Syalom,
Ada banyak pernyataan dari teman-teman bahwa Hukum Taurat sudah tidak berlaku lagi karena saat ini zamannya kasih karunia. Semuanya sudah dipalangkan di kayu salib. Jadi tidak perlu lagi jangan itu … jangan ini…. Harus hari ini dan Harus begini… harus begitu… kasih karunia Allah cukuplah untuk kita. Teman-teman, mari kita coba apa kata alkitab tentang hukum Tuhan Allah kita. Jangan sampai kita salah mengerti akan keselamatan yang sudah di berikan dengan Cuma-Cuma (ep 2:8) membuat kita tersesat dijalan dan tidak sampai ke tujuan.
Menurut para ahli alkitab Hukum Taurat ada 3 jenis:
Hukum-hukum Sipil – ini adalah hukum-hukum yang mengatur banyak hal yang berhubungan dengan adat istiadat Israel. Hukum yang berhubungan dengan kesehatan, kebersihan, penyakit, kejahatan, prosedur penghakiman, dan lain-lain. Ini tidak mengikat sekarang sebagai kewajiban sipil walaupun banyak dari prinsip-prinsip dasar masih berlaku.
Hukum-hukum Upacara – Ini adalah hukum-hukum kaabah yang mengatur upacara agama bangsa Israel yang menunjuk kepada Mesias, dimana harus diadakan korban bakaran yang melambangkan Yesus sebagai anak domba Allah dan Yesuslah kegenapannya melalui kematianNya di kayu salib (Epesus 2: 15, Kolose 2:14).
Hukum Moral – Ini adalah hukum sepuluh perintah yang tertulis dalam Keluaran 20:1-17. Hukum ini telah diumumkan di atas Gunung Sinai, ditulis oleh jari Allah pada loh batu dan dipelihara oleh Israel sebagai hukum seluruh dunia untuk manusia. Begitu Pentingnya 10 hukum ini maka Allah menuliskan dengan jariNya sendiri di Dua Loh Batu dan di berikan kepada Musa (Keluaran 31:18). Seluruh Firman Allah (isi Alkitab) di ilhamkan dan ditulis oleh paling sedikit tiga puluh enam pengarang, hanya 10 hukum inilah yang tidak dipercayakan kepada manusia untuk menuliskannya.
Semoga pembahasan Hukum Allah ini kita pahami untuk menjadi berkat bagi kita dan kemuliaan bagi Tuhan.
Salam,
Ronny
Hukum Tuhan Allah
Sumber : A biblical Exposition..... Disusun oleh 194 para Ahli Alkitab.
Semua mata tertuju ke atas gunung. Puncaknya ditutupi asap tebal, makin lama makin gelap, mereyap serta menyelimuti semua gunung dalam misteri. Kilat menyambar dalam kegelapan , guntur sabung menyabung. Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena Tuhan turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur dan seluruh gunung itu gemetar sangat. Bunyi sangkakala kian lama kian keras. Kel 19:18 19. begitu dahsyat pernyataan kemuliaan hadirat Tuhan sehingga seluruh bangsa Israel gemetar. Tiba-tiba guntur dan terompet berhenti, keheningan yang menyekam terasa. Lalu Tuhan berbicara dari tengah-tengah kabut tebal itu yang mengelilingi Nya ketika dia berdiri di atas bukit. digerakkan oleh kasih yang sangat dalam terhadap umatnya, ia sedang mengumumkan Sepuluh Hukum. Musa pun berkata: Tuhan datang dari Sinai dan datang dari tengah-tengah puluhan ribu orang yang kudus; disebelah kanannya tampak kepada mereka api yang menyala. Sungguh ia mengasihi umatnya; semua orangnya yang kudus di dalam tanganmulah mereka, pada kakimulah mereka duduk, menangkap semua FirmanMu. Ul 33:2, 3
Waktu ia menyampaikan hukum di atas bukit Sinai Allah tidak hanya menyatakan dirinya sendiri sebagai penguasa tertinggi dan dahsyat atas semesta alam. Ia juga menggambarkan dirinya sebagai penebus umatnya( kel 20:2). Hal ini dilakukan karena ia juruselamat yang telah memanggil bukan saja bangsa Israel tetapi juga semua manusia ( Pkh 12:13) untuk menuruti kesepuluh ajaran yang singkat, luas dan mencakup tanggungjawab umat manusia terhadap Allah dan sesamanya. Dan Tuhan Allah berkata : “ jangan ada padamu allah lain dihadapanKu”.
Sifat hukum itu
Sebagai pantulan tabiat Allah, Sepuluh Hukum merupakan hukum moral, rohani, luas dan lengkap, mengandung prinsip-prinsip yang universal.
Pantulan tabiat pemberi hukum itu.
Kitab suci memperlihatkan ciri-ciri Allah di dalam hukumnya. Sebagaimana Tuhan Allah, Taurat Tuhan itu sempurna dan perintah Tuhan itu murni. ( Mzm 19:8,9) jadi Hukum Taurat adalah kudus dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik ( Rm 7: 12) dan segala perintahmu adalah benar. Sejak dahulu aku tahu dari peringatan-peringatanmu, bahwa engkau telah menetapkannya untuk selamanya-lamanya” (Mzm 119:151,152). Sesunggunya, segala perintahmu benar (Mzm 119:172)
Hukum moral
Sepuluh Hukum yang diberikan Tuhan menjelaskan pola tingkah laku Tuhan bagi umat manusia. Hukum itu memberikan penjelasan mengenai hubungan kita dengan pencipta dan penebus serta tanggung jawab kita kepada sesama. Kitab suci mengatakan bahwa pelanggaran atas hukum Tuhan adalah dosa ( I Yoh 3:4)
Hukum rohani
Bahwa Hukum Taurat adalah rohani (Rm 7:14) oleh karena itu hanya orang-orang yang rohani dan yang memiliki buah roh dapat menurutinya (Yoh 15:4 ; Gal 5:22, 23) roh Allah yang membuat kita mampu melakukan kehendakNya( Kis 1:8 ; Mzm 51:11-13). dengan tetap tinggal di dalam Kristus, kita menerima kuasa yang kita perlukan agar berbuah demi kemuliaanNya( Yoh 15:5).
