Lebaran ini sebetulnya saya tidak punya rencana untuk mudik, karena ingin menikmati istirahat panjang, setelah bulan sebelumnya menghadapi masa yang melelahkan baik secara fisik, mental maupun finansial saat istri menjalani operasi.
Akan tetapi niatan itu tidak bisa terwujud karena kakak ipar minta diantarkan ke Bandung setelah Sholat Id pada hari Sabtu untuk "nyekar" (tabur bunga) di makam suami dan anaknya, sekaligus merayakan Lebaran di sana. Ajakan itu rupanya membangkitkan semangat untuk kembali merayakan hari raya kali ini, bahkan juga rencana untuk mudik.
Setelah kakak selesai sholat Id, kami ke rumahnya dan menikmati ketupat dan opor ayam. Hidangan khas lebaran. Juga ada kue-kue kering buatan sendiri, yang setelah itu dibungkus untuk camilan di jalan karena acara dilanjutkan dengan bersama-sama pergi ke Bandung.
Pagi itu jalan tol Cipularang masih sepi, sehingga sampai ke Bandung hanya memakan waktu satu setengah jam. Kami langsung menuju ke pemakamaan di Leuwi Gajah. Suasana saat itu cukup ramai, karena banyak pengunjung yang datang ke makam untuk tabur bunga atau berdoa di sana. Ada juga pembaca doa yang mangkal, menyediakan jasa mendoakan sanak keluarga yang sudah meninggal menurut kepercayaan mereka.
Kakak ipar juga mendoakan almarhum anak dan suaminya supaya diampuni dosanya dan dimudahkan untuk masuk surga. Ada kesedihan yang mendalam karena hubungan fisik dan hati yang terputus. Mereka melihat kematian sebagai misteri - sehingga terus menerus harus mendoakan yang sudah meninggal.
Jika melihat bagaimana orang menurut kepercayaannya bersusah payah mendokan orang yang sudah meninggal, saya jadi bersyukur karena di dalam Kristus ada kepastian bahwa semua pengikutNya jika meninggal pasti bertemu dengan Kristus di surga.
Setiap pulang kampung ke Semarang, kami juga secara berkala mengunjungi makam ayah dan keponakan. Di sana kami membersihkan makam, tabur bunga, mengenang kembali masa-masa indah bersama mereka dan bagi-bagi angpaw dengan anak-anak kampung yang ada di sana. Kesempatan itu juga digunakan untuk memberi tahu keponakan maupun anak saya mengenai keberadaan keluarga yang sudah meninggal. Mereka memiliki keluarga yang sudah ada di surga dan sekarang sedang mendoakan semua yang masih di dunia.
Jadi bukannya mendoakan mereka yang sudah meninggal, tetapi sebaliknya mereka mendoakan kita yang masih hidup di dunia supaya bisa melewati masa hidup di dunia bersama Kristus dan akhirnya bisa berkumpul kembali di surga.
Dengan mengunjungi makam keluarga, kami memiliki gambaran yang semakin nyata mengenai kehidupan setelah kematian. Ada pengharapan yang kuat dan jelas bahwa nanti akan bertemu dengan semua keluarga yang sudah meninggal di surga. Kami bisa merasakan bahwa sekarang ini mereka sedang hidup penuh sukacita bersama Kristus.
Sebuah perbedaan yang sangat mendasar mengenai pemahaman akan kematian bagi pengikut Kristus dengan kepercayaan yang lain. Yang satu memandang kematian adalah pintu untuk masuk ke dalam kehidupan yang penuh dengan sukacita bersama Kristus di surga, sementara yang lain memandang kematian sebagai dunia yang penuh misteri, suram dan penuh ketidakpastian.
* * * * *
Seusai nyekar dari makam kami menuju ke rumah mertua kakak ipar di Kebon Jeruk. Kedua orang tuanya sudah meninggal, dan rumah itu ditunggui oleh anaknya yang belum menikah. Setahun sekali pada saat Hari Raya, semua keluarga berkumpul di rumah itu untuk merayakan Lebaran sekaligus reuni keluarga.
