Sebuah Penyelesaian yang Manis

Kami adalah penghuni pertama di blok Gardenia, dan merupakan penghuni ke delapan di seluruh perumahan ini. Saat itu hanya beberapa blok yang baru selesai dibangun dan masih banyak tanah kosong yang terhampar dipotong oleh jalanan tengah dikerjakan.

Untuk menemani sekaligus sebagai penjaga rumah, kami memelihara anjing. Sekarang ada dua anjing di rumah kami, satu jenis Daschshund, bentuknya pendek dengan bulu coklat seperti sosis dan satu lagi jenis Collie, tingginya sedang dengan telinga tegak.

Dari kecil saya sudah terbiasa dekat dengan anjing, karena selalu ada anjing di rumah kami. Mereka tumbuh bersama kami, dan kalau mati kami semua menangisinya. Biasanya kami memelihara dari bayi, dan setiap hari memberi minum susu dengan menggunakan botol dot. Sebuah kesenangan melihat mulut bayi anjing yang lucu menghisap susu dari botol dot dengan rakus.

Kedua anjing itu adalah bagian dari keluarga kami. Yang kecil bernama Lady dan yang besar bernama Chiko. Lady adalah anjing yang manja, selalu minta dibelai kepalanya sambil dipangku. Atau jika lehernya diusap-usap, Lady akan tidur telentang dengan keempat kakinya menghadap ke atas, lucu sekali. Lady adalah anjing kesayangan Yezki (Yehezkiel Titus), anak laki-laki kami yang sekarang berumur lima tahun.

Saya sendiri lebih suka sama Chiko, karena tidak bandel. Jika ada sandal yang terlegetak, sebantar saja pasti sudah hilang karena dibawa Lady ke bawah mobil. Kalau tidak ketahuan dan lama tidak diambil, maka giginya yang runcing akan membuat sandal itu tercabik menjadi bagian kecil-kecil. Tidak sedikit yang sudah menjadi korbannya, bahkan tidak jarang kami harus memberikan ganti rugi walupun si pemilik berkata, "Ah tidak usah pak. Tidak apa-apa."

Suatu kali pak Pendeta datang ke rumah. Karena sudah kenal, maka Lady dan Chiko menyambut kedatangannya dengan mengibaskan ekornya. Setelah beberapa waktu, pada saat pulang, pak Pendeta kebingungan mencari sandalnya. "Wah, ini pasti ulah si Lady," kata saya. Dan benar saja, sandal kulit yang sebelah sudah ada di bawah mobil dengan beberapa bagian sudah tercabik, tetapi secara darurat masih bisa dipakai.

Saya menanyakan nomor sandal itu dan sorenya pergi ke mall dengan istri untuk membelikan penggantinya. Pulangnya, kami mengantarkannya ke rumah pak Pendeta. Beliau menerimanya dengan sukacita. Kami pikir itu karena dapat sandal kulit baru, tetapi ternyata ada cerita di balik itu.

Pak pendeta bercerita bahwa sandal yang dipakainya sudah butut, dan ingin membeli penggantinya yang seperti itu. Tetapi niat itu belum bisa kesampaian karena dana yang ada masih dipergunakan untuk keperluan yang lain. Pak pendeta bersyukur karena saat itu Tuhan sudah menjawab doanya dan memberikan sandal yang baru sesuai dengan yang diinginkan. Kami juga ikut bersyukur karena bisa menjadi alat Tuhan melalui gigi tajam si Lady.

Mungkin karena badannya yang lebih besar, jadi Chiko terlihat lebih tenang dan dewasa. Dia adalah anjing yang ditakuti di gang kami, karena pernah ada tetangga dan teman gereja yang sudah merasakan gigitannya - mereka masuk ke halaman rumah tanpa ditemani dan masih belum dikenal oleh Chiko. Jadi jika ada tamu datang, maka yang pertama kali diamankan adalah Chiko.

Untuk menjaga kesehatannya, setiap enam bulan sekali Chiko dan Lady diperiksa dan disuntik oleh dokter hewan yang datang untuk mencegah terkena penyakit. Walaupun giginya sehat, tetapi tetap saja kami harus membawa korban gigitan Chiko ke dokter - sebagai bentuk permintaan maaf dan rasa penyesalan kami.

Ketika tinggal di rumah ini dari sejak masih sendiran sampai sekarang sudah penuh, tidak pernah terjadi musibah yang kami alami. Selain yang utama adalah karena selalu didoakan, penyebab yang lain adalah karena adanya dua penjaga yang ditakuti. Jika hari sudah malam atau sedang pergi, Chiko dan Lady dilepas sehingga bisa melakukan patroli di seluruh halaman rumah.

Sedikit saja ada hal yang mencurigakan atau orang yang belum dikenal mendekat, maka mereka berdua akan menggonggong dengan hebat. Suara gonggongan Chiko besar dan keras, sedangkan Lady suaranya kecil melengking. Itu kami jadikan tanda bahwa ada tamu yang datang belum dikenal oleh mereka berdua. Tetapi jika yang datang adalah keluarga, tetangga dekat atau orang yang sudah dikenal, mereka akan diam saja.

Sekarang, sudah sepuluh tahun kami tinggal di rumah ini. Para tetangga yang baru berdatangan sesudah kami, lambat laun mulai terbiasa dengan keberadaan Lady dan Chiko, karena di gang ini ada tiga keluarga lagi yang memelihara anjing. Tetapi diantara semua anjing yang ada, Chiko memiliki gonggongan yang paling keras.

