Dahulu, kalau mendengar nama depan seseorang dengan mudah kita bisa menebak dari mana orang itu berasal. Sastro atau Bejo, semua yang berakhiran "O" biasanya berasal dari jawa atau termasuk "œwong jowo". Sedangkan Sunarya atau Wiguna, yang berakhiran "A" biasanya dari Sunda. Kalau dari Medan bisa Partogi atau Parningotan. Dan kalau dari Manado, umum yang terdengar adalah Lingkan dan Pingkan. Pingkan Mambo mantan group Ratu yang cukup beken, juga pasti dari Manado.
Tetapi sekarang ini, kalau menandatangani persetujuan tunjangan kelahiran dari karyawan, saya sudah tidak bisa mengenali lagi dari keluarga mana anak itu dilahirkan. "Bujubuneng yak ..." kata orang Cibitung kalau mendengar anak-anak jaman sekarang diberi nama. Bayangkan ada yang namanya Andrew, padahal anak itu lahir dari nyak dan babenya orang Selang Nangka. Atau Sylvia, padahal kampung halamannya asli Bojongkoneng. Mendengar itu, sekali lagi pasti si engkong akan berguman, "Bujubuneng ..."
Di dalam pemberian nama terkandung sejuta harapan dan doa dari orang tua. "Sugiharto" - "Sugih" itu artinya kaya dan "arto" itu artinya uang. Dengan menyandang nama "Sugiharto" maka orang tua mengharapkan anaknya bisa kaya raya, sekaya taipan rokok di Kudus atau juragan Microsoft. "Gunawan" - "Guna" artinya manfaat dan "wan" artinya manusia. Harapan yang besar bagi anaknya untuk bisa bermanfaat bagi nusa dan bangsa.
Untuk umat Katholik biasanya ditambahkan nama permandian yang bisa diambil dari nama murid Tuhan Yesus atau nama dari para Santo atau Santa. Adapun untuk orang Kristen, nama menggunakan tokoh di Alkitab terserah dari keyakinan hati orang tuanya.
"Memberi nama anak dengan nama tokoh di Alkitab itu tanggung jawabnya lebih berat," suatu hari kakak saya berkata. Itu memang benar. Saat saya membaca koran yang menyebutkan bahwa bandar norkoba yang ditembak bernama Markus, maka sebagai orang Kristen saya merasa malu. Hati Tuhan Yesus pasti juga sedih sekali.
Bahkan ketika kunjungan ke penjara di Bekasi, dimana penghuninya kebetulan cukup banyak yang berasal dari Sumatera Utara, maka nama tokoh di Alkitab banyak dijumpai di sana. Persekutuan yang diadakan di dalam penjara pun penuh sesak dihadiri oleh umat Kristen yang sedang tertimpa musibah. Kalau tidak tertimpa musibah (tertangkap - maksudnya), tentunya mereka masih merajai kejahatan di wilayah masing-masing dan nama tokoh Alkitab terkenal bukan sebagai pembawa sukacita Injil tetapi sebagai penebar teror.
Saya rasa para orang tua ketika memberi nama saat mereka dilahirkan sama sekali tidak bermaksud supaya kelak anak itu jadi tokoh yang ditakuti di jalanan. Tidak ada satu pun yang punya harapan supaya anaknya nanti sebagai tokoh kriminal yang beken atau koruptor papan atas. Pasti harapannya adalah mereka bisa meniru teladan para tokoh Alkitab, sesuai dengan nama yang mereka sandang seperti Matius, Markus, Lukas, Yohanes maupun Paulus. Memang itu adalah salah satu hal yang ditakutkan oleh mereka yang menghindari memberi nama anak menurut nama tokoh Alkitab.
"Aku mau jadi tentara, kaya Papa," kata keponakan saya sewaktu ditanya kelak ingin jagi apa. Keponakan yang lain sekarang sedang serius ikut bimbingan test supaya bisa masuk PMDK Kedokteran. Ada yang sudah mulai freelance di Event Organizer sambil kuliah Sastra Inggris. Serta ada pula yang menekuni piano klasik dan sudah bisa membiayai sendiri sekolahnya dengan mangajar kursus privat piano.
Saya lihat semua keponakan saya dipersiapkan dan diarahkan sesuai dengan talenta yang dimiliki masing-masing. Ini agak berbeda memang dengan jaman kami dahulu, dimana semuanya diarahkan untuk masuk ke jurusan IPA, karena kalau sampai masuk jurusan Sosial atau Bahasa, bisa dianggap "kurang pintar".
Tapi yang jelas bahwa sedikit banyak, mereka diarahkan untuk bisa berhasil dalam hidup seperti dengan nama indah yang diberikan kepada masing-masing anaknya. Waktu saya bertanya, "Ada yang mau melayani Tuhan jadi pendeta?" Orang tuanya dengan bijaksana mengatakan, "Yah terserah mereka merespons panggilan hidupnya masing-masing." Jawaban yang sangat bijaksana ...
