Surat Daftar Kebaikan

Pada saat liburan sekolah, Youth di gereja mengadakan Fun Trip (retreat) di Cibodas selama tiga hari. Saya mendapat tugas untuk mengisi session bersama dengan pendeta dan beberapa pembicara yang lain. Pesertanya cukup banyak. Pemuda yang ikut ada 80 orang. Sedangkan pendeta, majelis pendamping dan pembicara ada sekitar 20 orang.

Terinspirasi oleh tulisan yang pernah saya terima dari teman SMA tentang "Daftar Kebaikan", saya membuat satu tugas yang harus dikerjakan oleh peserta Fun Trip selama berada di Cibodas. Masing-masing peserta diberi selembar kertas yang berisi tabel dengan nama-nama semua peserta Fun Trip. Kemudian selama 2 hari, mereka harus menuliskan di dalam kolom yang ada di tabel, satu hal terbaik atau kebaikan yang telah diterima dari orang yang namanya ada di daftar tersebut.

Saya harus menjelaskan berulang kali, supaya mereka menggali ingatan, kesan dan suasana supaya bisa menemukan hal terbaik atau kebaikan dari masing-masing temannya. Memang kalau hanya dikatakan terlihat mudah, tetapi rupanya itu adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan.

Selama dua hari pertama, di waktu istirahat antar session saya melihat mereka terlihat serius memegang kertas berisi daftar kebaikan yang harus diisi. Tampak bahwa mereka cukup sulit untuk menuliskan satu hal terbaik atau kebaikan dari teman mereka. Itu menyadarkan saya bahwa ternyata lebih mudah menyebutkan daftar panjang keburukan dan kejelekan orang lain dari pada satu saja hal yang baik.

Mungkin masalahnya bukan sekedar menuliskan kebaikan dari temannya, tetapi ada hal yang lain - yaitu "kemauan untuk mengakui" bahwa temannya itu memiliki hal yang baik. "Mengakui" bahwa orang lain memiliki sesuatu yang lebih baik dari dirinya atau bahkan telah melakukan sesuatu yang berarti, ternyata membutuhkan perjuangan tersendiri. Itu pelajaran yang saya bisa amati selama mereka mengisi kertas Daftar Kebaikan.

Selain untuk para pemuda, saya juga mengumpulkan team pembicara maupun pendamping FunTrip supaya mereka juga mengisi Daftar Kebaikan sama seperti yang dilakukan oleh para pemuda - tetapi untuk lingkup orang tua saja, jumlahnya ada enam belas orang.

Saya mengamati, para orang tua lebih cepat selesai mengisi kertas Daftar Kebaikan dibanding para pemuda. Pada malam hari pertama semua kertas Daftar Kebaikan dari enambelas orang sudah kembali ke tangan saya. Memang jumlah yang harus diisi lebih sedikit, tetapi diluar itu - saya melihat para orang tua lebih mampu untuk melihat kebaikan atau hal terbaik dari seseorang dibandingkan dengan para pemuda.

Setidaknya ada tiga hal yang membedakan hal itu. Yang pertama karena mereka adalah para majelis dan pembina. Baik di gereja maupun di tempat kerja, mereka sudah terlatih untuk melihat, menggali dan mengembangkan potensi dari orang-orang yang bekerja dengan mereka. Yang kedua, sebagai orang tua mereka "bisa menerima" bahwa sebagai anggota team di mana pun mereka bergantung kepada kebaikan atau potensi yang baik dari orang lain. Yang ketiga, berbeda dengan pemuda yang tingkat "ego" nya masih tinggi, karena telah ditempa oleh pengalaman hidup yang tinggi mereka lebih mudah menerima keberadaan orang lain beserta segala potensinya.

