Dua belas tahun telah berlalu sejak kami mengucapkan janji setia di hadapan pendeta di bulan April tahun 1994. Saat itu adalah hari ulang tahun pernikahan dan kita berniat untuk merayakannya dengan sebuah acara yang khusus. Kami berniat 'berpacaran' lagi. Jalan bersama, makan, nonton dan mengingat masa-masa indah awal pertemuan kita.
Hari itu saya ambil cuti, karena saat istimewa itu bertepatan dengan hari kerja. Tapi masih ada satu 'halangan' lagi yang harus diselesaikan, yaitu si jagoan. Dengan segala bujuk rayu dan alasan, si jagoan 4 tahun kita mau untuk dititipkan sama bude-nya. Setelah itu beres, kita siap untuk berpacaran lagi.
Kita berangkat agak sore, meluncur ke mal buat window shopping. Keluar dari mobil kita sepakat untuk bergandengan seperti dulu. Istri di sebelah kiri, melingkarkan tangan kanannya di tangan kiri saya. Rasanya canggung juga, setelah sekian lama tangan kita selalu menggenggam tangan kecil si jagoan yang selalu mengambil posisi diantara kita.
"Mas, saya jadi ingat waktu dulu nih," istri membuka pembicaraan. "Ya.." jawab saya singkat. "Dulu saya kalau kemana-mana selalu gandeng tangan mas. Kalau sudah kelamaan capek juga - tapi tetap saya tahan. " Kami berdua saling pandang dan tersenyum. "Yah namanya masih pacaran," kata saya menimpali.
"Terus kalau gandengannya mau dilepas karena capek, tangan saya dijepit lengan Mas biar gak lepas ..." kata istri sambil tertawa.
Saya hanya bisa garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Memang sih, ada hal-hal yang berubah setelah kita menikah, dan itu semua kita anggap wajar dan sudah sebagaimana mestinya. Tapi waktu coba kita ulangi lagi - seperti halnya berdengan tangan - ternyata tidak semudah seperti yang kita banyangkan sebelumnya. Ada perasaan canggung, entah kenapa. Mungkin kami sudah merasa tidak anak muda lagi. Tapi mengulang lagi kebiasaan lama - membangkitkan kenangan indah yang menyadarkan tentang semangat cinta sepasang anak muda yang tidak seharusnya berlalu setelah diresmikan dalam sebuah ikatan suci perkawinan.
Kami berhenti di depan pondok Baso yang dulu biasa kita singgahi. Sekarang tempatnya sudah makin mewah, dengan interior yang moderen. Tempat duduk di pojok adalah tempat favorit kita. Tidak terlalu menarik perhatian tetapi pandangan ke seluruh ruangan tidak terhalang. Yang lebih utama adalah bisa berlama-lama tanpa menimbulkan perhatian pelayan pondok Baso.
Begitu duduk saya pegang tangan istri. Giliran dia yang tersenyum - tetap manis seperti dulu.
Pesanan dua mangkuk Baso dan minuman diantarkan oleh pelayanan, kami berdoa seperti biasa. Setelah "Amin", istri memberi isyarat untuk tidak mulai makan dulu.
"Mas, masih ingat kenapa mas tertarik sama saya?" Saya tersenyum lebar ketika mendengar pertanyaan itu. "Yah pasti dong." Saya tertarik sama istri karena melihat dia berdoa di kantin waktu makan siang. Itu adalah hal luar biasa yang sangat jarang saya temui di Jakarta ini. Bahkan nyaris tidak pernah saya temui.
Waktu itu jam makan siang di kantin dan saya lihat ada wanita yang berdoa dengan serius sebelum makan. Dari sekian banyak orang yang makan di kantin, hanya ada dua orang yang berdoa yaitu saya dan wanita itu. Tapi dia tidak memperhatikan saya, jadi saya langsung dekati dan membuka pembicaraan, "Mbak Kristen yah - soalnya saya lihat tadi mbak berdoa sebelum makan." Dari situlah awal pertemuan kami, dan selanjutnya kami janji untuk bertemu di ibadah pagi di gereja. Pada pertemuan-pertemuan selanjutnya kami jadian - dan berdoa menjadi pengikat kami berdua dimana pun.
