Aku ingat kakakku laki-laki yang nomor dua, karena kakakku laki-laki ada tiga.
Di rumah kami berlima, anak-anak semua dan satu simbok yang menemaniku sejak bayi.
Kemana orang tua kami? Mereka bekerja di pasar besar, berjualan kelontong, berangkat
mulai jam empat pagi dan pulang sampai jam lima sore. Boleh dibilang kami hidup
tanpa pengarahan atau liar. Orang tua kami sangat menyayangi kami berlima, tetapi
tidak bisa menemani kami, mengasuh kami, membimbing kami. Mereka hanya bisa menyayangi
dan mencari uang. Bahkan kami tidak pernah menikmati yang namanya sekolah minggu sewaktu
kami kecil. Hari minggu adalah hari yang paling ramai di pasar, jadi terkadang kita
disuruh ikut menjaga dagangan di pasar.
Aku ingat kakakku laki-laki yang nomor dua, karena kakakku laki-laki ada tiga.
Dia sangat suka membaca komik kho ping hoo, tiap hari di bacanya seri demi seri yang
dia pinjam dari peminjaman komik di dekat rumah. Aku juga senang membacanya. Waktu itu
mungkin aku baru kelas empat SD. Kakakku tidak hanya membaca komik, tetapi juga
mempraktekkannya. Dia sudah seperti pendekar saja, jalannya tegak lurus, langkahnya
kuat dan lebar, penampilannya selalu rapi dan pendiam, seperti pendekar beneran.
Kalau kami berjalan berdua, dia selalu menempatkanku di sebelah kirinya, katanya,
kita harus melindungi orang yang lebih lemah. Dan akupun jadi lebih menyayanginya
karena dia seperti pendekar.
Aku ingat kakakku laki-laki yang nomor dua, karena kakakku laki-laki ada tiga.
Waktu itu dia sudah SMA, orang tua sedang kuwalahan menghadapi dagangannya yang
agak berkembang. Dengan sifat ke-pendekar-annya, kakakku memutuskan untuk berhenti
sekolah SMA nya, dan membantu di toko. Dia bilang, seorang anak, harus berbakti
kepada orang tua, dan siap membantu. Dan terjunlah dia di dunia perdagangan, padahal
dia tidak bodoh, tetapi aku juga belum mengerti mengapa orang tuaku juga mengijinkan.
Aku ingat kakakku laki-laki yang nomor dua, karena kakakku laki-laki ada tiga.
Ibuku yang bercerita tentang sepak terjang kakakku, kata ibu, sekarang di toko sudah
tidak ada yang berani mencuri, mencopet, ataupun menjahili toko kami, mengapa?
Karena kakakku seorang pendekar. Kata ibu lagi, bagaimana orang-orang tidak takut,
melihat kakakku melompat dari etalase, dan mencengkram krah orang yang sedang mencuri.
Bahkan pernah juga melompat dari etalase, sambil menempatkan kakinya tepat di tubuh
pencuri, juga pernah ada dua orang pencuri yang langsung di jambaknya, kemudian di
adunya dua kepala tadi dan minta ampunlah mereka, hmm benar-benar seperti pendekar
kata hatiku dengan perasaan bangga sekali.
Aku ingat kakakku laki-laki yang nomor dua, karena kakakku laki-laki ada tiga.
Entah bagaimana mulanya dia bisa ikut ke gereja, akupun juga. Pada waktu itu aku sudah
SMP. Sifat ke-pendekar-annya pun terbawa di dalam pelayanan. Kakakku yang pendiam, bisa
memimpin pujian, kakakku yang pendekar, banyak menolong orang di gereja, hmm dia jadi
terkenal dan disukai di gereja, terkenal baik hati, suka menolong, rela berkorban,
selalu ada waktu untuk pelayanan gereja, benar-benar seperti pendekar sejati.
Aku ingat kakakku laki-laki yang nomor dua, karena kakakku laki-laki ada tiga.
Tiba-tiba saja dia menjadi agak aneh, dengan firman-firman yang aku anggap aneh.
Oh ya... sejak kakakku ke gereja, rumah kami selalu ramai dengan nyanyian-nyanyiannya,
untung suaranya agak merdu dan bisa meliuk-liuk (vibrasi) dan penuh dengan perdebatan,
tepatnya kakakku menceramahi kami semua. Aku yang paling berani menentang teorinya,
karena aku juga mendapat firman yang sama, tetapi aku tidak suka dengan pemahaman yang
dia pegang, yang pada waktu itu juga banyak menggoncang keluarga-keluarga kristen baru,
yaitu teori kemakmuran.
Aku ingat kakakku laki-laki yang nomor dua, karena kakakku laki-laki ada tiga.
Dia menghormatiku, dia tidak pernah meremehkan aku karena paling kecil dan memang masih
kecil, dia bisa berdebat dengan tidak sewenang-wenang, dia mendengarkan argumentasiku,
dia memang pendekar. Dan karena kami kristen baru, dan tidak ada yang mengarahkan kami,
maka masalah teori kemakmuran itu tidak terselesaikan. Kami tetap saling menyayangi dan
tidak pernah berdebat mengenai ajaran. Dia menjadi anggota gereja kharismatik dan aku tidak.
Aku ingat kakakku laki-laki yang nomor dua, karena kakakku laki-laki ada tiga.
