Injil Itu Mustahil

Seorang pemuda kaya bertanya kepada Yesus: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat
untuk memperoleh hidup yang kekal?" Apa jawab Yesus? "Hanya Bapa yang baik!"
Yesus ingin menonjolkan sisi Bapa kepada pemuda itu. "Engkau tentu mengetahui segala
perintah Allah". Sekali lagi Yesus menonjolkan sisi Bapa dan bagaimana manusia harus
bersikap terhadap Allahnya, yaitu menuruti segala perintahNya. Perintah yang mana?
"Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta,
jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!" (Markus 10:17-19)

Semua perintah Allah, harus diwujudkan dalam dua sisi,
sisi Allah, yaitu pengabdian atau ketaatan kepada Allah, dan sisi manusia, yaitu
pengabdian kepada sesama manusia. Jangan membunuh misalnya; adalah pengabdian terhadap
Allah dan manusia; juga dengan perintah jangan berzinah dan perintah lainnya.

Apa reaksi pemuda kaya tersebut? "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."
Apa artinya? Apa yang dicari oleh pemuda ini? Ia sudah melakukan perintah Allah, ia ingin
sesuatu yang lebih, sesuai dengan hasrat hatinya, panggilan yang khas di hidupnya.
Dengan apa yang sudah dilakukannya selama ini ternyata tidak membuat pemuda ini puas,
dia tidak bahagia. Apa jawab Yesus? "pergilah, jual-lah apa yang kaumiliki dan berikanlah
itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah
ke mari dan ikutlah Aku." ?(ayat 20-21)

Yesus mengasihi pemuda ini. Yesus mengerti kebutuhannya. Yesus ingin membahagiakan pemuda ini.
Yesus mengajak pemuda ini untuk mengikut Dia. Tetapi apakah jawaban pemuda itu?
Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.(ayat 22)
Ternyata pemuda ini tidak siap untuk menjadi miskin dan memutuskan untuk menolak tawaran Yesus
dengan pergi meninggalkan-Nya.

Padahal Yesus sudah menegaskan "maka engkau akan beroleh harta di sorga", yang berarti
jaminan kebahagiaan yang kekal. Tetapi pemuda ini tidak melihatnya, karena tertutup oleh harta
duniawi, kekayaannya. Dia tidak bersungguh-sungguh untuk mencari kebahagiaan seperti apa
yang ia pikirkan selama ini. Mungkin dia pikir kebahagiaan bisa dibeli dengan kekayaannya.
Jawaban Yesus adalah diluar dugaannya sama sekali. Sangat sulit dilakukan. Kemudian Yesus berkata:
"Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah." "Anak-anak-Ku,
alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum
dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." (ayat 23-25)

Menanggapi pernyataan Yesus, timbullah pertanyaan diantara murid-muridNya; "Jika demikian,
siapakah yang dapat diselamatkan?" Jawab Yesus: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin,
tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."
Sungguh membingungkan dan sulit diterima. Sebentar Yesus mengatakan orang kaya akan sulit masuk
surga meskipun pemuda kaya tadi sudah melakukan semua perintah Allah; tetapi sebentar
kemudian Yesus mengatakan segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah. Apakah maksudnya?

Murid-murid yang merasa sudah mengikut Yesus pun menginginkan penegasan bagaimana status
mereka yang jelas-jelas sudah mengikut Dia; "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu
dan mengikut Engkau!" Yesus pun menjawab dengan jawaban yang melegakan bahwa
"sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya
laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya,
orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah,
saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai
penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal." (ayat 29,30)

"Dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal." Sungguh, ini adalah
jawaban yang sangat memuaskan andai saja Yesus tidak menambahkan dengan kalimat berikutnya:
"Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan
menjadi yang terdahulu." Bagaimana ini? Apa maksud Yesus sebenarnya? Apakah dengan demikian
pengikutNya pun juga tidak memperoleh kepastian akan keselamatan itu?

Kemiskinan.
Inilah yang Yesus tawarkan, baik kepada pemuda itu ataupun kepada murid-murid-Nya.

Kepada pemuda kaya tadi, Yesus menawarkan kemiskinan harta, karena pemuda kaya tadi dengan
segala harta yang dimilikinya tidak akan bisa bergantung sepenuhnya kepada Allah.
Dan ini ternyata benar. Terbukti dengan ditolaknya tawaran Yesus untuk melepas kekayaannya.

Sedang kepada murid-murid dan orang banyak, Yesus menawarkan kemiskinan rohani.
Orang-orang berjiwa miskin, memiliki kerajaan Allah sekarang ini juga.
Kemiskinan membuat kehidupan rohani lebih mudah di dalam segala hal.
Karena ia akan mengandalkan Tuhan di dalam segala hal juga.

Inti dari kemiskinan itu sendiri adalah kebergantungan manusia kepada Allah. Yang berarti
kebergantungan masing-masing pribadi kepada Allah. Ajakan Yesus selalu ditujukan kepada pribadi.
Menjadi miskin adalah syarat mutlak mengikut Yesus.
"Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala
miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku." Lukas 14:33.

Kemiskinan sering diartikan pada barang yang nampak, pada harta benda, kekayaan.
Tetapi kemiskinan bagi Yesus adalah mengakui kelemahannya masing-masing. Siapa aku?
Aku ini bukan siapa-siapa! Aku memerlukan Tuhan untuk menopangku, kekuatanku, tanpa Tuhan
aku tidak berdaya! Kemiskinan harus dialami, bukan cuma imaginasi. Bagaimana kita memberi
kesaksian kalau kita tidak pernah mengalami apa-apa? Bagaimana kita bisa menyaksikan
kuasa Allah, kalau kita bisa hidup di luarNya? Kalaupun dipaksakan bisa tentu ini tidak
murni sehingga dijamin tidak akan dapat bertahan lama.

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. (Lukas 16:13); Mengikut Yesus atau tidak.
Pemuda itu menganggap mengikut Yesus adalah mustahil. Demikian juga murid-murid Yesus sulit
memahami pemikiran Yesus. Injil itu mustahil dan tidak mungkin. Begitu mutlak tuntutannya,
sehingga sulit untuk dilaksanakan.

Disaat aku menyadari, bahwa Injil itu sulit, terlalu berat, di luar jangkauan. Aku tidak sanggup.
Aku tidak lagi mengandalkan kekuatanku sendiri melainkan bergantung kepada Kristus.
Baru inilah permulaan hidup kristen yang sesungguhnya. Semua yang terjadi hanya pendahuluan saja.
Yesus mengatakan: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah.
Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah." (Markus 10:27).

Aku dapat membangun atas dasar kekuatan Allah. Ia adalah kedamaianku. Ia akan menyelesaikan
pekerjaan yang telah Ia mulai sendiri, asalkan aku mau menyerahkan diriku seutuhnya kepada Dia,
dan membiarkan Dia menentukan jalan-Nya sendiri.

"Blessed [are] the poor in spirit, For theirs is the kingdom of heaven".
"Berbahagialah orang yang berjiwa miskin,
karena merekalah yang empunya kerajaan surga"
Mat 5:3

---------------------------------------------
sumber :
Alkitab;
Bagaikan Roti Diremah; bab 12 (P. Van Breemen S.J.)