Sesuatu yang baru, baik itu berita aktual, segala informasi atau apapun yang baru mendorong naluri kita menjadi ingin tahu. Apalagi jika ‘sesuatu’ tersebut adalah topik yang hangat, yang menarik dan semua orang membicarakannya. Dengan mengetahui atau menguasai ‘sesuatu’ yang baru tersebut, akan bermanfaat pertama-tama bagi diri sendiri, karena akan menambah wawasan kita. Juga bermanfaat bagi orang lain yang kebetulan belum tahu dan bertanya kepada kita. Sehingga kita bisa menjelaskannya.
Naluri ingin tahu atau keingin-tahuan adalah sangat wajar jika dalam batas-batas tertentu dan selama bermanfaat. Karena pada kenyataannya, ada keingintahuan yang berlebihan, yang sebetulnya tidak bermanfaat, tetapi sering tidak disadari karena hanya untuk mengejar nafsu keingintahuan saja.
Di dalam Yoh. 21:22, Yesus menegur Petrus karena keingintahuannya. Kata Yesus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku."
Keingintahuan Petrus (di dalam ayat 21), "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?"
Yesus menegaskan bahwa ia (orang yang ditanyakan Petrus) adalah bukan urusan-mu (Petrus). Dan dilanjutkan dengan kalimat : “Tetapi engkau: ikutlah Aku.â€
Jawaban Yesus sangat mengena, dimana Dia menghendaki Petrus untuk memikirkan tugasnya saja, yaitu mengikut Dia. Yesus ingin perhatian Petrus tidak terpecah dengan hal lainnya. Yesus ingin perhatian Petrus tertuju hanya padaNya, pada tugas pengutusanNya yaitu menggembalakan domba-dombaNya.
Demikian juga di dalam kehidupan kita sebagai pengikut Yesus. Sudahkah perhatian kita tertuju hanya padaNya. Jangan-jangan kita sudah terjerat pada banyak hal lain yang ingin kita ketahui, yang bukan urusan kita. Sehingga tanpa kita sadari, perhatian kita sudah terpecah-pecah, yang menyebabkan kita lupa kemana tujuan hidup kita yang sebenarnya.
(Kol. 3:2) Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.
(Mat 6:33) Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.