Sangat terkejut ketika anak saya mengatakan saya 'bohong' gara-gara hal yang 'bagi saya' sepele,
tetapi ternyata bagi dia adalah suatu hal yang amat penting. Masalahnya hanya karena saya tidak tepat
mengatakan hari kedatangan ayahnya. Apa boleh buat, label bohong sudah terlanjur keluar gara-gara
kelalaian saya.
Beberapa hari lalu, saya kembali terkejut ketika anak saya mengatakan hal itu lagi,
malahan lebih parah, yaitu 'tukang bohong' gara-gara saya lupa membawakan minuman yang dia pesan
pada waktu menjemput dia dari latihan basket di sekolah. Padahal dia sudah berpesan dengan jelasnya,
saya harus membawakan minuman kesukaannya selagi menjemputnya. Dan kembali gara-gara lupa,
saya harus menanggung akibatnya bahkan dikatakan sebagai 'tukang bohong'.
Kalau hanya kata bohong, mungkin saya tidak cemas. Tetapi kali ini tukang bohong. Sungguh, membuat
saya berpikir keras untuk menebus kelalaian tersebut. Karena dilihat dari sudut manapun, saya memang bersalah, saya tidak bisa menemukan satu alasanpun yang tepat, sehingga pada akhirnya saya meminta maaf padanya.
Demikian juga dalam kehidupan kekristenan. Banyak saya jumpai kelalaian-kelalaian yang mungkin kadang dianggap suatu hal yang sepele, tetapi sebenarnya tidak. Bagaimana mungkin seorang yang sangat aktif di dalam pelayanan, tetapi mempunyai musuh di dalam kehidupan di luar gerejanya. Bagaimana mungkin, seorang yang suka berapi-api dalam kesaksiannya, tetapi berseteru dengan suaminya sendiri. Bagaimana mungkin seorang guru sekolah minggu yang demikian sabarnya, tidak segan-segan memaki-maki pembantunya di rumah. Dan bahkan ada pendeta yang suka kebut-kebutan, gampang mencela bahkan merokok. Apakah ini hanya contoh-contoh saja?
Tidak saudaraku! Semua hal di atas benar-benar terjadi.
Anak saya lalu bertanya kepada saya, apakah saya mencintainya. Saya berpikir mengapa dia menanyakan itu. Dan saya sadar mungkin dia bingung melihat saya. Bagaimana saya bisa berkata ya saya mencintaimu tetapi pada prakteknya saya lupa melakukan apa yang sudah saya janjikan. Bukankah dapat dikatakan saya tidak mencintainya. Karena terbukti saya menyepelekan atau menganggap remeh permintaannya. Kalau saya mencintainya pastilah saya tidak akan pernah mengecewakannya.
Demikian juga halnya dengan iman kita. Dengan lantang kita akan mengaku ya Tuhan aku mencintaiMu!
Ya Tuhan aku mengasihi-Mu! Puji syukur atas anugerah keselamatan-Mu, terima kasih atas kesetiaan-Mu. Tetapi kita tidak melakukan apa yang sudah Tuhan inginkan, yang sudah jelas-jelas tertulis dalam Alkitab. Bukankah kita adalah 'Tukang Bohong' di mata-Nya?
Firman Tuhan jelas mengatakan, kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Tetapi pada prakteknya
banyak orang-orang kristen yang tidak demikian. Bahkan bisa ditemukan dalam situs tanya jawab
rohani, mereka memaki-maki umat agama lain. Inikah yang Tuhan inginkan?
Dalam Efesus 4:1 dikatakan:
Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.
Apa artinya berpadanan? Itu menunjuk pada ayat selanjutnya yaitu (ayat 2):
rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.
Dalam Kolose 3:3;
Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.
ayat 25:
Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu,
karena Tuhan tidak memandang orang. Dan masih banyak hal yang dituliskan.
Yesus datang tidak hanya memberitakan Injil-Nya, tetapi juga memberikan teladan kehidupan.
Tidak hanya mengajar, tetapi juga melakukan sama persis seperti apa yang dikatakan.
Demikian juga kita sebagai pengikut-Nya. Hendaknya kehidupan kekristenan kita sesuai
dengan apa yang telah kita terima. Dimana Kristus telah menebus dosa kita, hendaknya
kita mengimbangi dengan memenuhi keinginan-Nya. Melakukan perintah-Nya.
Puji Syukur tak terhingga karena Tuhan kita adalah Maha Kasih juga Pengampun.
Sehingga ada tempat bagi kita untuk mengaku dosa dan memperbaharui hidup kita.
Jikalau kita sungguh-sungguh mengasihiNya, kita akan berusaha hidup sesuai dengan
kehendak-Nya. Atau jangan-jangan kita belum mengenal-Nya?
1 Yoh 3:6;
Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi;
setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.
Naomi