Diselamatkan oleh Anugerah

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading

EFESUS 2:1-10
Pendahuluan
Surat Efesus ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, yang disebutnya dengan; orang-orang Kudus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus (Ef 1:1).

Surat ini sendiri ditulis oleh Rasul Paulus dari Roma, ketika ia dipenjara menunggu penjatuhan hukuman (Ef 3:1, 4:1 dan 6:20). Ada empat surat Paulus yang ditulis pada waktu ia dipenjarakan yaitu Efesus, Filipi, Kolose, dan Filemon. Keempat surat ini ditulis sekitar tahun 56-62 m. (Band. Ef. 3:1; 4:1; 6:20; Fil 1:12-13; Kol 1:24; dan Fil. 1) . Rasul Paulus sendiri mengenal dengan baik Jemaat di Efesus, pertama ketika ia dalam kunjungan singkat di sana (Kis 18:19-21), dan ketika tinggal di Efesus selama kurang lebih 2 tahun memberitakan Injil dan melakukan mujizat-mujizat (Kis 19:1-10). Efesus sendiri adalah kota perdagangan yang sangat besar di Asia Kecil, sehingga semangat materialisme merajalela luar biasa, dan bukan itu saja kota tersebut terkenal menjadi pusat penyembahan dewi Artemis (Yunani) atau dewi Diana (Romawi). Pelacuran disahkan bahkan dianggap sakral karena mereka yang mengadakan pelacuran menganggap hal itu merupakan ibadah kepada dewi itu.
Dengan latar belakang itulah, Rasul Paulus menulis Surat ini, untuk mengupas bagaimana posisi dan tanggung jawab Murid Kristus. Dan secara garis besar, surat Efesus dapat dibagi ke dalam 2 bahagian, yaitu:
A. Keadaan manusia pada dasarnya atau secara naturnya (Pasal 1 - 3)
B. Keadaan manusia karena kasih karunia Allah (Pasal 4-10)
Dalam surat Efesus 2:1-10 ini kami membaginya menjadi dua berdasarkan apa yang kami jelaskan dalam pendahuluan yaitu bagaimana manusia secara naturnya (1-3) dan bagaimana tindakan Allah menyelamatkan manusia (4-10).

Manusia pada Dasarnya (Secara Naturnya)

Seperti apakah manusia secara naturnya? Kondisi manusia secara naturnya adalah kondisi disaat manusia belum diselamatkan. Dalam hal ini manusia yang secara naturnya terikat dengan dosa. Rasul Paulus menggunakan kata hamartia untuk kata “dosa”. Istilah ini yaitu suatu istilah mengenai perburuan. Secara harfiah kata itu berarti “meleset”. Jika panah seorang pemanah gagal mengenai sasarannya, itu disebut “hamartia”. “Dosa” adalah kegagalan untuk mencapain sasaran hidup. Itulah sebabnya mengapa dosa bersifat universal. Ayat 1-3 cukup jelas menjelaskan manusia secara naturnya. Dalam ketiga ayat pertama melukiskan situasi dan cara hidup anggota jemaat yang berasal dari bangsa-bangsa kafir pada waktu dahulu, sebelum mereka bertobat dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka . Paulus ingin melukiskan mujizat perbuatan (pekerjaan) Allah, yang dialami juga oleh anggota-anggota jemaat yang berasal dari bangsa-bangsa kafir. Ciri dari manusia secara naturnya adalah :
1. Mati secara rohani
Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.(Ay. 1)
Mati secara rohani bukanlah rohnya yang mati seperti tanggapan beberapa orang. Mati secara rohani juga bukan sekedar sakit seperti pendapat arminian. Mati secara rohani artinya terpisah dari Allah (Yes. 59:2). Mati secara rohani adalah mati akibat dari dosa-dosa yang diperbuat. Ciri-ciri orang yang terpisah dari Allah adalah
a. Tidak menghargai hal-hal yang rohani (1 Kor 2:14)
b. Tidak kenal Allah dan hidup jauh dari persekutuan dengan Allah (Ef. 4:17-18)
c. Aktif berbuat dosa karena tidak peduli pada Firman Allah yang adalah rohani.
Situasi ini membawa pengertian bahwa semua manusia itu berdosa dan maut sudah akan menjadi bagian manusia. Tidak ada satupun manusia yang tidak berdosa. Hal ini ditulis oleh rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (Roma 3:10).

