There Are No Accidents

Saat mendengar kalimat "there are no accidents" dalam film kungfu panda, saya teringat Firman di Yeremia 29:11, "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." Di balik film cartoon yang sangat lucu itu, ternyata diselipkan pesan Allah bagi penonton yang tentunya sebagian besar-besar anak-anak.

Di dunia ini, orang masih juga percaya dengan yang namanya nasib. Meskipun orang Kristen sekalipun, mengimani bahwa apa yang dialaminya adalah nasib mereka. Sudah nasib di lahirkan dari keluarga berantakan, sudah nasib dilahirkan untuk menderita, sudah nasib dilahirkan dalam kemiskinan, sudah nasib untuk mati karena kecelakaan bahkan ada yang percaya bahwa cara matipun adalah nasib. Baguslah kalau mati dengan baik-baik, jangan mati dengan cara yang memalukan, kalaupun iyapun pasti karena nasib.

Kembali ke kalimat "there are no accidents" dalam Yer 29:11, kata "bukan rancangan kecelakaan" versi NKJV adalah "not of evil" Jikalau diruntut lagi adalah "ra` 7451> - Leksikon Ibrani" yang mempunyai arti sbb (di bawah) dimana lebih dari kecelakaan, tapi segala sesuatu yang jahat:

1) bad, evil
1a) bad, disagreeable, malignant; 1b) bad, unpleasant, evil (giving pain, unhappiness, misery); 1c) evil, displeasing
1d) bad (of its kind - land, water, etc); 1e) bad (of value); 1f ) worse than, worst (comparison); 1g) sad, unhappy
1h) evil (hurtful); 1i ) bad, unkind (vicious in disposition); 1j ) bad, evil, wicked (ethically);
1j1) in general, of persons, of thoughts; 1j2) deeds, actions

n m
2) evil, distress, misery, injury, calamity; 2a) evil, distress, adversity; 2b) evil, injury, wrong; 2c) evil (ethical)

n f
3) evil, misery, distress, injury; 3a) evil, misery, distress; 3b) evil, injury, wrong; 3c) evil (ethical)

Sebagai orang Kristen yang percaya kepada Allah dan Alkitab sebagai Firman Allah, harusnya kita tidak boleh mempercayai kata nasib. Apalagi sampai takut dengan apa yang namanya nasib. Bulan lalu kakak lelaki saya mengalami kesemutan separoh badannya, dan merasa tidak ada tenaga. Dokter mengatakan kemungkinan besar dia terkena stroke. Mendengar perkataan Dr, kakak saya bukannya membaik malah jadi stress. Apalagi mengingat 2 anaknya usia balita. Sebagai orang kristen ternyata dia lebih percaya kepada kata Dr bahwa dia akan stroke dan bukannya cepat-cepat mencari jalan untuk menghindari vonis tersebut.

Minggu lalu dia berobat lagi di Singapore, melalui semua test yang berhubungan dengan penyakitnya. Dan hasilnya ternyata tidak ada sesuatupun yang mengkhawatirkan. Ada satu kejadian yang sayang untuk disimpan, sebelum menemui Dokter, kakak saya berjumpa dengan seorang pemuda, yang sama sekali tidak dikenalnya. Menanyakan keadaannya, kakak saya menjawab baik-baik saja. Tetapi pemuda itu berkata dengan menunjuk ke wajah kakak saya bahwa dia terlihat stress. Dan melanjutkannya dengan nasehat, ingat, kita lahir tidak membawa apa-apa, mati juga tidak membawa apa-apa. Jadi, untuk apa stress. Kakak saya bercerita dengan heran dan tertawa-tawa mengingat betapa kurang ajarnya seorang anak kecil (katanya) berbicara dengan menunjuk-nunjuk ke wajahnya. Tetapi satu perubahan terjadi begitu nyata, bahwa dia bisa tertawa terbahak-bahak dan stressnya pun hilang.

Marilah kita selalu mengingat-ingat Firman Tuhan yang jelas-jelas mengatakan bahwa kita ini, diciptakan untuk rancangan kebaikan saja dan bukan rancangan kejahatan. Dan bahwa apapun yang kita sedang alami sekarang ini, adalah bukan nasib yang menentukannya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah yang harus dinyatakan. Amin.

..."Rabi, siapakah yang berbuat dosa,
orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"
Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya,
tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.
Yohanes 9:2-3