Saya punya teman senior di pemuda gereja yang kuliah di fakultas Pertanian. Setelah lulus dia bekerja, dan suatu hari bertandang ke rumah serta berkata, "Dek, saya kelihatannya mau berhenti," "Kenapa mbak?" tanya saya, "Mau pindah kerja?" "Bukan, saya mau full time melayani Tuhan," "Hah... tidak salah itu. Kenapa? Punya duit dari mana?" tanya saya tidak percaya.
Rupanya saat bekerja, di dalam hatinya timbul dorongan yang sangat kuat untuk melayani Tuhan. Ketika hal itu dibicarakan dengan orang tuanya, ternyata ibunya membuka suatu rahasia yang tidak pernah diceritakan. Saat lahir seorang anak perempuan satu-satunya, ibunya bernazar bahwa dia nanti akan diserahkan untuk melayani Tuhan secara full time. Tetapi karena berbagai pertimbangan, kemudian ibunya sama sekali tidak pernah membicarakan hal itu.
Dia kemudian bersekolah dan bercita-cita menjadi seorang insinyur pertanian; dan dengan sukses akhirnya bisa mewujudkannya. Tetapi ternyata janji yang sudah diucapkan oleh ibunya menarik rohnya untuk melayani Tuhan. Dia sekarang sudah menikah dan bersama dengan suaminya melayani Tuhan secara full time. Luar biasa.
Saya sendiri saat masih pacaran pernah berkhayal mengenai nama anak yang akan diberikan nantinya. Waktu itu kami sepakat menentukan bahwa namanya akan diambil dari PL dan PB. Setelah melalui diskusi yang panjang, kami menentukan bahwa kalau laki-laki maka namanya adalah "Yehezkiel Titus." Tentunya ini dengan sudah memikirkan segala resikonya, bahwa kami harus mendidiknya sesuai dengan firman Tuhan - dan ada satu hal yang "tidak lazim" yaitu kami ingin menyerahkan anak kami untuk melayani Tuhan sebagai pendeta.
"Lha boros dong," kata kakak saya. "Susah payah disekolahkan tapi setelah besar tidak bisa bantu orang tua." Saya katakan bahwa: biasanya orang tua menyerahkan anaknya untuk menjadi Pendeta adalah jika terpaksa. Anak yang badung dan kecanduan narkoba didoakan supaya insyaf. Tujuannya supaya tidak kumat dan sakau lagi, karena sudah jadi pendeta.
Anak yang tidak punya masa dengan, sekolahnya bodo dan diperkirakan pasti gagal kalau bekerja - diarahkan untuk menjadi Pendeta. Karena hamba Tuhan tidak perlu memikirkan bisnis atau teknik informatika yang rumit.
Tetapi saya justru ingin sebaliknya. Saya akan mendidik anak dengan pendidikan terbaik untuk bisa menjadi hamba Tuhan. Pekerjaan pendeta adalah melayani Tuhan; dan karena untuk Tuhan maka harus diberikan yang terbaik - tidak boleh yang jelek dan terbuang. Itu sama saja kita memberikan persembahan "sisa" kepada Tuhan yang sudah memberi berkat yang terbaik bagi kita.
"Terus nanti kalau sudah tua bagaimana - karena salah satu fungsi anak adalah gantian merawat orang tua seperti yang kita lakukan sekarang ini." Sekali lagi mereka bertanya. Saya menjawab, "Saya hidup mengandalkan Tuhan. Tuhan yang akan merawat saya kalau sudah tua. Tapi kelihatannya saya tidak akan hidup sampai tua deh ... karena Tuhan Yesus khan sebentar lagi datang. Saya akan menyongsong Tuhan Yesus di awan-awan dan masuk surga. Jadi tidak sempat hidup di dunia sampai tua." Mereka mulai memahami harapan saya terhadap anak.
Dua belas tahun berlalu setelah kami membicarakan nama anak laki-laki saat masa pacaran. Dan setelah delapan tahun penantian panjang di dalam pernikahan, Tuhan Yesus memberikan seorang anak laki-laki di tengah keluarga kami - dan nama yang diberikan padanya adalah "Yehezkiel Titus". Kami memanggilnya "Kiki" tapi eyang putrinya tidak setuju; dan memberikan nama pagilan "Yezki".
"Yezki kalau sudah besar mau jadi apa?" gurunya di play group bertanya. Dengan mantap dia menjawab, "Aku mau jadi pendeta!" Gurunya kaget sekali, karena seumur-umur tidak pernah mendengar jawaban seorang anak kecil seperti itu.
Ada satu doa yang selalu kami panjatkan, supaya Yezki diberkati dengan Roh dan hikmat yang luar biasa untuk bisa melayani Tuhan; menjadi hamba Tuhan yang diurapi dan penuh kuasa. Supaya Yezki bisa membawa banyak jiwa-jiwa diselamatkan untuk masuk ke dalam kerajaan surga.
Suatu kali eyangnya yang di Sunter bertanya, "Kenapa sih Yezki mau jadi pendeta?" Karena tidak pernah memikirkan jawaban sebelumnya, saya juga kaget sewaktu dia menjawab dengan spontan, "Karena aku mau menjadi pemimpin di surga!"
* * * * *
Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu (Amsal 22:6)
--------------
(Indriatmo)