Pembukaan Olimpiade di Beijing hari Jumat malam tanggal 8 Agustus 2008 yang dihadiri oleh 60 kepala negara termasuk presiden Amerika GW Bush, berlangsung secara spektakuler dan sukses luar biasa. Cuaca pada hari itu cerah, sehingga upacara pembukaan yang diakhiri dengan pesta kembang api dapat berlangsung dengan lancar. Sepanjang hari itu dan hari-hari sesudahnya, di Beijing dan kota-kota tempat dilangsungkannya pesta akbar Olimpade hujan tidak turun - walaupun badan meteorologi China telah memberikan prediksi 47 persen akan turun hujan dan 6 persen hujan lebat.
Untuk memastikan supaya hujan tidak turun dan mengacaukan seluruh pesta Olimpiade, pemerintah China tidak mengerahkan para pawang hujan yang sakti mandraguna. Tetapi mereka menyiapkan 7?ribu meriam penangkis udara, 4,687 peluncur roket dan pesawat-pesawat ringan. Semua peralatan tempur itu bukan untuk menghadapi pasukan musuh yang menyerang dataran China, tetapi untuk menghadapi awan pembangkit hujan yang akan menyerbu Beijing dan kota-kota tempat pertandingan olimpiade diadakan.
Jika ada awan yang mencoba mendekati Beijing, maka meriam-meriam penangkis udara akan menembakkan peluru yang berisi garam yodium, dimana garam itu akan mengikat butiran air di awan menjadi jenuh dan hujan turun sebelum sempat mencapai Beijing. Jika tahap pertama gagal, peluncur-peluncur roket digunakan. Jika awan-awan itu masih membandel, jurus yang terakhir adalah menerbangkan pesawat ringan langsung ke dalam awan pekat untuk menebarkan katalis pembentuk hujan. Dijamin hujan pasti "bablas angine" dan menyerah di tengah jalan sebelum sampai ke Beijing.
Rupanya cara yang ditempuh pemerintah China ini sangat ampuh, dan terbukti bahwa Olimpiade di China dicatat sebagai ajang olah raga dunia yang termewah dan termegah dalam sejarah - tanpa digangu oleh turunnya hujan.
Suatu saat jika para pawang hujan dari Indonesia bisa mendemonstrasikan kesaktiannya, mungkin saja pemerintah China bisa mempertimbangkan untuk memakainya - dengan perhitungan penghematan biaya dibandingkan dengan pengoperasian ribuan meriam penangkis udara, peluncur roket ataupun pesawat udara.
* * * * *
Hari Rabu akhir bulan November adalah penutupan ibadah keluarga di gereja saya, dimana ibadah itu merupakan ibadah gabungan dari 4 wilayah. Dan kali ini ibadah keluarga gabungan dilaksanakan di rumah saya.
Karena perkiraan yang datang sekitar 100 orang dan tidak muat jika dilaksanakan di dalam rumah, maka saya berencana untuk melaksanakan ibadah tersebut di halaman belakang rumah. Akan tetapi di akhir November adalah hari-hari yang tidak bisa dipastikan apakah saat itu turun hujan atau tidak. Memang paling aman adalah dengan menyewa tenda, tetapi saya memilih untuk tetap membiarkan udara terbuka, sehingga suasana taman bisa lebih terasa dan udara segar bisa mengalir bebas.
Tetapi bagaimana dengan kemungkinan jika hujan turun? Karena saya percaya pada Tuhan Yesus, maka saya menolak mempergunakan jasa pawang hujan. Mempergunakan teknologi perangkap hujan seperti di China juga tidak mungkin karena selain biaya yang sangat besar juga karena masalah keamanan nasional.
Satu-satunya cara yang saya gunakan adalah mengimani kebenaran firman Tuhan yang tedapat dalam Yakobus 5:16-18, yang berbunyi :
"Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya."
Jadi berikutnya saya dan seluruh keluarga berdoa kepada Tuhan Yesus supaya hujan tidak turun pada hari Rabu.
Hari Senin hujan turun dengan lebat. Selanjutnya hari Selasa hujan rintik-rintik dan langit mendung rata. Menginjak hari Rabu cuaca cerah mulai dari pagi - dan kita semua bersukacita karena Tuhan Yesus menjawab doa kita tepat pada waktunya.
