Malaikat di Jalan Tol

"Melihat penyertaan Allah dalam segala sesuatu, akan menjadikan hidup kita suatu petualangan yang hebat,"

Itu adalah kata bijak di buku Renungan Harian yang saya baca pagi ini. Seperti biasa jam tiga pagi saya bangun untuk doa pribadi dilanjutkan bersaat teduh dengan membaca renungan harian (terbitan RBC/Gloria). Saya merasakan nyata sekali makna kata-kata itu, karena malamnya saya mengalami peristiwa yang sangat ajaib dalam hidup saya.

Malam itu, hari Jumat saya diundang dinner dengan para direktur untuk merayakan keberhasilan implementasi system SAP (pengontrolan logistik) yang dikerjakan oleh departemen saya. Acara diadakan di sebuah restaurant di Lippo Cikarang. Selesai jam 9 malam dan saya bergegas untuk pulang karena hari ini cukup melelahkan.

Dari Cikarang, saya masuk jalan tol ke arah Cibitung. Jalur satu dan dua dipadati oleh truk yang berjalan merayap. Jadi mobil pribadi mengambil jalan di jalur ketiga. Itu pun juga membentuk antrian yang panjang walaupun tetap berjalan lancar.

Karena jalur satu dan dua tertutup oleh truk-truk besar, saya tidak begitu memperhatikan bahwa jalan keluar ke Cibitung sudah dekat, dan saya terlambat menyadarinya.

Ketika ada celah, saya memacu mobil untuk memotong jalur kedua dan ke satu terus masuk ke jalur arah tol Cibitung. Tetapi ternyata terlewat cukup jauh, dan yang lihat di depan adalah tanda garis-garis marka jalan yang semakin rapat.

Karena sudah hampir masuk ke jalur keluar Cibitung, kecepatan saya tambah lagi supaya tidak menghalangi jalur satu. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya, "Brakkk.." Saya merasakan mobil melayang sesaat melintas masuk di jalur Cibitung, melambat dengan cepat dan behenti tepat di bahu jalan.

Saya terdiam cukup lama untuk memahami apa yang terjadi. Saya pikir pasti sudah menabrak sesuatu dan jika benturannya terasa keras seperti itu pasti ada bagian bawah mobil yang jebol. Entah as roda atau begian bawah mesin ....

Kemudian saya keluar dan periksa melihat di kolong mobil. Ada bentuk setengah lingkaran di atas aspal. "Wah as mobilnya pasti jebol," pikir saya. Kaki-kaki mobilnya pasti juga rusak, karena mobil seperti terkunci.

Saya menenangkan pikiran dan melihat keadaan di jalur itu. Gelap dan tidak ada yang lewat. Mana tidak ada telpon umum atau telpon darurat ... (Saya adalah orang yang tidak mau punya handphone).

Sedang saya berpikir, ada sebuah mobil menepi, berhenti dan tiga orang segera keluar. "Terima kasih Tuhan Yesus," kata saya dalam hati. Rupanya mereka adalah teman yang ikut dinner dan pulang belakangan.

"Ada apa pak," tanya mereka. "Gak tahu nih. Mungkin as mobil jebol.." "Coba deh kita periksa dulu," kata teman saya. Mereka ambil senter dan dongkrak. Rupanya yang setengah lingkaran itu adalah pecahan velg. Kemudian mobil di-dongkrak dan pecahan velgitu diambil. Kita bingung juga kenapa pecahan velg sebesar itu ada di jalan ...

Kemudian mereka bertiga membantu memeriksa keadaan mobil saya. Ternyata kedua ban depan dan ban belakang sebelah kanan kempes. Padahal ban saya tubeless, jadi pasti ada bagian ban yang pecah. Kita berpikir pasti diakibatkan dari menabrak pecahan velg itu.

