Engkaukah Itu?
Aku akan selalu ingat, waktu kelas empat SD, dibonceng sepeda teman kakak yang jagoan
dan ngebut dan akhirnya kakiku masuk jeruji roda sepeda dan jatuh berguling di jalan raya
dan hampir di tabrak mobil dan akhirnya tidak bisa berjalan sampai satu bulan.
Tapi bukan itu yang membekas di ingatanku, melainkan kejadian sesudah sembuh dan bisa berjalan,
dan masuk sekolah lagi, di hari pertamaku masuk sekolah, di kelasku.
Kebetulan hari itu ada test matematika, selagi mengerjakan soal tahu-tahu ibu guru sudah
di berdiri di sampingku, marah-marah melihat jawabanku, katanya bukan begitu cara mengerjakannya,
tidak boleh dihitung langsung, harus digambarkan satu persatu, sambil tangannya mencoret-coret
di kertasku terlihat marah sekali dan sangat kasar…
Aku diam saja, meskipun kaget sekali, tidak bisa protes karena memang tidak tahu apa itu protes,
tidak bisa menjawab karena memang tidak tahu apa yang musti kukatakan, aku baru masuk.
Aku mengeluarkan kertas baru, karena kertasku sudah dicoret-coret bu guru.
Aku kembali mengerjakan test, dengan air mata satu persatu jatuh, aku usap perlahan-lahan,
malu karena ada teman yang memperhatikan. Dari situlah aku mulai menyukai matematika,
yang sebelumnya aku suka IPA, karena gurunya ganteng dan baik hati.
Engkaukah itu? Yang mengajarku untuk melihat dunia, bahwa akan ada banyak ketidak-adilan nanti,
yang akan kuhadapi. Engkaukan itu? Yang menghapus luka di hatiku, yang membersihkan jiwaku
dari dendam, dan mengubahnya dengan syukur karena jadi suka matematika?
Engkaukah itu?
Aku akan selalu ingat, waktu kelas empat SD, menginap dirumah tante, yang punya anak balita
dua orang, dan aku sangat suka menjaganya, karena aku tidak punya adik.
Tapi bukan itu yang membekas di ingatanku, melainkan kejadian sewaktu di kamar
pembantu tanteku yang terletak di atas kamar mandi dan gudang, di lantai dua.
Sedang sembahyang rupanya dia, dan membaca alquran rupanya. Timbul keingin tahuanku,
apa yang sedang di bacanya, tapi dia tidak memperbolehkan aku untuk memegangnya,
dan cepat-cepat akan disimpannya.
Aku memaksa dengan menarik alquran itu, dan dia menarik juga dan tahu-tahu
aku sudah ada di lantai bawah, dadaku sesak, aku tak bisa bernafas dan gelap.
Engkaukah itu? Yang mengajarku untuk melihat dunia, bahwa harus ada hormat
diantara sesama. Yang juga melindungi kepalaku di waktu terjatuh, terjatuh dengan
kepala dahulu, tetapi tidak ada yang memar di tubuhku, cuma pingsan dan
kemudian sakit demam selama seminggu?
Engkaukah itu? Yang menemaniku di kala sakit, tanpa sepengatahuan orang tuaku,
karena tante bilang, tidak perlu ayah-ibu tahu, karena akan dilarangnya aku menginap
di rumah tante nanti. Pada waktu itu aku sangat sedih karena tidak ada yang mendekapku
dan menemaniku tidur, badanku sangat panas, ohm dan tante tidak dirumah. Takutnya...
Tapi sejak itu aku menjadi gadis kecil yang tidak cengeng tetapi pemberani, amat berani.
Engkaukah itu?
Aku akan selalu ingat, waktu kelas empat SD, mau naik ke kelas lima, mau ada perpisahan
kakak kelas enam, mau mengisi vokal rupanya teman-teman sekelasku. Dan akupun ikut
menyanyi bersama, dan terpilih untuk menyanyi solo di tengah-tengahnya, dan banyak
kakak kelas enam menangis, sambil mengatakan suaraku sangat memelas, bukan merdu.
Tapi bukan itu yang membekas di ingatanku, melainkan kejadian sebelum pemilihanku
menyanyi solo, ada satu guru yang ngotot memilih temanku yang lain, sampai-sampai
aku dan temanku disuruh bernyanyi bergantian untuk menentukan siapa yang akan menyanyi.
Aku ingat sekali mengapa guru itu ngotot memilih temanku, karena dia les privat dengannya rupanya.
Engkaukah itu? Yang mengajarku untuk melihat dunia,
bahwa ada manusia yang tidak tulus rupanya.
Engkaukah itu?
Aku akan selalu ingat, waktu kelas lima SD. Aku sedang di rumah seperti biasa,
banyak teman-teman kakak yang datang, karena kakakku laki-laki ada tiga,
sehingga banyak temannya selalu datang, dan yang salah satunya ingin menjahatiku
rupanya, ingin menjamahku rupanya, yang pada waktu itu aku tidak tahu istilahnya,
tetapi aku tahu dari sinar matanya, bahwa dia sungguh mengerikan dan pasti itu sinar mata setan.
Engkaukah itu? Yang menggerakkan kakak perempuanku, untuk mencariku,
disuruhnya aku menyapu rupanya. Dan dengan sapu teracung di tangan kakakku,
larilah teman kakakku tadi, sebelum sempat mengapa-apakan aku.
Engkaukah itu? Yang mengajarku untuk melihat dunia,
bahwa akan ada manusia tetapi seperti binatang kelakuannya.
Engkaukah itu?