2. Diperbudak oleh dosa.
Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.(Ay. 2)
Kata hidup berasal dari kata “peripatein” yang artinya berjalan keliling sehingga kata hidup di sini sebenarnya hidup, berada di dalam, terus menerus melakukan. Frasa pertama dalam ayat dua ini saling berhubungan dengan ayat yang pertama sehingga “hidup di dalam dan terus menerus melakukan” yang dimaksud adalah “hidup di dalam dan terus menerus melakukan dosa”. Kata hidup memiliki makna lebih dalam yaitu “memiliki tingkah laku seperti ... dalam kehidupan sehari-hari” dalam hal ini yang dimaksud adalah “jalan dunia ini”. Hal ini membuktikan bahwa manusia berada dibawah kuasa dosa, manusia diperbudak oleh dosa dan yang manusia lakukan cenderung adalah dosa. Dosa sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari umat manusia. Dengan demikian kita mengerti bahwa manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Manusia adalah hamba dosa. Ada beberapa alasan rasul Paulus mengatakan bahwa manusia diperbudak oleh dosa:
a. Manusia mengikuti jalan dunia ini. Kata “jalan” jika dilihat dari bahasa aslinya dapat berarti zaman. Frasa kalimat ini mencakup dua unsur yaitu “jalan” yang juga berarti “zaman” yang penuh kegelapan dan kejahatan, yang berlawanan dengan zaman yang akan datang yang dimulai oleh Yesus. Unsur kedua, “dunia” atau masyarakat manusia yang tatanannya tidak merujuk kepada Allah (Sebutlah roh “sekularisme”) yang berlawanan dengan kerajaan Allah, yaitu masyarakat baru di bawah pemerintahan Allah.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa manusia mengikuti jalan (zaman) dunia yang penuh kegelapan dan kejahatan yang masyarakatnya tidak memliki tatanan yang merujuk pada Allah.
Hidup manusia pada waktu yang silam bukanlah hidup yang bebas. Hidup itu mereka tempuh menurut ukuran (jalan) suatu kuasa yang tinggi, yang menguasai mereka. aiôn ditafsirkan sebagai dunia dalam gerak, hampir sebagai waktu yang sedang berlangsung. Sulitnya ialah, bahwa dalam nas kita ini aion dihubungkan dengan kosmos. kosmos itu tidak tetap diam, ia mengalami suatu waktu, suatu aiôn. Paulus katakan di sini, bahwa kita harus memperhatian perkembangan dunia, yang nampaknya tenang dan diam. Dahulu anggota-anggota jemaat di Efesus mengikuti gerak waktu. “Waktu” itu menguasai hidup mereka. Mereka benar-benar hidup di dalam dunia.
b. Mentaati penguasa kerajaan angkasa. Penguasa kerajaan angkasa adalah iblis. Waktu kita hidup dilaur Kristus, kita berdosa maka itu berarti kita sedang mentaati iblis. Kita sedang mengikuti apa yang menjadi kehendak iblis. Setiap orang yang terpisah dari Kristus berarti mati dan hidup menaati penguasa kerajaan angkasa.
Penguasa kerajaan atau iblis itu diperjelas oleh Paulus bahwa dia adalah Roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Secara natur, orang-orang sudah mempunyai ciri khas durhaka. Sejak Adam berbuat dosa, manusia sudah menjadi orang-orang durhaka.
Yang dimaksudkan di sini dengan "orang-orang/anak-anak durhaka" ialah orang-orang yang tidak percaya dan taat kepada Firman Allah (bandingkan Roma 2:6; 11:30 dyb.; 15:31 ; 1 Petrus 2:8 ; 3:1 ; 4:17; Ibrani 3:18 dyb.; 4:6 ; 11:31).