Heran juga aku melihat perkembangannya, toko kami sedemikian ramainya, berkat Tuhan sedemikian
nyatanya semenjak kakakku bekerja, sampai-sampai diputuskan untuk membuka toko baru.
Kakakku pun akhirnya menikah dan pindah di rumah baru. Akupun sudah SMA.
Dia tetap bersemangat dalam pelayanan bahkan mempersembahkan mobil pertama yang berhasil dia
beli untuk pelayanan gereja.
Aku ingat kakakku laki-laki yang nomor dua, karena kakakku laki-laki ada tiga.
Tiba-tiba saja dia mengeluh kalau dia bosan dengan berdagang, dan ingin mencari pekerjaan lain.
Aku menangkap bukan karena bosan dia, tetapi lebih ke teori nya yang dulu. Dia rupanya merasa
sudah mentok hidupnya, dan harus berganti haluan untuk mewujudkan kebenaran teorinya. Aku tidak
bisa memberi masukan yang memuaskannya. Karena aku tidak bisa memahami mengapa baru sekarang dia
bosan, aku mencurigai pasti dia merosot dalam pelayanan. Sehingga semangat nya dulu juga ikut
hilang. Dan ternyata kecurigaanku benar. Dia tidak se-semangat dulu dalam pelayanan, seakan-akan
dia bukan kakakku yang dulu. Dia sangat murung, dia sudah bukan pendekar lagi.
Aku ingat kakakku laki-laki yang nomor dua, karena kakakku laki-laki ada tiga.
Kakakku sekarang, seperti kebanyakan orang lainnya, dia lebih suka berburu trend untuk mengatasi
kebosanannya. Dia pernah berburu burung mahal, ikan mahal, sarang burung, dan sekarang pohon mahal.
Terakhir dia bilang mau pinjam sejumlah uang padaku. Untuk apa kataku kaget? Untuk membeli pohon
mahal, katanya, dia bilang isterinya akan mengomel kalau dia memakai uang dagangan. Jadi dia harus
mencari modal sendiri. Mengapa harus memaksakan? tanyaku? Dia bilang ini peluang, orang bisnis harus
pandai melihat peluang, katanya lagi. Aku bilang akan kupikirkan dan aku akan berdoa dulu, kataku.
Dia berkata jangan lama-lama, karena trend biasanya tidak lama. Akupun mengiyakan saja.
Aku ingat kakakku laki-laki yang nomor dua, karena kakakku laki-laki ada tiga.
Kakakku itu sekarang sedang hilang semangatnya, dia seperti kebanyakan orang lainnya, dengan sedikit
ragu-ragu aku sms dia; kakak sekarang sudah berubah ya, tidak seperti dulu lagi, kakak sekarang sudah
seperti orang-orang duniawi. Dan dua minggu aku didiamkan kakakku. Tidak di jawab pula sms ku.
Tetapi aku menunggu, karena aku yakin Tuhan juga sedang menolongnya. Mungkin setelah melihat sms ku
dia terkejut dan sedang mengkoreksi hidupnya, itu harapanku.
Tetapi setelah hampir tiga minggu tidak ada jawaban, aku yang kehilangan kesabaran. Dan tiba-tiba
kakakku laki-laki lainnya telepon dan bertanya? "Apakah aku bisa menasehati kakakku yang pendekar,
karena dia seperti kehilangan pegangan, toko banyak di tinggal, semua arisan di ambil, mau pinjam bank,
dan yang lebih parah katanya lagi, waktu dibilang apakah masih baca-baca Firman, kakakku yang pendekar
bilang sudah hafal.
Aku memutuskan untuk menelepon. Ketika kutanyakan mengapa dia tidak membalasku, dia tertawa saja,
katanya, kamu kan tidak bisa membantu, ya sudah, aku tidak berani mengganggu lagi, aku akan mencari modal
dengan caraku sendiri katanya dengan bangga, dan katanya lagi, aku akan meminjam uang di bank dengan
jaminan rumahku sendiri, kata orang rumahku cukup besar nilainya. Waktu aku tanya lagi, apakah dia sudah
berdoa untuk semua ini, dengan tertawa dia bilang, hal itu kan sudah biasa dilakukannya, sudah otomatis
katanya lagi. Apa maksudnya otomatis? Apakah kakak sudah berdoa khusus untuk itu? Dia tidak menjawab.
Duh Gusti, maafkan hamba. Ternyata dia tidak terkejut dengan sms ku, ternyata dia tidak sedang merenungi
kehidupannya, dia malah punya rencana, yang aku tahu itu pasti tidak sesuai dengan teorinya dulu. Dia sudah
benar-benar berubah, dia sedang meninggalkan Tuhan dengan rencananya sendiri.
Akupun tidak terima, ku ingatkan dia dengan teorinya dulu, ku ingatkan dia dengan semangat nya dulu,
tapi agaknya sedang tertutup hati dan pikirannya dengan keuntungan dari berbisnis pohon mahal.
Aku selalu berdoa untuknya, aku percaya Tuhan pasti punya rencana sendiri dan akan merubahnya, dan kapan itu
aku juga tidak tahu. Aku juga percaya, pertolongan Tuhan tidak harus lewat aku, karena Tuhan bisa memakai
apa saja dan siapapun untuk itu. Aku juga percaya, waktu Tuhan tidak sama dengan waktuku, demikian juga rencana
dan pikiranku. Aku cuma bisa berdoa kuatkan hatimu kakakku dan aku akan menguatkan hatiku.
Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya. Ams 16:9