DUA MACAM MOTIVASI

Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman.
Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu,
bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu?
Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.
2 Kor 13:5

Hampir lima belas tahun yang lalu, waktu itu saya masih anggota persekutuan pemuda remaja. Di gereja saya, ada seorang teman yang selalu mengeluh dan tidak puas dengan apa-apa yang telah dan sedang gereja lakukan. Dengan penuh semangat dia selalu memberikan kritik kepada gereja, diantaranya demikian: Mengapa gereja hanya mementingkan kepentingan sendiri? Mengapa gereja hanya melayani jemaatnya sendiri? Mengapa gereja tidak ikut memikirkan kondisi masyarakat di sekitar yang menderita? Mengapa gereja tidak mau merangkul para tuna susila, narapidana, tuna wisma?

Sebagai pemuda, saya sendiri ikut terbakar dengan semangat teman saya tadi. Kebetulan saya menjabat sebagai ketuanya. Tapi untuk merealisasikan keinginan-keinginan tersebut tidaklah mudah. Ada banyak aturan yang harus dilewati, selain itu ada pro dan kontra dari kami para pemuda sendiri maupun dari majelis gereja. Jadinya kami tidak bisa bergerak, tetapi kami tetap bergumul dan berpikir keras untuk mewujudkan keinginan kami. Kami mengusahakan kegiatan-kegiatan kecil tetapi kami usahakan bermanfaat bagi orang lain. Seperti menanam pohon-pohon di jalan-jalan, memberi makan abang beca, kerja bakti.
Rupanya kegiatan-kegiatan di atas tidak berhasil memuaskan hati teman saya. Diapun terjun ke dunia politik, dengan alasan dia pasti akan bisa berbuat banyak untuk sesama. Seperti biasa, diantara kami ada yang pro dan yang kontra.

Baru-baru ini saya menyempatkan diri berkunjung di gereja saya. Sayapun menghubungi beberapa teman pemuda dahulu. Berita yang saya dengar mengenai teman saya sangat mengejutkan hati saya. Disamping karena dia tidak pernah lagi menginjakkan kakinya ke gereja, ternyata dia sudah berpindah agama dan yang paling menyedihkan dia dikabarkan sudah beristeri lagi. Siapa yang salah?
Saya mencoba merenungkan mengapa dia bisa bersikap demikian. Benar-benar terlukakah dia?

Saya mulai menangkap ada motivasi yang salah disini dan sayangnya saya tidak merasakannya waktu itu. Teman saya merespon kasih Tuhan dengan melakukan segala sesuatu yang dia inginkan supaya Tuhan berkenan kepadanya. Segala cara dia lakukan untuk mewujudkan keinginannya untuk menyenangkan Tuhan. Dan pada waktu dia terlalu sibuk dengan motivasinya, Tuhan tidak semakin mendekat tetapi dia rasakan semakin jauh, semakin sulit dijangkau.

Tuhan mengasihi manusia bukan karena apa-apa yang telah manusia lakukan. Tuhan mengasihi manusia apa adanya. Tuhan melihatku apa adanya, bukan apa yang ada padaku. Tuhan tidak pernah melihat embel-embel yang melekat pada diriku. Tidak peduli aku ini pejabat, pendeta, pengemis sekalipun. Dia mengasihiku dengan melihat keberadaanku saja.
Ini adalah hal utama yang harus kita terima, sehingga apapun yang kita lakukan selanjutnya adalah dengan bermotivasi syukur dan terima kasih saja.

Kita tidak perlu mengusahakan sesuatu apapun, karena Dia mengasihi kita terlebih dahulu. Menyadari kasihNya yang tanpa pamrih, membuat kita begitu berharga dan memang kita sangat berharga dimataNya. Apa langkah kita selanjutnya? Dengan sendirinya kita akan mengarahkan segala motivasi yang ada di hati kita dengan berpusat hanya padaNya saja, pada kasihNya dan pada pengampunanNya. Amin.

Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah,
tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya
sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. 1 Yoh 4:10