Pemeriksaan dilanjutkan lagi ... ternyata diketahui bahwa itu adalah pecahan velg roda depan sebelah kiri! Dari sisi luar masih utuh, tetapi waktu dilihat dengan bantuan senter dari bawah mobil, nampak velg sebelah dalam sudah tidak ada lagi. Itu artinya velg depan sebelah kiri pecah jadi dua, dan pecahan itu yang menghentikan laju mobil sampai berhenti di bahu jalan!

Seorang teman menelpon mobil derek, sedangkan yang lain membantu mengganti ban belakang sebelah kanan yang kempes. Sewaktu ban cadangan diambil ternyata kempes juga, jadi saya ambil pompa dengan motor untuk memompanya. Tapi pompanya ternyata rusak juga ... aduh ...

"Saya juga punya pompa seperti itu pak," kata teman yang bawa mobil. Puji Tuhan! Kemudian pompa dinyalakan – ditunggu sekitar sepuluh menit dan ban sudah siap untuk dipasang.

Tak berapa lama mobil derek dari Jasa Marga datang. Sopirnya dan dua orang petugas yang berseragam oranye turun. "Dari Jasa Marga yah pak?" tanya saya. "Benar pak," jawab pak sopir. Saya menjadi tenang karena yang datang adalah mobil derek resmi, bukan derek preman yang suka memeras. Para petugas itu memasang kaitan di bagian depan mobil dan mengangkatnya, sehingga hanya roda bagian belakang yang menapak di aspal, dan mobil siap ditarik.

Mobil saya dibawa keluar tol, dan berhenti di bengkel ban dekat pom bensin Cibitung. "Punya ban tubeless, lae?" tanya saya ke penjaga bengkel itu. "Ukurannya berapa pak?" "Empat belas," jawab saya. Dia kemudian memeriksa sebentar dan dikatakan "Ada..." Saya minta ke petugas derek supaya mobil diturunkan di situ, dan saya beri dia tip untuk servisnya.

Ban yang kempes segera diganti yang baru dan dipasangkan pada roda depan kanan. Setalah itu roda depan kiri dilepas. Ternyata bagian velg sebelah dalam hancur berantakan. Tetapi waktu diperiksa kondisi bannya, ternyata masih bagus. Ajaib sekali, karena justru pecahan velg roda itu yang menyobek dua ban sebelah kanan! Jadi akhirnya hanya velg saja yang diganti tetapi tetap menggunakan ban yang lama.

Setelah selesai saya tanya berapa biayanya, penjaga bengkel menjawab seratus lima ribu. Saya sodorkan uang seratus lima puluh ribu, dia memberi kembalian empat puluh lima ribu. Suatu jumlah yang sangat sulit dipercaya untuk sebuah ban tubeless, pemeriksaan dan pemasangan dua roda depan. Orang Jepang bilang, "Totemo yasui desu ne..." (really cheap : murah banget..).

Setelah semua ban diperiksa ulang lagi dan kondisi baik, saya coba jalankan mobil, dan ternyata tidak ada masalah. Bahkan waktu saya lepas stir, spooring-nya juga masih bagus. Saya tiba di rumah jam 11:30 malam, dan mengakhiri hari itu dengan sebuah doa ucapan syukur.

Pagi ini jam 3, saya mulai doa pribadi dengan pujian dan penyembahan. Setelah itu saya baca ayat renungan harian dari Mazmur 125:1,2 "Orang-orang yang percaya kepada TUHAN adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya. Yerusalem, gunung-gunung sekelilingnya; demikianlah TUHAN sekeliling umat-Nya, dari sekarang sampai selama-lamanya."
Firman Tuhan itu benar-benar membuat hati saya terharu sekali. Betapa tidak, tepat enam jam sebelumnya saya melayang di jalan tol dengan diikuti serangkaian kejadian yang tidak bisa saya bayangkan sebelumnya. Dan ternyata jawabannya ada di Mazmur 125 itu. Luar biasa!