Hukum-hukum manusia ditujukan hanya kepada perbuatan-perbuatan yang jelas-jelas nyata. Akan tetapi Sepuluh Hukum “luas sekali” (Mzm 119:96) menyentuh sampai ke ukuran kita yang paling dalam menyentuh keinginan keinginan kita dan juga perasaan seperti rasa cemburu, iri hati, nafsu dan ambisi. di dalam khotbah di atas bukit, Yesus menekankan dimensi rohani hukum itu, menyatakan bahwa pelanggaran bermula di dalam hati( Mat 5:21,22,27,28 ; Mrk 7:21-23)
Hukum yang positif
Sepuluh Hukum lebih dari sekadar satu rangkaian larangan , didalamnya dikandung prinsip yang amat luas jangkauannya. Yang dicakupnya bukan saja hal-hal yang tidak boleh kita lakukan tetapi juga apa yang seharusnya kita lakukan. Kita tidak boleh hanya mengindari dari perbuatan-perbuatan yang jahat dan pikiran-pikiran yang buruk; kita harus belajar menggunakan talenta dan karunia yang telah diberikan Tuhan kepda kita untuk tujuan yang baik. Oleh karena itu , setiap perintah yang negative mempunyai dimensi yang positif.
Sekadar contoh, misalnya hukum keenam bebunyi “ jangan membunuh” memiliki sisi positif bahwa kau harus meningkatkan hidup.” Kehendak Allah bagi umatnya ialah para pengikut itu meningkatkan segala segi yang baik dan kebahagiaan setiap orang yang berada di bawah dan lingkungan pengaruh mereka. di dalam makna yang sangat dalam bahwa perintah Injil kabar baik akan keselamatan dan kehidupan kekal di dalam Kristus Yesus terletak pada prinsip positif yang terdapat dalam hukum keenam.
Hukum yang sepuluh itu janganlah dipandang sedapat-dapatnya dari sudut larangan, sebagaimana juga dari sudut kemurahan. Larangan-larangan itu justru merupakan jaminan kebahagiaan dalam penurutan. Kalau diterima dalam Kristus maka ia akan bekerja di dalam diri kita untuk memurnikan tabiat yang mendatangkan kegembiraan kepada kita sepanjang abad kekekalan. Kepada yang menurut hukum, hal itu menjadi tembok pelindung. di dalamnya akan kita lihat kebaikan Tuhan, yang dengan menyatakan kepada manusia prinsip kebenaran yang tidak berubah-ubah, akan melindungi mereka dari yang jahat karena pelanggaran.
Hukum yang sederhana.
Sepuluh Hukum sangat jelas di dalam keluasannya yang sederhana. Hukum-hukum itu memang singkat sehingga seorang anak kecil pun dapat dengan mudah menghapalkan nya, namun jangkauannya begitu luas sehingga dicakupnya setiap dosa yang mungkin.
Tidak ada misteri dalam hukum Allah. Semua dapat memahami kebenaran-kebenaran yang agung yang terdapat di dalamnya. Pikiran yang paling lemah sekalipun dapat menangkap aturan-aturan ini; yang paling tidak berpengetahuan sekalipun dapat mengatur hidup dan membentuk tabiat yang sesuai dengan ukuran ilahi.
Hukum azas.
Sepuluh Hukum adalah ikhtisar semua asas atau prinsip yang berlaku pada semua manusia dari segala waktu. Alkitab berkata, takutlah akan Allah dan berpenganglah pada perintah-perintahnya, karena ini adalah kewajiban setiap orang (Pkh 12:13)
Dekalog dasar Firman, atau Sepuluh Hukum(kel 34:28) berisi atau terdiri dari dua bagian, ditujukan dengan adanya dua loh batu yang berisi tulisan tangan Allah (ul 4:13). Pertama, empat hukum yang pertama mengatur tanggung jawab kita terhadap pencipta dan penebus sedangkan yang terakhir yang terdiri dari enam hukum mengatur tanggung jawab kita terhadap sesama.
Kedua bagian ini diambil dari dua asas fundamental yang agung dari hal kasih yang merupakan landasan berlangsungnya kerajaan Allah :” kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (luk 10:27 ; bandingkan ul 6:4,5 ; im 19:18). Barangsiapa yang menghayati prinsip-prinsip ini maka ia akan selaras dengan Sepuluh Hukum, karena perintah itu mengungkapkan asa-asas ini dengan rinci sekali.
Hukum yang pertama menyatakan secara langsung perbaktian hanya kepada sarhana saja. Kedua menyatakan supaya menyembah Ilah. Hukum yang ketiga melarang sikap sembarangan dan bersumpah palsu dengan menggunakan nama Tuhan. Hukum yang keempat mengatakan supaya menycikan sabat dan merupakan ciri-ciri Allah yang benar selaku pencipta langit dan bumi.
Hukum yang kelima mengharuskan anak-anak tunduk kepda orang tua mereka sebagai yang diangkat Tuhan untuk meneruskan penyataan kehendaknya keadaan generasi berikutnya. (baca ul 4:6-9 ; 6:1-7 ) yang keenam merupakan hukum yang melindungi hidup sebagai kehidupan yang kudus. Yang ketujuh menjaga kesucian dan kemurnian hubungan perkawinan. Yang kedelapan adalah hukum yang melindungi harta milik. Yang kesembilan untuk menjaga agar tetap benar dan membuang dusta. Sedangkan yang kesepuluh ditujukan kepada akar semua hubungan manusia dengan melarang orang menginginkan kepunyaan orang lain.
Hukum yang unik.
Sepuluh Hukum tentulah merupakan hukum yang unik dan tegas yang diucapkan Tuhan dengan nyaring kepada seluruh bangsa.(Ul 5:22) hukum ini tidak dipercayakan Tuhan kepada pikiran yang mudah lupa, oleh karena itu Tuhan mengukirnya dengan jarinya sendiri di atas dua loh batu supaya dapat disimpan di dalam tabut dikaabah(kel 31:18;ul 10:2)
Untuk membantu bangsa Israel menerapakan hukum-hukum itu Allah memberikan hukum tambahan yang lebih rinci kepada mereka yang mengatur hubungan mereka kepadanya dan kepada masing-masing mereka. Beberapa dari antara undan-undang tambahan ini berfokus pada undang-undang warga sipil bangsa Israel(hukum sipil) sementara yang lain mengatur upacara –upacara pelayanan dikaabah(hukum keupacaraan). Tuhan Allah menyampaikan hukum-hukum tambahan ini kepada umat dengan perantaan Musa yang kemudian menuliskannya dalam “buku hukum” dan menempatkannya di samping “tabut perjanjian” (ul 31:25,26)
Tidak di dalam tabut sebagaimana di lakukan dengan penyataan tertinggi Allah yakni Sepuluh Hukum itu. Hukum-hukum tambahan ini dikenal se3bagai “kitab hukum Musa” (yoh 8:31; neh 8:1; II taw 25:4) atau dengan “hukum Musa”( I raj 23:25; II taw 23:18)
Hukum yang menyenangkan.