3. Berada di bawah murka/hukuman Allah
Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. (Ay. 3).
Kami yang dimaksud oleh rasul Paulus adalah orang Yahudi (Berdasarkan tafsiran William Barclay hal 141). Saya setuju dengan pernyataan itu karena memang telah kita ketahui bahwa orang Israel mendapat anugerah khusus menjadi umat perjanjian. Padahal sesungguhnya umat Israelpun adalah orang berdosa dan patut dimurkai.
Mereka (= orang-orang Kristen Yahudi) tidak lebih baik daripada orang-orang Kristen-non Yahudi. Dalam dosa, mereka solider. Hal itu Paulus nyatakan dalam kata-kata hêmeis pantes (= kami semua): Paulus dan semua orang Kristen-Yahudi, tidak ada yang terkecuali. Bilamana dan sampai berapa jauhkah mereka hidup "di antara orang-orang durhaka"? Jawab Paulus: ketika mereka (= "kami") hidup di dalam hawa-nafsu daging dan menuruti kehendak daging mereka (= "kami") yang jahat.
Kata terhitung maksudnya memiliki perilaku, gaya hidup.
Sehingga kami mengambil kesimpulan bahwa orang yahudi juga secara natur memiliki perilaku yang sama seperti dunia ini yakni dalam tindakan dan pikiran jahat.
Paulus sedang menyamakan orang Yahudi dan non Yahudi secara natur. Menjadi umat pilihan Allah itu anugerah Allah karena orang Yahudipun memiliki keinginan-keinginan yang jahat. Menjadi umat pilihan tidak menjamin bahwa umat pilihan tidak memiliki keinginan yang jahat lagi.
Hal ini membawa kita kepada pengertian bahwa manusia tidak ada yang tidak berdosa baik umat pilihan maupun bukan. Orang kristen maupun bukan. Semuanya berdosa kecuali Yesus yang dalam kemanusiaan-Nya.
Frasa “ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat”, Memiliki makna bahwa ketika orang Yahudi hidup di dalam kedagingan mereka, mereka sama seperti orang yang lain, memiliki perilaku yang sama seperti orang dunia.
Kalimat terakhir dari ayat tiga adalah “. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.”
Pada umumnya orang-orang yang harus dimurkai Allah yaitu orang-orang yang belum dapat diselamatkan atau yang jauh dari Kristus.
Sehingga siapapun dimuka bumi ini berada dibawah murka Allah dan harus binasa berdasarkan keadilan Allah. Semua manusia harus menerima penghukuman yang kekal. Tidak ada yang bisa luput karena manusia itu berdosa. Tidak ada yang pantas menerima kerajaan Allah.
Paulus banyak membahas tentang penghakiman Allah (Rm. 2:2-3; 5:16; 1 Kor 11:29,34), yang mendatangkan hukuman bagi orang berdosa. Mereka yang tidak taat dihukum dan orang-orang yang terpisah dari Kristus tidak ada yang terhindar dari hukuman itu. Hukuman Allah itu tidak bersifat sewenang-wenang, semuanya adil (2 Tes 1:5). Tak seorang pun yang luput dari keadaan dosa, maka tak seorang pun yang luput dari akibat-akibat dosa.

