Meneladani alam
Ketika saya masih di Indonesia, saya mempunyai pemikiran bahwa Korea Selatan adalah negeri yang penuh dengan pemandangan indah, baik alam maupun bangunan yang rapi sesuai dengan apa yang saya lihat lewat gambar-gambar.
Namun kenyataannya sangat berbeda dengan apa yang saya hayalkan, mengapa tidak, waktu tiba di Korea Selatan adalah penghujung musim dingin 23 Februari 2005, dan yang saya lihat hanyalah segumpal salju membatu yang tersisa sejauh mata memandang, situasi pun sangat gersang karena pohon-pohon hanya tinggal batang dan dahan saja tidak ada daun lagi serta bangunan masih diselimuti salju, dingin pun langsung menusuk keseluruh tubuh ketika kami keluar dari airport.
Inikah yang dinamakan negeri makmur dan mempunyai pemandangan yang indah? Pertanyaan itu merasuk dalam hatiku dengan penuh keraguan untuk menjalani hidup di Korea Selatan.
Dan apa yang terjadi satu-dua bulan kemudian…
Pohon-pohon, bunga-bunga dan tumbuhan-tumbuhan lainnya pun mulai bereaksi dengan kedatangan kami seraya inilah penyambutan mereka, bagaimana tidak,… pemandangan yang awalnya tidak ada harapan dan gersang namun mereka memperlihatkan, dengan hanya memiliki waktu yang sedikit, mereka menggunakan segala potensi yang dimiliki mereka untuk menyambut kami.
Musim semi hanya berlangsung selama tiga sampai empat bulan namun mereka bekerja keras mengambil sari makanan yang ada dalam tanah dan mendistribusikan ke segala bagian tubuhnya sampai ke ujungnya sesuai kebutuhan dengan adilnya tanpa henti-hentinya siang dan malam dengan kerjasama yang kompak, mereka ingin menyambut kami, walau mereka tahu umur mereka hanya sekejap namun mereka dengan gigihnya menunjukan daya tarik agar kita yang melihatnya dapat terkagum dengan apa yang ada pada mereka dan memuliakan PenciptaNya.
Akhirnya daun yang beraneka warna dan bunga yang beraneka jenis mengambil posisi di depan mata untuk menunjukan dan memberi sambutan dengan makna “teladanilah kamiâ€, walau waktu hanya sekejap untuk memberi arti bagi alam namun kami tidak melihat waktu tapi kami melihat kebutuhan serta talenta yang harus dikembangakan sehingga kami berusaha tepat waktu untuk memberi kontribusi yang sesuai dengan potensi yang diberikan oleh Sang Pencipta yaitu Tuhan Yesus Kristus untuk memuliakanNya karena Dia layak, marilah lihat kami dan teladani kami, itulah makna alam yang menyambut kami.
Tuhan berikan kami mata dan indera lain agar kami dapat dimampukan untuk meneladani alam yang dengan tekun memuliakanMu tanpa mementingan diri sendiri dan mencari pemujian untuk diri sendiri karena hasil pelayanan mereka yang berhasil.(meky, 25 Desember 2006)