Sambil menikmati pesanan masing-masing kami membuka kembali lembaran-lembaran yang telah terlewat selama ini. Di meja ada dua mangkuk Baso dan dua minuman; dari situ kami mulai pembicaraan kita.
Waktu pacaran kami selalu memesan dua mangkuk baso yang sama dan mimuman yang sama. Baso kosong - tidak pakai mie - dan teh botol. Tetapi sekarang yang di atas meja adalah satu baso kosong, satu baso dengan mie kuning dengan banyak sayur, satu teh botol dan satu juice jeruk. Jujur saja saya tidak suka baso, saya lebih suka soto ayam. Tapi kalau terpaksa makan baso, saya suka pilih pakai mie kuning, sedikit baso dan banyak sayur. Istri pakai saus dan sambal banyak-banyak dan saya hanya pakai sedikit saus. Saya suka minum juice jeruk dan istri sukanya teh botol.
Pembicaraan berlanjut ke hal-hal yang lain. Ternyata setelah dua belas tahun berumah tangga kami menemukan banyak hal dimana kami berbeda satu dengan yang lain.
Istri suka film drama, saya suka film setting sejarah.
Istri suka kerupuk dan ngemil, saya suka makan besar.
Istri cerewet, saya pendiam.
Istri suka berita selebritis, saya suka berita dunia dan politik.
Istri suka detail, saya tidak.
Istri pintar mengatur keuangan, saya tidak.
Istri suka pedas, saya suka asem.
Istri suka semangka, saya suka nanas.
Istri suka rumah rapi, saya buat berantakan.
Istri suka jalan-jalan, saya suka di rumah.
Istri suka teh merah manis, saya suka teh hijau pahit.
Istri suka tanaman, saya suka anjing.
Istri makan baso pakai sendok garpu, saya pakai sumpit.
Dan daftar perbedaan ini satu persatu makin bertambah panjang seiring dengan suapan baso yang makin habis. Pada saat suapan terakhir, kami tidak bisa lagi menahan keinginan untuk tertawa. Rupanya masa dua belas tahun ini membuka satu-persatu apa yang selama ini kami tutupi pada masa pacaran.
Saya masih ingat, bagaimana reaksi istri kalau saya ajak makan soto. Istri tidak pernah makan sotonya sampai habis - "Sudah kenyang," selalu itu saja alasannya. Sebaliknya saya sering tertidur di bioskop sementara istri di sebelah sesenggukan karena terharu oleh cerita film drama yang sedang ditonton.
Akan tetapi sekarang ini, daftar panjang perbedaan itu ternyata sama sekali tidak menjadi masalah bagi kami berdua. Justru di dalam perbadaan itulah ikatan kasih kami semakin erat. Saya melihat istri sebagai pribadi yang sangat unik buat saya, dan melengkapi segala kekurangan saya - begitu pula sebaliknya. Istri adalah akuntan saya yang paling handal, dan saya adalah pembaca dan penterjemah buku manual untuk setiap peralatan elektronik yang dibelinya.
Sekarang ini saya bisa menikmati masakan favorit 'mangut' (ikan pari asap, kuah santan, pakai petai) buatan istri, tanpa istri ikut makan karena tidak suka. Atau sebaliknya istri minta dipijit waktu saya pulang kerja; tapi sebaliknya saya tidak pernah mau dipijit karena geli.
Tidak ada yang bisa menggantikan hati saya yang sudah dimiliki oleh istri. Saat ini, tanpa berkata sepatah kata pun kami sudah tahu apa yang dinginkan oleh masing-masing. Saya jadi teringat bahasa Jawa halus untuk menyebut suami/istri yaitu 'garwo' - yang adalah kepanjangan dari 'sigaraning nyowo'. Artinya yaitu 'belahan jiwa'. Istri adalah separoh jiwa dari saya dan begitu pun sebaliknya - dimana firman Tuhan dalam Kitab Kejadian menyebutnya sebagai 'tulang rusuk'. Tulang rusuk saya yang hilang hanya satu dan Tuhan sudah membantu saya untuk menemukannya.
(Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." - Matius 19:6)
--------------
(Indriatmo)