Persembahan Persepuluhan adalah topik yang selalu menarik untuk didiskusikan, terutama orang Kristen dari gereja Protestan dan gereja Pantekosta atau Karismatik. Gereja saya tulis 'g' kecil karena mengacu kepada golongan dalam Gereja Tuhan. Saya percaya bahwa semua golongan itu diijinkan Tuhan ada di dunia sebagai kekayaan Tubuh Kritus sebagaimana Tuhan juga menciptakan beribu suku bangsa, budaya dan bahasa.
Orang Kristen dari gereja Pantekosta mendasarkan perpuluhan pada Maleakhi 3:10 (Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan), sedangkan gereja Protestan mengatakan itu telah disempurnakan Tuhan dalam PB di 2 Korintus 9:7 (Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita) dan Roma 12:1 (Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati).
Saya sendiri lahir dan dibaptis di gereja Protestan – dan sampai sekarang pun masih beribadah di gereja Protestan. Waktu itu saya agak 'alergi' mendengar kata persembahan Persepuluhan, dimana asumsi saya langsung merujuk kepada ajaran di gereja Pantekosta. Karena saya anggota jemaat gereja Protestan maka saya merasa tidak terikat dengan hal itu. Di gereja diajarkan bahwa: "Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." "Persepuluhan itu pasti jumlahnya besar," pikir saya, karena waktu itu saya belum bekerja, "Jadi sayang sekali. Kalau saya memberikan dengan terpaksa nanti Tuhan 'tidak mengasihi' saya."
Seiring dengan berjalannya waktu, saya mencoba belajar mengalami sendiri firman Tuhan, walaupun saya tidak begitu paham. Saya merasa tidak akan bisa memahami firman Tuhan secara sempurna, tetapi melalui Roh Kudus dan perjalanan waktu, pasti arti rahasia firman Tuhan itu akan disingkapkan kepada saya. Saya berjanji bahwa nanti kalau sudah bekerja saya akan memberikan persembahan Persepuluhan, walaupun di gereja saya tidak diajarkan tentang hal itu.
Saya bekerja pertama kali di Jakarta, dan belum mendaftar menjadi anggota jemaat di satu gereja. Karena di Semarang saya anggota jemaat GKJ (Gereja Kristen Jawa), maka di Jakarta saya ke beribadah di GKJ Rawamangun. Tetapi saya juga ke gereja Baptis di Kampung Melayu, atau diajak teman ke gereja Betel di Tebet. Terkadang diajak saudara ke GKMI di Kramat Raya.
Pada bulan pertama masa percobaan, gaji yang saya terima sebesar seratus tujuh puluh lima ribu rupiah. Saya ingat persis jumlah yang saya terima waktu itu. Sesuai dengan janji saya pada Tuhan mengenai persembahan Persepuluhan, saya ambil sepuluh persennya yaitu sebesar tujuh belas ribu lima ratus rupiah, dimasukkan ke dalam amplop dan saya tulis "Persembahan Persepuluhan - NN". Pada hari minggu saya bersama teman beribadah di gereja Baptis di Kampung Melayu; jadi di sana amplop persembahan Persepuluhan saya masukkan ke kantong persembahan. Ada sukacita yang besar pada waktu itu, karena Tuhan memampukan saya untuk melaksanakan satu firman Tuhan dalam Maleakhi 3:10. Saya berdoa kepada Tuhan supaya selalu diberi kemampuan untuk setia memberikan persembahan Persepuluhan kepada Tuhan.
Berikutnya setiap menerima gaji, saya selalu sisihkan sepuluh persen, dimasukkan ke dalam amplop dan ditulis "Persembahan Persepuluhan - NN". Saya masukkan amplop persembahan Persepuluhan itu ke kantong persembahan di gereja mana saja saya beribadah pada hari minggu.
Terus hidup saya sendiri bagaimana? Dari awal bekerja saya sudah membiasakan diri hidup dengan menggunakan 90% dari penghasilan yang saya terima - jadi hal itu sama sekali tidak menjadi masalah. Dalam hal keuangan, saya melihat bukti firman Tuhan terjadi dalam hidup saya. Walaupun gaji pertama seratus tujuh puluh lima ribu rupiah dikurangi persembahan Persepuluhan sebesar tujuh belas ribu lima ratus rupiah, sehingga tinggal seratus lima puluh tujuh ribu lima ratus rupiah - tetapi jumlah itu cukup untuk saya hidup di Jakarta selama satu bulan. Firman Tuhan itu ajaib, ya dan amin.
Bulan berikutnya saya diangkat menjadi karyawan tetap dan gaji saya naik lagi. Persepuluhan jadi lebih banyak lagi. Kebutuhan hidup saya tetap menggunakan 90% dari penghasilan yang saya terima dan selalu dicukupkan oleh Tuhan bahkan makin ditambah-tambahkan oleh Tuhan.
Saat akan menikah saya sampaikan komitmen mengenai persembahan Persepuluhan ke istri yang berasal dari gereja Protestan (GKJ). Pertama kali terasa cukup berat karena itu adalah awal dari istri saya memberikan persembahan Persepuluhan setelah bekerja sekian lama. Tetapi akhirnya pengalaman hidup yang saya sampaikan bisa menguatkannya untuk berkomitmen memberikan persembahan Persepuluhan dengan setia setelah menikah.
