Pesan yang sama, disampaikan oleh Malaikat Tuhan kepada Zakharia,Yusuf dan Maria, menjelang saat-saat
kedatangan Yesus. Dalam Injil Matius 1:20, Malaikat Tuhan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau
takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus."
Sedang dalam Injil Lukas 1:13, Malaikat Tuhan juga berkata: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu
telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau
menamai dia Yohanes. Juga kepada perawan Maria malaikat Tuhan mengatakan hal yang sama:
"Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. (Lukas 1:30)
Jangan takut
Nampaknya kalimat ini memang perlu disampaikan oleh malaikat Tuhan kepada Yusuf, Maria ataupun Zakharia.
Apakah yang ditakutkan oleh ke tiga orang itu? Dalam Yusuf kita melihat ketakutannya yang berdasarkan kepada
'tragedi' yang melanda Maria, dimana ternyata telah hamil sebelum menikah resmi. Pada jaman itu, jika seorang
wanita tidak dapat menjaga kesuciannya, matilah hukumnya. Dimana bisa saja dia dirajam oleh orang banyak.
Bagi Yusuf sendiri, kehamilan Maria juga mengancam kredibilitasnya di dalam bermasyarakat, dikarenakan pada
waktu itu status Maria adalah tunangannya. Otomatis, masyarakat akan menuduh dia atau bahkan menghukumnya
sebagai orang yang bertanggung jawab atas kehamilan Maria. Perasaan yang bisa digambarkan mengenai ketakutan
Yusuf adalah sangat berat. Ketakutan itu mungkin juga bercampur dengan rasa marah, kecewa, sakit hati, kepada
Maria. Sehingga di ayat 19 dikatakan Yusuf bermaksud menceraikan Maria dengan diam-diam.
Pada diri Maria, ketakutannya juga hampir sama dengan Yusuf, dimana sebagai seorang gadis yang belum menikah,
akanlah sangat menakutkan jika sampai hamil duluan. Untuk itulah Tuhan sudah mengetahui kekhawatiran yang
akan muncul atau ketakutan tepatnya sehingga perlu disampaikan kekuatan yaitu pesan 'Jangan Takut'.
Ketakutan yang muncul pada diri Zakharia mungkin agak lain dengan Maria dan Yusuf. Sebagai seorang imam, dia
dituntut untuk hidup lebih kudus dari orang-orang biasa. Maka ketika tampak malaikat Tuhan ketakutan Zakharia
mungkin berdasar kepada dosa apa yang telah ku lakukan? Apakah malaikat tersebut datang untuk menghukum
dia atas kesalahannya yang tidak dia sadari. Sehingga malaikat Tuhan pun memberi kekuatan dengan pesan 'Jangan Takut'.
Ketakutan-ketakutan seperti yang dialami oleh Yusuf, Maria dan Zhakaria, akan selalu ada pada tiap-tiap manusia.
Hal ini sangat wajar mengingat kehidupan itu sendiri sudah menakutkan. Masalah yang sangat banyak, baik yang
ada dari pribadi masing-masing ditambah dengan ancaman kejahatan yang dilakukan oleh orang lain, sangat
memprihatinkan sehingga membuat orang yang berimanpun akan menjadi gentar dan bahkan takut. Masa depan,
ekonomi, bisnis yang tidak pasti, birokrasi pemerintah yang semrawut, kejahatan yang merajarela, pendidikan yang
menuntut biaya sangat tinggi, perkembangan ilmu pendidikan dan teknologi yang mengancam kerusakan mental
secara perlahan-lahan, belum godaan obat-obat terlarang bagi kalangan pemuda remaja, seksualitas dan semuanya
itu menjadikan kebenaran semakin kabur, samar-samar, dan sulit untuk focus, sehingga kita tidak bisa lagi mempunyai
rasa aman, trust kepada siapapun bahkan kepada anggota keluarga sendiri.
Jangan Takut, seperti yang malaikat Tuhan sampaikan mungkin bisa memberi kekuatan kepada kita disaat-saat
seperti ini. Tetapi apakah cukup hanya dengan slogan jangan takut saja?
