Anak saya akan bilang dia masih kecil, kalau saya sedang menegur kesalahannya.
Sebaliknya, dia akan bilang dia sudah besar kalau saya tidak mengijinkan sesuatu
yang dia inginkan. Sangat menggelikan. Mengapa dia bisa berpikir seperti itu,
sebenarnya sangat wajar. Karena saya sering melakukannya.
Saya sering menyemangati dia dengan kata 'kamu kan sudah besar, pasti bisa'.
Dan akan mengatakan juga 'kamu tidak boleh ini dan itu, karena masih kecil'.
Jadi, sayalah yang sebenarnya yang menggelikan memang, ridiculous, nonsensical.
Ternyata saya banyak menemui orang-orang yang saya golongkan pada ridiculous,
selain saya sendiri dan anak saya. Seseorang akan mudah sekali memaklumi, jika
tubuh atau kedagingan itu lemah. Sehingga pemahaman ini terkadang dipakai sebagai
alasan untuk membenarkan tindakannya. Ada orang mengeluh demikian, 'minggu-
minggu ini saya banyak menemui masalah, maklum saja saya lagi males sekali doa,
yah... tubuh memang lemah ya...' dan sayapun mengiyakan begitu saja, kadang
terkesan membenarkan dengan membicarakan 'iman yang up and down'.
Terkadang ada teman sampai beradu argumentasi, yang mengarah ke perselisihan.
Setelah cooling down, diapun memakai senjata kelemahan tubuh untuk alasan
kemarahannya. 'Bagaimana tidak emosi, saya sudah mempersiapkan semuanya
dengan sungguh-sungguh, dia tidak membantu, malah mencela..' ada juga yang
sebenarnya menyadari kalau emosi itu salah, tetapi tetap berkata demikian:
maaf ya, saya tadi emosi, saya sangat capai beberapa hari ini, eh malah dengar
omongan yang enggak-enggak... siapa yang nggak tersinggung...?' dan pasti
banyak lagi kasus seperti di atas.
Ridiculous-kah itu..?? Belum! Lalu dimana ke-ridiculous-nya??
Disini. Berbicara tentang kelemahan tubuh, nafsu kedagingan, memang mudah
dimengerti. Tetapi kalau kelemahan tubuh dijadikan alasan untuk membenarkan
kesalahan, ini yang harus diselidiki dulu, dan akan muncul pembuktian dengan
sendirinya.
Ada saat yang sulit, untuk membicarakan masalah ketekunan kepada orang lain.
Padahal ketekunan adalah salah satu kunci utama untuk mengatasi kelemahan
tubuh. Orang yang terbiasa berdoa sebelum bertindak, sangat kecil kemungkinan
nya untuk bersikap ceroboh, atau emosi. Orang yang terbiasa merenungan Firman
setiap hari, juga lebih bisa mengendalikan diri dalam menghadapi situasi-situasi
sulit. Terlebih orang yang terbiasa merenungi Firman setiap hari, lebih kecil lagi
kemungkinannya untuk out of control. Mengapa demikian? Karena kebiasaan.
Tubuh memang lemah, benar. Tetapi kita mempunyai kemampuan untuk berpikir.
Otak kita yang tidak seberapa besar, sanggup menyimpan memori yang besar dan
tidak pernah overload. Dengan membiasakan diri untuk hal-hal yang baik, otak
merekamnya dengan otomatis. Dan dengan otomatis pula dia akan mengirim pesan
jika kita tidak melakukan kebiasaan tersebut. Contoh yang mudah, saya terbiasa
bangun pagi. Jadi, saya mengalami kesulitan untuk terlambat bangun, karena otak
saya selalu memerintahkan saya bangun meskipun tanpa alarm. Malah ada teman
saya yang sudah terbiasa bersaat teduh sebelum kerja. Pernah sekali waktu tidak
sempat bersaat teduh karena terlambat. Dia mengatakan sepertinya ada yang
kurang hari itu, seperti orang yang ujian tapi belum belajar. Ada kekuatiran disana.
Tidak mudah untuk menganjurkan kebiasaan di atas pada orang lain. Banyak alasan
yang akan muncul, seperti, tidak sempat, kelupaan, malas, tidak ada waktu, tidak
mungkin dll. Inilah letak ke-ridiculous-annya. Disaat melakukan kesalahan, orang
dengan mudahnya memakluminya, baik kesalahan diri sendiri ataupun orang lain.
Tetapi tidak mau atau berat hatinya untuk melakukan latihan-latihan yang bisa
membantu untuk mengatasi kelemahan tubuh tersebut. Ini bisa disamakan dengan
orang yang berharap untuk cepat sembuh, tetapi tidak mau minum obatnya.
Dalam Mat. 26:41; Mrk. 14:38 dikatakan:
Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan:
roh memang penurut, tetapi daging lemah."
Tuhan sudah memberi kita karunia untuk berpikir. Tubuh memang lemah, tetapi
kita mempunyai iman. Kita bisa mengendalikan tubuh asalkan kita sungguh-
sungguh. Apakah kemampuan berpikir bukan suatu karunia?
Ini adalah karunia yang luar biasa. Akankah kita sia-siakan karunia ini?
Ataukah kita akan memanipulasinya untuk memenangkan keinginan-keinginan
yang lain. Tentu tidak bukan?
Ibarat sebuah pertandingan, kita mempunyai target yang harus kita raih.
Dengan roh yang beriman, kita mengetahui ada hadiah keselamatan disana.
Dengan roh yang beriman, kita memberi semangat kepada tubuh kita untuk
bergerak maju, melewati segala rintangan, untuk mencapai tujuan.
Iman selalu bekerja-sama dengan tubuh.
Iman tanpa perbuatan adalah omong kosong. Melakukan segala sesuatu tanpa
dasar imanpun akan sia-sia. Karena kita tidak punya harapan apa yang akan
kita raih. Dengan beriman, kita melakukan semua perbuatan baik, karena
demikianlah Firman Tuhan. Apakah itu berat? Pasti berat, selama kita hidup
dalam daging. Tetapi Tuhan sudah memberi karunia berpikir kepada kita,
tinggal bagaimana kita memanfaatkan karunia berpikir tadi untuk menunjang
keimanan kita. Dalam tubuh yang lemah, kita bisa berpikir, kita bisa melihat,
kita bisa mendengar, kita bisa merasakan tuntunan Tuhan di dalam hidup ini.
Amin.