Kapan Nikah? Ha Ha Ha ....

Lagi-lagi pertanyaan itu diposting seorang teman. Rupanya pertanyaan itu cukup mengusik kesendiriannya, sehingga si doi merasa perlu dukungan moril. Saya balas dengan asal : Nikah atau tidak nikah itu sama saja, terserah yang menjalani hidup. Yang penting seperti semboyan LA Light : ENJOY AJA ... HA HA HA ...

* * * * *

Saya sendiri jika ditanya, "Enakan mana - nikah atau tidak menikah?" Sebagai seorang cowok yang sudah menikah lebih dari empat belas tahun saya akan menjawab, "Ya enakan nikah dong. Kalo tau uenak gitu, gue udah nikah dari dulu ..." Tapi tunggu dulu, para cewek akan segera memberi komentar, "Iya ... enakan di loe para cowok. Tapi ceweknya makan ati ..." Lha kalau emang makan ati, khan habis itu bisa minum teh botol Sosro ... Itu sebetulnya adalah stereotip pernyataan para cewek yang belum nikah, takut menikah, atau sudah menikah tapi tidak bisa ENJOY AJA ... HA HA HA ...

Saya katakan stereotip, karena istri saya sebagai seorang cewek tulen jika diberi pertanyaan yang sama, si doi akan menjawab sama persis seperti jawaban saya. Tidak percaya? Saya akan berikan sedikit bocoran mengenai apa yang yang terjadi dengan mantan pacar saya empat belas tahun silam.

Ketika akan menikah saya berikan pilihan yang cukup sadis kepada cewek tunangan saya yaitu, "Pilih salah satu: menikah atau bekerja?" Saya berikan pilihan itu karena saya merasa "enjoy"kalau punya istri seorang ibu rumah tangga, bukannya wanita karir, supermodel atau polikus. Jadul banget yah ... Tapi ternyata si doi tidak kalah smart. Terhadap satu pilihan yang saya berikan, supaya sama-sama "enjoy" dia balik memberikan deretan proposal yang puanjaaang, antara lain : keuangan dia yang atur, sebagai ganti kerja akan aktif di kegiatan gereja maupun kegiatan masyarakat, segala urusan rumah beserta perabotannya dia yang atur, dan bla .. bla .. bla .. Saat itu saya baru menyadari ternyata Tuhan melengkapi cewek dengan kemampuan untuk mengurus semua hal yang sangat detail - yang tidak mampu saya tolak satu pun ...

Setelah nikah, yang terjadi persis seperti kata orang-orang tua dan sesuai dengan yang tertulis di buku-buku konseling pernikahan. Ada masa berantem, ada masa baikan, dan masa-masa pembelajaran yang panjang dan terus-menerus. Setiap saat kita selalu buat yang namanya 'mutual agreement'. Kalau itu begitu, kalau ini begini, satu persatu sampai hal yang sangat detail dan sangat pribadi - yang pada akhirnya tidak perlu diucapkan lagi, karena hati yang berbicara. "Kita bicara dalam bahasa cinta. Tanpa suara tanpa kata-kata ..." kata lirik sebuah lagu.

Memang tidak sepenuhnya saya bisa memahami istri maupun sebaliknya - karena dari sononya pada diri cewek dan cowok itu ada hal-hal yang tidak bisa dipahami. Tetapi jika diambil skor antara 0 sampai 10, saya akan memberikan nilai 9 untuk pernikahan yang saya jalani. Kalau istri, dengan senyum yang susah diartikan akan memberi nilai, "Sama deh .." Mengapa tidak 10 sekalian? Bagi kita, 10 itu kalau sudah masuk ke surga. Semuanya sempurna adanya ...

Setelah empat belas tahun lebih berlalu, jika dibandingkan dengan cewek belum menikah atau sudah menikah tapi tetap bekerja dari pagi sampai malam - maka sedikit cerita mengenai apa yang dialami istri adalah sebagai berikut :

- Di akhir bulan sebelum membuka slip gaji yang saya terima, saya sudah menerima telpon istri dari mal yang mengatakan ada baju yang warnanya cocok buat saya. Padahal untuk bekerja saya hanya pakai baju seragam, dan di lemari banyak baju yang hanya saya pakai sesekali.

- Ketika pulang dari kerja, saya kadang terkejut melihat adanya perabot yang baru, gorden yang berganti warna atau susunan layout di dalam rumah yang berubah.

- Istri jauh lebih gaul dibandingkan saya, karena lebih sering mengikuti berbagai seminar atau retreat di Puncak yang diadakan gereja.

- Makan malam di rumah adalah saat dengar cerita kegiatan sepanjang hari dari istri, dan sambil mengunyah makanan saya menjawab, "Ya .. ya .. bagus .. bagus .. " Dan anehnya saya tidak pernah bosan, bahkan merupakan sebuah keasyikan tersendiri mendengarkan cerita dari "belahan jiwa" yang begitu bersemangat.

- Jika esok hari ada acara yang harus diikuti, maka malam harinya saya menjadi pengamat mode dari istri yang memadu padan semua baju, sepatu, asesoris dan tas yang akan dipakai. "Cantik gak pa ..?" "Cuantik sekalee ..."jawab saya selalu

- Saat anggota keluarga bertambah karena kehadiran seorang anak, maka ada lagi tambahan seorang pembantu. "Khan capek kalo mesti diurus sendiri ..."sebuah alasan yang sangat tepat. Cewek selalu bisa menemukan seribu satu alasan yang tepat untuk sebuah keputusan yang diambil.

- dan masih banyak yang lain

Jika sekarang saya menggoda dengan pertanyaan, "Masih mau bekerja?" Maka jawabannya akan selalu, "Ih .. ngapain.."

Walaupun umumnya cewek memberikan komentar yang agak "miring" mengenai pernikahan, tapi saya bersyukur, bahwa istri mempunyai pandangan yang sama dengan saya - mengutip dari kata-kata almarhum Basuki, "Uenak tenan ..." Apalagi semenjak istri mengikuti seminar dan camp Wanita Bijak, suasana pernikahan yang sudah puluhan tahun ini ternyata menjadi semakin "Uenak tenaaaannnn ..."

Nah, jika suasana setelah menikah umumnya digambarkan sebagai hal yang mengerikan karena sama dengan membuka jaket kulit domba dari serigala - sekarang saya menawarkan satu opsi yang lain, yaitu bahwa menikah itu memberi sukacita dan damai sejahtera baik bagi si cowok maupun si cewek. Sejauh keduanya mau terus belajar dan menyempurnakan cinta kasih di dalam firman Tuhan.

Akan tetapi saya juga menaruh hormat yang tinggi dan salut kepada seorang teman SMA yang mengikuti jejak Santo Ignatius saat menerima kabar bahwa dia baru saja menerima sakramen Imamat - sakramen peneguhan menjadi seorang biarawan yang hidup selibat. Ada juga seorang teman cewek yang meneladan cara hidup Bunda Teresa. Mereka memilih bagian terbaik untuk melayani karya Tuhan sepenuh hidupnya - Ad Maiorem Dei Gloriam. Ruarr biasa ...

* * * * *

Nah, balik lagi pada pertanyaan, "Kapan Nikah?"
Di abad super canggih ini (dibandingkan jaman Majapahit) jawabanya, "Mo nikah ato mo ngejomblo, dua-duanya NO PROBLEMO ... yang penting : ENJOY AJA ... HA HA HA ... "

GBU
Indriatmo