Hari Rabu malam jemaat mulai berdatangan. Kursi-kursi yang diatur di sekeliling mimbar kecil di halaman belakang mulai terisi. Melihat kebaktian keluarga dilaksanakan di halaman terbuka, ada jemaat yang bertanya, "Pak, kalau hujan turun bagaimana?" Saya menjawab, "Hujan tidak turun, karena kita sudah berdoa pada Tuhan Yesus supaya hujan tidak turun." Jemaat itu tidak melanjutkan pertanyaannya, tetapi sebaliknya mulai ikut berdoa supaya hujan tidak turun.
Tapi kemudian di udara mulai tercium bau segarnya air hujan, dan satu dua tetes air hujan mulai jatuh. Security yang mengatur parkir kendaraan jemaat di depan rumah bertanya, "Pak, di halaman belakang dipasang tenda khan? Kelihatannya hujan sudah mulai turun." Saya katakan dengan pasti, "Kita tidak pasang tenda, karena hujan tidak akan turun sampai kebaktian selesai." Dia yang bukan orang seiman melihat saya dengan pandangan tidak mengerti. Mungkin dia berpikir saya bisa berkata dengan yakin seperti itu karena sudah menyewa seorang pawang hujan yang super sakti.
Setelah semua jemaat memenuhi kursi yang disediakan dan ibadah akan dimulai, tetesan air hujan semakin sering - walaupun belum tergolong gerimis. Ini membuat ibu-ibu yang mulai kuatir basah kehujanan menyingkir ke teras belakang dan garasi. Akan tetapi para bapak dan kaum muda, yang melihat saya tidak terpengaruh untuk memindahkan tempat ibadah ke dalam rumah, tetap duduk dengan teguh di kursi masing-masing dan tidak beranjak. Saya lalu mengambil mikrofon dan meminta Gembala Sidang untuk memimpin berdoa.
Bapak Gembala Sidang memimpin jemaat yang hadir untuk berdoa supaya hujan tidak turun, dan setelah itu memulai ibadah. Saat menyanyikan lagu di Kidung Jemaat, saya melihat tetesan air hujan jatuh di antara baris not-not lagu. Saya percaya semua jemaat yang hadir tetap berdoa dalam hati supaya titik-titik hujan itu berhenti secara total.
Menginjak pembacaan firman Tuhan, mata saya tetap tertuju pada halaman Alkitab yang ada di pangkuan. Saya membuka Injil Yohanes, dan menyimak pembacaan dari Yohanes 1:1-12 yang dibaca bergantian antara Gembala Sidang dan jemaat yang hadir.
Setelah selesai pembacaan Injil, saya tetap memperhatikan Alkitab yang ada di tangan - dan tidak ada lagi titik-titik hujan yang jatuh membasahi halaman Injil. Saya menahan nafas dan tetap menunggu, dan memang titik hujan sudah berhenti sama sekali. "Terima kasih Tuhan Yesus," adalah kata yang terucap setelah pergumulan melawan kekuatan alam itu berakhir. Selain titik hujan berhenti, awan juga tersingkap sehingga bintang-bintang mulai terlihat di langit.
Jemaat yang melihat doa mereka sudah terjawab dengan ajaib, mulai menggabungkan diri dari tempat perteduhan ke tengah halaman. Kebaktian berjalan dengan hikmat dan acara jamuan kasih serta ramah tamah juga berjalan dengan penuh sukacita. Cuaca terang dan cerah bertahan sampai malam itu, dan esok harinya kembali hujan turun dengan lebat.
Kebaktian keluarga di akhir tahun ini ternyata membawa pelajaran yang nyata bagi semua jemaat, bahwa Tuhan Yesus berkuasa secara nyata atas alam semesta - yang secara langsung dibuktikan oleh seluruh jemaat yang hadir, bahwa cuaca mendung dan sudah mulai menjatuhkan titik hujan bisa berganti menjadi terang dan cerah. Anak-anak Tuhan ternyata mempunyai kuasa untuk menjadi Pawang Hujan melalui doa kepada Tuhan Yesus.
* * * * *
Sebetulnya keputusan untuk tidak memasang tenda di halaman belakang tidak terjadi begitu saja. Sejak duduk di bangku Sekolah Minggu, saya sudah sering kali membaca Yakobus 5:17
"Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan."
Tetapi saat itu saya menganggapnya hanya sebagai pengetahuan alkitabiah saja, tapi saya tidak pernah mengalaminya sendiri sebagai rhema.