Keadaan Manusia karena Kasih Karunia Allah

Melihat situasi manusia yang sangat memprihatinkan itu Allah mengambil inisiatif untuk menyelamatkan manusia. Tetapi tidak ada yang bisa diperhitungkan dari manusia untuk membuat manusia bisa diselamatkan. Walaupun Allah adil tetapi Dia sangat mengasihi manusia. Jika keadilan Allah tidak berjalan bersama kasih Allah maka satupun manusia tidak ada yang bisa diselamatkan. Tetapi dosa harus dihukum. Allah mengasihi manusia tetapi membenci dosa dan dosa tidak bisa luput dari penghukuman Allah. Barth mengatakan “Kematian Kristus terutama merupakan pernyataan kasih Allah dan kebencian-Nya terhadap dosa. Itu sebabnya Allah mengutus Yesus Kristus yang menerima penghukuman itu agar manusia bisa diselamatkan. Sehingga manusia diselamatkan “Karena kasih karunia”. Tidak ada usaha sedikitpun dari manusia untuk mendapatkannya.
Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita--oleh kasih karunia kamu diselamatkan (Ay 4) .
Paulus menjelaskan tentang penebusan Allah dan keselamatan. Allah yang kaya, pengertian yang yang mengungkapkan sifat-Nya yang rahmani terhadap otrang berdosa.
Rahmat Allah Allah yang sangat besar, sehingga ia dapat menyelamatkan orang berdosa, dasarnya adalah kasih Allah yang besar yang dilimpahkan kepada orang berdosa. Yang dimaksud dengan kasih Allah yang besar itu adalah kasih yang ia nyatakan dalam Kristus atau lebih tegas dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Begitu besar kasih Allah kepada orang-orang berdosa, sehingga anak-Nya sendiri Yesus Kristus diserahkan kedalam maut untuk keselamatan orang berdosa.
Keselamatan itu telah berlangsung dan tetap berlansung sampai sekarang. Orang berdosa telah diselamatkan dan tetap menjadi orang yang diselamatkan.
Tetapi Allah Ini menunjukkan bahwa Allahlah yang mengambil inisiatif pada waktu Ia melihat manusia secara alamiah itu (bdk. Kej 3:8-9).
Yang kaya dengan rahmat, .... Rahmat adalah kesempurnaan sifat ilahi, dan sangat penting untuk Allah, dan dapat dipertimbangkan sehubungan dengan objek itu, baik sebagai umum, memperluas kepada semua orang dengan cara khusus, hanya mencapai beberapa dalam cara kasih karunia, karena meski belas kasihan adalah sifat-Nya, namun tampilan dan tenaga itu terhadap objek apapun, adalah tindakan kehendak-Nya, dan rahmat khusus, dengan semua berkat dan manfaat dari itu, hanya dinyatakan dalam Kristus Yesus dan Allah dikatakan "kaya" di dalamnya.
Kata mulia menunjukkan kuasa Kristus yang membebaskan kita dari kematian/dosa, dan diberi bagian dalam kehidupan abadi dengan Dia. Dan dengan berbagai cara yang berbeda dan ia menekankan ini, bahwa penyebab efisien dari manfaat ini adalah rahmat Allah yang bebas: dan Kristus sendiri adalah penyebab bahan: dan iman adalah alat, yang juga merupakan karunia Allah: dan akhirnya adalah kemuliaan Allah.

Bagaimana keadaan manusia setelah memperolah kasih karunia?
Dilimpahkan kasih yang besar
Kasih ini tidak patut kita terima tetapi Allah memberikannya karena itu adalah sifat-Nya. Dia sangat mengasihi kita. Bagaimana Allah melimpahkan kasih yang besar pada kita?
1. Kita dihidupkan?
telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita--oleh kasih karunia kamu diselamatkan. (Ay. 5)
Dihidupkan di sini buka dihidupkan secara fisik tetapi kerohanian kita dihidupkan. Kita yang sudah terpisah dari Allah menjadi tidak terpisah dari Allah. Kita yang sudah mati dan patut binasa menjadi hidup dan diselamatkan. Kita dihidupkan bersama-sama dengan Kristus pada waktu Dia dibangkitkan. Hal ini memberikan kita pemahaman bahwa ketika kita dihidupkan bersama Kristus, kita sudah dilahirbarukan.
Kata “kita” artinya seluruh jemaat, baik orang-orang Kristen-Yahudi maupun orang-orang Kristen-non Yahudi. Mereka semua, yang "telah mati karena pelanggaran-pelanggaran mereka" telah Allah hidupkan bersama-sama dengan Kristus.
2. Dibangkitkan dan memberikan tempat bersama-sama Dia di sorga,
Dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, (Ay. 6).
Alkitab mengajarkan bahwa kita sudah dikaitkan dengan Tuhan Yesus Kristus, bukan hanya dalam kematian-Nya (Rm. 6), tetapi juga di dalam kebangkitan-Nya dan dalam kenaikan-Nya ke surga untuk duduk di sebelah kanan Bapa. Kata tempat (duduk) termasuk salah satu kata yang hebat di dalam surat ini, yang menunjukkan kedudukan kita di dalam Kristus, sebagai orang-orang yang ikut ambil bagian dalam penebusan yang telah dilaksanakan dan diselesaikan serta orang-orang yang ikut mengalami kemenangan-Nya.
Sebenarnya ayat ini saling berkaitan erat dengan ayat 5 tadi yang mengatakan kita dihidupkan. Dalam bagian ini Paulus tiga kali memakai kata “bersama-sama” (=sun), yakni; menghidupkan bersama-sama (sunez?opi?esen); membangkitkan bersama-sama (=sun?geiren) menempatkan bersama-sama (=sunekathisen) bukan dalam eksistensi kita tetapi dalam Kristus Yesus, artinya sebagai orang-orang-orang-orang percaya yang mempunyai eksistensinya di dalam Dia.
Ketika dikatakan hidup maka otomatis sudah menuju pada kekekalan karena mati menuju kepada kebinasaan kekal.

