Percaya & Kesimpulan

Sakit hati, dendam, kekecewaan, yang timbul dari penderitaan, ketidak-adilan, kesewenang-wenangan, ketidak-pedulian (kepahitan) sangatlah sulit dihilangkan. Sudah banyak orang menjalani kehidupan ini dengan membawa bekal luka-luka tersebut di hatinya. Hal ini melanda baik pada orang yang sukses, setengah sukses ataupun tidak sukses, semuanya mempunyai problem yang sama yaitu masih menyimpan kepahitan itu.

Saya mengenal orang yang sedang mengalami cobaan hidup luar biasa beratnya. Terlepas dari kesalahan yang dilakukannya ataupun hal-hal lain yang memicu problemnya, ada satu hal yang menarik untuk direnungkan.

Bermula dari kegagalan usaha, kemudian terjerat hutang, karena dia berani menggunakan pinjaman modal dari bank, lalu kelahiran anak dengan syndrome problem, sampai akhirnya meninggal karena kelainan jantung, kecelakaan, pertengkaran rumah tangga, usaha yang gagal terus menerus meskipun berganti-ganti, saudara kandung yang satu-persatu mengalami kebangkrutan dan bergantung padanya, dan yang terakhir kematian ayahnya karena jatuh terpeleset, semuanya terjadi seperti mata rantai yang tidak ada putusnya. Satu persatu bermunculan. Satu selesai muncul lainnya, demikian seterusnya berjalan dalam 3 tahun terakhir ini.

Semua direnggut dari kehidupannya sampai keakar-akarnya, tidak ada yang tersisa, sampai harga diripun tidak, katanya. Dia menceritakan betapa dia sampai tidak punya malu untuk mencari pinjaman demi mempertahankan rumah yang terlanjur di jaminkan di bank, menjalani usaha apapun, tidur tidak lebih dari 2 jam sehari demi bekerja, bekerja dan bekerja. Sementara tidak ada orang yang diandalkan, semua mencemooh, seperti pengemis katanya, padahal dia tidak sedang mengemis, dia benar-benar bekerja. Tetapi tidak ada yang peduli. Hutang menuntut pelunasan, sementara mulut menuntut untuk makan. Diapun mulai menyimpulkan pengalaman hidupnya.

Dia mulai menyimpulkan Tuhan kog diam saja. Dia menyimpulkan lagi penderitaannya itu berawal justru ketika dia mulai mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh. Dia membuat kesimpulan dan mulai terfokus dengan pikiran-pikirannya sendiri. Sementara masalah semakin melilit dan jauh dari harapan akan segera terlepas. Anehnya ketika saya bertanya apakah dia masih percaya kepada Tuhan, dia menjawab dia masih percaya. Dia bahkan bersumpah akan selalu ingat kepada Tuhan dan membantu orang-orang yang kesusahan jika dia diberi jalan keluar. Tetapi sampai saat ini belum ada titik terang, katanya. Apa yang diupayakannya tidak menampakkan hasil sedikitpun.

Tidak mudah untuk menguraikan benang yang terlanjut kusut. Kesimpulan terjadi tidak dalam waktu singkat. Tetapi sedikit demi sedikit terbentuk. Inilah hal penting yang biasa terjadi di dalam kehidupan kita, tanpa kita menyadari bahayanya. Semua yang kita alami terekam di dalam memori kita, sedikit demi sedikit. Dan jika pengalaman itu pahit, kita akan segera membuat kesimpulan karena kita merasa kita mengalaminya sendiri. Dan jika pengalaman pahit itu terulang, semakin kuatlah kesimpulan yang kita rekam karena apa yang terjadi seperti pembuktian dari apa yang kita pikirkan.

Percaya harus dengan hati dan pikiran terbuka, kosong, bukan dengan hati dan pikiran yang penuh dengan kesimpulan. Percaya berarti meletakkan Tuhan sebagai penguasa hati dan pikiran kita dan menyerahkan semua kesulitan kepadanya, mempersilahkan Tuhan untuk bekerja. Percaya bukanlah berharap agar Tuhan menghapus masalah kita, atau Tuhan akan begini atau begitu. Itu seperti mengatur Tuhan saja. Dan jikalau kita percaya, hendaknya kita mengerti bahwa Dia sudah tahu, Dia juga melihat apa yang sedang terjadi, Dia sedang mendengar keluhan-keluhan kita, Dia sangat memahami, dan yang terpenting adalah untuk mengerti bahwa Dia sedang menunggu kita untuk meletakkan beban itu kepadaNya.

Kita sulit untuk mendengar orang berbicara jika kita sedang fokus kepada hal lainnya. Kita sulit untuk mengerti apa yang orang lain bicarakan atau inginkan jika pikiran kita sedang di tempat lain. Demikian juga kalau fokus kita tidak kepadaNya di saat kita mengalami masalah berat. Bukannya Tuhan yang diam saja, tetapi kita yang tidak bisa mendengar dan merasakan lagi kehadiranNya dikarenakan fokus kita bukan kepadanya. Energi kita sudah habis termakan oleh masalah itu sendiri. Buang segala hal yang merintangi fokus kita kepada Allah, sehingga kita boleh mengerti, kemana kita akan melangkah. Karena Dia akan melindungi langkah-langkah orang yang mempercayakan hidupnya kepadaNya. Masalah kehidupan akan selalu ada, tetapi itu tidak akan bisa menghalangi langkah kita asalkan kita tidak terseret di dalamnya. Percaya kepada-Nya. Dia tidak akan membiarkan anak-anakNya yang jatuh sampai tergeletak. Amin.

HAPPY NEW YEAR 2009

TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;
apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.
Mzm. 37:23,24

Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum,
dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.
Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan
tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?

Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya
dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
Mat. 6:25, 27