Hukum Tuhan itu merupakan inspirasi bagi jiwa. Penulis mazmur berkata,” betapa kucinta Tauratmu! Aku merenungkannya sepanjang hari. Itulah sebabnya aku mencintai perintah-perintahmu lebih daripada emas, bahkan daripada emas tua”. Walaupun apabila aku ditimpa kesesakan dan kesusahan, katanya lebih lanjut “tetapi perintah-perintahmu menjadi kesukaanku ( Mzm 119:97, 127, 143). Kepada barangsiapa yang mengasihi Allah, perintahnya itu tidak berat” (I Yoh 5:3). Para pelanggar yang menganggap hukum itu sebagi kuk yang menyusahkan, karena pikiran yang penuh dengan dosa tidak takluk kepada hukum Allah: hal ini memang tidak mungkin baginya ( Rm 8:7)
MAKSUD HUKUM
Allah memberikan hukum nya agar umat memperoleh berkat yang berkelimpahan serta membimbing mereka ke dalam hubungan yang menyelamatkan dengan dirinya. Cobalah perhatikan dengan seksama tujuan dan maksud yang dirinci secara khusus ini.
Hukum itu menyatakan kehendak Allah bagi manusia.
Sebagai ungkapan tabiat dan kasih Allah, Sepuluh Hukum menyatakan kehedak dan maksud Allah bagi manusia. Hukum itu menuntut perlunya penurutan yang sempurna, sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya ia bersalah terhadap seluruhnya. (Yak2:10)
Penurutan terhadap hukum, sebagai peraturan yang menguasai hidup, sangat penting bagi keselamatan kita. Kristus sendiri berkata, jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah” (Mat 19:17) penurutan ini hanya mungkin dengan adanya Roh Kudus.
Basis perjanjian Allah.
Musa menuliskan kembali Sepuluh Hukum berikut penjelasan-penjelasan hukum lainnya di dalam buku yang disebut buku perjanjian(Kel 20:1-24:8) kemudian ia menyebut Sepuluh Hukum “ loh-loh batu, loh-loh perjanjian menunjukkan pentingnya sebagai basis perjanjian kekal (Ul 9:9 ; bandingkan 4:13).
Fungsinya sebagai standar penghakiman.
Seperti halnya Tuhan, segala perintahnya benar” (Mzm 119:172) . oleh karena itu hukum seperangkat ukuran kebenaran. Masing-masing kita akan ditimbang dan dihakimkan dengan ukuran prinsip kebenaran in, bukan dengan hati nurani kita. Takurlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah perintahnya,” kata kitab suci”
Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik , entah itu jahat.” (Pkh 12:13,14 ;bandingkan yak 2:12)
Hati nurani manusia beraneka ragam. Ada hati nurani yang “emah”sedangkan yang lain “ajis””jahat” atau “tipu daya pendusta” (I Kor 8:7,12 ; Titus 1:15; Ibr 10:22 ;I Tim 4:2). Sama seperti jam, bagaimanapun baiknya, harus “diatur” oleh ukuran yang pas dengannya. Hati nurani kita mengatakan bahwa kita harus melakukan yang baik, akan tetapi hati nurani itu tidak mengatakan kepada kita apa yang baik. Hanya hati nurani yang telah diatus dengan ukuran agung yang ditetapkan Allah dengan hukumnya dapat menjaga kita menyimpang ke dalam dosa.
Ditunjukkannya dosa.
Tanpa Sepuluh Hukum umat tidak dapat melihat dengan jelas kesucian Allah, kesalahan mereka, atau perlunya mereka bertobat. Apabila mereka tidak mengetahui bahwa mereka melanggar hukum Allah, maka mreka tidak akan merasakan bahwa mereka hilang, atau perlunya bagi mereka pendamaian dengan darah Kristus.
Membantu manusia supaya mengetahui keadaan mereka yang sebenarnya, maka fungsi hukum adalah seperti sebuah cermin( baca Yak 1:23-25) barang siapa yang memandang ke dalamnya maka mereka akan melihat cacat tabiat sendiri yang bertentangan dengan tabiat Allah yang benar. Oleh karena itu hukum moral menunjukkan bahwa seluruh dunia bersalah dihadapan Allah (Rm 3:20) karena sebab dosa ialah pelanggaran hukum (I Yoh 3:4) sesungguhnya kata Paulus” justru oleh Hukum Taurat aku telah mengenal dosa” (Rm7:7). Meyakinkan orang-orang yang berdosa atas dosa mereka, akan membantu mereka sadar bahwa mereka dihukumkan di bawah pengadilan murka Allah dan bahwa mereka menghadapi hukuman mati yang abadi. Itulah yang membuat mereka merasa bahwa mereka sama sekali tidak berdaya.
Alat pertobatan.
