Tuesday, July 28, 2009
Banyak sekali orang yang tidak perduli dengan apa yang terjadi,
selama peristiwa itu tidak menimpanya. (William Howard Taft)
Rutinitas membuat waktu kita banyak tersita.
Apalagi jika di dalam rutinitas tersebut ada masalah, baik di dalam rumah tangga,
pekerjaan, hubungan antar keluarga, teman (sosial), penyakit, dll. Begitu banyak
masalah yang menyertai rutinitas kita, sehingga tenaga dan pikiranpun seakan-akan
habis hanya untuk semua itu. Belum masalah orang lain, yang menuntut perhatian juga.
Masih ingatkah kita kepada Allah?Kalau kita menempatkan Allah di sela-sela,
di ruang kosong hati kita, yang munculnya hanya kadang-kadang, hanya
bilamana kita butuh, setelah tenaga dan pikiran kita gagal menemukan jalan, solusi,
setelah kita menthok, barulah otak kita ingat untuk mencari-Nya.
Allah yang seperti itu akan sama dengan jimat. Barang sakti, yang hadir jika kita perlu saja.
Keep your thoughts positive, because your thoughts become your words.
Keep your words positive, because your words become your behavior.
Keep your behaviors positive, because your behaviors become your habits.
Keep your habits positive, because your values become your destiny
~ Mahatma Gandhi
Banyak sekali hikmah yang bisa gali dari orang-orang duniawi, dan semuanya adalah benar,
membangun dan positif. Tetapi kita harus mengerti juga, bahwa tidak semua yang benar
itu adalah kebenaran. Semua yang benar, belum tentu menyelamatkan. Memang semua
yang benar tadi bisa memberikan jalan bagi kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini,
seperti bekal yang cukup. Tetapi tidak akan pernah cukup untuk membawa kita kepada Allah.
Kebenaran yang sejati, adalah mengetahui bahwa Allah adalah sumber dari semua kebenaran.
Dan kebenaran Allah itu akan menyelamatkan, bukan hanya kehidupan dunia saja, tetapi juga
nanti setelah kita mati. Jika kita bisa mempercayai bahkan melakukan hikmah duniawi,
apa sulitnya untuk mempercayai dan melakukan hikmah yang dari Allah?
Seorang teman mengatakan, tidak pernah terpikir olehnya sorga dan neraka.
Hidupku sudah rumit, katanya, sorga dan neraka bukan tingkatanku, pikiranku tidak akan sampai.
Biar aku menyelesaikan masalahku dulu dengan sebaik-baiknya, pada saatnya aku akan
memikirkan sorga dan neraka itu nanti.
Hidup yang benar bagi Allah, bukan hanya menyelesaikan kehidupan duniawi dengan
masalah yang rumit di dalamnya. Tetapi juga memikirkan kehidupan rohani. Kehidupan
rohanipun tidak cukup jika hanya melakukan kegiatan-kegiatan yang 'berbau' rohani.
"Tidakkah kau tahu tubuhmu adalah bait Roh Kudus, yang tinggal didalam kamu,
yang telah dikaruniakan Allah kepadamu ? dirimu bukanlah milikmu lagi, engkau telah
dibeli dengan harga.Karenanya Muliakanlah Allah dengan tubuhmu." (1 Korintus 6 : 19-20)
Masalah duniawi tidak bisa kita tinggalkan. Demikian juga masalah rohani.
Memisahkan kehidupan rohani dan duniawi seperti menempatkan Allah di sela-sela saja.
Di tempat yang kosong.
Hadapilah rutinitas itu bersama dengan Allah. Sehingga 'damai sejahtera' yang dapat kita
rasakan di saat kita melakukan 'kegiatan rohani', bisa juga kita rasakan di dalam kejenuhan
dan kelelahan kita menghadapi masalah & rutinitas duniawi.
Mempunyai masalah bukan berarti kehilangan 'damai sejahtera' karena damai sejahtera
yang dari Allah itu hadir bukan hanya disaat kita tidak bermasalah saja, atau disaat kita
berkegiatan rohani saja. Tetapi Dia akan hadir jika kita memberikan ruang hati kita
sepenuhnya kepada-Nya.
Jangan menunggu-Nya, karena Dia-lah yang sedang menunggu kita.
Atau jangan menunggu sesuatu terjadi dulu baru memikirkannya.
Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah
dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak
berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. (Yoh.15:4)
"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu;
tinggallah di dalam kasih-Ku itu. (Yoh.15:9)