Mengapa Tuhan Diam?

Topik penderitaan, selalu menjadi topik yang hangat dan memancing pembahasan yang tidak
akan ada habisnya. Mengapa hal ini terjadi? Mengapa bisa terjadi? Mengapa ini ada? Mengapa
menimpa padaku? Sampai kapan ini akan berakhir? Sampai kapan aku harus berdoa? Apa
yang salah di dalam doaku? Hidupku? Mengapa tak ada tanda-tanda sedikitpun akan berakhir?
Mengapa harus aku? Mengapa? Kapan? Mengapa aku? Mengapa Tuhan? Salahkah Aku? Atau
Salahkah Tuhan?

Pertanyaan-pertanyaan ini akan selalu muncul, akan selalu ada, demikian juga orang-orang
yang bertanya, akan selalu ada, dengan pertanyaan yang sama, dengan masalah yang mungkin
sama atau berbeda. Demikian juga jawaban pertanyaan ini juga akan banyak, ada yang
menghibur, menguatkan, memberi harapan, pengertian, tetapi tidak tahu kepastiannya, atau
bahkan tidak tahu jawaban-nya, memaksakan jawaban, bahkan ada kalanya jawaban itu bisa
mematikan iman si penderita.

Mengapa harus ada jawaban? Kalau itu tidak menyelesaikan?
Mengapa harus memaksakan jawaban? Jika itu tidak seperti yang diharapkan?

Ada beragam jawaban yang kita berikan kepada sesama yang sedang mengalami penderitaan.
Dimana pesan ini terkadang seperti sebuah penghiburan saja, seperti demikian: "Sebenarnya
Tuhan sudah menjawab doamu, jawaban itu bisa "Tunggu" "Ya" dan "Tidak"
Yang pasti disimpulkan bahwa Tuhan sudah "menjawab"; meskipun pada kenyataannya jawaban
itu bisa dipilih sendiri dan dicocokkan sendiri pada situasi yang sedang terjadi.

Benarkah itu jawaban Tuhan?

Apakah ini bukan cara halus untuk menyamarkan persoalan agar si penderita tetap percaya
dan berharap. Selanjutnya, apakah boleh dikatakan "sebuah jawaban" adalah sangat penting
dan menentukan "iman kita kepada Allah"?

Sebaliknya, ada orang yang menerima saja penderitaan tanpa bertanya karena berkeyakinan
bahwa itu adalah kehendak Tuhan. Bahwa apa yang sedang dialaminya adalah suatu rencana
dari Tuhan.

Benarkah Tuhan merencanakan penderitaan bagi anak-anakNya?

Mengapa jika seandainya Tuhan memang diam? Mengapa kalau Tuhan memang tidak mendengar?
Bagaimana kalau Tuhan hanya merencanakan kebaikan bagi anak-anakNya?

Akankah si penderita tetap boleh menuntut Tuhan? Bolehkah manusia menuntut Tuhannya?
Ya, tentu saja kita boleh menuntut Tuhan, karena Dia berkata:
"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat;
ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu" (Mat 7:7)
Benarkah demikian?

Bagaimana jika dihubungkan dengan ayat selanjutnya (Mat 7: 24-27)
"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya,
ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu,
tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya,
ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu,
sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

Ada dua tipe orang dalam perumpamaan ini; satu orang yang mendengar perkataan Tuhan
dan satunya orang yang tidak mendengar perkatan Tuhan. (Taat & Tidak taat)
Yang manakah kira-kira yang dapat dikatakan menderita?
Orang yang taat? atau Orang yang Tidak taat?

Ternyata kedua-dua orang tersebut sama-sama menderita!
Kalimat yang sama, yang berarti penderitaan yang sama, menimpa keduanya.
"Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu"

Selanjutnya, bagaimana reaksi Tuhan melihat penderitaan ke dua tipe orang tersebut?
Manakah yang di jawab Tuhan? Orang yang Taat atau yang Tidak taat?

Ternyata Tuhan diam saja!
Kelanjutan cerita itu hanya dikatakan, rumah orang yang Taat tidak rubuh dan rumah
orang yang Tidak taat rubuh dan mengalami kerusakan hebat. Tetapi itu bukan jawaban
karena kondisi rubuh atau tidak rubuh sudah ditetapkan sebelumnya. Dimana orang yang
mendengar --- akan bertahan; dan yang tidak mendengar --- akan rubuh.

Benarkah Tuhan diam saja??

Ternyata tidak! Tuhan tidak diam saja. Tuhan "sudah" menjawab kebutuhan manusia
terlebih dahulu. Tuhan sudah "menjawab" penderitaan manusia terlebih dahulu.

Begitu manusia pertama jatuh ke dalam dosa, seketika itu Allah merencanakan sebuah
jawaban untuk kebutuhan manusia-manusia berikutnya. Manusia yang tidak akan
pernah dapat melepaskan diri dari segala bentuk kerusakan yang timbul akibat
perbuatan dosa.

Inilah jawaban Allah bagi manusia:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan
Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,
melainkan beroleh hidup yang kekal.
Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia,
melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.
(Yohanes 3:16, 17)

Allah sudah mengutus Yesus untuk menebus dosa kita semua. Untuk mengampuni dosa-dosa
kita. Karena Allah sangat mengasihi kita. Kasih inilah yang harus kita pandang sebagai
jawaban dari penderitaan yang mungkin sedang kita alami saat ini. Karena kasih Allah
ini adalah mutlak.

Bagaimanapun keadaan kita, se-menderitanya kita, se-jeleknya kita, se-berdosanya kita,
se-malangnya nasib kita, se-"apapun" kondisi kita, bukanlah suatu halangan bagi Allah
untuk mengasihi kita apa adanya.
Dengan menuntut sebuah jawaban bagi permasalahan kita, hanya akan menjauhkan kita dari
kasihNya. Karena menderita atau tidak menderita, Allah tetap mengasihi kita.

Jika kita sedang menderita, bukan berarti bahwa Allah begini padaku...
Jika kita sedang berbahagia, juga bukan berarti bahwa Allah begitu padaku...
Yang benar, Allah mengasihiku dan sudah menjawab doaku dengan kedatangan Yesus Kristus
untuk menebus dosa kita.

Jangan menanti jawaban dari Allah mengenai penderitaanmu;
tetapi nantikanlah saat anak-anak Allah dinyatakan. Rm. 8:19

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus
telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.
Efesus 1:3

Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus
dari hukum dosa dan hukum maut.
Roma 8:2