Harga

Di hari pertama anak saya bersekolah, di orientation day, seperti biasa kepala sekolah dan staf menyambut para orang tua dan murid setelah libur kenaikan kelas yang panjang. Ketika tiba konselor sekolah bicara, dia bertanya siapa yang sudi meminjamkan uang senilai $100 kepadanya. Kebetulan kepala sekolah yang dekat dengannya mempunyai dan dengan senang hati meminjamkannya.
Sang konselor tiba-tiba meremas-remas uang tadi, dan sesudah itu bertanya kepada pemiliknya; apakah anda masih menginginkannya?
Dengan tanpa ragu si pemilik mengatakan tentu saja dia masih menginginkannya.

Seperti tidak puas dengan jawaban tadi, si konselor menginjak-injak uang itu di lantai, disaksikan semua orang yang tidak semua mengerti apa sebenarnya yang ingin dia kemukakan. Kontan uang yang pada mulanya terlihat baru, menjadi kumal setelah diremas-remas, apalagi diinjak-injak pula, sehingga nampak begitu lusuh dan kotor.
Sang konselorpun bertanya kembali kepada pemilik uang yang adalah kepala sekolah, masih jugakah dia mengingini uang yang kumal dan kotor tersebut. Dan seperti semula si pemilik menjawab ya, saya masih menginginkannya.

Sang konselor kelihatan berpikir sejenak, dan dengan tenangnya hendak meludahi uang tadi di depan semua orang yang hadir. Tentu saja kami semua yang hadir menahan nafas dan hampir berteriak karena mungkin risih juga menyaksikan perbuatan tersebut. Tetapi untung saja si konselor tidak jadi meludahi, tetapi mengatakan, sebenarnya dia ingin meludahi uang itu, tetapi sungkan melihat tanggapan dari hadirin sehingga mengurungkan niatnya.

Dia lalu bertanya kepada si pemilik uang tadi; “Seandainya uang anda ini saya ludahi betulan, apakah anda masih menginginkan uang anda ini kembali?” Si pemilik masih dengan nada yang sama menjawab: “Ya, tentu saja saya masih menginginkannya.” Si konselor bertanya kembali: “Mengapa anda masih tetap menginginkannya? Bukankah uang ini sudah sangat kotor dan menjijikkan. Tidakkah anda jijik untuk menyimpannya?”
Apa jawab si pemilik? Ya, meskipun uang itu sudah seperti kotoran, tetapi jangan lupa bahwa uang itu masih mempunyai nilai, yaitu $100, lagian uang itu milik saya.

Apa yang ingin konselor kemukakan adalah, sejelek-jeleknya anggapan orang mengenai anak-anak kita, atau bahkan kita sendiri yang terkadang masih merasa dan seringkali menganggap anak kita kurang sempurna, tetapi jangan lupa, mereka tetap berharga. Itu yang
harus kita camkan.

Seperti inilah kita di hadapan Allah, sebegitu kotornya kita, entah karena banyak kepahitan yang kita simpan. Sebegitu kumal dan lusuh hidup kita, dan nampaknya sudah tidak berguna, tidak mampu, putus asa, dihina orang, tidak mempunyai pekerjaan, tidak percaya diri, dikecewakan orang, tidak dipandang sebelah mata, diinjak-injak harga diri kita, tidak dihormati... tetapi hendaknya kita harus selalu ingat satu hal.

Bahwa Allah tidak memandang kita demikian. Kita ini berharga dimatanya, ya, kita berharga, karena kita ini adalah kepunyaanNya, milikNya. Meskipun masalah yang melanda sudah sangat melelahkan, kegagalan hidup, dan semua anggapan dan kejelekan menempeli hidup kita, di mata Allah nilai kita tetap sama, yaitu 100 Nilai kita sebagai manusia yang dikasihinya tidak pernah berkurang. Karena Allah tidak pernah memandang apa yang manusia pandang atau apa penilaian orang. Tetapi hanya satu saja pandangan Allah, bahwa kita ini adalah manusia ciptaanNya yang berharga, milikNya. Sehingga Allah selalu menginginkan kita untuk kembali kepadaNya, Dia selalu mau menerima kita, apapun keadaan kita saat ini. Amin.

Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,
maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.
Yes.43:4

naomi, September 30, 2008