Ada satu temanku bermain di rumah, anak tetangga depan rumah, dia cacat mukanya,
tetapi tidak tahu mengapa aku menyayanginya, sering kubela dia kalau ada yang menghinanya,
bisa sampai berantam pula. Aku tidak pernah takut, karena aku merasa sakit jika ada orang
yang menghina temanku itu.
Tapi bukan itu yang membekas di ingatanku, melainkan kejadian-kejadian yang terjadi
diantara kami, dia akan memutuskan hubungan pertemanan jika ada hal kecil saja yang
tidak membuatnya senang, dan aku dengan berat menerimanya, sambil mencuri-curi
lihat rumahnya dari belakang jendela, takut ketahuan olehnya, karena pantang kata
temanku tadi kalau aku terlihat sedang mengamati rumahnya, tidak boleh katanya.
Dan pada suatu sore, aku sedang memetik bunga melati di halaman rumah.
Ibuku suka tiap kali aku memetikkan melati untuknya dan menaruhnya
di mangkok berisi air, dan kutaruh dikamarnya. Aku naik di atas pompa air karena pohon
melati itu tinggi, dan tahu-tahu temanku yang tadi sudah berada di bawahku, dan dia menjalankan
pompa itu sehingga kakiku terjepit, sobek, berdarah banyak sekali, dan temanku tadi tertawa
puas, sambil menjulurkan lidahnya dan tertawa-tawa lari pulang ke rumah.
Dengan pucat aku turun dan melihat kakiku yang sobek.
Engkaukah itu? Yang mengajarku untuk mengikat kakiku, sehingga darahnya berhenti,
yang membuatku mengantuk, sehingga tertidur, sehingga tidak perlu melihat luka tadi,
yang setelah bangun sudah ada simbok yang bingung bertanya apa yang terjadi, tetapi ku
lihat kakiku sudah bersih, dan terbebat rapi.
Engkaukah itu? Yang mengajarku untuk melihat dunia, bahwa akan banyak orang-orang
jahat, yang akan menjahatiku, meskipun aku sudah berusaha menjadi baik.
Engkaukah itu?
Aku akan selalu ingat, waktu kelas lima SD, ada pelajaran ketrampilan,
kami disuruh membuat tas dari kain. Aku membeli kain mori yang murah,
dan membuat tas sekolah yang indah di rumah temanku, yang mamanya penjahit,
yang aku boleh pinjam mesinnya, yang akan memberiku perca untuk hiasan tasku.
Dan yang akhirnya mamanya menjahitkan bagian yang sulit untukku juga temanku,
karena tidak sabar rupanya, kami menggunakan mesinnya terlalu lama.
Tapi bukan itu yang membekas di ingatanku, melainkan kejadian sesudahnya.
Sesudah guru kami memilih tasku untuk disimpan di almari hias di kelas,
karena bagus kata guruku. Tiba-tiba saja aku dipanggil ke depan kelas keesokan harinya,
dan di hadapan teman-teman ditanyaiku siapa yang membuat tas itu,
akupun menjawab akulah yang membuatnya, dan bu guru berteriak keras sekali
‘pembohong!’, dan menunjuk temanku telah mengatakan hal sebenarnya kepada beliau,
bahwa tasku adalah buatan mamanya.
Aku ingat semua teman mengejekku, aku diam saja, sedih, tasku tidak jadi dipasang
di almari itu dan akupun menangis diam-diam, dalam hati.
Engkaukah itu? Yang mengajarku untuk melihat dunia, bahwa kebohongan ada di mana-mana,
dan itu menyakitkan, makanya pantang aku berbohong.
Engkaukah itu?
Aku akan selalu ingat, waktu itu kelas enam SD, ada lomba menyanyi solo di sekolah,
semua siswa boleh ikut, akupun ikut, dan siapa menyangka, aku juara 1.
Padahal kata temanku suaraku tidak merdu, tapi aku berani, tidak salah,
dan yang terpenting nadaku tidak ketinggian dan kerendahan sehingga menang.
Tapi bukan itu yang membekas di ingatanku, melainkan kejadian sesudahnya.
Dimana guru ketrampilanku masih mendendam padaku rupanya, dan membenciku
karena menurutnya sudah membohonginya, dan dengan alasan itu dia mencantumkan
angka enam di ijasahku untuk pelajaran menyanyi. Aku yang ingin menduduki rangking
ke tiga saja jadi tidak bisa karena angka enam tadi, ditengah-tengah angka sembilan dan delapan.
Engkaukah itu? Yang mengajarku untuk melihat dunia, bahwa kebencian ada dimana-mana,
dan itu merugikan, makanya aku tidak mau membenci siapapun. Aku sedih bukan karena dibenci,
tetapi lebih pada ketidak percayaan saja, aku yang juara menyanyi, tetapi mendapat nilai 6 untuk menyanyi.
Engkaukah itu? Yang memberiku kenangan indah di waktu SD, kenangan yang selalu ada
meskipun aku tidak bermaksud untuk mengingatnya, yang dari situ aku bisa belajar,
untuk menjadi orang yang baik, sehingga tidak merugikan orang lain. Dan yang lebih penting
aku akan selalu mencari Engkau, untuk mendengarkan kesedihanku, karena orang tuaku sudah
sangat sibuk dengan pekerjaannya, tiga kakakku laki-laki yang menganggap aku masih kecil,
dan satu kakak perempuanku yang menganggap aku sebagai pengganggu, sehingga tidak ada
siapa-siapa di hidupku sewaktu kecil, kecuali Engkau saja, yang setia menemani dan mendengarku.
Engkaulah itu.