Apa tujuan Allah memberikan kasihnya kepada kita dengan limpah?
Supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. (Ay. 7)
Dalam ayat ini kita melihat apa yang ditunjukkan oleh Yesus pada masa atau periode yang akan datang, yaitu kekayaan yang melimpah-limpah dari kasih karuniaNya. Tuhan Allah menyelamatkan manusia dari kematiannya (ayat 1 dan 3) dan membawanya kepada kemuliaan supaya manusia dari zaman ke zaman melihat pekerjaan Allah yang Ia kerjakan melalui AnakNya, Yesus Kristus (Band. 1:7,18; 3:8,16). Paulus disini menggunakan kata Ploutos (kekayaan), dan kemuliaan dalam bagian ini adalah kharis (Kasih Karunia) Allah, yaitu kebaikanNya kepada kita di dalam Yesus Kristus.
Allah melakukan semua itu kembali untuk kemulian-Nya. Hal ini mengajarkan kita bagaimana kita bertindak dalam kehidupan kita dengan tujuan untuk kemuliaan nama Tuhan. Kita menjadi terang karena itulah tujuan Allah menebus kita tetapi kita lalai dari tugas kita yang sebenarnya.
Frasa “ Kebaikkan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus”. Khrêstotês (= kebaikan) boleh dikatakan sama artinya dengan (= kasih-karunia) Allah: "kebaikan-Nya kepada kita dalam Yesus dan tidak sekedar berkata-kata tentang anugerah atau kasih-karunia yang mengampuni dosa. melainkan kebaikan Allah, yang tidak diharapkan oleh manusia yang berdosa, tetapi yang dilimpahkan atas mereka (eph hêmas) dalam Kristus, artinya dalam persekutuan dengan Dia, oleh pekerjaan-Nya.
Kita tidak sekedar mendapat pengampunan dosa tetapi kita yang sebenarnya tidak mengharapkan kebaikan karena kita hidup di dalam dosa. Kita yang sekarang bisa insaf akan dosa karena pekerjaan Allah tetapi tanpa pekerjaan Allah, kita tidak mengharapkan kebaikan itu. Dia bukan hanya mengampuni kita tetapi kita dilayakkan bersekutu dengan Dia dan menerima kehidupan yang kekal.

