Seperti biasa, pada hari Sabtu tanggal muda saya mengantar istri ke mall untuk belanja bulanan seperti susu, kebutuhan dapur dan yang lain. Setelah belanja bulanan dan meletakkan semuanya di bagasi, acara dilanjutkan dengan putar-putar untuk window shopping. Sebetulnya saya tidak terlalu suka dengan window shopping, karena biasanya berujung pada konsumsi barang yang tidak begitu diperlukan. Tetapi sebagai 'pemilik tulang rusuk' yang setia, saya terus mendampingi 'tulang rusuk' saya yang dengan gesit melakukan observasi produk-produk unggulan.
Perjalanan akhirnya terhenti di sebuah toko sepatu. Setelah berkeliling seperlunya, istri melihat sebuah sepatu yang menarik. Itu membuatnya mencoba dan seperti yang saya kawatirkan sebelumnya, istri merasa cocok. Harganya cukup lumayan. Tapi karena sudah jatuh cinta maka pembelian pun tidak bisa dihindarkan. Setelah minta untuk dibungkus dan dibayar di kasir, seperti biasa lagi, saya mendapat tugas membawa satu tambahan koleksi sepatu baru.
Sesampai di rumah, setelah semua belanja bulanan diturunkan, sekali lagi saya mempunyai tugas sebagai pengamat mode untuk menyelaraskan sepatu baru dengan busana yang ada. Tetapi kebahagiaan ini harus berakhir.... Sepatu yang dibungkus ternyata dua nomer lebih besar. Rupanya penjaga counter sepatu salah memasukkan sepatu.
Walaupun tidak sampai meledak besar tetapi saya tahu bahwa istri kecewa sekali. Saya mencoba menenangkan dengan mengatakan akan mengantar lagi besok setelah ibadah untuk mengembalikan lagi ke tokonya. "Tapi khan maunya dipakai besok..." -- itulah wanita ... Dengan negosiasi yang berat akhirnya istri bisa ditenangkan untuk tetap memakai sepatu yang lain untuk ke gereja esok harinya.
* * * * *
Pada hari minggu kita sekeluarga ibadah pagi. Saya melayani liturgi membantu bapak pendeta, sedangkan istri dan anak laki-laki saya duduk di kursi jemaat disamping ibu pendeta. Setelah selesai ibadah dan membereskan administrasi ibadah, saya konfirmasi lagi kepada istri untuk kembali ke toko sepatu, karena saya paling tidak bisa melihat 'tulang rusuk' saya uring-uringan. Semuanya bisa kacau balau kalau awan gelap menggantung di dalam rumah.
Ternyata jawabannya diluar dugaan saya, "Gak jadi. Kita cepat pulang saja". Waktu saya tanya, "Kenapa?" jawabnya, "Nanti saja". Saya agak was-was, jangan-jangan ada sesuatu yang tidak beres. Tapi waktu saya amati raut mukanya, nampak baik-baik saja, bahkan kelihatan lebih cerah - ada sukacita. Saya jadi bingung sendiri. Tetapi sebagai seorang laki-laki, menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh adalah sebuah kemampuan yang biasa ....
Sesampai depan rumah istri bilang, "Tunggu saja diluar", dan dia segera masuk ke dalam rumah dan keluar lagi dengan membawa kotak sepatu baru. "Kita jadi ke toko yang kemarin?" tanya saya heran, karena selesai ibadah istri bilang tidak mau. "Gak." "Terus kemana?" ... Nah berikutnya tidak ada lagi yang bisa menahan saya untuk tahu keseluruhan ceritanya walaupun saya seorang laki-laki.
Waktu ibadah, istri duduk di samping ibu pendeta. Seperti lazimnya semua wanita, istri mulai menjadi pengamat busana untuk orang yang ada di sekitarnya, tidak terkecuali terhadap ibu pendeta. Menurutnya hasil evaluasinya ada yang kurang matching di busana ibu pendeta, yaitu di sepatunya. Tapi tentu saja hal itu tidak diucapkan, hanya disimpan di dalam hati. "Belajar seperti Bunda Maria..." katanya. Kemudian secara iseng dia bertanya berapa nomer sepatunya?
Ternyata ukuran sepatu ibu pendeta, dua angka diatas nomer sepatu istri. Ini membuat istri langsung teringat akan sepatu barunya yang satu nomer kebesaran. Istri merasa bahwa itu adalah keajaiban Tuhan di ibadah minggu, sehingga dia ingin segera memberikan sepatu barunya ke ibu pendeta.
Puji Tuhan, ternyata Tuhan Yesus memberikan 'tulang rusuk' yang sangat spesial buat saya. Untuk hal-hal seperti itu saya tidak pernah berpikir dua kali untuk menyetujuinya. Ditambah bonus dua sun di pipi, saya mendukung sepenuhnya. Kita segera meluncur ke rumah Pendeta dengan membawa sebuah misi khusus: mengantarkan sepatu baru ....
* * * * *
Sesampai di rumah pendeta, istri memberikan kotak sepatu baru kepada ibu pendeta. Sambil menerima kotak sepatu, Ibu pendeta mengucapkan terima kasih, begitu juga bapak pendeta. Sebelum dibuka ibu pendeta bercerita kalau dia punya satu sepatu favorit tetapi sekarang sudah rusak. Waktu belinya sudah cukup lama.
Karena merupakan sepatu favorit, jadi kalau rusak selalu direparasi di tukang sepatu. Akan tetapi setelah beberapa kali di reparasi, pada akhirnya benar-benar tidak bisa dipakai lagi. Ibu pendeta bilang sudah lama ingin membeli yang seperti itu lagi, tetapi belum terlaksana juga karena harganya mahal. Menunggu berkat Tuhan.
Karena begitu menariknya, kotak sepatu baru jadi terlupakan sesaat dan ibu pendeta masuk untuk mengambil sepatu yang dimaksud. Waktu dibawa keluar, kita berdua yang ganti terkejut. Sepatu itu memiliki merek, model dan warna sama persis dengan sepatu yang sedang kita antarkan; dengan ukuran dua nomer lebih besar dari kaki istri ....
* * * * *
Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan kemuliannNya dalam Kristus Yesus (Filipi 4:19)
--------------
(Indriatmo)