Kemudian Gembala Sidang di gereja menantang semua jemaat untuk mencoba membuktikan dan mengalami sendiri setiap kebenaran yang ada di Alkitab. Sambil masih ragu-ragu saya tertantang untuk membuktikan kebenarannya.
Ada dua hal besar yang saya alami berkaitan dengan hujan. Yang pertama adalah saat ibadah pemakaman anak seorang teman yang baru lahir. Saat itu hujan turun dengan lebatnya. Kemudian kita bersama-sama berdoa supaya hujan berhenti sehingga ibadah di rumah dan pemakaman di TPU bisa berjalan dengan baik. Setelah kita berdoa, sebentar kemudian hujan berhenti total, walaupun langit masih gelap tertutup oleh mendung.
Ibadah di rumah berjalan dengan baik, dan jenazah diberangkatkan menuju TPU. Ibadah pemakaman di TPU juga berlangsung dengan baik, sampai semua pelayat pulang kembali ke rumah masing-masing. Setelah semuanya selesai, hujan kembali turun dengan deras sampai malam hari. Dan masih terus turun sampai pagi harinya.
Yang kedua adalah saat perayaan Natal di perumahan saya, yang diadakan di taman perumahan. Memang kita sudah siapkan tenda, tetapi tetap saja jika hujan deras turun, maka ibadah dan perayaan Natal tidak bisa berjalan dengan baik.
Apa yang terjadi pada hari itu? Sepanjang hari hujan turun rintik-rintik. Sore hari para undangan mulai berdatangan dengan membawa payung, tetapi hujan semakin lebat. Awan hitam menggantung berat di langit, dan semua yang hadir merasa tidak nyaman.
Kemudian pendeta memimpin kita semua untuk berdoa meminta supaya hujan segera berhenti. Setelah kata "Amin" dan dilanjutkan dengan menyanyikan pujian dengan penuh sukacita, hujan berangsur berhenti secara total.
Perayaan Natal perumahan berjalan dengan baik, dari mulai ibadah, perayaan, jamuan kasih sampai pada ramah tamah. Semua bersukacita karena Tuhan Yesus sudah menjawab doa sehingga hujan berhenti secara ajaib.
Setelah perayaan Natal selesai dan para tamu pulang, berikutnya semua panita kerja bakti untuk membereskan dan mengembalikan semua peralatan yang digunakan. Tengah malam semuanya selesai, dan para panitia pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan puas. Sebentar kemudian terdengar hujan turun dengan deras sampai pagi hari.
* * * * *
Beriman terhadap satu firman Tuhan, adalah satu hal yang memerlukan pengujian. Kita perlu untuk mengalami dan membuktikan sendiri, baru kita bisa meyakini bahwa firman Tuhan itu "ya" dan "amin" - seperti halnya firman Tuhan dalam Yakobus 5:16-18.
Kalau saya baru belajar mengenai doa untuk hujan ini setelah dewasa, maka saya mengajak anak saya untuk mulai mengalaminya semenjak dia masih kecil. Sekarang ini, saat Yezki (Yehezkiel) anak saya yang berumur 6 tahun akan berangkat ke Sekolah Minggu di gereja yang terletak di ujung perumahan dengan naik sepeda, kadang saya mendengarnya berdoa dengan sungguh-sungguh sambil memegang stang sepeda, "Tuhan Yesus, mas Yezki mau sekolah minggu di gereja. Hujan jangan turun yah sampai nanti pulangnya. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin." Dan hujan tidak turun sampai dia mengayuh sepeda pulang kembali ke rumah.
Jika demikian, ternyata sebagai anak Allah kita tidak perlu membayar mahal para pawang hujan ataupun menyewa meriam hujan dari China. Kita rupanya memiliki kuasa sama seperti halnya Elia yang adalah manusia biasa untuk meminta hujan berhenti atau turun - dengan melalui doa yang diucapkan dengan penuh keyakinan iman. Setiap orang yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, diberi kuasa untuk menjadi anak Allah. Menjadi anak Allah yang memiliki kuasa doa yang luar biasa, karena jawabannya berasal dari Tuhan sendiri - yaitu sang Pencipta langit dan bumi.
* * * * *
Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya - Yakobus 5:16-18.
GBU
Indriatmo



sabda.org
Infonya sangat bermanfaat.
Infonya sangat bermanfaat. Saya minta ijin ngopi info tentang cara ngusir hujan di Olimpiade ya..paragraf 2-5 untuk saya share di blog saya. Terimakasih sebelumnya