Di bulan puasa, suasana perumahan kami terasa lebih semarak. Banyak orang berjualan kue maupun minuman untuk berbuka puasa di sepanjang jalan masuk. Yang berjualan adalah ibu-ibu yang tinggal di sekitar perumahan, dan jualannya diletakkan di atas meja. Makanan dan minuman dibungkus dalam plastik-plastik kecil, sehingga memudahkan pembeli untuk mengambil yang diinginkan, serta melindungi dari debu. Waktu menunggu buka puasa, juga dimanfaatkan oleh anak-anak untuk bersepeda berkeliling di dalam perumahan, sehingga perumahan ini terasa lebih hidup dari pada biasanya.

Namun diantara romobongan anak bersepeda itu, ada satu rombongan yang mendapat perhatian dari khusus kami. Mereka terdiri dari enam orang anak yang masing-masing mengendarai sepeda sendiri.

Saat melintas di depan rumah mereka menyapa Chiko dan Lady dengan meniru gonggongannya. Begitu mendengar anak-anak itu menirukan gonggongnya, maka dengan antusias Chiko dan Lady membalasnya dengan seru dari balik pagar rumah. Chiko dan Lady akan mengejar mereka di sepanjang pagar sambil menggonggong, dan itu membuat mereka senang.

Kami bisa memahami kesenangan itu, karena mereka karena masih anak-anak. Akan tetapi yang lama-lama yang membuat kami jengkel adalah bahwa kegiatan itu mereka lakukan setiap hari. Setiap sore mereka berputar di gang kami dan melintas di depan rumah, dan selalu mereka memanggil Chiko dan Lady dengan menirukan gonggonggannya.

"Sudahlah Ma, namanya juga anak-anak," kata saya menenangkan istri yang gemas melihat rutinitas itu. "Tapi khan berisik. Masak tiap sore selalu menganggu Chiko sama Lady," balas istri. Saya mencoba mencari pembenaran, "Chiko dan Lady juga senang koq punya teman main yang baru."

Akhirnya istri bisa memahami kesenangan keenam anak itu, walaupun dengan memendam rasa jengkel ketika tiap sore mendengar Chiko dan Lady menggonggong dengan ribut mengejar keenam anak bersepeda itu lewat dari balik pagar.

Tetapi sore itu ada hal yang aneh terjadi. Tidak terdengar suara gonggongan yang seru dari Chiko dan Lady walaupun saat itu adalah waktu dimana keenam anak bersepeda biasanya lewat. Walaupun senang, tetapi ada perasaan curiga saat istri dibalik gorden melihat mereka berkumpul di depan pagar rumah. Kenapa Chiko dan Lady tidak menggonggong?

Anjing adalah binatang piaraan yang mempunyai ingatan yang kuat terhadap seseorang. Dia akan selalu menandai orang yag dicurigai atau orang yang pernah mengganggunya. Tetapi untuk orang yang dikenal, walaupun sudah bertahun-tahun tidak bertemu mereka akan tetap ingat.

Karena masih ingat saran saya untuk tidak mengganggu kesenangan mereka menunggu waktu buka puasa, istri tidak membuka pintu tetapi hanya mengintip dari balik gorden jendela. Apa yang dilihat ternyata di luar perkiraan sebelumnya.

Di luar pagar ada lima orang anak masih duduk di atas sepedanya. Mereka sedang asyik berbicara dengan yang Yezki yang berdiri di balik pagar sambil menggendong Lady, ditemani Chiko duduk dengan waspada di sampingnya.

"Yang kecil ini namanya Lady. Yang besar namanya Chiko. Lady tidak galak, tapi kalau Chiko kadang menggigit orang yang tidak dikenal atau orang jahat," istri saya tersenyum mendengar penjelasan Yezki kepada lima orang teman barunya.

"Yezki - Chiko sama Lady makannya apa?" tanya anak berkaos hijau di luar pagar. "Makannya daging, ayam, roti juga suka," kata Yezki memberi penjelasan. "Pantesan galak," yang lain memberikan komentar.

Kemudian ketika Yezki bertanya mengenai anggota rombongan bersepeda yang saat itu tidak ikut, terdengar seseorang memberi penjelasan, "Zainal sedang diajak pergi mamanya."

Rupanya pada saat sedang lewat seperti biasanya, mereka melihat Yezki sedang bermain dengan Chiko dan Lady. Karena heran melihat Yezki tidak digigit maka mereka berhenti, dan Yezki mengajak mereka berkenalan. Mereka segera menjadi teman baru yang akrab, dan asyik berbicara mengenai Chiko dan Lady.

"Yezki aku jalan dulu yah. Dah Chiko ... dah Lady ..." teriak mereka berlima saat mengayuh sepeda meninggalkan Yezki, Chiko dan Lady. "Aku besok main lagi ..." sambung mereka. "Aku tunggu yah .... " teriak Yezki membalas.

Itulah dunia yang sering kita lupakan. Kepolosan dan keceriaan anak yang tidak menyimpan rasa curiga sering kali lebih mampu menyelesaikan masalah hidup yang tampaknya sangat rumit.

Sebagai orang tua, terkadang kita kembali harus mengingat bahwa saat masih kecil kita juga pernah memandang dunia ini sebagai tempat yang menyenangkan, damai dan sebuah taman bermain yang luas.

* * * * *

Kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa (1 Petrus 4:8)

--------------
(Indriatmo)