Kompleks perumahan ini dulunya diperuntukkan bagi keluarga Angkatan Udara. Tanah pekarangannya luas dan rumahnya besar; mungkin karena merupakan perumahan lama. Pada saat memasuki lingkungan perumahan, suasana terlihat lengang sekali - bukan karena mereka pulang kampung, tetapi penyebab utamanya karena yang tinggal di sini kebanyakan sudah lanjut usia dan sebagian sudah meninggal dunia. Sedangkan anak-anaknya sudah bekerluarga, tinggal di rumah sendiri dan punya kesibukan masing-masing untuk merayakan Hari Raya.
Saya membayangkan bahwa tempat ini dulunya ramai sekali, saat anak-anak masih ada dan bersekolah. Sebuah lingkungan tempat tinggal yang sangat dinamis; mungkin ada juga ada yang berantem, karena biasanya anak-anak di perumahan tentara itu jagoan semuanya. Saya jadi teringat waktu kecil; jagoan berantem adalah kebanggaan di lingkungan kompleks tempat saya tinggal. Tapi itu dulu, sewaktu masa Orde Baru.
Sekarang ini saya mendidik Yezki untuk mengasihi teman-temannya. Kadang dia pulang sambil menangis karena dipukul temannya. Hal yang selalu saya katakan adalah, "Yezki tidak boleh membalas tapi harus mengampuni. Teman yang nakal harus dikasihi dan didoakan supaya tidak nakal lagi. Tapi kalau masih nakal terus, jangan bermain dengan anak itu - karena Tuhan Yesus juga tidak senang kalau Yezki bergaul dengan anak-anak yang nakal."
Yezki dengan berat berat badan 32 kilo mempunyai postur tubuh yang cukup besar untuk anak usia lima tahun. Akan tetapi dia tidak pernah terlibat perkelahian dengan teman sebayanya, karena dari kecil sudah diajar untuk mengasihi temannya. Oleh sebab itu dia punya banyak teman, dan biasanya di sore hari halaman rumah penuh dengan teman-temannya yang datang bermain.
* * * * *
Siang hari, keluarga kakak ipar mulai datang dengan seluruh keluarga, dan membawa masakan untuk dinikmati bersama-sama. Ada ikan mas, lontong, opor ayam, sambal goreng, ikan asin dan tak ketinggalan lalapan berserta sambal yang menjadi ciri khas masakan Sunda. Saat bersilaturahmi dengan menikmati hidangan khas Lebaran, kami melihat anak-anak asyik bermain bersama - sebuah kesempatan yang cukup langka untuk kami semua.
Budaya mudik di hari raya adalah hal yang baik. Bukan hanya sekedar pulang kampung, tetapi lebih dari itu merupakan reuni akbar antara handai taulan maupun para sahabat. Kita bisa mudik kapan saja, tetapi hanya ada satu waktu dimana semua keluarga, sahabat dan orang yang pernah kita kenal bisa bertemu. Semuanya berkumpul di hari yang sama untuk menyegarkan kembali ingatan manis masa silam, meneruskan tali silaturahmi, bahkan adanya kejutan karena perubahan anggota keluarga baik karena pertunangan, menikah, lahir atau pun meninggal.
Memang di negara lain juga ada budaya mudik di hari raya, misalnya Thanks Giving di Amerika, Imlek di China atau Obon di Jepang - tetapi setahu saya yang paling heboh dan membuat kemacetan luar biasa adalah di negara tercinta ini. Justru di situlah kita bisa melihat bahwa manusia bukanlah mahluk soliter, sehingga selalu ada kerinduan untuk bisa berkumpul kembali dengan sanak keluarga maupun para sahabat. Saat itu kita bisa lebih bersyukur karena keberadaan kita memiliki arti bagi mereka yang selalu menantikan kehadiran kita di hari raya.
* * * * *
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1.428 H - Mohon maaf lahir dan batin.
-----------
(Indriatmo)