sehubungan dengan doktrin Alkitab tentang pendamaian.

    1. Perlunya kemanusiaan-Nya. Karena manusia berdosa, maka hukuman dosa haruslah ditanggung oleh manusia juga. Juga pembayaran upah dosa mencakup penderitaan tubuh dan jiwa, yang hanya mungkin ditanggung oleh manusia, Yoh 12:27; Kis 3:18; Ibr 2:14; 9:22. Sangatlah perlu bahwa Yesus harus memiliki natur manusia, bukan saja dengan semua sifat esensial-Nya, tetapi juga bersama semua kelemahan manusiawi yang mungkin dialami karena kejatuhan manusia, dan dengan demikian harus turun ke dalam kerendahan yang paling rendah di mana manusia sudah jatuh, Ibr 2:17,18. Pada saat yang sama Ia harus menjadi seorang manusia yang tanpa dosa, sebab seorang manusia yang berdosa dan telah kehilangan nyawanya tentunya tidak dapat menjadi pendamai bagi orang lain, Ibr 7:26. Hanya seorang Pengantara manusiawi seperti itulah, yang telah memiliki pengetahuan eksperimental dari laknat manusia dan berdiri jauh di atas segala pencobaan, dengan penuh simpati dapat memasuki semua pengalaman, pencobaan dan ujian manusia, Ibr 2:17,18; 4:15-5:2, dan menjadi teladan sempurna bagi manusia , Mat 11:29; Mrk 10:39; Yoh 13:13-15; Fil 2:5-8; Ibr 12:2-4; I Pet 2:21.
    2. Perlunya Keilahian-Nya. Dalam rencana keselamatan Allah sangatlah penting bahwa Pengantara itu harus juga Allah yang sejati. Hal ini penting dengan tujuan: (1) Ia dapat membawa korban yang nilainya tanpa batas dan memberikan ketaatan yang sempurna kepada hukum Allah; (2) la dapat menanggung murka Allah dan membawa penebusan, sehingga la dapat membebaskan orang lain dari kutukan hukum; dan (3) la dapat menerapkan buah-buah karya-Nya yang telah diselesaikan-Nya bagi mereka yang menerima-Nya dengan iman. Manusia, dengan hidupnya yang telah rusak, tidak dapat membayar upah dosa atau melakukan ketaatan yang sempurna kepada Allah. Manusia hanya dapat menanggung murka Allah, dan kalau anugerah Allah yang menebusnya tidak ada, maka yang dapat dilakukan manusia hanyalah menanggung kutukan murka itu selamanya. la tidak dapat menanggungnya sambil membuka jalan untuk membebaskan diri, Mzm 49:7-10; 130:3.
Taxonomy upgrade extras: