Quo Vadis Kristologi?

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Sebuah analisa rekonstruksi Kristologi tradisional ketika diperhadapkan dengan dinamika kontroversi Kristologi masa kini.

Sejak awal kekeristenan sampai sekarang terus bermunculan kontroversi-kontroversi Kristologi, bahkan terus berkembang semakin menggegerkan. Kristologi menjadi menu yang memberikan keuntungan bagi pihak orientalis dan antikristus. Karena besarnya kekuatan konspirasi berbagai pihak, termasuk kelompok teolog, bidah, orientalis, ilmuwan, seniman, sutradara dan media-media global yang berorientasi pada ketenaran, oportunitas dan uang; maka akhir-akhir ini tantangan terhadap Kristologi itu seperti kekuatan yang siap untuk meruntuhkan fondasi kekristenan yang telah dibangun lebih dari dua millennium itu.

Anda mungkin mengenal buku karya Elaine Pagels, Beyond Belief (Random House, 2003), yang menaruh Injil Thomas yang terdapat dalam kepustakaan Nag Hammadi sebagai injil kelima untuk melengkapi injil Kanonika. Pagels menafsirkan, bahwa Yudas Iskariot, yang menurut injil kanonika itu adalah penghianat; dianggap sebagai murid kesayangan Kristus dan penghianatannya dianggap perintah Kristus. Apa yang anda pikirkan ketika berkenalan dengan novel, The Da Vinci Code, karya Dan Brown yang berusaha memasyurkan Injil Maria (-Magdalena) dan Injil Filipus dan juga Naskah Nag Hammadi yang di dalamnya terdapat konsep tentang Kristus menikah dengan Maria Magdalena? Kemudian membaca karya Bart D. Ehrman, Misquoting Jesus, yang berisi penghakiman, bahwa bapa-bapa gereja telah memanipulasi Injil kanonik. Ia mengatakan bahwa kekristenan yang hilang yaitu kekristenan yang terdapat dalam Injil-Injil Nag Hammadi.

Bagaimana dengan The Lost Gospel, karya Herb Krosney (National Geographic, 2006) yang menarasikan penemuan Injil Yudas? Ia mengungkapkan: "Injil Yudas akan membuka pengetahuan tentang sejarah dunia yang selama ini tidak menarik--tentang kekristenan dan memberikan penafsiran baru tentang Yudas Iskariot dalam hubungannya dengan Yesus." Demikian juga dengan Marvin Meyer yang menterjemahkan The Gospel of Judas, dan karya sejenisnya, The Secret of Judas. Lalu bagaimana dengan The Lost Tomb of Jesus? Ditemukannya kotak penyimpanan tulang belulang yang memuat tulisan, "Yakobus, anak Yusuf, saudara Yesus". Makam Yesus dan jasad-Nya telah ditemukan! Kristus tidak bangkit!

Terdapat mata rantai yang menghubungkan ide-ide dalam karya-karya tersebut, yaitu "Upaya-upaya 'membuktikan' bahwa Alkitab salah dan Yesus bukan Allah!" Ironis, kontroversi yang terjadi sekarang ini tetap berkisar pada pertanyaan historis mengenai, keilahian Kristus. Untuk menyanggah pandangan ini, para teolog terjebak ke dalam dua kutub; pro dan kontra. Kelompok kontra sebagai "barisan sakit hati" membela dengan pernyataan-pernyataan klasik yang tidak populer dan kelompok pro lebih cenderung menganggapnya sebagai dinamika konsientisasi iman. Kedua kutub ini terakumulasi untuk menjawab pertanyaan dilematis, tentang apakah Kristus itu Allah atau manusia atau kedua-duanya atau ilusi? Belum tersedia jawaban ya atau tidak! Tidak tersedia jawaban yang konsisten untuk pertanyaan tentang keabsahan keilahian kristus ini! Mengapa sulit memberikan jawaban yang valid? Analisanya ada ada dua kemungkinan, yakni: karena pendekatan dan identifikasi terhadap Kristologi masih ambigu!

1. Pendekatan Kristologi Yang Ambigu

Sulit untuk menetapkan metodologi yang permanen dalam menafsirkan Kristologi. Metodologi apa yang cocok? Apakah metodologinya harus didasarkan pada sisi kemanusiaan-Nya atau dari sisi ilahi-Nya? Sampai saat ini memang ada dua metode dominan yang sering digunakan untuk interpretasi Kristologi, yakni "Christology from below" dan "Christology from above". Metode Kristologi modern menggunakan metode "from below", dengan alasan, Kristologi harus didasarkan pada apa yang diketahui -- revealed. Pendekatan ini, dipakai oleh Emil Brunner, tokoh utama Dialectic Theology, dan Heinrich Vogel (Cristology and Dogmatic). Pendekatan "Christology from below", adalah metode yang digunakan oleh gereja abad pertengahan. Para ahli yang menggunakan metode ini di antaranya: Marthin Luther (Incarnational Christology), tokoh-tokoh Rasionalisme dan Schleiermacher. Pada abad ke-19,
digunakan oleh Albrecht Ritschl, Wilhelm Herrmann, Werner Elert, Paul Arthaus, Carl Heinz Ratschow dan yang paling khusus adalah Friederich Gogarten dan Gerhard Ebeling.

Lain halnya dengan Karl Barth (Church Dogmatic), ia menggunakan metode "Christology from above" to "Christology from below". Kedua pendekatan Kristologi ini sama-sama tidak dapat mempertahankan keilahian Kristus dan juga tidak membela kemanusiaan-Nya atau sebaliknya. Tidak seimbang! Tidak ada kesatuan dalam penyajian konsep Kristologi di Perjanjian Baru, atau apakah kita harus menyimpulkan bahwa Perjanjian Baru berisi bermacam-macam pandangan? Kenyataaan terungkap berdasarkan penelitian Fuller, bahwa konsep-konsep Kristologi terdiri dari beberapa lapisan pemikiran yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Lapisan itu adalah: "Lapisan Palestina mula-mula", "Lapisan Yahudi-Yunani" dan "Lapisan misi bagi orang bukan Yahudi mula-mula".

Apakah kita setuju dengan pembagian pemikiran ini atau ada lagi lapisan pekmikiran lainnya? Selain itu, ada upaya yang menjelaskan perbedaan pengertian mengenai hubungan antara kemanusiaan dan keilahian Yesus menurut Perjanjian Baru; usaha ini bertitik tolak dari perkembangan beberapa konsep, yakni: Adopsianisme, Kenotisime dan Doketisme. Adopsianisme, merupakan pandangan yang menyebutkan Kristus sebagai manusia biasa yang dibangkitkan serta ditinggikan oleh Allah pada kedudukan Tuhan dan pengertian ini dianggap sebagai pandangan Kristologi mula-mula. Kenotisisme, Filipi 2:6-10 adalah untuk penjelasan teori ini. Tetapi gagasan ini tidak cukup menjamin kemanusiaan yang sejati dan juga tidak mempertahankan keilahian-Nya. Sedangkan Doketisme, lebih menekankan keilahian Kristus daripada kemanusiaan-Nya, dan berarti bahwa Yesus bukan manusia yang sungguh-sungguh, tetapi semacam roh yang hanya kelihatan sebagai manusia. Padahal, seluruh Perjanjian Baru menekankan keseimbangan antara keilahian dan kemanusiaan-Nya yang sejati.

Perjanjian Baru dengan hati-hati menjaga keberadaan Yesus sebagai manusia yang sejati dan keberadaan-Nya yang sebenarnya sudah ada sebelum segala sesuatu ada. Tema Kristologi secara umum adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia di dalam Kristus. Dan Kristus itu sendiri adalah pusat dari Perjanjian Baru. Secara filosofi, beberapa ahli sudah memberikan penjelasan tentang Kristus, di antaranya: Agustinus, yang menjelaskan teologi Kristen menggunakan pendekatan Filosofi Neoplatonik, selanjutnya pada abad pertengahan, Thomas Aquinas, yang mendefinisikan jawabannya mengenai siapakah Yesus melalui pendekatan Filosofi Aristoteles. Pada masa Reformasi, baik Luther maupun Calvin, sangat menekankan keilahian dan kemanusiaan Kristus, dan kecenderungan itu berlaku sampai hari ini.

Pada abad ke-20 lalu, Paul Tilich, berusaha menstranslasikan pandangan Kristologinya dengan pendekatan Idealisme dan Eksistensialisme. Demikian juga dengan Charles Harsthorne dan kawan-kawan. Mereka mengadakan pendekatan Kristologi dengan istilah Filosofi Proses. Sebenarnya ada kata sepakat untuk menyebut siapa Kristus itu, tetapi untuk menjelaskannya perlu memakai berbagai alternatif. Apakah menggunakan metode "Christology from below" atau "Christology from above", secara filosofi, psikologi atau artistik dan sebagainya. Namun satu hal yang tidak boleh dilupakan, bahwa Alkitab adalah titik tolak untuk menjelaskan konsep Kristologi yang luas itu. Tetapi Alkitab tidak menyediakan pendekatan yang deskriptif dan final!

2. Identifikasi Kristologi Yang Ambigu

Biografi Kristus telah ditulis hampir lengkap dalam Kitab Suci. Dari asumsi pra-eksistensi-Nya, eksistensi dalam misi kemanusiaan-Nya, termasuk penyelesaian misi itu sampai Ia naik ke Surga. Ia membuka diri-Nya bagi dunia melalui Alkitab. Ia dianggap Revelator dan Perfektor seluruh rencana dan karya ilahi. Apapun keadaan-Nya, Ia adalah Allah yang berinkarnasi. Apa pun karya-Nya selama misi kemanusiaan-Nya, Ia adalah Seniman Agung yang mengukir sejarah dunia di bawah kekuasaan dan kedaulatan-Nya. Walaupun sedemikian jelasnya revelasi Allah ini, baik secara umum, maupun khusus; melalui media natural, konsiensi, personalitas, dan deskripsi biblikal, tetapi Dia tetap dianggap misteri ilahi. Secara tradisi Kristus dianggap sebagai 'core' teologi Kristen. Deskripsikan tentang eksistensi Kristus adalah, Ia adalah Allah dan Manusia sejati. Walaupun sulit untuk menjelaskan relasi kedua natur itu secara permanen, namun, apapun komentar mengenai Kristus harus berpijak pada kedua natur itu. Cara pandang apapun yang tidak sesuai dengan rumusan di atas, dianggap penyimpangan doktrinal. Semua orang bebas memberikan komentar terhadap Kristus; baik secara empiris, maupun didaktik.

Kebebasan ini, menyebabkan masing-masing orang cenderung beranggapan dan berpendapat subyektif dan mengabaikan realitas obyektifitas-Nya yang biblikal dan teologis. Terkait dengan identitas Kristus, terserah apa kata orang tentang Dia! Kaum moralis berkata: "Dia adalah Guru moral yang baik". Orang yang sakit berkata: "Dia adalah Dokter dan Tabib yang dahsyat". Para raja dan pemerintah berkata: "Dia adalah Lawan politik". Para psikolog berkata: "Dia adalah Psikolog yang handal". Para pengemis berkata: "Dia adalah seorang dermawan". Para nelayan berkata: "Dia adalah Nelayan yang sukses". Orang angkuh berkata: "Dia hanya pecundang". Anak-anak berkata: "Dia adalah Sahabat yang setia". Orang lemah berkata: "Dia adalah Penolong yang kuat". Orang beriman berkata: "Dia adalah Allah Penyelamat". Dan masih banyak lagi orang lain dengan cara pandang mereka yang subyektif tentang Kristus. Terserah! Definisi biblikal mengenai identitas Kristus, baik hermeneutis, eksegetis, filosofis, homiletis, bahkan psikologis pun, tetap menyisakan pertanyaan: Apa identifikasi Kristus yang fixed? Upaya ini harus dikerjakan sampai ditemukan sebuah konsep yang jelas dan seimbang.

Tetapi, tidaklah aneh, upaya seperti ini sering menyebabkan definisi Kristologi terbentur ke dalam world view yang ekstrim mengenai kutub humanitas dan divinitas-Nya. kedua kutub ini adalah kendala yang
menyejarah dalam teologi Kristen. Para penulis Alkitab, sejalan dengan inspirasi yang mereka terima, memberikan komentar yang menjadi konfesi keimanan pada hari ini dalam menunjukkan siapa Kristus itu yang sebenarnya. Para nabi dan para rasul sepakat berkomentar, bahwa Krsitus adalah Mesias yang dijanjikan, yang akan menebus umat-Nya dari dosa dan akan menjadi Jalan keselamatan. Di dalam ada hidup, kebenaran, keadilan, hidup kekal, damai, sukacita, pengharapan penuh dan keselamatan. Karena Dia dianggap sumber dari segala karakter ilahi, pekerjaan ilahi, pengetahuan ilahi, dan hidup itu sendiri, serta segala sesuatu ada yang telah dijadikan, maka, rujukan itu diakumulasikan ke dalam suatu pernyataan bahwa Yesus adalah Allah!

Walaupun demikian, akan timbul kesulitan jika menginginkan suatu pernyataan yang literal, deskriptif, dan eksplisit dari Alkitab, khususnya Perjanjian Baru mengenai identitas ke-Allah-an Yesus itu. Mengapa orang Kristen hari ini dengan gamblang mengatakan "Yesus itu Allah?" Sementara dengan panas hati ketika mendengar orang lain mengatakan "Yesus itu bukan Allah!"? Apakah efek pengakuan ini secara subyektif? Di sinilah letak pentingnya fondasi rujukkan itu! Apakah pernyataan dan deskripsi seseorang tentang Kritus itu biblikal? Atau hanya anggapan subyektif? Alkitab dianggap memberikan cukup sebutan, definisi, rujukan, pengagungan, gelar, dan identifikasi lainya tentang Kristus. Tetapi, apa yang merupakan identifikasi esensial dari rujukan itu dipertanyakan kembali oleh dunia, termasuk di dalamnya para teolog dan pengikut Kristus sendiri. Sebutan terhadap Kristus adalah Allah kurang mendapat penekanan dalam Alkitab.

Di satu sisi Alkitab memberikan identifikasi Kristus, baik melalui karya kemanusiaan dan keilahian-Nya secara memadai, tetapi di sisi lain, identifikasi yang memproklamasikan bahwa Kristus adalah Allah yang memang disebut dengan Allah juga [Yun: "Theos"] tidak jelas atau kurang mendasar dalam Alkitab. Itulah sebabnya gelar Allah untuk Kristus perlu dikaji ulang keabsahannya; apakah identifikasi itu hanya bersifat asumsi akumulatif dari berbagai pihak? Ataukah gelar itu merupakan terminologi yang absolut, definitif, biblikal, literal, konseptual, eksplisit, dan ortodoks? Terminologi ini penting untuk dikaji ulang demi menjawab komentar dan anggapan yang menyimpulkan secara ekstrim bahwa "Yesus Kristus tidak pernah mengaku diri sebagai Allah" dan "Alkitab sendiri tidak memberikan identifikasi jelas dan deskriptif untuk persoalan gelar "Allah" ini untuk Kristus.

Memang, doktrin Ortodoks mengajarkan dengan jelas, misalnya dalam Westminster Confession of Faith, [khususnya Artikel ke-viii.2] mengenai "Christ the Mediator", disebutkan bahwa: "Yesus Kristus adalah Anak Allah, sebagai pribadi kedua di dalam Tritunggal, yang adalah sungguh-sungguh Allah yang kekal, mempunyai satu hakekat yang sama dan setara dengan Allah… Pribadi itu adalah sungguh-sungguh Allah, dan sungguh-sungguh manusia, tetapi satu Kristus, yang merupakan satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia." Tetapi, identifikasi dalam konfesi ini sangat filosofis!

By God's Grace