Tragedi & Ketidak-adilan

Tragedi

Kita semua sudah pernah merasai yang namanya sakit hati, namun jika kita mau jujur
dan mau menelusuri kembali akar dari sakit hati, semua itu diakibatkan dari pemilihan-
pemilihan, baik dari kita sendiri maupun orang lain. Namun ada saat dimana kita ternyata
tidak bisa tahu alasan atau penjelasannya.

Margie Erbe mungkin tahu mengenai tragedi.
Margie yang mengalami mujizat sembuh dari tumor otak yang dideritanya. Allah menyertainya
dan menuntunnya dalam pelayanan khotbah dan menulis. Suatu hari ia diundang untuk berbicara
di Arrowhead Ranch, kantor pusat international dari Kampus Crusade for Christ - yang
merupakan kehormatan besar bagi seorang pembicara. Allah berbicara kepadanya sangat jelas,
bahwa acara ini akan menjadi titik balik dalam kehidupannya.

Titik balik? Betapa menyenangkan, pikirnya, saya akan membawa serta seluruh anggota keluarga.
Sesaat setelah dia selesai menyampaikan kesaksiannya mengenai bagaimana Allah telah
mengijinkannya memenangi penyakit yang menimpanya, anaknya, Danny, yang berusia tiga
belas
tahun pergi bermain papan luncur di sekitar kampus.

Danny terjatuh, tepat di tempat suci di Arrowhead Ranch.
Danny terjatuh, kepalanya terbentur..... dan meninggal.
Saya ingat Margie menelephone saya pagi itu. Ia tidak mengucapkan halo, ia hanya berkata,
"Danny meninggal".
Saat ingat saat menghadiri pemakaman Danny, Margie memandang saya tepat ke arah mata saya
pandangannya menembus saya saat ia berjalan keluar dari gereja. Saya tidak mampu berbicara
apa-apa, sampai sekarangpun tidak.

Ketidak-adilan

Phillip Yancey dalam bukunya Disappointment With God, mengutip perkataan temannya Douglas,
yang menderita sakit kepala sangat parah gara-gara kecelakaan mobil.

Douglas adalah seorang yang sangat baik dan setia. Setelah belajar psikoterapi selama
beberapa tahun, ia melepas kariernya yang sangat cemerlang dan memilih untuk memulai
pelayanan di daerah pinggiran. Masalah timbul disaat istrinya dinyatakan terkena kanker
di dadanya, dan dua tahun kemudian sudah menyebar ke paru-paru. Pada suatu malam, Douglas
sedang mengendarai mobil bersama istri dan putrinya yang berusia dua belas tahun, ketika
sebuah truk yang dikemudikan oleh orang mabuk menabraknya.

Istri Douglas sempat terguncang meskipun tidak terluka parah, lengan putrinya patah dan
wajahnya luka parah terkena pecahan kaca. Douglas sendiri kepalanya juga terluka parah
terkena benturan. Sejak saat itu, Douglas dihinggapi sakit kepala yang hebat dan sering
datang tiba-tiba, kadang sampai tidak dapat bekerja, dan menjadi pelupa, yang lebih parah,
benturan itu merusak pandangannya juga. Salah satu bola matanya sering bergerak-gerak
sendiri tanpa bisa dikendalikan.

Ketika Yancey memintanya berbicara mengenai perasaannya, dia menjawab:
"Saya telah belajar memandang jauh melampaui kenyataan fisik di dunia ini, dan
melihat pada kenyataan spiritual. Kita cenderung berpikir hidup ini seharusnya adil,
sebab Allah adalah adil. Namun, Allah bukanlah kehidupan ini. Dan bila saya mencampur
adukkan Allah dengan kenyataan fisik kehidupan ini - misalnya dengan mengharapkan
kesehatan maka saya menetapkan kekecewaan yang luar biasa bagi diri saya sendiri.
Keberadaan Allah dan kasihNya terhadap saya, tidak bergantung pada kesehatan saya.
Terus terang saya mendapat kesempatan lebih banyak untuk memperdalam hubungan saya
dengan Allah di saat saya lemah dari pada sebelumnya"

Kita dapat belajar untuk mempercayai Allah di tengah semua ketidak-adilan hidup ini.

Yesus sudah mengalami ketidak-adilan yang luar biasa.
Semua ajaranNya tidak ada yang mengatakan bahwa Ia menyangkali ketidak-adilan. Pada waktu
menyembuhkan orang sakit Dia tidak pernah mengajarkan untuk 'menerima nasib'. Ia menyembuhkan
siapa saja yang menghampiriNya. Dia terharu dan kasihan melihat penderitaan orang, dan
menangis ketika Lazarus mati. Yesus menyuguhkan jawaban Allah kepada ketidak-adilan dengan
darah dan daging. Tentang bagaimana perasaan Allah terhadap ketidak-adilan, sebab
Dia mengambil bentuk 'kehidupan' yaitu kenyataan fisik yang paling tidak adil.
Yesus memberikan secara ringkas jawaban atas semua pertanyaan tentang kebaikan Allah.

Dia melayani orang sakit, memberi makan yang lapar, mengusir kuasa jahat, menghibur yang
sedih dan memberi kabar baik tentang kasih dan pengampunan. Tidak akan ada lagi pertanyaan
'apakah Allah tidak adil' jika kita semua pengikutNya melakukan apa yang sudah diberikanNya.

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga
dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan
Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya
sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam
keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai
mati di kayu salib. ~Filipi 2 : 5-8~

Mencuplik:
1. Ini bukan hidup yang aku pilih oleh Donna Partow
2. Kekecewaan terhadap Allah oleh Philip Yancey