KECEWA
Berbicara masalah kecewa, akan selalu berhubungan dengan keinginan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Dan kalau kekecewaan itu berlarut-larut, akan menimbulkan masalah yang serius, karena tidak hanya menyerang
pada hati yang terkait dengan prilaku, yang terpenting adalah dampak kepada kerohanian kita.
Banyak hal yang bisa memicu rasa kecewa. Mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan, bisa lingkungan tetangga,
lingkungan kerja, sampai lingkungan gereja yang seharusnya kudus karena 'rumah Bapa'.
Kecewa pada diri sendiri, misalnya bentuk tubuh yang tidak sempurna, terkena sakit penyakit dan sebagainya.
Disaat kita merasa ada yang kurang di dalam diri kita, termasuk kontrol emosi, disitu sudah ada benih-benih rasa
kecewa. Demikian halnya dengan kekecewaan pada orang lain.
Timbulnya rasa kecewa itu sendiri tidak terlepas dari standar tertentu yang kita harapkan baik pada diri sendiri maupun
pada orang lain atau sesuatu. Saya pernah menulis kiat untuk menghindari rasa kecewa, diantaranya dengan memahami
keberadaan kita sebagai ciptaan yang sudah cacat. Dengan pemahaman itu, kita akan memaklumi bahwa tidak ada
yang sempurna di dunia ini, sehingga jangan menerapkan standar apapun kepada sesuatu atau seseorang.
Alkitab juga menegaskan hal ini dalam Galatia 5:16 dikatakan hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti
keinginan daging. Di dalam Dia, kita tahu bahwa selama hidup kita akan kecewa, baik kecewa sendiri
(akibat dari diri sendiri) ataupun dikecewakan yang lain. Hanya harapan kepada Dia saja, yang pasti
tidak akan mengecewakan. Karena Dia tidak pernah melupakan janjiNya.
Selama ini kita selalu mendengar kekecewaan yang terjadi diantara kita manusia. Pernahkah kita
merenungkan, apakah Allah juga pernah kecewa? Karena seperti kita ketahui penekanan ajaran kristen
selalu pada Allah yang penuh kasih, Allah yang peduli atau kasih Allah, Allah peduli dsb.
Di dalam PL banyak menceritakan kekecewaan Allah terhadap bangsa Israel, umat pilihanNya.
Dan di dalam PB, Yesus juga kecewa dengan manusia di jamanNya. Bisa dilihat bagaimana marahnya
Dia ketika Bait Allah dijadikan tempat jual beli sehingga diusirnya mereka semua dan dibaliknya meja
dan bangku.
Yesus juga kecewa ketika mendapati iman murid-muridNya yang naik turun. Padahal mereka hidup
bersama-sama denganNya, menyaksikan mujizat-mujizatNya, tetapi masih kurang percaya, "Mengapa
kamu takut, kamu yang kurang percaya?"
Juga dengan Yohanes pembaptis yang jelas-jelas tahu siapa Yesus, dimana dia pernah mengatakan
"Membuka kasut dari kaki-Nyapun aku tidak layak." tetapi masih bertanya lagi ketika dia di dalam penjara
dan mengutus muridnya untuk bertanya kepada Yesus "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah
kami menantikan seorang lain?"
Bagaimana perasaan Yesus ketika itu? Tidak kecewakah Dia?
Tetapi satu hal yang diteladankan Allah atau Yesus, dimana Allah tidak mempersoalkan rasa kecewaNya.
Dia menutupi kekecewaanNya dengan kasihNya. Dengan kasih Dia mati untuk kita. Dengan kasih Dia
menunggu manusia-manusia yang kecewa, dengan kasih Dia melakukan segalanya tanpa mengingat-ingat
kekecewaan-Nya sendiri.
Bagaimana dengan kita? Akankah kita terfokus kepada 'rasa kecewa' daripada kepada kasihNya yang nyata?
...sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. (1 Petrus 4:8)
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
(Kolose 3:23)
naomi
Sunday, October 19, 2008
sabda.org