Hukum Allah merupakan alat Roh Kudus yang digunakan untuk mendatangkan pertobatan dalam diri kita. “Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa” (Mzm 19:8) apabila kita telah melihat tabiat kita yang sebenarnya maka kita menyadari bahwa kita adalah orang berdosa, kita berada dibarisan orang yang akan dihukum mati tanpa harapan, sehingga kita merasa perlunya seorang juruselamat. dengan demikianlah kabar baik Injil itu menjadi benar-benar bermakna. Hukum itu mengarahkan kita kepada Kristus, satu-satunya harapan yang dapat membantu kita lepas dari keadaan putusasa. dalam pengertian seperti inilah paulaus merujuk baik kepada hukum moral mau pun hukum keupacaraan sebagai penuntun bagi kita” yang membawa kita kepada Kristus,” supaya kita dibenarkan karena iman. Gal 3:24
Walaupun hukum itu menyatakan dosa kita, ia tidak dapat dan tidak akan pernah menyelamatkan kita. Seperti halnya air yang membersihkan wajah yang kotor, demikianlah kita, setelah kita menemuklan kekuranan kita di dalam cermin hukum moral Allah, mencapai sumber yang terbuka “ untuk membasuh dosa dan kecemaran” (Za 13:1) dan dibasuh dengan darah anak domba.(Why 7:14) kita harus memanDang kepada Kristus dan sebagaimana Kristus dinyatakan kepada kita diatas kayu salib golgota, mati di bawah himpitan beban dosa seluruh dunia, Roh Kudus menunjukkan kepada kita sikap Allah terhadap semua orang yang bertobat dari dosa pelanggaran mereka. Maka pengharapan mengisi jiwa kita dan di dalam iman kita sampai kepada juru selamat kita yang mengulurkan kepada kita karunia hidup kekal ( Yoh 3:16)
Disediakan kebebasan yang sejati.
Kristus berkata bahwa setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa (Yoh 8 : 34 ). Apa bila kita melanggar Hukum Allah, maka kita kehilangan kebebasan; akan tetapi menurut hukum yang sepuluh, diberikan kepada kita jaminan yang sejati. Hidup yang selaras dengan Hukum Allah berarti kebebasan dari dosa. Itu berarti kebebasan dari hal-hal yang biasanya mengikuti dosa kecemasan yang berkelanjutan, luka hati nurani, rasa bersalah lyang bertumbuh dan penyesalan yang melemahkan daya hidup yang vital. Pemazmur berkata, “Aku hendak hidup dalam kelegaan, sebab aku mencari titah-titah-Mu” (Maz 119 : 45 ). Yakkobus menyebut dekalog itu “hukum utama”, “hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang” ( Yak 2 : 8 ; 1 : 25 ).
Agar kita dapat menerima kemerdekaan ini, Yesus mengundang kita supaya datan;g kepada-Nya dengan beban dosa kita. Ia memberikan kepada kita kuk-Nya yang ringan (Mat 11 : 29,30). Sebuah kuk adalah alat untuk melayani. dengan membagi beban, tugas yang dibebankan akan lebih ringan. Kristus membagi kuk dengan kita. Kuk itulah hukum; “hukum kasih yang agung dinyatakan ditaman Eden, diumumkan dibukit Sinai, dan di dalam perjanjian baru dituliskan dalam hati, itulah yang mengikat pekerja manusia kedalam kehendak Allah.”13 apa bila kita sepenanggungan kuk dengan Kristus, Ia menanggung beban yang berat dan menjadikan penurutan itu sebagai seuatu kesukaan. Ia menyanggupkan kita hingga berhasil melakukan apa yang tadinya tidak mungkin. Oleh karena itu hukum yang tertulis dalam batin kita, menjadi sebuah kegembiraan dan kesukaan. Kita merdeka karena kita ingin melakukan sebagaimana yang diperintahkan-Nya.
Jika hukum itu diberikan tanpa Kristus, maka tidak ada kemerdekaan dari dosa. Akan tetapi anugerah Allah yang menyelamatkan, yang tidak membatalkan hukum itu, membawa kuasa yang membebaskan dari dosa, karena “dimana ada Roh Allah, disitu ada kemerdekaan” ( II Kor 3 : 17).
Mengekang Kejahatan dan Mendatangkan.
Pertambahan kejahatan, kekerasan, kebejatan moral dan kekjian yang merajalela didunia adalah akibat melalaikan Sepuluh Firman. dimana hukum diterima dengan baik, disa dikekang dan dirintangi, disitulah perbuatan yang benar dianjurkan, dan menjadi sarana menegakkan kebenaran. Bangsa- bangsa yang menerapkan asas-asas itu kedalam hukum-hukum mereka akan memperoleh berkat besat. Sebaliknya, apa bila tidak menghiraukan asa-asas ini maka kemunduran yang terus-menerus akan terjadi.
Pada zaman Perjanjian Lama Allah sering memberkati bangsa-bangsa dan individu selaras dengan penurutan mereka terhadap hukum-Nya. “Kebenaran meninggikan derajat bangsa,” kata kitab Suci, dan sebuah “Takhta menjadi kokoh oleh kebenaran” (Ams 14 : 34; 16 : 12). Barangsiapa yang melolak menuruti perintah-perintah Tuhan akan menghadapi ancaman malapetaka (Maz 89:31. 32). “Kutuk Tuhan ada didalam rumah orang fasik, tetapi tempat kediaman orang benar diberkati-Nya.” (Ams 3:33; bandingkan Im 26; Ul 28) prinsip umum yang sama tetap belaku sampai hari ini.14
KEKEKALAN HUKUM ITU
Karena hukum moral yang sepuluh itu merupakan refleksi tabiat Allah, maka prinsip-prinsip itu tidaklah bersifat sementara atau menurut situasi, melainkan mutlak, tidak dapat berubah, dan sahih secara permanen bagi manusia. Orang-orang Kristen dari zaman ke zaman mengukuhkan keteguhan dan kekekalan hukum Allah, dengan kokoh membenarkan keabsahannya secara terus-menerus.15
Hukum sebelum sianai.
Hukum Tuhan sudah ada jauh sebelum diberikan-Nya Sepuluh Hukum kepada bangsa Israel. Sebab kalau tidak demikian, maka sebelum sinai tidak ada dosa. “sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah” (I Yoh 3:4). Fakta bahwa Lucifer dan malaikat-malaikatnya dinyataka berdosa menjadi bukti bahwa hukum sudah ada jauh sebelum penciptaan (II Ptr 2:4)
Takkala Allah menjadikan Adam dan Hawa didalam gambar-Nya, Ia menanamkan asas-asas moral dari hukum itu di dalam benak mereka, secara alamiah diberikan kepada mereka agar mereka dapat melakukan kehendaknya. Pelanggaran yang dilakukan mereka membuat dosa dikenal keturunan umat manusia( Rm 5:12)
Kemudian Allah mengatakan tentang abraham bahwa ia “telah mendengarkan Firmanku dan memelihara kewajibannya kepadaku yaitu segala perintah, ketetapan dan hukumku( kej 26:4,5). dan Musa mengajarkan peraturan-peraturan Tuhan dan hukumnya sebelum sinai ( kel 16; 18:16). Studi mengenai buku kejadian menunjukkan bahwa Sepuluh Hukum telah dikenal baik sebelum sinai. Buku itu menyatakan dengan jelas bahwa umat mengetahui bahwa sebelum Allah memberikan sepuluh Firman (dekalog) itu, perbuatan-perbuatan yang dilarang itu salah. Pengertian yang telah diterima secara umum ini, yakni hukum moral, menunjukkan bahwa Allah harus menyediakan bagi manusia pengetahuan mengenai Sepuluh Hukum.
Hukum di sinai. Selama masa perhambaan yang cukup lama di mesir, sebuah bangsa yang tidak mengakui allah yang benar ( kel 5:2) orang- orang Israel hidup ditengah-tengah penyembah berhala dan kebejatan. Akibatnya mereka lupa dan kehilangan pengertian yang mendalam atas kesucian, kemurnian dan prinsip-prinsip moral yang diberikan dan dimiliki Allah. Status mereka sebagai hamba mempersulit mereka untuk menyembah dan berbakti kepada Tuhan.
Menjawab seruan permintaan mereka yang amat sangat, Allah mengingat perjanjiannya kepada abraham dan bertekat melepaskan umatnya keluar dari dapur peleburan. (ul 4:20) dengan membawa mereka ke sebuah negeri agar supaya mereka tetap mengikuti ketetapannya dan memegang segala pengajarannya (Mzm 105:43-45)
Setelah mereka dilepaskan lalu ia menuntun mereka ke gunung sinai untuk memberikan kepada mereka hukum moral dan hukum-hukum keupacaraan yang mengajarkan kepada mereka jalan keselamatan adalah melalui pengorbanan pendamaian juruselamat. di sinai kemudian Tuhan memberikan hukum secara langsung, dalam bentuk yang sederhana dan jelas dengan istilah yang mudah oleh karena pelanggaran pelanggaran ( gal 13:19) supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa( Rm 7:13) hanyalah dengan membuat hukum Allah lebih terfokus maka mereka bangsa Israel akan menyadari pelanggaran mereka lebih tajam sehingga mengetahui keberadaan mereka yang tanpa daya dan mereka mengetahui betapa perlunya keselamatan.
Hukum sebelum kedatangan Kristus kedua kali.
Alkita menunjukkan bahwa hukum Tuhan menjadi sasaran serangan setan dan perang yang dilancarkannya terhadap hukum-hukum itu mencapai klimaks persisi mendahului kedatangan Kristus yang kedua kali. Nubuat menunjukkan bahwa setan akan memimpin sejumlah besar manusia untuk mengingkari Allah(why 13:3)
Hukum di bawah serangan.
Daniel 7 menggambarkan kuasa yang sama dengan menyebut tanduk kecil. Bab ini mengutarakan empat binatang besar, yang mana bahkan sejak masa Kristus para penafsir alkitab telah mengidentifikasinya sebagai kuasa-kuasa dunia yang besar: babilon, medopersia, gerika dan roma. Sepuluh tanduk dari empat binatang besar itu menggambarkan pembagian kerajaan roma setelah kejatuhannya (476 tm)
Khayal daniel berpusat pada tanduk kecil, sebuah kuasa menghujat yang mengerikan yang bangkit di tengah-tengah sepuluh tanduk, menyatakan timbulnya sebuah kuasa dahsyat sesudah terpecah-pecahnya kerajaan roma. Kuasa ini akan mecoba mengubah hukum Allah(Dan 7:25) dan akan terus berlangsung sampai kedatangan Kristus kembali. Serangan ini sendiri membuktikan makna yang terus menerus hukum itu di dalam rencana keselamatan. Khayal berakhir dengan menjamin kembali umat Allah, bahwa kuasa ini tidak akan berhasil melenyapkan hukum itu karena penghakiman akan membinasakan tanduk kecil itu (Dan 7:11; 26-28).
Orang-orang saleh mempertahankan hukum itu. Penurutan menjadi ciri-ciri orang saleh yang menanti kedatangan Kristus yang kedua kali. dalam konflik terakhir mereka berlomba meninggikan hukum Allah. Kitab suci melukiskan mereka sebagai berikut: mereka yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus (why 12:17; 14:12) dan yang dengan sabar menanti kedatangan Kristus kembali.
Dalam persiapan menanti kedatangan Kristus kedua kali, umat ini mengumumkan Injil, memanggil orang lain supaya menyembah Tuhan sebagai pencipta (why 14:6,7). Barangsiapa yang menyembah Allah di dalam kasih akan menurutinya; sebagaimana yang dikatakan yohanes: sebab inilah kasih kepada Allah yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintahnya. Perintah-perintahnya tidak berat (I Yoh 5:3).
Pengadilan Tuhan dan hukum
Pengadilan dilakukan Tuhan dengan mendatangkan ketujuh malapetaka atas orang yang tidak menuruti hukum itu bermula dari kaabah bait suci –kemah kesaksian di surga (why 15:5). Bansa Israel telah kenal betul ungkapan bait suci—kemah kesaksian; yang dimaksudkannya ialah kemah yang dibangun oleh Musa(bil 1:50; 53;17:8; 18:2). disebut demikian karena kemah suci itu memuat kesaksian ( kel 26:34), yang berisi kedua loh hukum (kel 31:18). Oleh karena itu, Sepuluh Hukum adalah kesaksian – saksi bagi manusia dari hal kehendak Allah (kel 34:28,29).
Akan tetapi wahyu 15:5 menunjuk kepada bait suci—kemah kesaksian di surga. Bait suci yang dibuat Musa hanyalah sebuah contoh bait suci yang di surga ( kel 25:8, 40; bandingkan ibr 8:1-5); aslinya yang besar—Sepuluh Hukum itu disimpan di sana. Penghakiman terakhir sangat erat kaitannya dengan pelanggaran terhadap hukum Allah menjadi bukti tambahan betapa abadinya Sepuluh Hukum itu.
Buku wahyu juga menggambarkan pembukaan kaabah surga, yang menampakkan pemandangan atas tabut perjanjiannya (why 11:19). Frasa tabut perjanjian menunjuk kepada tabut pada kaabah dunia yang berisi loh batu yang di dalamnya tertulis Firman perjajian yakni Sepuluh Hukum (kel 34:27; bandingkan bil 10:33; ul 9:9). Tabut perjajian itu yang terdapat di dalam kaabah surga adalah tabut yang asli yang berisi perkataan perjanjian kekal—sepuluh Firman yang asli. Maka jelaslah bahwa waktu penghakiman terakhir yang dilakukan Allah atas dunia ini ( why 11:18) berhubungan dengan pembukaan kaabah surga dengan berfokuskan pada tabut dengan Sepuluh Hukum –sesungguhnya merupakan sebuah gambaran yagn pantas dari besarnya hukum Allah sebagai ukuran penghakiman.
Hukum dan Injil
Keselamatan adalah karunia yang datang karena anugerah melalui iman, bukan karya dari hukum itu ( Ef 2:8) bukan karena perbuatan yang baik karena melakukan hukum, bukan dengan usaha yang bagaimana pun yang dipujikan, bukan pula karena perbuatan yagn baik apakah banyak atau sedikit pengorbanan atau tidak dengan cara bagaiman pun dapat membenarkan orang berdosa (tit 3:5; Rm 3:20).
Di dalam kitab suci terdapatlah keselarasan yang sempurna antara hukum dan Injil, saru dengan yang lain saling meninggikan.
Hukum dan Injil sebelum sinai.
Apabila Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, maka tahulah mereka apa artinya bersalah, takut dan kekurangan (kej 3:10) Allah menyambut dan menjawab atas kekurangan mereka bukan degan menghapuskan hukum yang menghakimkan mereka; melainkan dengan memberikan kepada mereka Injil yang dapat memulihkan mereka kembali ke dalam persekutuan dan penurutan kepadanya.
Injil ini berisi janji penebusan melalui juruselamat, benih perempuan itu yang pada suatu ketika kelak akan datang dan menag ats yang jahat ( kej 3:15) sistem persembahan yang diberikan Tuhan utnuk mengajarkan kepada mereka pentingnya kebenaran mengenai pendamaian bahwa pengampunan dapat diperoleh hanya melaui penumpahan darah – melalui kematian juruselamat. dengan mempercayai bahwa korban binatang yang dipersembahkan itu merupakan lambang kematian aygn mendatangkan pendamaian dari Kristus demi mereka maka mereka memperoleh pengampunan dari dosa. Merka diselamatkan oleh anugerah.
Janji Injil ini adalah pusat perjanjian Allah yang kekal darihal anugerah yang diberikan kepada manusia ( kej 12:1-3; 15:4,5; 17:1-9). Hal ini sangat erat kaitannya dengan penurutan kepada hukum Allah(kej 18:18, 19; 26:4,5). Kepastian janji Allah itu adalah anak Allah, yang satu-satunya menjadi inti Injil yakni sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari anak domba yang telah disembelih( why13:8) anugerah Allah segera berlangsung begitu Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. daud berkata “ tetapi kasih setia Tuhan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan dia, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjiannya dan yang ingat untuk melakukan titahnya (Mzm 103:17,18)
Hukum dan Injil di sinai.
Ada hubungan yang erat antara sepuluh Firman dengan Injil. Pendahuluan hukum itu misalnya, menunjuk kepada Allah sebagai penebus (kel 20:1) dan setelah proklamasi Sepuluh Hukum, Allah menyuruh orang –orang Israel mendirikan mezbah dan mulai mempersembahkan persembahan yang mengungkapkan anugerah nya yang menyelamatkan.
Dibukit sinai Allah memberikan sebagian besar hukum keupacaraan yang berhubungan dengan pembangunan kaabah, yang menjadi tempat kediaman Allah bersama umatnya dan tempat berjumpa dengan mereka untuk membagikan berkat-berkatnya serta mengampuni dosa –dosa mereka(kel 24:9-31:18). Perluasan sistem persembahan yang sederhana ini telah ada sebelum sinai, membayangkan karya pengantaraan Kristus bagi penebusan orang-orang yang berdosa dan pengesahan kuasa dan kesucian hukum Allah.
Tempat kediaman Allah adalah di bilik yang maha suci yang terdapat di dunia, ditempat kemurahan di tabut tempat beraDanya Sepuluh Hukum. Setiap aspek pelayanan kaabah melambangkan juruselamat. Korban sembelihan menunjukkan kematiannya yang mengadakan pengantaraan yang akan menebus umat manusia dari hukuman yang didatangkan oleh hukum itu.
Sementara dekalog atau Sepuluh Firman utu ditempatkan didalam tabut, hukum-hukum keupacaraan, bersama-sama dengan peraturan-peraturan sipil yang diberikan Tuhan telah dituliskan di dalam “Buku Hukum” dan ditempatkan disamping tabut perjanjuan sebagai “saksi disitu terhadap engkau” (Ul 31: 26). Apa bila mereka berdosa, maka “saksi” ini akan menghakimkan perbuatan mereka serta menyediakah syarat yang terinci dan panjang lebar mengenai pendamaian dengan Allah. Mulai dari Sinai sampai kepada kematian Kristus, para pelanggar Sepuluh Hukum dapat memperoleh pengharapan, pengampunan dan penyucian dengan iman dalam Injil yang di gambarkan oleh pelayanan kaabah dari hukum keupacaraan itu.
Hukum dan Injil Sesudah Salib.
Sesuai dengan pengamatan sebagian besar orang Kristen, Alkitab menunjukkan bahwa sementara kematian Kristus menhapuskan hukum deupacaraan, maka dikukuhkannya seterusnya keabsahan hukum moral.20 Simaklah bukti berikut ini:
1. Hukum keupacaraan. Apabila Kristus mati, Ia menggenapi lambang nubuat sistem korban-korban persembahan. Lambang dengan yang dilambangkannya bertemu, sehingga berakhirlah hukum keupacaraan itu. Berabad-abad sebelumnya daniel telah meramalkan bahwwa kematian Mesias akan “menghentikan korban sembeelihan dan korban santapan” (Dan 9:27). Watu Yesus mati, tirai dikaabah secara ajaib tercarik dua dari atas kebawah (Mat 27:51), menunjukkan berakhirnya makna rohani pelayanan di kaabah.