* * * * *

Pada malam hari kedua, giliran saya dan beberapa panita bekerja keras untuk merangkum dan mengelompokkan daftar kebaikan itu ke daftar masing-masing orang. Pada saat mengetik satu persatu pendapat mereka terhadap kebaikan orang lain, saya terharu membaca pendapat yang ada di kertas Daftar Kebaikan, karena bukan hanya kata-kata "baik" yang umum disebutkan, tetapi ternyata ada juga perasaan mendalam yang sangat bermakna, misalnya :
"Konsisten. Pasti menepati janji & selalu datang tepat waktu"
"Jika datang, selalu membuat suasana jadi ceria"
"Luwes. Tidak membeda-bedakan bergaul dengan siapa saja"
"Humoris. Kocak"
"Cantik, pintar bahasa Inggris, bicaranya lembut"
"Walaupun tajir tapi gak sombong. Low profile - asyik diajak temenan"
"Orangnya rohani banget. Ngomongnya selalu sopan"
"Trendi. Pintar buat pakaian selalu matching"
"Menghargai pendapat orang lain"
"Selalu memberi semangat dan motivasi"
"Pembawaannya selalu tenang. Cool abis"
"Ringan tangan. Tidak pernah segan membantu teman dalam kesulitan"
"Terbuka. Tidak pernah marah kalau diingatkan"
"Jujur banget"
Dan masih banyak lagi daftar kebaikan yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Setelah semuanya dikelompokkan untuk masing-masing orang, kemudian di-print dan dimasukkan ke dalam amplop tertutup. Pada hari ketiga amplop itu dibagikan ke masing-masing peserta.

Adapun team pembicara dan pembina berkumpul di tempat terpisah dan amlop itu juga dibagikan. Setelah semua menerima amplop berisi Daftar Kebaikan, mereka kemudian membuka dan membaca dalam hati. Saya berharap melihat wajah-wajah yang cerah karena kejutan saat mereka membaca pendapat orang lain tentang dirinya. Tetapi yang saya dapati justru sebaliknya. Wajah mereka terlihat serius dan beberapa ibu-ibu meneteskan air mata.

"Saya tidak menyangka kalau bapak-bapak dan ibu-ibu di sini mempunyai pendapat yang baik tentang saya seperti ini. Selama ini saya hanya mendengar kekurangan saya saja..." kata seorang ibu menjelaskan.

Yang lain berkata, "Sudah setua ini, baru sekali ini saya menerima surat dan membaca pendapat yang baik dari orang lain tentang diri saya. Bahkan saya tidak pernah menerimanya dari anak atau cucu saya."

Saya sendiri tidak bisa menyembunyikan rasa haru saat membaca pendapat teman-teman sepelayanan mengenai diri saya - termasuk dari istri saya sendiri. Ternyata kehadiran saya berarti dan dinantikan oleh mereka. Ternyata banyak hal yang sangat mereka hargai dari apa yang pernah saya lakukan dan itu benar-benar merupakan kejutan buat saya.

* * * *

Fun Trip berjalan dengan sukses, dan banyak pemuda yang menanyakan kapan akan diadakan lagi acara seperti itu. Tetapi ada hal lain yang masih berlanjut, yaitu berminggu-minggu setelah itu banyak SMS ucapan terima kasih yang diterima panitia. Mereka mengatakan kalau sangat dikuatkan dan disemangati setelah membaca surat Daftar Kebaikan yang mereka terima. Pendapat dari teman-teman mereka mengenai hal yang baik tentang diri mereka, ternyata memberikan arti yang sangat mendalam dan mengingatkan tentang potensi diri serta menyadarkan bahwa mereka ternyata begitu berarti bagi teman-temannya.

Saya sendiri menyimpan surat Daftar Kebaikan di dalam Alkitab - supaya setiap saat bisa saya baca untuk menguatkan dan memberikan semangat. Untuk selalu mengingatkan bahwa ternyata keberadaan saya juga berarti bagi orang lain ...

* * * *

Catatan : terima kasih buat Elia atas kiriman artikelnya yang telah menjadi inspirasi yang luar biasa.

GBU
Indriatmo

------------

DAFTAR KEBAIKAN

Suatu hari seorang guru meminta kepada para muridnya untuk membuat daftar semua nama murid di kelas itu pada dua lembar kertas, dan memberikan tempat kosong di setiap nama. Kemudian ia meminta mereka untuk memikirkan hal yang terbaik mengenai teman mereka dan menuliskannya. Tugas itu ternyata menyita sisa waktu pelajaran untuk diselesaikan, dan ketika para murid meninggalkan kelas, setiap orang menyerahkan hasilnya. Sabtu itu, sang guru menuliskan nama dari setiap murid di kertas yang terpisah, lalu membuat daftar apa yang telah dikatakan oleh murid yang lain mengenai murid itu.