Saat menikah saya juga meminta istri untuk behenti bekerja, karena Firman Tuhan mengajarkan kepada saya supaya kembali melaksanakan hukum Tuhan dalam berumah tangga. Suami bekerja keras memenuhi kebutuhan rumah tangga, istri mengatur rumah tangga dan mendidik anak sesuai firman Tuhan. Suami adalah imam dan kepala rumah tangga, istri adalah penolong yang sepadan.
Jadi saat menikah kami diperhadapkan pada kondisi: istri berhenti bekerja, gaji saya yang boleh dipergunakan adalah 90% karena yang 10% untuk persembahan Persepuluhan. Sedangkan kebutuhan yang harus ditanggung adalah selain kebutuhan kami berdua (saya dan istri), juga harus mendukung keperluan keluarga saya dan keluarga istri jika diperlukan. Jadi secara matematika penghasilan saya yang 90% akan sangat kurang sekali untuk mencukupi semua kebutuhan itu.
Tetapi lagi-lagi Tuhan menunjukkan keajaibannya di dalam hidup rumah tangga kami. Setiap bulan Tuhan mencukupkan semua keperluan hidup kami dengan tidak berkekurangan. Setiap menerima gaji, istri memisahkan 10% untuk persembahan Persepuluhan dan kami tumpang tangan untuk mendoakan dan mengucap syukur atas berkat yang telah kami terima. Tentunya juga mendoakan supaya Tuhan memberkati 90% gaji yang akan kami pergunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup selama satu bulan.
Dari Persepuluhan pertama saya yang berjumlah lima digit (tujuh belas ribu lima ratus rupiah), Tuhan memberkati secara luar biasa sehingga persembahan Persepuluhan saya meningkat menjadi enam digit – dan bahkan sekarang menjadi tujuh digit. Selama itu saya merasakan berkat-berkat Tuhan yang tidak berkesudahan. Bukan hanya soal persembahan Persepuluhan, tetapi Tuhan juga memberikan kemampuan kepada saya dan keluarga untuk bisa mendukung pelayanan Tuhan di Gereja maupun di Persekutuan.
Memberikan persembahan Persepuluhan bukan merupakan beban, tetapi sebuah sukacita dan sebuah perayaan hubungan yang akrab dengan Tuhan yang senantiasa setia memberkati hidup saya & keluarga. Bahkan persembahan persepuluhan sampai delapan digit pun sama sekali tidak menjadi beban, karena itu semua asalnya dari Tuhan sendiri.
Jika melihat itu semua, apakah saya bersusah payah dan sangat menderita untuk bisa memberikan persembahan Persepuluhan. Jawabnya, "Sama sekali TIDAK" - karena sebetulnya Tuhan sendiri yang menyediakan semuanya itu. Saya tidak bersusah payah mengencangkan ikat pinggang untuk bisa memotong 10% gaji untuk Persepuluhan. Saya hanya berusaha berkomitmen untuk melaksanakan salah satu perintah Tuhan dalam Maleakhi 3:10, dan setelah itu Tuhan sendiri yang memberikan kemampuan semua pertolongan agar firman itu terlaksana dalam hidup keluarga saya.
Tuhan meminta saya untuk menguji kebenaran firman itu: "... ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan" dan saya sudah mengujinya selama 17 tahun. Janji firman Tuhan itu telah saya dan keluarga saya buktikan sendiri.
Sekarang ini kalau saya berbicara soal persembahan Persepuluhan di gereja orang kadang berkata, "Ya ... Bapak bisa berkata seperti itu karena berkatnya banyak. Jadi memberikan persembahan Persepuluhan tidak menjadi masalah." Pertanyaan seperti itu biasanya dikatakan oleh orang atau keluarga yang tidak pernah memberikan persepuluhan sebelumnya - mereka sudah terbiasa memakai 100% penghasilan mereka untuk mencukupi kebutuhan. Tetapi saya bersyukur karena ada juga keluarga-keluarga yang mulai berani untuk mencoba menguji kebenaran firman Tuhan mengenai persembahan Persepuluhan tersebut. Setelah beberapa bulan, biasanya mereka datang kepada saya dengan tersenyum lebar, "Memang firman Tuhan itu ya dan amin. Justru saat saya memberikan persepuluhan, Tuhan mencukupkan semua kebutuhan keluarga saya secara ajaib."
Saya juga bersyukur saat membaca laporan keuangan gereja, karena mulai banyak kaum muda yang memberikan persembahan Persepuluhan. Saya jadi teringat kembali kepada semangat muda saya untuk setia kepada firman Tuhan saat pertama kali bekerja. Saya percaya, komitmen para kaum muda untuk melaksanakan firman Tuhan akan dihargai dan diperhitungkan oleh Tuhan sendiri - seperti yang telah saya alami selama ini.
Sekarang ini saya dan keluarga tetap menjadi anggota jemaat di gereja Protestan (GKO), dan setiap awal bulan istri saya dengan sukacita memasukkan amplop persembahan Persepuluhan keluarga ke dalam kantong persembahan dengan tulisan, "Persembahan Persepuluhan - NN."
---------------
(Indriatmo)