Walaupun hukum keupacaraan memegang peranan penting sebelum kematian Kristus, dalam banyak hal hukum ini tidaklah sempurna, karena sebagai “bayangan saja dari keselamatan yang akan datang” (Ibr 10:1). Yang diperankannya ialah tujuan yang bersifat sementara dan membebani umat Allah sampai tibanya “waktu pembaharuan” (Ibr 9:10; Gal 3:19) – sampai tiba waktunya Kristus mati sebagai domba Allah yang sejati.
Pada waktu kematian Kristus batas hukum keupacaraan berakhir. Korban pendamaian yang dilakukannya cukup mengampuni dosa-dosa semua orang. Tindakan ini menghapuskan surat utan yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. dan itu ditiadakannya dengan memakukannya pada kayu salib. (kol2:14 ; bandingkan ul 31:26) oleh karena itu, tidak perlu lagi mengadakan upacara yang telah dihapuskan, karena hal itu tidak dapat menghapuskan dosa atau menyucikan hati nurani(ibr 10:4; 9:9,14). Tidak perlu lagi dicemaskan hukum-hukum keupacaraan, berikut syarat-syarat yang rumit mengenai persembahan makanan dan minuman, perayaan-perayaan atas pelbagai festival (paskah, pentakosta, dsb) bulan baru atau sabat-sabat keupacaraan (kol2:16; bandingkan ibr 9:10) yang hanya merupakan bayangan dari apa yang harus datang (kol 2:17)
Dengan kematian Yesus, orang-orang yahudi maka hukum keupacaraan itu telah mejadi sebuah perintang antara mereka dengan bangsa-bangsa lain. Hal itu telah menjadi rintangan besar bagi misi mereka yang sebenarnya dimaksudkan untuk menerangi dunia dengan kemuliaan Tuhan. Kematian Kristus menghapuskan segala perintah dan ketentuannya, meruntuhkan tembok pemisah antara orang yang bukan yahudi dan orang yahudi sehingga menciptakan sebuah keluarga baru, yakni umat percaya, yang diperdamaikan ke dalam satu tubuh pada salib itu (ef2:14-16)
Sepuluh Firman dengan salib.
Sementara kematian Kristus mengakhiri otoritas hukum keupacaraan, justru sepuluh Firman itu ditegakkannya. Kristus menanggung kutuk hukum, dengan demikian membebaskan umat percaya dari hukuman. dengan melakukan demikian, bukan berarti bahwa hukum itu sudah dihapuskan dan memberikan kebebasan kepada kita untuk melanggar asas-asas atau prinsipnya. Cukup banyak kesaksian yang diperoleh di dalam kitab suci mengenai kekalnya hukum itu. Menolak pandangan yang disebutkan di atas.
Calvin dengan tegas mengatakan bahwa kita tidak boleh membayangkan bahwa kedatatangan Kristus telah membebaskan kita dari kekuasaan hukum; karena hukum itulah peraturan yang abadi dari pengabdian dan hidup yang suci, dan harus karena itulah keadilan Allah yang tidak pernah dapat berubah.
Paulus melukiskan hubungan antara penurutan dan Injil anugerah yang menyelamatkan. Memanggil orang-orang beriman agar hidup suci, ia menantang mereka agar mereka mempersembahkan diri sendiri menjdai senjata-senjata kebenaran. Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah Hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia (Rm 6:13, 14). Oleh karena itu orang kristen tidak memelihara hukum untuk memperoleh keselamatan. Barangsiapa yang berusaha melakukan pemeliharaan hukum itu untuk memperoleh keselamatan hanyalah akan memperdalam perhambaan dalam dosa. Selama manusia berada dibawah hukum ia tetap dibawah kuasa dosa, karena hukum tidak dapat menyelamatkan seseorang dari hukuman maupun dari kuasa dosa. Akan tetapi barang siapa yang berada di bawah anugerah menerima bukan saja kelepasan dari hukuman (Rm 8:1) tetapi juga kuasa untuk mengalahkan (Rm 6:4) dengan demikian maka dosa tidak lagi berkuasa atas mereka.
Sebab Kristus, kata Paulus menambahkan adalah kegenapan Hukum Taurat sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya (Rm 10:4). Lalu setiap orang yang percaya di dalam Kristus mengakui bahwa dialah akhir hukum yang menjadi sebuah jalan utnuk memperoleh kebenaran. Kita adalah orang-orang yang berdosa, tetapi di dalam Kristus Yesus kita dibenarkan melalui kebenarannya yang dihisabkan.
Di bawah anugerah itu, bukanlah berarti orang-orang beriman bebas dan bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia (Rom 6:1). Sebaliknya anugerah menambah kuasa yang membuat penurutan dan kemenangan atas dosa itu mungkin diperoleh. demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus yang tidak menuruti keinginan daging melainkan menurut roh (Rom 8:1)
Kematian Kristus memuliakan dan membesarkan hukum, meninggikan otoritasnya yang bersifat universal. Jika sepuluh Firman (dekalog)dapat diubah maka Kristus tidak perlu mati. Tetapi karena hukum ini mutlak dan tidak dapat diubah, kematian menjadi syarat pembayarannya. dengan matinya Kristus di kayu palang, persyaratan ini dipenuhi, memungkinkan kehidupan kekal dapat diperoleh semua oran gyang menerima pengorbanannya yang amat mulai itu.
Penurutan kepada hukum
Tiada orang yang dapat memperoleh keselamatan dengan usahanya yang baik. Penurutan adalah buah keselamatan di dalam Kristus. Melalui anugerahnya yang ajaib, terutama yang dinyatakan di kayu salib, Allah telah membebaskan umatnya dari hukuman dan kutuk dosa. Walaupun mereka adalah orang-orang berdosa. Kristus memberikan hidupnya untuk menyediakan bagi mereka pemberian hidup kekal. Kasih karunia Allah yang berkelimpahan timbul di dalam orang berdosa yang betobat sebuah sambutan yang menampakkan diri di dalam penurutan yang penuh kasih melalui kasih anugerah yang dilimpahkan dengan berkelimpahan. Orang-orang percaya yang mengerti bahwa Kristus menghargai hukum dan orang yang mengeri berkat-berkat penurutan akan digerakkan dengan tangguh untuk mengharati hidup seperti hidup yang dihayati Kristus.