Saya merenungkan lebih dalam apa yang baru saja saya alami, dan ternyata seluruh rangkaian peristiwanya lebih dahsyat dari apa yang saya duga sebelumnya :

Saat petugas derek memasang perlatannya, saya berjalan ke arah titik kejadian saya melayang. Ternyata yang saya temui adalah beton pembatas jalan! Jadi saya telah menabrak pembatas jalan! Memang tidak begitu tinggi, tapi untuk sebuah mobil sedan yang chasis-nya rendah, itu adalah suatu hal yang mustahil jika tanpa diikuti kerusakan yang hebat.

Kedua, tabrakan itu terjadi karena saya sedang belok ke kiri. Itu artinya tumpuan beban mobil ada di ban sebelah kanan. Dengan kecepatan yang tinggi, jika ban kiri menabrak beton lebih dahulu ; itu akan mengakibatkan sisi kiri mobil terangkat dan mobil terguling ke luar.

Tetapi apa yang saya alami - mobil melayang sesaat dan berhenti di bahu jalan seberangnya. Velg dan ban sebelah kanan tidak ada tanda-tanda kerusakan. Kedua ban sebelah kanan kempes karena sobek oleh pecahan velg roda depan kiri! Dan sebuah untuk sedan dengan chasis rendah, benturan seperti itu seharusnya mengakibatkan bemper dan bagian bawah mobil sudah rusak parah. Ternyata tidak terlihat satu goresan pun!

Ketiga, dengan kecepatan tinggi, jumping, kehilangan kendali dan jarak lintasan yang pendek pasti mobil sudah masuk ke parit di samping bahu jalan. Kenyataan yang terjadi mobil seperti di rem dengan pakem dengan menggunakan pecahan velg roda depan kiri, dan berhenti di bahu jalan tepat di samping rumput!

Keempat, pada malam hari jalur tol keluar cibitung dari Cikarang adalah jalur yang sepi. Tetapi teman saya lewat jalur itu juga karena masih ada pekerjaan di kantor yang harus diselesaikan (Kawasan Industri MM2100 Cibitung), sehingga mengenali merka mobil saya yang sedang berhenti di bahu jalan.

Kelima, saya adalah orang yang tidak suka bawa uang tunai. Tetapi sore itu, isteri telpon untuk diambilkan uang di ATM kantor sebanyak dua ratus ribu rupiah. Selanjutnya untuk membayar tip mobil derek dan bengkel ban saya membayar seratus lima puluh lima ribu rupiah dari uang itu!

Saya jadi teringat kesaksian Pdt. Ronald H. Buck dalam bukunya Kunjungan Utusan Surgawi. Ada bagian yang menceritakan pengalamannya naik pesawat :

Di Boise ketika pesawat kami hampir mendarat di landasan, pilot menambah gas mesin dan pesawat naik kembali ke udara. Kemudian pilot mengumumkan bahwa pesawat yang berada di depan kita agak lambat mendarat, karenanya kami harus memutari Boise, kemudian kembali untuk mendarat lagi. Ketika mendarat, sesuatu terjadi dan pesawat itu melonjak kira-kira sembilan meter ke udara. Alangkah terkejutnya kami. Pada waktu itu juga saya melihat sekilas apa yang sedang terjadi di luar. Malaikat kami yang besar itu memegang sayap pesawat dan gerakan goncangan dan lonjakan itu terhenti. "Sebab malaikat-malaikatNya akan diperintahkanNya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu" (Mazmur 91:11).

Enam jam yang lalu saya juga telah mengalami hal yang sama! Mobil saya melayang melewati beton pembatas jalan, dan berhenti tepat di bahu jalan! Dan dengan lima peristiwa yang saya sebutkan, saya percaya malaikat Tuhan sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna - dimana pagi ini saya bisa menghadap Tuhan untuk menerima satu pesan yang sangat agung: Tuhan Yesus mengasihi saya dan Dia telah menunjukkannya dengan begitu nyata!

Renungan saya akhiri jam setengah enam pagi dengan membaca ulang kata bijak dari buku Renungan Harian :
"Melihat penyertaan Allah dalam segala sesuatu, akan menjadikan hidup kita suatu petualangan yang hebat."

Tuhan Yesus itu memang dahsyat !

-----------
(Indratmo)