Yusuf, Maria dan Zakharia mengakhiri pergumulan mereka dengan sukses karena mereka 'taat' kepada Allah, dengan
menjadi tidak takut dan just do it melakukan apa yang diperintahkan Allah. Mereka melepaskan diri dari bayangan
kesulitan-kesulitan yang sudah ada di depan mata. Terus terang kesulitan/resiko itu sudah membayang di depan mata
dan tinggal menunggu saat untuk meletus saja. Tetapi resiko yang besar ini tidak mereka bandingkan dengan siapa
yang memberikan perintah itu sendiri. Mereka tahu dan mengenal Allah mereka. So...just do it. Walaupun mungkin
terlintas seperti orang yang disuruh bunuh diri saja, just do it, toh yang menyuruh adalah Allah sendiri, yang menentukan
hidup matinya manusia.
Just Do It
Ternyata slogan ini sangat cocok dipakai dalam mentaati perintah Allah. Apalagi bagi kita yang sudah tahu rencana Allah
yang besar itu. Hal-hal yang kita alami sekarang ini adalah sangat kecil atau bahkan tidak ada artinya apa-apa jika
dibandingkan dengan kemuliaan yang akan kita terima nanti. Keselamatan kekal yang Dia sediakan bagi orang-orang
yang percaya kepadanya. Amin.
Intermezzo
Suatu kali bola soccer anak saya masuk di telaga inside Botanic Garden. Malangnya letaknya di tengah dan sangat jauh
untuk dijangkau. Anak saya sudah mulai khawatir dan akan menangis saja. Sayapun menghiburnya dengan mengatakan
akan memberitahu bapak penjaga sehingga bolanya pasti akan bisa diambil. Setelah menghubungi penjaga taman dan
menunjukkan posisi bola, jawaban yang diberikan penjaga taman ternyata tidak seperti yang diharapkan. Beliau
mengatakan akan menunggu bola tersebut menepi sendiri sehingga bisa di ambil. Dan tentu saja bisa besok, lusa atau
sampai minggu depan tergantung angin yang diharapkan bisa mendorong. Lha..kalaupun ternyata bola sudah menepi
dan keburu diambil orang lain sebelum penjaga melihatnya itu juga resiko kami. Intinya relakan saja.
Anak saja tentu saja menjadi sangat kecewa karena ketakutannya terwujud. Kebetulan bola itu juga masih baru. Saya
menghiburnya dengan mengatakan bola hilang bisa beli lagi. Yang terpenting harus dingat untuk lebih berhati-hati
di lain waktu. Tiba-tiba saja muncul seorang bapak, kelihatannya seperti fotografer karena menenteng kamera besar.
Menghampiri telaga dan mengambil ban pengaman yang memang tersedia di pinggir telaga. Kebetulan ban tersebut
ada talinya agak panjang. Beliau berkata agar kami berdoa saja supaya ban yang akan dia lempar, tepat bisa melingkari
bola kami sehingga bisa ditarik ke tepi. Sayapun senyum-senyum saja karena bahagia ternyata ada harapan. Demikian
juga dengan anak saya yang sangat antusias dan kelihatan percaya seratus persen kepada bapak tersebut. Dan ajaibnya
hanya dengan satu kali lemparan ban tersebut landing tepat melingkari bola. Dan dengan mudahnya bola itu ditarik
ke tepi tanpa menunggu angin. hahaha...
Setelah mengambil bola, si bapak yang rupanya suka humor bertanya kepada anak saya dengan menunjuk ke logo bola:
'apakah ini?' tanyanya. Anak saya menjawab: 'nike!'. 'Betuuuull....dan karena ini nike maka just do it', katanya lagi dengan
tawa yang berderai-derai. Anak saya sangat happy sedang saya menjadi ingin menangis saja. Masakan masalah sekecil
ini saja Tuhan mengirimkan penolong sekaligus penghibur... so... just do it...!
Minggu Adven II 2008



sabda.org