Dan pada hari senin, ia memberikan setiap murid daftarnya. Tidak lama kemuduian, seluruh kelas mulai tersenyum. "Sungguh," ia mendengar suara bisik-bisik. "Aku tidak tahu bahwa aku berarti untuk orang lain!" dan, "Aku tidak tahu kalau yang lain sangat menyukaiku." Begitulah komentar yang didengarkan oleh sang guru. Tidak ada orang yang menyinggung daftar itu di kelas lagi. Ia tidak pernah tahu apakah para murid membicarakannya di luar kelas atau kepada para orang tua mereka, tetapi tidak masalah. Latihan itu telah sampai tujuannya. Para murid sangat bahagia dengan komentar itu dan menyukai satu sama lainnya.

Berapa tahun kemudian, salah seorang dari murid itu tewas terbunuh di VietNam dan gurunya menghadiri pemakaman murid itu. Ia tidak pernah melihat seorang tentara di dalam peti jenazah militer sebelumnya. Muridnya itu sangat tampan, sangat dewasa. Seluruh gereja dipenuhi oleh teman-temannya. Satu persatu yang mencintainya menghampiri peti jenazah itu. Sang guru adalah orang yang terakhir yang mengucapkan salam perpisahan.

Ketika ia berdiri di sana, salah seorang dari tentara yang bertugas sebagai pengangkut peti jenazah itu menghampirinya. "Apakah kamu guru matematikanya Mark," tanyanya. Sang guru mengangguk, "Iya." Kemudian tentara itu melanjutkan, "Mark banyak membicarakan dirimu."

Setelah pemakaman, bekas teman sekelas Mark bersama - sama pergi ke tempat makan siang, ayah dan ibu Mark ada di sana, sangat jelas terlihat bahwa mereka tidak sabar untuk berbicara dengan guru Mark.

"Kami ingin memperlihatkan sesuatu padamu," kata ayah Mark, sambil mengambil dompet dari sakunya. "Mereka menemukan benda ini pada Mark ketika ia tewas. Kami kira Anda mungkin Akan mengenalinya."

Sambil membuka dompet itu, ayah Mark dengan sangat hati-hati mengeluarkan dua lembar kertas yang sudah diisolasi, dilipat berkali-kali.

Sang guru langsung mengenalinya, bahwa kertas itu adalah kertas yang dibuat olehnya, yang berisikan daftar kebaikan Mark yang ditulis oleh teman-teman sekelasnya. "Terima kasih karena telah melakukan hal itu," ibu mark berkata.

Semua mantan teman sekelas Mark mulai berkumpul. Charlie tersenyum dengan malu-malu Sambil berkata. "Aku juga masih menyimpan daftarku. Daftarku itu berada di bagian atas laci Meja belajarku di rumah". lstri Chuck berkata, "Chuck memintaku untuk meletakkannya di album pernikahan kami".

"Aku juga memilikinya," kata Marilyn. "Daftarku ada dalam buku harianku".

Kemudan Vicki, Teman sekelas yang lain, mengambil buku sakunya, kemudian mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan daftarnya yang sudah kusam dan lecek kepada yang lain. "Aku membawanya bersamaku setiap waktu," ujar Vicki, lalu sambungnya, "Aku rasa kita semua menyimpan daftar kita masing-nasing".

Pada saat itu, sang guru terduduk dan menangis. Ia menangis karena Mark dan seluruh temannya tidak Akan mungkin melihat Mark kembali.

* * * *

Begitu banyak orang yang datang dan pergi di kehidupan kita. Dan kita tidak mengetahui kapan hari itu akan tiba. Jadi katakanlah kepada orang yang Anda kasihi dan cintai bahwa mereka sangat penting dan spesial dalam kehidupan anda, katakanlah kepada mereka sebelum terlambat.

(fr. eliadsoetedjo)