Bagimana kita memperoleh keselamatan?
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (Ay. 8)
Maksudnya, kamu telah diselamatkan. Kasih karunia Allah merupakan sumber keselamatan kita. Oleh iman. Paulus tidak pernah mengatakan karena iman sebab iman bukan merupakan penyebab, hanya sarana penyaluran melalui mana keselamatan sampai kepada kita.
Ketika Paulus menjelaskan ayat 8 ini, sebelumnya ia kembali menyinggung apa yang telah ia katakan pada ayat 5 dan juga serentak menjelaskannya lebih lanjut pada ayat 8 ini. Dengan memakai kata (gar – Sebab) seolah-lah penulis mau mengatakan bahwa apa yang telah ia tuliskan pada ayat 5 di atas adalah benar “Mereka diselamatkan karena kasih karunia”. Dia kali ini menambahkan “oleh iman” karena iman adalah perantara (sarana) untuk memperoleh kasih karunia Allah.
Iman dalam arti ini kita banyak dapati dalam surat-surat Paulus. Dalam nas kita, kata itu .disebut dalam Kolose (2:12 sebagai alat (tangan) yang menerima kebangkitan dalam Kristus, dalam Efesus 3:17 sebagai alat (jalan) yang membawa Kristus masuk dan berdiam di dalam hati anggota-anggota jemaat, dalam Roma 3:22 sebagai jalan yang memimpin kepada dikaiosunê (= kebenaran), dalam Filipi 3:9 (bandingkan Roma 3:30; Galatia 2:16) sebagai jalan yang memimpin kepada dikaiôthenai (= kebenaran), dalam Galatia 3:20 sebagai jalan yang memimpin kepada status anak.
Seluruh bagian ini sangat personal langsung mengenai tiap-tiap anggota Jemaat.. Hal ini dapat kita lihat antara lain pada kata "kamu/ kalian" yang beberapa kali dipakai dalam ayat 8 ini dan ayat 9. Tetapi dengan pistis (iman) segi subyektifnya secara khusus menonjol ke muka. Paulus mengetahui. hal itu. Dan ia juga mengetahui, bahwa perkataannya dapat disalah-tafsirkan. Karena itu ia menjelaskan: Itu bukan usahamu! Sebenarnya tertulis: Itu bukan dari kamu (= touto ouk ex umôn )! Itu adalah pemberian Allah (= theou to dôron). Anggota-anggota jemaat harus tahu, bahwa keselamatan mereka bukanlah hasil usaha mereka sendiri, tetapi pemberian Allah. Malahan lebih daripada itu. Juga iman mereka adalah anugerah (kasih-karunia)-Nya.
Sehingga menjadi komplit betapa manusia tidak punya andil dalam keselamatannya karena semuanya adalah pekerjaan tangan Tuhan. Manusia diselamatkan karena karunia Allah. Tetapi keselamatan itu dapat diperoleh jika melalui iman. Kis 16:30-31 berbunyi “Kemudian ia membawa mereka keluar dan berkata, "Tuan-tuan, apa harus saya lakukan supaya saya diselamatkan?” Paulus dan Silas menjawab, "Percayalah kepada Tuhan Yesus! Engkau akan selamat--engkau dan semua orang yang di rumahmu!"”. Oleh imanlah kita memperoleh keselamatan tetapi basicnya adalah kasih karunia karena iman adalah pemberian Allah, iman adalah kasih karunia Allah.
Paulus melanjutkan penjelasan ini dalam ayat 9, “itu bukan pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri.” Ini merupakan pelengkap negatif dari pernyataan sebelumnya. Roh Kudus sangat berhati-hati dalam melindungi doktrin keselamatan karena kasih karunia yang amat berharga ini terhadap segala bentuk penyesatan. Pekerjaan di dalam Alkitab merupakan hasil atau buah dari keselamatan, bukan penyebabnya.
"Jangan kamu memegahkan diri" artinya: Jangan kamu menyangka bahwa pekerjaan yang kamu kerjakan di dalam atau di luar jemaat itu adalah suatu jasa, dan bahwa karena itu keselamatanmu dapat kau peroleh berdasarkan jasa-jasamu, ataupun berdasarkan kesalehanmu sehingga kamu mengharapkan segala sesuatu dari dirimu sendiri. Semuanya adalah kasih-karunia Allah. Penting kita perhatikan di sini bahwa kata sentral dalam ayat-ayat ini bukanlah "iman" (= pistis), tetapi "kasih-karunia" (=kharis) yang muncul lagi dalam kata "pemberian" (=dôron) Allah.
Keselamatan anugerah semata. Tidak ada pekerjaan atau kebaikan kita yang bisa membawa kita kepada keselamatan ataupun anugerah keselamatan. Seberapapun kita berusaha itu tidak mungkin karena kebaikan kitapun ketika kita di luar Kristus, itu seperti kain kotor (Yes 64:6). Perbuatan baik manusia adalah pertanda dia sudah diselamatkan apabila dia melakukannya sudah mengenal Kristus karena itu dilakukan untuk Kristus. Orang di luar Kristus yang mengetahui adanya surga dan neraka melakukan perbuatan baik supaya masuk surga dengan demikian bukan Tuhan inti dari hidupnya sedangkan orang yang mengenal Kristus melakukan perbuatan baik untuk kemuliaan Kristus. Bagaimana dengan orang yang tidak percaya adanya neraka maupun surga? Mereka melakukan kebaikan untuk mendapatkan keuntungan darinya yakni dibalas perbuatannya. Sehingga kebaikan orang di luar Kristus itu adalah seperti kain kotor. Keselamatan itu kita peroleh melalui Kristus. sehingga kita bisa diselamatkan melalui iman percaya kepada Kristus. Kita mendapatkan kasih karunia lalu kita dilahirbarukan.

