Mengunci Allah

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading

Ada beberapa pendapat yang menenangkan jiwa berkenaan dengan jawaban doa kita kepada Allah (berkenaan dengan permohonan dan bukan komunikasi). Ada yang berpendapat, jawaban doa itu bisa ya, tidak atau nanti.... ya, berarti dikabulkan, tidak, berarti tidak dikabulkan, dan nanti, berarti tunggu....entah berapa lama itu. Ada pendapat lain, disana dikatakan ada empat macam jawaban dari Allah: yaitu tidak (tidak dikabulkan), luruskan (motivasi kurang benar), perlahan (menunggu waktu yg tepat) dan silahkan (artinya ya).

Bagaimana pengertian kita pribadi mengenai doa permohonan kita dan jawaban dari Allah?
Apakah pendapat-pendapat di atas benar, nampaknya benar, atau sekedar penghibur hati. Karena mungkin kita berpikir bahwa dijawab atau tidaknya itu adalah urusan Allah.

Bagaimana jika dikaitkan dengan firman di Matius 7:7 yang mengatakan:
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Juga firman di Yohanes 16:24;
Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Jika sampai detik ini kita masih belum bisa merasakan jawaban permohonan kita. Apa ada yang salah? Spekulasi jawaban yang muncul pun pasti akan bervariasi. Kalaupun seolah-olah Allah diam, itu pasti karena Allah mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Benarkah demikian? Benarkah Allah diam? Barangkali ini dulu yang bisa kita perhatikan.

Benarkah Allah diam?
Rasanya tidak mungkin Allah diam. Tidak sesuai dengan hakekat Allah yang aktif di dalam pribadi Roh Kudus.

Stephen Tong di khotbahnya dalam rangka 50 tahun pelayanannya, bahkan mengatakan bahwa dia, tidak pernah sekalipun di dalam doanya minta-minta kepada Allah. Dan pada kenyataannya, dia begitu diberkati.

Secara tidak sadar, kita ternyata mengunci Allah. Dalam arti membatasi gerakan Allah dalam bekerja pada kehidupan kita. Jikalau kita berdoa minta pekerjaan misalnya. Secara tidak sadar, kita langsung mengunci Allah, dengan memberikan alternatif jawaban yang sudah kita bentuk di alam pikiran kita sendiri. Jawaban itu bisa seperti... "aku diterima disini atau tidak diterima" Jadi jika kita diterima, kita akan bersorak dan berkata bahwa Allah menjawab doa kita. Dan jikalau tidak diterima, berarti Allah mempunyai rencana lain dalam pekerjaan saya. Tetapi intinya jawaban Allah harus di seputar pekerjaan, karena itulah yang kita butuhkan.

Tidak ada yang salah dengan pengertian bahwa Allah mengabulkan doa kita, ataupun jika Allah diam saja. Tetapi pernahkah kita berpikir untuk menyerahkan apa yang kita butuhkan sekarang ini menurut apa maunya Allah?

Tidak punya pekerjaan tidak harus dijawab dengan pekerjaan. Kalaupun selama ini Allah memberikan pekerjaan, itu hanya karena kasihNya kepada kita. Secara tidak langsung, kita sudah menuntutNya dan mengunciNya untuk memberikan pekerjaan. Kita bahkan tidak pernah berpikir bahwa Allah bisa memelihara kita dengan hebat tanpa melalui pekerjaan yang kita inginkan. Bukankah Allah bisa membuat kita tiba-tiba menjadi inovatif, dan tahu-tahu menemukan sesuatu hal yang membawa sukses. Kenapa kita membatasi jawaban doa kita hanya sebatas pekerjaan?

Mengunci Allah tidak terbatas kepada masalah doa saja. Tetapi bisa ke segala hal malahan. Contohnya: seseorang yang dikaruniai bakat bermain musik. Terkadang dia jadi berpikir bahwa karunianya hanya itu saja, yaitu bermain musik. Jadi di dalam pelayanan pun dia selalu mengunci Allah, dengan menyatakan, bahwa dia hanya bisa melayani di bidang musik saja. Siapa yang bilang?

Kalau kita percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, mengapa kita tidak mempersilahkan Dia untuk bekerja dalam diri kita dengan memberikan akses diri kita kepadaNya semaksimal mungkin. Mengapa kita tidak menyerahkan diri kita dan berkata, inilah aku Allah, pakailah aku sesukaMu... Mengapa kita membatasiNya dengan mengatakan, aku hanya bisa ini dan itu, aku ini begini dan begitu. Berhentilah untuk berfokus kepada diri kita sendiri. Tetapi lebih fokus kepada pekerjaanNya yang tidak terbatas. Seperti kasus Musa yang mengatakan "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara...

Jikalau kita membaca Firman Tuhan, bahwa Allah mempunyai rencana di dalam kehidupan manusia. Alangkah baiknya jika kita sebagai anak-anakNya menyesuaikan diri dan secara ikhlas masuk ke dalam rencanaNya. Bukan kebalikannya malah memaksa Allah untuk merestui dan masuk dalam rencana kita sendiri.

Allah itu kasih adanya, dan Dia mengasihi kita. Dia juga setia, dan tidak dapat menyangkal diri-Nya (jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya. 2 Tim 2:13). Kalau sampai hari ini kita bisa merasakan penyertaanNya, betapa besar kasih-Nya itu.

Seperti lagu:
kehendak Tuhan terjadilah,
ku tanah liat Kau penjunan.
Pastikan bahwa kita benar-benar sudah mengerti apa kehendak Allah di bumi, dan sudahkah kita berdoa dan memohon agar kehendakNya yang jadi? Bukan kehendakku yang jadi. Amin.

Komentar