Kristus dan hukum
Kristus sangat menghargai Sepuluh Hukum. Sebagai mana yang agung AKU ADALAH AKU, Ia sendiri mengumumkan hukum moral bapa dari sinai (Yoh 8:58 Kel 3:14) sebagian dari tugasnya di dunia ini adalah untuk memberikan pengajarannya yang benar dan mulia. (Yes 42:21). Sebuah ayat dari perjanjian baru dikenakan kepada Kristus membuat jelas sikapnya terhadap hukum, aku suka melakuakan kehendak Mu ya Allahku; Tauratmu ada dalam dadaku(Mzm 40:8; bandingkan Ibr10:5,7)
Injilnya menghasilkan sebuah iman yang senantiasa menukuhkan keabsahan sepuluh Firman(dekalog). Kata paulus jika demikian adakah kami membatalkan Hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya kami meneguhkannya (Rm3:31)
Oleh karena itu Kristus datang bukan hanya untuk menebus manusia tetapi juga mempertahankan otoritas dan kesucian hukum Allah, menampilkan kebesaran dan kemuliaan dihadapan orang banyak serta memberikan kepada mereka teladan bagaimana berhubungan denganNya. Sebagai pengikut pengikutNya orang –orang kristen dipanggil untuk hidup mereka . Kristus menghayati suatu kehidupan penurutan dengan kasih diriNya sendiri, ia menekankan bahwa para pengikutnya harus memelihara hukum. Apabila ditanyakan mengenai syarat-syarat untuk memperoleh hidup kekal, ia menjawab jikalau engkau itnin masuk ke dalam hidup turutilah segala perintah Allah. (Mat 19:17). Ia juga mengamarkan pelanggaran terhadap asas ini, bukan setiap orang yang berseru kepadaku:Tuhan, Tuhan akan masuk ke dalam kerajaan surga, melainkan dia yang melakukan kehendak bapaku yang di surga. Para pelanggar hukum akan ditolak masuk ke dalamnya. (Mat7:21-23).
Kristus sendiri menggenapi hukum bukan dengan membinasakannya tetapi melalui hidup yang penuh dengan penurutan. Sesungguhnya katanya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari Hukum Taurat. Sebelum semuanya terjadi (Mat 5:18). dengan tegas Kristus menekankan bahwa tujuan mulia hukum Allah itu haruslah senantiasa disimpan di dalam pikiran: mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, jiwa raga dan pikiranmu dan sesamamu seperti dirimu sendiri (Mat 22:37,38). Bagaimana pun, ia ingin agar para pengikutnya jangan mengasihi sesamanya sebagaimana menurut kasih yang ditafsirkan dunia ini, yang mementingkan diri atau sentimental saja. Untuk menjelaskan kasih yang dibicarakannya, Kristus membgerikan hukum yang baru (Yoh 13:34). Hukum yang baru ini bukanlah mengambil tempat sepuluh Firman, melainkan menyediakan bagi umat percaya dengan sebuah teladan apa sebenarnya kasih sejati yang tidak mementingkan diri sendiri itu, kasih yang belum pernah disaksikan diatas dunia ini. dengan demikianlah perintah-Nya ini dilukiskan sebagai sebuah perintah baru. Yang memerintahkan mereka bukan hanya sekadar “supaya kamu saling mengasihi” tetapi supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Bukti bahwa kita mengasihi Tuhan adlaah bila kita menuruti perintahNya (Yoh 14 : 15). Jelasnya, kita berada disini juga satu lagi bukti bagaimana Kristus menghoRmati hukum-hukum Bapa-Nya.
Penurutan menyatakan cinta yang demikian. Yesus berkata, “jkalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu” (Yoh 14 :15). “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal didalam kasih-Nya” (Yoh 15 : 10). Samalah halnya jika kita mengasihi umat Allah maka kita pun mengasihi Allah dan “menuruti perintah-perintah-Nya” (I Yoh 2 : 3)
Hanyalah dengan tinggal didalam Kristus kita dapat membuat hati yang penurut. “Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur,” kata-Nya, “denikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal didalam Aku....... Barang siapa tinggal didalam Aku Aku didalam dia, ia berbuah banyak, sebab diluar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15 :4, 5).agar dapat tinggal dalam Kristus kita harus disalibkan dengan-Nya dan mengalami seperti apa yang ditulis Paulus: “tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup didalam aku”( Gal 2:20) bagi orang yag sudah berada dalam kondisi seperti ini Kristus dapat meggenapi perjanjuan baru-Nya: Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku.” ( Ibr 8:10)
Berkat-berkat penurutan. Penurutan mengembangkan tabiat Kristen dan menghasilkan suatu perasaan yang baik, menjadikan umat percaya bertumbuh sebagai “bayi yang baru lahir” dan akan diubah menjadi serupa dengan gambar Kristus (baca I Ptr 2:2; II Kor 3:18). Perubahan dari orang berdosa menjadi anak Allah akan menjadikan saksi yang berhasil baik terhadap kuasa Kristus.
Kitab suci menyatakan “berbahagialah” semua “orang yang hidupnya tidak bercela, yang didup menurut Taurat Tuhan” (Maz 119 :1), “yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan itu siang dan malam” (Maz 1:2). Berkat-berkat penurutan itu banyak : (1) kebijaksanaan dan akal budi (Maz 119 :98, 99); (2) Ada damai (Maz 119 : 165; Yes 48: 18); (3) pembenaran (Ul 6:25; Yes 48 : 18) (4) kemurnian dan kedidupan moral (Ams 7 : 1-5); (5) pengetahuan akan kebenaran (Yoh 7 : 17); (6) penjagaan terhadap penyakit; (7) Panjang usia (Ams 3 :1,2; 4:10,22); (8) jaminan bahwa doa seseorang akan dijawab (I Yoh 3:22; Maz 66:18)
Dengan mengundang kita supaya menjadi penurut, Allah menjanjukan berkat yang berkelimpahan( Im 26:3-10 ; Ul 28 : 1-12). Apa bila kita menyambut dengan positif, maka kita akan menjadi “harta kesayangan” Tuhan “menjadi kerajaan imam dan bangsa yang kudus” (Kel 19 : 5,6; ! Ptr 2:5,9) ditinggikan “diatas segala dibumi,” menjadi kepala dan bukan menjadi ekor” (Ul 28: 1,13)
Tuhan Memberkati Anda Semua.
sabda.org