Untuk apa kita diciptakan (dilahirkan kembali)?
Kita ini buatan Allah. Kata Allah yang ditekankan. Diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik. Maksudnya kita diciptakan baru ialah agar kita dapat melakukan pekerjaan baik. Bagian ini sekarang sudah lengkap, sebab hidup yang ini kontras dengan hidup yang dilukiskan dalam ayat.
Hal ini membuktikan bahwa ketika kita sudah dilahirbarukan, Allah memiliki tujuan agar kita berbuat baik yakni yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan kita bisa melakukan itu karena kita sudah dilahirbarukan dan Roh Kudus yang memampukan kita untuk melakukan apa yang Dia kehendaki. Perbuatan baik asalnya dari Allah sendiri. Maka semakin jelas bahwa tindakan/pekerjaan baik itu bisa kita lakukan setelah kita dilahirbarukan.
Di dalam Kristus kita mendapatkan hidup yang kekal. Orang Kristen yang memiliki iman yang sejati, akan mempunyai gaya hidup yang luar biasa. Benarkah kita melakukan perbuatan baik untuk kemuliaan Tuhan? Atau untuk mendapatkan keselamatan?

Catatan : Kebanyakan kata “kamu” untuk jemaat di Efesus dan bisa diartikan orang non-Yahudi, kami ganti dengan manusia dengan alasan bahwa manusia seluruhnya sejak kejatuhan Adam sudah berbuat dosa.?
BAB III
KESIMPULAN

Setelah menelaah Efesus 2:1-10, maka dapat diambil kesimpulan bahwa semua manusia, sejak kejatuhan Adam dan Hawa terikat dengan dosa. Ketika manusia makan buah yang dilarang itu maka akibatnya manusia mati secara jasmani, rohani, dan mati dalam kekekalan. Manusia terus berbuat dosa karena sudah diperbudak oleh dosa. Manusia menuruti penguasa angkasa yaitu iblis sekalipun secara tidak langsung.
Semua manusia patut menerima hukuman kekal di neraka dan manusia tidak mungkin bisa keluar dari kebinasaannya dengan usaha sendiri. Allah tahu bahwa manusia tidak mungkin bisa menyelamatkan diri sendiri maka Allahlah yang mengambil inisiatif untuk memberikan kasih karunia kepada umat-Nya yang percaya melalui pengorbanan Yesus.
Manusia bisa mendapatkan keselamatan adalah karena anugerah semata melalui iman kepada Kristus. Bukan karena usaha manusia karena manusia berimanpun karena anugerah Allah. Iman itu Allah yang berikan.
Tujuan Allah memberikan keselamatan itu supaya manusia melakukan kebaikan yang sesuai dengan kehendak-Nya yakni kebaikan dengan motivasi memuliakan Tuhan. Allah memperlengkapi orang yang mendapatkan anugerah itu dengan kebaikan karena orang tersebut dimampukan oleh Roh Kudus.
Jadi, Manusia pada dasarnya berdosa lalu mendapatkan anugerah keselamatan dan diperlengkapi dengan perbuatan baik sebagai tanda keselamatan sehingga nama Tuhan dipermuliakan.
?
DAFTAR PUSTAKA

Abineno, JLCH. 2009. Tafsiran Alkitab Surat Efesus. Jakarta: BPK Gunung Mulia

Pfeiffer, Charles F. dkk. 2008. Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 3 Perjanjian Bari. Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas.

Barclay, William. 2008. Pemahaman Alkitab Sehari-hari Surat-Surat Galatia dan Efesus. Jakarta: BPK Gunung Mulia

Stott, John RW. 2003. Efesus. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF

Barney, Kenneth D.. 2001. Surat Efesus. Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas

Guthrie, Donald. 2010. Teologi Perjanjian Baru 1. Jakarta: BPK Gunung Mulia

Tulluan, Ola. 1999. Introduksi Perjanjian Baru. Malang: Departemen Literatur YPPII

Tong, Stephen. 2004. Mengetahui Kehendak Allah. Surabaya: Momentum

Ryrie, Charles C. 2010. Teologi Dasar 1. Yogyakarta: ANDI

Nelson, PC. 2005. Doktrin-Doktrin Alkitab. Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas.

Asali, Budi. 2007. Eksposisi Surat Paulus kepada jemaat di Efesus. From http://www.golgothaministry.org/efesus/efesus-2_1-10.htm, 19 Maret 2012

Nn. 2011. Hanya oleh Kasih Karunia Allah. From http://didaktis.blogspot.com/2011/05/efesus-21-7.html, 19 Maret 2012

Komentar